Kearifan Budaya Lokal di Sepanjang Sungai Cimanuk

Pengantar

Dari sedikit sumber tentang budaya lokal yang tumbuh di masyarakat sekitar sungai Cimanuk, Naratas Garoet mendapati buku berjudul Kearifan Budaya Lokal di Sepanjang Sungai Cimanuk yang ditulis oleh H. Usep Romli HM. Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut tahun 2014. Untuk mengenang 40 hari kejadian banjir bandang Cimanuk di Garut pada tanggal 20 September 2016 yang lalu, Naratas Garoet menyadur buku tersebut sebagai “pangeling-ngeling” bagaimana karuhun urang Sunda menghormati dan memelihara sungai Cimanuk yang menjadi sumber kehidupan dan pusat peradaban di masa lalu. Dalam buku ini, Penulis menceriterakan tentang Sosok Sungai Cimanuk, Palika dan Sedong, Parade Ikan-ikan Besar, Sisi Lain Waduk Jatigede, Warisan Budaya Tak Benda, Kuliner Khas Sepanjang Cimanuk, Masyarakat Adat, Bengkong dan Sunatan, Hutan Rakyat dan Hutan Alami, Tradisi Bulan Romadhon, dan Tradisi MamalemanSelamat membaca.

[M.S]

***

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DI SEPANJANG SUNGAI CIMANUK

Penulis: H. Usep Romli HM. Cetakan pertama: 2014.

Diterbitkan oleh: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut

 

PENGANTAR

Kecintaan saya terhadap sungai, telah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Di dekat rumah saya di kampung, terdapat sungai irigasi. Bersumber dari bendungan Cibedug, di Sungai Cipancar Desa Cijolang Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut dan berakhir di Kampung Pasarheubeul Desa Limbangan Tengah Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut. Peran dan fungsi sungai irigasi tersebut adalah mengairi pesawahan di Kecamatan Limbangan dan Kecamatan Cibiuk. Dibuat pada zaman Belanda, tahun 1920-an. Airnya juga digunakan untuk mandi, mencuci, dan air minum penduduk setempat.

Menurut ukuran perasaan dan pandangan anak-anak, sungai irigasi itu besar, lebar dan dalam. Di beberapa tempat, terdapat “leuwi” (lubuk). Juga bendungan-bendungan kecil untuk membagi air ke saluran-saluran tersier, yang disebut “bes”. Sangat ideal untuk berenang, menyelam, sambil “icikibung” dan “perang cai” bersama kawan-kawan sebaya.

Setiap dua minggu, sungai irigasi itu suka dibersihkan. Airnya disurutkan. Itulah kesempatan bagi semua orang untuk “marak“. Menangkap ikan, baik dengan tangan kosong, maupun menggunakan alat penangkap ikan, seperti sair, lambit, kecrik, dan lain-lain.

Walaupun hanya sungai irigasi, ternyata memiliki kekayaan isi, berupa ikan-ikan liar dan aburan dari kolam-kolam terdekat. Sehingga menjadi sumber gizi dan protein penting bagi penduduk kampung yang sehari-hari makan dengan lauk ikan asin, atau oncom dan sambal saja.

Setelah usia meningkat, pengenalan terhadp sungaipun bertambah. Bersama kawan-kawan yang suka “ngatrok”, saya menjelajah sungai Cianten dan Cipancar, yang bermuara ke Cimanuk. Dan dari bacaan tentang “ilmu bumi” (geografi), saya mengetahui nama dan letak sungai-sungai besar di Indonesia, seperti Citanduy, Citarum (Jawa Barat), Serayu, Opak, Bengawan Solo (Jawa Tengah), Brantas (Jawa Timur), Musi, Batanghari, Siak (Sumatera), Mahakam, Mamberamo, Barito (Kalimantan), dan lain-lain. Serta sungai-sungai di berbagai negara. Seperti Mekhong (Vietnam), Ho Angho, Yang Tse Kiang (Cina), Chaopraya (Thailand), Indus (Pakistan), Gangga, Yamuna (India), Euprat, Tigris (Irak), Nil (Mesir), Missisipi (Amerika), Seine, Rhein (Eropa), dan lain-lain.

Pengenalan mendalam terhadap Sungai Cimanuk, saya lakukan ketika mendapat tugas mengumpulkan “folklore” (mencakup “folktale” atau ceritera rakyat, tradisi, adat istiadat, dan lain sebagainya yang dikategorikan “karya budaya tak benda”) dari UNESCO (Badan Pendidikan PBB). Melalui panitia Tahun Buku Internasional 1972 Indonesia, saya mendapat bekal amat cukup untuk menyusuri daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk. Terutama kawasan Garut dan Sumedang.

Tulisan yang tersaji dalam buku ini, dapat dikatakan perluasan khusus dari penelitian dan pengumpulan folklore 42 tahun yang lalu. Tentu saja, diambil dari bagian-bagian yang tidak dipublikasikan ke UNESCO yang membatasi garapan hanya sekitar “folktale” saja.

Pengalaman sebagai wartawan aktip (1966-2004), membuka peluang bagi saya untuk menjelajahi sungai-sungai besar di dunia, yang didambakan sejak masa kanak-kanak. Kecuali sungai-sungai di benua Amerika, Alhamdulililah, sungai-sungai di benua Asia, Afrika, dan Eropa telah sempat saya kunjungi, dan saya layari. Sehingga semakin meyakinkan, bahwa sungai merupakan pusat pekembangan peradaban manusia di muka bumi. Semakin bagus kondisi sungai, baik pisik maupun habitatnya, semakin bagus pula peradaban yang dilahirkannya.

Untuk Sungai Cimanuk, saya berharap seperti begitu. Sekalipun hanya tingkat lokal Garut saja. Sebab bagaimanapun juga, Sungai Cimanuk dengan segala keunikannya yang saya paparkan dalam buku ini, adalah aset amat berharga bagi Garut.

Limbangan, 22 Nopember 2014.

H. Usep Romli HM

***

(Pupuh Pucung)

Hayu batur urang lintar ka Cimanuk

Sugan bae meunang

Genggehek atawa keting

Lamun meunang urang gancang-gancang panggang

 

Dicocobek sambarana make cikur

Uyah, gula, bawang

Diseungitan ku tarasi

Dicocolna ku sangu nu pulen pisan

 

SOSOK SUNGAI CIMANUK

Pupuh “Pucung” di atas, suka dinyanyikan anak-anak sekolah dasar tahun 1950-an. Menggambarkan kekayaan habitat alam Sungai Cimanuk. “Ngalintar”, menangkap ikan menggunakan “heurap” atau jala. Hingga mendapatkan ikan “genggehek” dan “keting”, untuk dijadikan menu “cobek”, sejenis kuliner khas Sunda. Dapat dibayangkan, kenikmatan makan nasi “pulen” (liat) dengan lauk “cobek” ikan sungai yang gurih alami.

Sungai Cimanuk, yang mengalir dari Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, dan bermuara di Laut Jawa, Kabupaten Indramayu, memang pernah memiliki peran penting dalam kehidupan manusia di wilayah cakupan Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas kurang lebih 3.000 km2 di kawasan Kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka dan Indramayu. Sedikit banyak, Sungai Cimanuk telah mampu menjalankan peran dan fungsi kesungaiannya sebagai sumber peradaban manusia.

Sebagai sumber ekonomi, Sungai Cimanuk menghasilkan batu, pasir, dan ikan. Batu dan pasir Sungai Cimanuk, merupakan bahan bangunan kualitas nomor satu. Di beberapa tempat, terdapat pusat-pusat pengambilan batu dan pengerukan pasir Sungai Cimanuk, yang dapat membuka lapangan pekerjaan dan sumber nafkah lumayan. Walaupun kadang-kadang pengambilan batu dan pengerukan pasir tersebut mengundang kekhawatiran merusak lingkungan, serta berpengaruh terhadap ekosistem Sungai Cimanuk, namun dalam batas-batas tertentu, aktivitas itu dapat ditolerir. Terutama untuk usaha pemenuhan kebutuhan sehari-hari penduduk setempat.

Adapun penangkapan ikan di Sungai Cimanuk, rata-rata masih bercorak tradisional. Mulai dari menggunakan tangan kosong, istilahnya “ngagogo”, “kokodok”, atau “marak”, hingga menggunakan alat penangkap sederhana. Seperti “kecrik”, “heurap”, “bubu”, “badodon”, “sair”, “ayakan”, “lambit”, “susug”, dan sejenisnya yang terbuat dari bambu, benang kain atau nilon.

Akhir-akhir ini, muncul penggunaan alat penangkap ikan yang membahayakan kelestarian sungai dan ikan. Yaitu alat penangkap bertenaga listrik dari accu. Dinamakan “setruman”, kegiatan penangkapannya disebut “nyetrum”. Muncul pula penggunaan racun kimia protas yang berdaya bunuh tinggi dan luas. Sebelum ada portas, penduduk sekitar sungai kadang-kadang menggunakan racun tumbuhan yang disebut “tuak”. Namun kekuatan racunnya lemah dan hanya bersifat sementara dan tidak menimbulkan dampak merusak seluruh habitat ikan dan sungai.

Jenis-jenis ikan yang terdapat di Sungai Cimanuk, yang tergolong ikan liar asli sungai, antara lain: “arelot”, “senggal”, “genggehek”, “keting”, “beureumpanon”, “kancra”, “bebeong”, “lika”. Yang merupakan “ikan aburan” dari kolam, antara lain ikan mas, nilem, tawes, lele, bogo, gurame, tarambakang.

Ada kemungkinan, antara ikan asli dan ikan aburan terjadi persilangan, sehingga menghasilkan jenis ikan baru yang perlu diteliti.

Walaupun kini terkena ancaman “penyakit ekologi modern”, seperti pelumpuran dan limbah, baik industri maupun rumah tangga, Sungai Cimanuk masih bernasib agak baik dibanding Sungai Citarum yang sudah benar-benar “wassalam”. Sudah membangkai dan beralih menjadi septitank terpanjang di muka bumi. Merana akibat hantaman limbah mengandung zat-zat beracun yang memusnahkan semua daya hidupnya.

Sungai Cimanuk mungkin tidak atau belum. Bagian hulu, dari Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, hingga batas utara Kecamatan Bayongbong, hanya menanggung beban pelumpuran dan sedikit limbah rumah tangga. Sejak masuk Kecamatan Garut Kota hingga Kecamatan Banyuresmi dan kecamatan Wanaraja, sudah nampak gejala limbah industri. Ada beberapa institusi diduga membuang langsung limbah produk mereka ke .sungai.

Hanya karena debit Sungai Cimanuk masih agak stabil, limbah-limbah tersebut masih dapat dinetralisir. Namun jika dibiarkan, tanpa upaya pencegahan serius dari pihak-pihak berwenang, tak mustahil Sungai Cimanuk dalam waktu dekat, akan menyusul Sungai Citarum. Masuk ke kotak kematian amat tragis.

Sebagai bagian dari pusat peradaban manusia, khususnya di empat Kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka, dan Indramayu, umumnya Jawa Barat, Sungai Cimanuk telah memberikan kontribusi amat besar bagi orang dan lingkungan yang dilewatinya. Mulai dari tradisi menangkap ikan, rekreasi kearifan lokal, hingga irigasi dan bakal pembangkit listrik tenaga air Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang.

Tim Pengumpul Folklore Kabupaten Garut, yang dibentuk oleh UNESCO pada Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, mencatat kurang lebih seratus ceritera rakyat yang hidup turun temurun di kalangan masyarakat sepanjang aliran Sungai Cimanuk dari bagian hulu di Kabupaten Garut hingga bagian tengah Kabupaten Sumedang. “Ceritera rakyat (folklore)” itu, meliputi “dongeng (legenda, mithos)”, “kearifan lokal (babasan, paribasa, uga, upacara adat), alat-alat tradisional (pertanian, penangkapan ikan, tabuhan) dan kepercayaan bercorak mistik (pacaduan, pantangan)”, dan lain-lain.

Misalnya, mithos tentang Leuwi Gombong, di Desa Surabaya, Kecamatan Balubur Limbangan. Sejak tahun 1940-an, berkembang kepercayaan, jika ada pegawai pemerintah, memancing atau menjala ikan di sana, akan diberhentikan dari jabatannya.

“Hal itu bermula dari peristiwa, seorang pejabat pemerintah menculik dan memperkosa seorang gadis setempat. Ia yang sedang asyik memancing, tergiur melihat paha mulus seorang gadis yang sedang menyeberang di bagian “hilir” lubuk. Terjadilah rudapaksa yang melahirkan “pacaduan” (tabu) dan kepercayaan itu,“ kata seorang narasumber folklore di Limbangan.

Padahal sebelumnya, sejak tahun 1920-an hingga awal zaman Jepang, Leuwi Gombong terkenal sebagai tempat rekreasi para pejabat tingkat kabupaten. “Kangjeng Dalem” (Bupati) beserta keluarga, suka datang ke situ. Menginap beberapa malam, untuk “Munday” (menangkap ikan) di lubuk yang dalam dan panjang itu.

Pada hari kedatangan Kangjeng Dalem, para “Palika” (penyelam) dari seluruh Garut, dikerahkan. Ditugaskan mengeluarkan ikan-ikan besar khas Cimanuk, seperti lika, kancra, jongjolong, dan lain-lain, keluar dari “sedong” tempat persembunyian mereka. Digiring masuk ke tengah lubuk. Sehingga mudah ditangkap oleh Kangjeng Dalem sekeluarga, yang berdiri di atas rakit, dengan jala atau sair. Jika berhasil menjala ikan sebesar bantal, bersorak-sorailah rakyat yang menonton. Gamelan ditabuh bertalu-talu. Kangjeng Dalem sendiri, diikuti para bawahannya, “ngengklak” di atas rakit.

“Pada zaman Jepang, tradisi Kangjeng Dalem “munday”, terhenti. Namun setelah merdeka juga terus terhenti, akibat gangguan keamanan DI/TII yang berlangsung sejak tahun 1949 hingga 1962. Ketika keamanan pulih, kebiasaan “munday” lenyap akibat berbagai hal. Termasuk perubahan habitat Sungai Cimanuk yang mulai terganggu,” sumber folklore tadi menambahkan.

Tapi sebagai ·sungai yang masih terhitung “selamat”, Sungai Cimanuk tetap menjadi tujuan para penggemar menangkap ikan di alam bebas. Baik memancing, maupun menjala. Masih ada juga yang memasang “badodon” (bubu besar), membuat “kombongan” (rumpon) atau memasang jaring. Musim kemarau, antara bulan Juni-Agustus, hampir semua pinggir “leuwi” Sungai Cimanuk di bagian hulu dan tengah, dipenuhi para pemancing dan penangkap ikan lainnya. Mereka berdatangan dari Bandung, Tasikmalaya, Jakarta dan lain-lain.

“Ingin merasakan kembali kegurihan ikan genggehek, keting, senggal, arelot, balar, hampal, beureumpanon, dan jenis-jenis ikan asli Sungai Cimanuk lainnya. Syukurlah kalau mendapat kancra atau lika,” kata beberapa orang pelanggan mancing di Sungai Cimanuk setiap musim kemarau, yang ditemui di “Sasakbeusi”, Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut.

Tentu saja, kehadiran para “hobbyist” tersebut, membawa dampak positip kepada masyarakat sekitar. Terutama dari aspek ekonomi. Kegiatan jual-beli kebutuhan sehari-hari, seperti beras, bumbu, air mineral, rokok, dll., meningkat keras. Maklum saja, banyak di antara para “hobbyist” itu, rela “mondok moek” di sisi-sisi “leuwi” Sungai Cimanuk. Mendirikan tenda dan meyediakan kebutuhan makan-minum untuk berhari-hari.

Bagaimanapun juga, Sungai Cimanuk masih memberi harapan bagi para penggemar memancing dan penangkap ikan lainnya. Baik yang sekedar hobby mengisi waktu senggang, maupun profesi. Mencari nafkah dari menangkap dan menjual ikan Sungai Cimanuk yang dijamin laku keras.

“Asal yang asli, ya seperti genggehek, keting, kancra tadi. Bukan ikan “aburan” seperti lele dumbo, nila, tawes, nilem, dan sejenisnya yang merupakan ikan peliharaan di kolam-kolam. Bukan ikan liar,” Mang Uha (65 th), penduduk Desa Majasari, Kec. Cibiuk, yang sejak usia muda menjadi tukang “lintar” di Sungai Cimanuk, mengisahkan.

kearifan-budaya-lokal-di-sepanjang-sungai-cimanuk-ful-testl_page_25

***

“PALlKA” DAN “SEDONG”

Palika” adalah gelar bagi seseorang yang pandai menyelam. Masuk ke dalam air hingga berjam-jam. Di tiap kampung atau desa yang dilewati sungai besar, seperti Cimanuk, selalu ada satu dua orang “palika”.

Dari keahlian menyelam itu, mereka dapat menolong orang yang tenggelam. Menyelamatkan dari arus deras atau pusaran air. Atau mengangkat jasadnya yang sudah tidak bernyawa.

Untuk menjadi seorang “palika” tidak mudah. Selain harus dibimbing dan dilatih oleh “palika” senior, juga harus punya ketahanan fisik yang prima, keberanian menghadapi risiko terburuk, dan rendah hati.

“Seseorang yang sakit-sakitan, kurang bernyali dan besar kepala, tidak layak menjadi “palika”,” kata Mahmud (67 th), seorang cucu “palika” terkenal di Kecamatan Limbangan tahun 1930-1970an. Ia menuturkan keterangan kakeknya yang wafat th. 1988. “Ayah saya dan saya sendiri, tidak berhasil menjadi “palika” melanjutkan keahlian kakek karena punya penyakit kambuhan. Ayah menderita asma, yang tak kuat menghadapi cuaca dingin. Apalagi menyelam ke dalam air. Saya suka “kaligata” (alergi kulit). Kalau kena dingin seluruh badan “gimpa” dan gatal-gatal.”

Tapi Mahmud mampu menjelaskan ke “palika”an kakeknya, karena suka membantu menjaga “buhul” tali tambang yang mengikat tubuh kakeknya ketika menyelam. Tali tambang itu diikatkan kepada sebatang kayu, pohon bambu atau tonggak yang sengaja dibuat. Ditancapkan kuat-kuat. Buhul tali itu harus dijaga oleh anggota keluarga. Terutama anak, cucu, atau adik kandung. Tidak boleh ditinggalkan barang sejenakpun.

“Takut nanti ada yang berhianat, memutuskan tali. Membuat “palika” tersesat di dalam lubang “sedong” dan mati di sana,“ tutur Mahmud, yang berkali-kali menyaksikan kakeknya menyelam di beberapa lubuk besar Sungai Cimanuk. Termasuk Leuwi Gombong yang legendaris. “Jika ada orang kota pesan ikan kancra besar, kakek segera menyelam. Menangkap dua tiga ekor. Tentu mendapat imbalan lebih dari lumayan.”

Tentang “sedong”, Mahmud menerangkan, berdasarkan kisah kakeknya. Di tebing-tebing bagian dasar lubuk, biasanya terdapat lubang-lubang mirip gua. Ada yang sebesar pintu rumah, ada yang cuma seukuran badan orang dewasa. Nah, setelah mengikat badan dan memeriksa buhul tali pada pohon sudah kuat serta ditunggui oleh orang kepercayaan, “palika” turun ke lubuk. Lalu menyelam ke arah lubang-lubang gua yang sudah dikenalnya. Masuk ke situ. Dan keluar di sebelah sana. Tempat dimaksud yang disebut “Sedong“, sebuah gua besar, tinggi dan luas. Setengah atau seperempatnya berisi air sesuai dengan ketinggian air lubuk di luar. Di dalam “sedong” itu, berkumpul aneka jenis ikan penghuni Sungai Cimanuk. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Mata ikan-ikan besar menyala seperti lampu sorot, menembus kegelapan “sedong”. Mereka mendekati “palika” seperti ingin memeriksa siapa yang datang.

“Jika belum dikenal, ikan-ikan itu segera kabur. Menjauh ke seberang. Mungkin masuk lagi ke “sedong” lain di seberang “sedong” itu. Makanya, para “palika” yunior suka didampingi “palika” senior, masuk ke dalam “sedong” dan “berkenalan” dengan ikan-ikan penghuninya. Kepada “palika” yang sudah dikenal, ikan-ikan itu terus mendekat. Mulailah aki membelai satu dua tubuh ikan besar. Kemudian mengajak berkata-kata, serta membujuk, mengajak mereka ke luar. Agar mau mengorbankan diri untuk ditangkap. Biasanya ada satu dua ekor ikan yang meluluskan permintaan aki. Lalu bersama-sama ke luar, dan diangkat ke darat. Agar ikan mau takluk, tentu tidak sembarangan. Ada jampi-jampi atau “jangjawokan”’ yang disebut “Pangleumpeuh” (pelemas). Untuk menguasainya, perlu puasa sekian hari sekian malam. Ya, bagian terberat dari proses menempuh pendidikan “palika”,” papar Mahmud.

Sayang, seiring dengan perubahan lingkungan dan penurunan kesadaran manusia dalam menjaga kelestarian alam, keberadaan “sedong” berikut isinya, banyak yang musnah. Salah satu di antaranya, akibat bencana letusan Gunung Galunggung, April 1982. Debu dari letusan gunung itu, mendangkalkan sungai-sungai. Maka banyak “sedong” yang tertutup.

Disusul kemarau panjang hingga setahun terus-menerus. Pada waktu datang hujan, aliran air bercampur debu mengandung belerang dan mineral lain, masuk ke sungai-sungai. Membuat ikan-ikan bergelimpangan mati. Termasuk yang ada di dalam “sedong”. “Kehidupan “palika” pun ikut terputus,” kata Mahmud sendu.

***

PARADE IKAN-IKAN BESAR

Hingga tahun 1970, beberapa lokasi di Sungai Cimanuk, memiliki aura angker. Terutama lubuk-lubuk besar yang sisi kiri kanannya dipenuhi tumbuhan khas sungai besar. Antara lain “dadap-cangkring” (tinggi menjulang), batang, dahan dan ranting-rantingnya penuh duri. Berhiaskan bunga-bunga berkelopak besar berwarna merah cerah. Pohon ini merupakan tempat paling cocok untuk pemukiman burung-burung.

Burung manyar membuat sarang mirip balon panjang. Bergelantungan di ranting-ranting yang menjulur. Begitu pula kerak, bincarung, jogjog, dan jenis-jenis burung lain. Di atas pohon dadap cangkring mereka merasa aman terlindungi.

Juga menjadi persinggahan burung-burung besar yang akan menuju kediamannya di gunung. Seperti kuntul, bukaupih, bangau. Sesekali mereka hinggap di sana sambil memakan ikan atau katak yang mereka peroleh di perjalanan.

Ada pula pohon-pohon “warudoyong”, “kopo”, “geredog”, “haur”, yang membentuk rumpun-rumpun peneduh sepanjang bantaran sungai.

Di bawahnya arus deras sungai Cimanuk pada bagian yang dangkal. Kemudian menggenang bagai berhenti pada bagian yang dalam dan luas. Disebut “leuwi” (lubuk). Sejak bagian tengah Sungai Cimanuk di daerah Kecamatan Wanaraja dan Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut ke sebelah hilir, hingga ke kawasan Tolengas, Kabupaten Majalengka, terdapat ratusan lubuk dengan segala “misteri” yang dikandungnya. Berupa kisah imajiner, peristiwa ajaib, dan aneka macam lainnya yang dapat dipercaya atau tidak. Namun hidup berkembang di lingkungan masyarakat yang sering berinteraksi dengan Sungai Cimanuk.

Peristiwa “kawenehan” (kebetulan), seseorang menyaksikan ikan-ikan besar, berenang berkelompok mengitari lubuk. Biasanya ikan-ikan liar itu muncul secara tak terduga, pada saat di langit sebelah barat, bersemburat cahaya lembayung. Sehingga disebut “ngalayung”. Sehingga ada seekor ikan besar, sejenis ikan mas, berwarna kuning kemerahan, dinamai “si Layung”. Selain karena warnanya mirip “layung” (lembayung), ikan itu selalu muncul pada setiap peristiwa “kawenehan” parade ikan-ikan besar Sungai Cimanuk.

Ikan lain yang melegenda, adalah “si Rawing”. Sejenis ikan kancra sebesar bantal. Berwarna hijau kehitaman. Sering terkena pancing, namun selalu berhasil meloloskan diri. Sehingga bagian bibirnya sobek-sobek tak karuan. Ya jadilah “rawing”.

Kadang-kadang “Si layung” dan “Si Rawing” bersama-sama memimpin parade ikan-ikan besar itu. Kadang-kadang, terpisah. Muncul sendiri-sendiri, membawa barisan masing-masing.

Konon, banyak pemancing yang “kawenehan” menyaksikan pemandangan menakjubkan itu, terpukau. Berdiri atau duduk kaku bagaikan batu. Mereka tak mau bergerak. Takut menimbulkan suara gemerisik, yang akan membuat parade ikan liar itu bubar mendadak.

Takut kehilangan keindahan pemandangan yang sedemikian mempesona, dan jarang sekali terjadi. Kecuali yang “kawenehan” itu saja. Betapa tidak! Belasan atau puluhan ekor ikan berbagai warna dan ukuran, begitu asyik “ngalayung”. Berenang berbarengan di atas permukaan air lubuk. Begitu lembayung lenyap di garis horison langit, mereka bubar. Menyelam kembali ke kedalaman lubuk. Masuk ke “sedong” tersembunyi di dasar lubuk. Tempat mereka hidup dan berkembang biak, terlindung dari ancaman para penjala dan pemancing.

Maka tak sedikit yang datang ke Sungai Cimanuk, tanpa membawa alat penangkan ikan, pancing atau jala. Tujuannya hanya sekedar berharap “kawenehan” melihat peristiwa langka itu.

Apakah setelah habitat sungai rusak diobrak-abrik limbah, penebangan liar dan penggunaan zat kimia atau elektrik dalam penangkapan ikan, yang menggejala sejak tahun 1980-an, masih ada parade ikan liar “ngalayung” di kala senja? Entahlah! “Si Layung” dan “Si Rawing” hanya tinggal dongeng masa lalu yang sulit dipercaya masa kini. Hanya tinggal nostalgia belaka.

***

SISI LAIN WADUK JATIGEDE

Waduk Jatigede, yang membendung Sungai Cimanuk, di Kecamatan Cadasngampar, Kabupaten Sumedang, sudah akan selesai. Empat Kabupaten di bagian hilir sungai, kelak akan menikmati limpahan air untuk pengairan dan tenaga listrik. Para petani di Kabupaten Majalengka, Kuningan, Cirebon dan Indramayu, tidak akan lagi menderita kekeringan. Memperkuat aliran irigasi Rentang, yang semakin menyusut.

Sejak rencana pembangunan Bendungan Jatigede mencuat awal tahun 1980-an, telah banyak usulan, agar kondisi Sungai Cimanuk dipulihkan dulu. Reboisasi dan rehabilitasi lahan di bagian hulu, harus digalakkan. Jarak waktu hampir 30 tahun, antara rencana dan kenyataan, jika saja dipraktekkan, akan sangat memungkinkan perbaikan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk. Penghijauan dan perbaikan tataguna tanah di kawasan DAS Cimanuk, akan berdampak positip pada penyediaan air, sistem pertanian, dan peningkatan social-ekonomi penduduk setempat. Mataair akan bermunculan di mana-mana. Tanpa dibendung pun, kemungkinan besar Sungai Cimanuk dapat menjadi pemasok air yang dapat diandalkan, melalui jaringan pipanisasi yang pasti lebih murah dan lebih menjamin keutuhan lingkungan hidup kawasan dan masyarakat di sekitarnya.

Tapi tampaknya, baik pemerintah maupun masyarakat, kurang antusias. Sungai Cimanuk dbiarkan apa adanya. Gerakan penghijauan di DAS Cimanuk sering lebih bersifat seremonial daripada sungguh-sungguh. Kepentingan jangka panjang sungai dan lingkungannya nyaris terabaikan. Masih dapat disebut beruntung, karena posisi Sungai Cimanuk terletak lebih rendah daripada pekampungan dan pedesaan penduduk. Sehingga tak pernah menimbulkan bencana banjir seperti Sungai Citarum. Namun bukan berarti harus terabaikan pemeliharaannya.

Membuat bendungan memang merupakan sebuah tuntutan kebutuhan untuk menanggulangi kekurangan air pada musim kemarau dan pengendalian banjir pada musim hujan. Namun akan terasa lebih indah dan lebih bermanfaat, apabila pemenuhan kebutuhan itu bertumpu pada perbaikan menyeluruh, sejak hulu hingga hilir. Mendahulukan reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis secara baik dan benar, untuk mendukung usia dan dayaguna bendungan, tentu akan menjadi pilhan utama, daripada membuat bendungan dalam keadaan sungai terlantar tak terpelihara. Pembangunan Waduk Jatigede yang sudah mulai digarap (lagi) setelah 25 tahun terbengkalai, mungkin bersifat untung-untungan dan dipaksakan selama bagian hulu Sungai Cimanuk dibiarkan derita.

Padahal di sungai yang belum terlalu tercemari limbah industri itu, konon akan dibangun lagi tiga bendungan, selain Jatigede yang merupakan bendungan inti. Dua merupakan paket “cetak biru” warisan kolonial Belanda, yaitu Cipasang dan Bakom, kurang lebih 30 km ke arah hulu Jatigede, yang akan menjadi filter bagi Jatigede. Satu lagi Copong di Kecamatan Wanaraja, yang rnerupakan “janji kampanye” pemilihan presiden RI tahun 2004. Baik Cipasang dan Bakom maupun Copong, masih belum jelas masa depannya. Mungkin mendahulukan Jatigede yang terlanjur menimbulkan kontroversi berlarut-Iarut di kalangan penentu kebijakan, dan derita sosial-ekonomi bagi penduduk setempat- kurang lebih 20 Desa di tiga Kecamatan Wado, Darmaraja dan Cadasngampar yang sejak tahun 1984 harus tercerabut kehidupannya, karena tanahnya terkena rencana proyek yang sempat timbul tenggelam.

Sebagaimana diutarakan Dr. Vandana Shiva, ahli filsafat dan fisika asal India, yang memiliki reputasi internasional. Bahwa pembangunan bendungan merupakan salah satu penyebab utama ancaman terhadap keragaman hayati. Dalam bukunya “Biodoversity a Third World Perspective” (1992), ia mengungkapkan berbagai contoh dampak negative dari pembangunan bendungan. Ribuan bahkan jutaan species flora dan fauna, sebagian besar belum terdeteksi dan terinventarisasi, lenyap ditelan genangan air. Padahal species-species tersebut kemungkinan mengandung bahan obat-obatan, bahan pengembangan pangan, sumber ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang sangat berguna untuk menopang perkembangan budaya dan peradaban di masa-masa mendatang. Kerusakan keragaman hayati pada kawasan budidaya akibat dorongan ambisi ekonomi dan teknologi, menimbulkan keragaman dengan homogenitas dalam sektor kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan. Keragaman hayati yang telah ditelan air bendungan, secara sengaja digantikan oleh keseragaman hayati dan monokultur. Dampak dari proses memprihatinkan itu, adalah kerawanan sosial dan kemiskinan ekonomi.

Teori Vandana Shiva di atas mungkin sangat bertentangan dengan keinginan segelintir investor dan penerima komisi dari proyek-proyek raksasa semacam Waduk Jatigede. Juga bertentangan dengan keinginan masyarakat yang sudah dicekoki pola pikir praktis tentang manfaat bendungan. Tanpa pernah mendapat informasi seimbang mengenai kerugian-kerugiannya, baik di hulu maupun di hilir. Tapi bagaimanapun, masyarakat sendiri yang akan merasakannya kelak apa-apa yang disinyalir Vandana Shiva. Sekarang juga dampak monokultur di bidang pertanian, sudah mulai terasa. Para petani hanya menjadi “kelinci percobaan” untuk benih dan obat-obatan baru. Peran mereka sebagai produsen benih tradisional, dan penentu harga jual, sudah terkikis habis, karena terdesak menjadi konsumen dan korban mafia pertanian sejak hulu hingga hilir. Para aparat di bidang pertanian, malah lebih condong menjadi kaki tangan produsen benih dan obat-obatan daripada sebagai penyuluh, pelindung dan pengayom para petani. Sebuah kondisi yang menjadikan petani semakin “kari daki” belaka. Bersama Sungai Cimanuk, nasib para petani mengalir sampai jauh.

kearifan-budaya-lokal-di-sepanjang-sungai-cimanuk-ful-testl_page_39

***

WARISAN BUDAYA TAK BENDA

Budaya tak benda, adalah sebentuk karya atau hasil budaya yang bersifat abstrak. Hidup di kalangan masyarakat di berbagai tempat, dalam ragam penampilan yang mengandung ketinggian nilai dan kearifan lokal, baik berupa “folklore” (ceritera rakyat mencakup dongeng, mitos, legenda, yang diwariskan dari ke generasi melalui tuturan lisan, juga peribahasa, perumpamaan, nyanyian, mantera, pertabuan, dan lain-lain), kerajinan tangan (handcraft), adat kebiasaan di segala bidang kehidupan setempat, dan lain-lain.

Sepanjang ratusan kilometer aliran Sungai Cimanuk, terdapat berbagai ragam corak budaya tak benda, yang perlu dijaga, dan dilestarikan, karena merupakan salah satu warisan budaya generasi terdahulu yang patut diketahui oleh generasi-generasi pewarisnya.

Beberapa jenis budaya tak benda yang tercatat sepanjang aliran Sungai Cimanuk, antara lain:

Tradisi Menangkap Ikan Sungai

Marak

Marak” yaitu menangkap ikan beramai-ramai, dengan terlebih dahulu membendung salah satu bagian pinggir sungai. Alat pembendung menggunakan batu, tanah, anyaman bambu, dll. Di sebelah hulu dan hilir bendungan diberi lubang untuk ke luar masuk ikan. Di bagian atasnya ditutupi daun-daunan dan ranting-ranting pohon, agar ikan betah tinggal di situ. Bagian yang sudah dibendung itu, biasa dinamakan “kombongan”. Pada waktu akan diparak, lubang kedua bendungan ditutup rapat. Ranting dan daun-daunan dibersihkan. Kemudian air di dalam kombongan dikeduk beramai-ramai hingga surut. Tampaklah ikan-ikan yang terperangkap di sana. Tinggal menangkapi menggunakan tangan kosong atau menggunakan alat “sair” dan “lambit”. Hasil “marak” kemudian dibagi rata kepada setiap orang yang ikut membuat bendungan semula.

Ngecrik atau Ngaheurap.

Ngecrik” yaitu menangkap ikan menggunakan jala kedl yang terbuat dari anyaman benang atau nilon. Tempat “ngecrik” biasanya di bagian sungai yang dangkal di bagian pinggir. Sedangkan “ngaheurap”, menangkap ikan menggunakan “heurap”. “Kecrik” berukuran besar, tiga empat kali lipat “kecrik”. Penangkapan ikan dengan “heurap” dilakukan di tengah lubuk yang dalam. Biasanya dibantu dengan rakit. Beberapa batang bambu diikat, menyerupai perahu. Dari atas rakit, “heurap” dilemparkan ke tengah lubuk. Dengan “heurap” biasanya diperoleh ikan-ikan besar seukuran betis orang dewasa. Kalau dengan “kecrik” hanya ikan-ikan kecil sebesar telapak tangan saja yang tertangkap.

Kokodok atau ngagogo.

Kokodok” yaitu menangkap ikan dengan tangan kosong. Dilakukan di tempat-tempat dangkal. Lubang-Iubang tempat tinggal ikan, dirogoh. Jika kebetulan lubang berisi ikan, segera dipegang erat dan ditarik ke luar. Tidak jarang, ikan meloncat terlebih dulu, kabur, begitu tangan tukang “kokodok” masuk ke sana.

Ngabubu dan Ngabadodon.

Bubu”, alat perangkap ikan terbuat dari bambu. Dianyam agak rapat. Di bagian kepala diberi lubang tempat masuk ikan. Bubu biasa dipasang jika sungai surut. Dipakai untuk mencegat ikan-ikan yang naik dari hilir ke hulu. Sedangkan “badodon” merupakan ‘bubu” besar. Tak jarang berukuran sama dengan tubuh manusia dewasa. Biasanya “badodon” dipasang permanen di suatu tempat di bagian hulu lubuk. Lubangnya mengarah ke hilir. Yang menjadi sasaran adalah ikan-ikan besar yang berenang ke bagian hulu pada waktu air banjir. Jika sudah berisi, “badodon” diangkat untuk diambil ikannya. Kemudian dipasangkan lagi hingga diperiksa lagi beberapa hari berikutnya.

Nguseup.

Nguseup” atau memancing, dilakukan pada saat musim kemarau, ketika air Sungai Cimanuk surut dan jernih. Para pemancing kadang-kadang bermalam di tepi sungai, berharap umpannya disantap ikan. Untuk memancing ikan di Sungai Cimanuk, digunakan berbagai jenis umpan. Dari yang lumrah, seperti cacing, cangkilung (ulat bambu), jangkrik, gaang, siraru, hingga yang aneh-aneh, seperti “eupan colek” yang terbuat campuran kotoran manusia, umpan buatan terdiri dari ramuan-ramuan yang diperkirakan mampu menggugah rasa lapar ikan, seperti campuran telur “kacing calang” (busuk), “gajih” (lemak), dan banyak lagi. Banyak yang berhasil. Di samping tak sedikit yang gagal. Namun tak pernah membuat para pemacing kapok. Pada waktu dan kesempatan tertentu, mereka tetap datang ke Cimanuk. Melempar umpan, memegang joran, berjam-jam nongkrong, menunggu kedatangan ikan.

Pacaduan

Pacaduan atau tabu, yaitu perbuatan yang dilarang dilakukan berdasarkan amanat leluhur. Istilah “cadu tujuh turunan” merupakan contoh kata-kata mengenai “tabu” atau “pacaduan” itu.

Di sepanjang aliran Sungai Cimanuk, terdapat “pacaduan” berupa mengucapkan kata-kata “sompral” (kasar, memaki, menghina). Juga “cadu” berupa perbuatan melakukan sesuatu di tempat-tempat tertentu.

Seperti pernah disinggung di atas, di kawasan Leuwi Gombong, terdapat “pacaduan”, jika pegawai negeri datang ke sana, baik memancing atau sekedar bermain, akan kehilangan kedudukannya. Pacaduan itu bermula, pada tahun 1920-an, ada seorang aparat pemerintah, yang sedang asyik memancing, melihat seorang wanita menyeberang tidak jauh dari tempatnya. Aparat itu tergiur melihat paha penyeberang yang kainnya tersingkap ke atas. Maka begitu sampai ke pinggir, wanita itu disergap dan diperkosa. Versi lain, dibunuh karena melawan.

Sejak saat itu, muncullah “pacaduan” yang dilontarkan seorang tetua setempat. Leuwi Gombong “cadu” didatangi pejabat. Juga “pacaduan” setiap wanita penduduk di situ, “cadu” menyeberang di Leuwi Gombong.

Padahal, sebelum terjadi peristiwa memalukan dan memilukan, Leuwi Gombong menjadi lokasi pavorit Kangjeng Dalem (Garut) untuk “macangkrama”. Menghibur diri bersama anak istri, sanak keluarga, para pembesar dan bawahan, berpesta menangkap ikan. Pesta rakyat tujuh hari tujuh malam dengan “botram” bakar, cobek, dan pepes ikan Cimanuk yang gurih lezat.

Pacaduan lain berupa ucapan, konon terjadi tahun 1950-an. Seorang pemancing yang sial, mencangkung hingga pagi dan petang, marah-marah. Memukul-mukulkan pancing ke permukaan sungai sambil mencaci maki seluruh isi Sungai Cimanuk. Kata-kata “haram jadah”, “goblog” dan sejenisnya terlontar tanpa sadar. Menganggap Sungai Cimanuk miskin dan kikir. Sehingga tak ada seekor ikan pun tertangkap oleh pancingnya.

Tiba-tiba, di tengah keremangan senja, air lubuk Sungai Clmanuk, bergolak. Seperti mendidih. Menimbulkan bunyi gemuruh. Dan dari tengah lubuk, muncul seekor ikan hitam sebesar “lisung”. Kepalanya berduri. Matanya menyala. Mulutnya terbuka. Menampakkan gigi-gigi runcing siap menerkam.

Pemancing yang sedang marah-marah itu, terkejut luar biasa. Secara refleks, segera berlari. Naik ke tebing. Hingga napasnya tersengal-sengal. la terkapar di situ. Baru diketemukan beberapa jam kemudian oleh orang-orang yang akan memancing malam hari.

Pemancing sial itu, sakit keras hingga berbulan-bulan. Ia menderita “soak” (trauma). Bahkan nyaris gila. Terlontarlah ucapan “cadu nyarita suaban dl Cimanuk” (tabu mengucap kata-kata tak karuan di Sungai Cimanuk). “Pacaduan” tersebut berlaku hingga sekarang, di semua tempat di lubuk-lubuk Sungai Cimanuk.

Dongeng

Dongeng adalah kisah fiksi. Sulit dideteksi kebenarannya, namun amat disukai, dan mudah tersebar lewat ceritera dari mulut ke mulut. Ada dua dongeng yang cukup populer di masyarakat yang berkaitan dengan Sungai Cimanuk:

Dikejar Ribuan Kera

Mang Jumanta, seorang penggemar memancing di Sungai Cimanuk. Jarang membawa hasil berupa ikan, namun tak pernah luput membawa kisah-kisah menarik yang ia ceriterakan kepada orang-orang yang berkumpul di gardu ronda kampungnya.

“Minggu lalu, pukul sembilan pagi, Emang turun ke Leuwi Geblug, di bawah jembatan gantung yang menghubungkan Cibiuk dan Cibatu. Baru saja umpan dicemplungkan, sudah ada yang menyambut. Terasa getarannya ke gagang joran. Emang sudah siap-siap, kalau ikan sudah benar-benar “nyanggut”. Menelan umpan.”

“Eh, tiba-tiba ada seekor monyet jatuh dari pucuk bambu. Diikuti seekor lagi. Terus mereka bergumul di dekat tali pancing Emang. Tentu saja ikan yang Emang harapkan kabur. Terganggu oleh monyet yang timbul tenggelam di situ.”

“Rupanya monyet itu sedang pengantin. Mereka saling kejar di pucuk bambu, terus menjatuhkan diri ke air dan bercumbu sambil berenang-renang.”

“Tiba-tiba Emang merasa kesal. Emang ambil batu sebesar ibu jari kaki. Dilemparkan ke monyet itu. “Peletak”! Kena pada kepala yang seekor. Ia menjerit, terus tenggelam. Monyet yang satu lagi, berbalik menatap Emang. Kemudian menyelam. Muncul lagi membawa pasangannya yang kena lempar. Ia membopongnya dan menggeletakkannya di atas pasir di seberang leuwi. Sambil terus menjerit-jerit.”

“Tiba-tiba berdatangan belasan ekor monyet. Merubung yang tergeletak. Monyet yang tadi melompat-Iompat sambil menunjuk-nunjuk ke arah Emang. Mungkin melaporkan kejadiannya.”

“Monyet-monyet yang baru datang itu, semua menghadap ke arah Emang. Mengacung-acungkan tangannya seolah-olah mengancam, karena Emang telah menganiaya salah seorang warganya. Beberapa ekor turun ke lubuk dan berenang menuju Emang. Sementara dari pohon-pohon sekitar leuwi, berdatangan monyet-monyet lain. Termasuk dari pohon-pohon yang berada dekat Emang memancing.”

“Melihat gelagat itu, Emang segera bangkit. Melarikan diri ke arah kampung di atas. Hanya sekejap ratusan moyet sudah merubung di tempat bekas Emang tadi duduk. Mereka mematahkan joran, melemparkan umpan dan “keruntung” ke dalam lubuk. “Kaneron” berisi bekal nasi timbel, mereka aduk-aduk. Kemudian mereka mengejar Emang yang sudah berada di atas tebing. lari tak karuan. Masuk ke dalam masjid. Bersembunyi di sana. Terdengar suara hiruk pikuk monyet mendekat. Untung ada beberapa orang kampung menghalaunya dengan berbagai alat pemukul. Jika tidak, dan mereka menemukan Emang di persembunyian, entah apa yang akan terjadi. Sejak hari itu, Emang berhenti memancing. Baru turun lagi setelah diajak beberapa orang. Kalau sendirian, Emang tak mau lagi.”

Keruntung Penuh Babakaur

Dongeng ini, berdasarkan pengalaman seorang pemancing di Cibugel, Kabupaten Sumedang. la memancing di sebuah lubuk Sungai Cimanuk. Sangat beruntung. Hanya dalam tempo satu dua jam, sudah berhasil mendapat ikan cukup banyak. Dimasukkan ke dalam keruntung (korang) cukup besar.

Saking asyiknya memancing, ia tak mendengar suara azan duhur. Begitu pula azan asar. la lupa salat karena tak mau meninggalkan pancing yang selalu “clom giriwil”.

Baru sadar setelah hari mulai gelap. la segera bangkit. Membereskan alat-alat pancing. Kemudian mengambil keruntung yang tentu saja sudah penuh oleh ikan hasil pancingan.

Namun betapa ia terkejut. Begitu akan merengkuh keruntung, tampak wadah itu penuh dengan babakaur. Serangga berbisa, yang sengatannya mematikan. Ke mana ikan-ikan hasil tangkapan sejak pagi hingga senja? Habis dilahap binatang melata yang berbahaya itu.

la sadar, mungkin itu hukuman langsung bagi dirinya yang sengaja meninggalkan shalat karena terlena memancing ikan di Cimanuk.

kearifan-budaya-lokal-di-sepanjang-sungai-cimanuk-ful-testl_page_51

***

KULINER KHAS SEPANJANG DAS CIMANUK

Banyak desa dan kampung sepanjang Daerah Aliran 5ungai (DAS) Cimanuk. Baik yang berada langsung di sisi-sisi alirannya, maupun yang berada di cakupannya, sekitar aliran anak sungai yang bermuara ke 5ungai Cimanuk. Bebarapa di antaranya adalah:

Sambel Cibiuk

Nama “Sambel Cibiuk” mungkin sudah amat dikenal. Boleh dikatakan termashur. Sebab hampir semua restoran atau rumah makan di seluruh Nusantara, bahkan mancanagara, selalu menyediakan menu “Sambel Cibiuk”. Apalagi restoran atau rumah makan yang menggunakan label khas Sunda mah, sudah pasti dilengkapi menu “Sambel Cibiuk”, berikut “lalab rumbah” selengkapnya.

Hingga akhir tahun 1990-an, “Sambel Cibiuk” masih berupa kuliner sederhana, di lingkungan rumah tangga pedesaan. Terutama di desa-desa Kecamatan Cibiuk (berdiri tahun 1985, pemekaran dari Kecamatan Kadungora), Kabupaten Garut. Terletak kurang lebih 20 km, sebelah utara pusat kota Garut, atau kurang lebih 3 km sebelah selatan Kecamatan Limbangan, di jalur jalan raya Bandung-Limbangan-Tasikmalaya.

Bumbu sambal sudah tak asing sejak dulu. Nama dan bahannya macam-macam. Ada sambal terasi (berbahan pokok terasi), sambal oncom (berbahan pokok oncom), sambal “galendo” (berbahan pokok galendo, ampas minyak kelapa), sambal “goang” (hanya sekedar cabe rawit, digerus kasar tanpa campuran apa-apa), dan banyak lagi. Sesuai tuntutan selera, koleksi jenis sambal terus bertambah. Ada sambal goreng, sambel goreng tempe, sambal “bajag”, dan lain-lain.

Nama “Sambel Cibiuk”, mungkin untuk membedakan dengan sambal-sambal lainnya. Walaupun menggunakan bahan bumbu tak jauh berbeda dari sambal terasi biasa, yaitu terasi plus cabai rawit hijau, namun ada campuran bumbu lain yang selalu harus ada. Yaitu “surawung” (kemangi), bawang putih, kencur, tomat hijau (kemir), asam, jeruk purut.

Di luar itu, terdapat tambahan lain: riwayat atau sejarah lahirnya sambal tersebut yang berkaitan dengan kegiatan da’wah Islam abad 19.

Menurut ceritera rakyat (folklore), yang dikumpulkan oleh Panitia Tahun Buku Internasional 1972 Indonesia, di wilayah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang), “Sambel Cibiuk”, lahir dari kreativitas “Embah Wali Jafar Siddik”, seorang ulama penyebar agama Islam di kawasan utara Garut. Agar orang-orang yang didakwahi tertarik mempelajari ajaran Islam, Embah Wali memerintahkan putrinya, “Nyi Mas Fatimah”, menghidangkan suguhan kepada setiap tamu yang datang, sebagai tanda menghormati dan memuliakan tamu sebagaimana dicontohkan Kangjeng Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, falyukrim dloifahu”. “Siapa saja manusia yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, harus memuliakan tamunya” (hadits sahih riwayat Imam Bukhori).

Maka Embah Wali menunjukkan cara menjalankan Sunnah Rosulullah dengan cara memuliakan tamu melalui praktek menyuguhi tamu-tamunya makan-minum. Sebelum memulai makan, para tamu diajak berdo’a: “Allohumma bariklana fi ma rozaktana wa qina adzaban naar”. “Ya Alloh, semoga rejeki kami semua ini diberkahi, dan kami semua dilindungi dari siksa api neraka” (hadits sahih riwayat Imam Bukhori).

Sesudah makan, bersama-sama mengucapkan puji syukur kepada Alloh SWT, yang sudah memberikan nikmat: “Alhamdulillahilladzi ath’amana wa saqona wa ja’alna Muslimin”. “Segala puji milik Alloh, yang telah memberi kami semua, makanan dan minuman, serta memasukkan kami semua menjadi Muslim” (hadits sahih Bukhori).

Selain itu, diterapkan pula cara memelihara kelestarian lingkungan. Lokasi tempat Embah Wali menyebarkan dakwah Islam, adalah sebuah rumah panggung, beratap “julang ngapak” khas rumah asli Tatar Sunda. Di bagian depan, terdapat “tepas”. Yaitu balai-balai terbuka dan cukup luas untuk menampung duduk 5-10 orang. Di sampingnya, berdiri sebuah “tajug”. Masjid kecil. Menghadap kolam agak luas. Sepanjang pinggir kolam, penuh tanaman untuk kebutuhan dapur sehari-hari, seperti cabe rawit, bawang daun, bawang merah, bawang putih, kencur, surawung, jahe, tomat kemir, dan sebagainya.

Halaman belakang, terdiri dari sawah dua tiga petak. Diseberangnya, tanah berbentuk bukit kecil, dijadikan hutan. Bagian puncak diisi kayu-kayu keras semacam beringin, bungur, kihuru, yang menjadi sumber mata-air. Di bagian tengah dan bawah, berderet aneka macam pohon kayu usia pendek, seperti albasia, juar, bintinu, mahoni, dan lain-lain, serta pohon buah-buahan: mangga, rambutan, durian, pepaya. Juga pohon kawung yang air niranya dapat disadap untuk dijadikan gula merah.

Kepada para santri, dan semua orang yang datang ke situ, Embah Wali selalu mengingatkan, agar betul-betul menjaga dan memelihara lingkungan. Jangan sampai dibiarkan rusak. Apalagi sengaja dirusak. Karena, lingkungan alam yang baik, akan mendatangkan air yang baik. Yaitu air yang suci dan mensucikan, baik keadaannya, maupun jumlahnya, yang memenuhi syarat-syarat bersuci (thoharoh), yang merupakan rangkaian terpenting dari ibadah. Terutama salat yang menjadi “tiang agama” (ash-sholatu imaduddin). Sedangkan untuk shalat, harus wudlu dulu. Tak ada shalat tanpa wudlu. Alloh SWT tidak akan menerima shalat seseorang yang tidak wudlu. “La yaqbalullohu sholatan bi ghoiri thuhurin” (hadits sahih riwayat Imam Muslim).

Lagi pula Alloh SWT membenci orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. “lnnalloha la yuhibbul mufsidin” (Q.s. al Qoshosh 77). Terutama merusak alam Iingkungan yang dapat rnengundang bencana berkepanjangan.

Berdasarkan kepada cerita rakyat di atas, awal mula kelahiran “Sambel Cibiuk”, penuh dengan unsur pendidikan dan pengetahuan ekologi, serta kemandirian hidup sederhana. Sebab segala macam bumbu yang terdapat “Sambel Cibiuk”, baik sambalnya, maupun kelengkapan kawan nasi lainnya, tidak usah jauh-jauh mencari. Cukup dari apa yang ada di sekitar rumah saja. Kecuali terasi, dan garam. Yang lain-lain, mulai dari cabe rawit, bawang merah, bawang putih, asam, surawung, tomat, gula merah, jeruk purut, telah tersedia. Ikan tinggal “nyirib” atau “nyusug” di kolam depan tajug. Di”cobek” atau di”pais”. Begitu pula aneka jenis “lalab rumbah”: kangkung, terong, saladah, jotang, jonge, pohpohan, banyak terdapat di pinggir kolam atau pematang sawah. Aneka jenis pucuk-pucukan dan dedaunan padanan sambal, seperti daun singkong, jambu mede, putat, reundeu, ada di hutan kecil belakang rumah.

Pokoknya “Sambel Cibiuk” merupakan makanan paripurna, yang menumbuhkan pengetahuan keagamaan, kenikmatan lahir batin dan keasrian lingkungan. Pada zamannya, lokasi kediaman Embah Wali, menjadi semacam obyek wisata lengkap. Paduan keindahan panorama dan keunikan kuliner.

Kini, lokasi pemakaman Embah Wali di sebuah bukit lembah Gunung Haruman, sudah menjadi obyek wisata ziarah di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut.

Olahan dari Umbi Gadung

“Oleh-oleh ti panyabaan

Rupa-rupa kadaharan

Dorodok kullt, dodol Garut

Kiripik gadung nu matak ngirut”

Kawih di atas terdapat dalam sebuah buku bacaan anak-anak Sekolah Rakyat tahun 1950-an (sejak tahun 1961, berubah menjadi Sekolah Dasar atau SD). Mengisahkan serombongan anak-anak piknik ke Garut. Ke kawah Gunung Papandayan, kolam air panas Cipanas, Situ Bagendit, dan lain-lain.

Lelah berkeliling, rombongan berkumpul di alun-alun yang rindang penuh pohonan. Membuka bekal dari rumah. Nasi timbel, lengkap dengan lauk-pauknya. Sambil menuju pulang, singgah ke tempat penjualan oleh-oleh. Dodol Garut dan dorokdok kulit menjadi pilihan utama. Pilihan lainnya,adalah kiripik gadung, yang renyah dan gurih.

Bagi warga pedesaan dan pekampungan sepanjang aliran Sungai Cimanuk, gadung bukan benda aneh. Banyak tumbuh di tebing-tebing dan tanah “gamblung” (tidak digarap) kiri – kanan sungai. Umbi gadung (dioscorea hispida), sudah dianggap sebagai salah satu bahan pangan terpenting di samping beras, jagung, ketela, umbi “boled”, suweg, dan banyak lagi.

Walaupun umbi gadung mengandung racun amat keras dan mematikan, penduduk setempat mampu mengatasinya dengan cara tradisional dan alamiah. Sehingga menjadi bahan baku aneka macam makanan. Mulai dari “kejo” (nasi) gadung, yang harum merangsang selera makan, hingga keripik gurih lezat untuk “batur ngopi” (makanan ringan) di waktu senggang.

Tanaman gadung biasanya tumbuh liar, tanpa ditanam. Atau dibudidayakan sebagai tanaman tumpang sari, tanpa perlu perawatan tersendiri. Beberapa petani menanam gadung sebagai tanaman sampingan. Tanaman ini dapat dipanen setelah usia 6-12 bulan. Biasanya dilakukan ketika musim kemarau, setelah tanaman lain mulai mati kekeringan. Setiap tanaman bisa menghasilkan 6-12 kg gadung, dengan berat satu umbi bisa mencapai 5 kg.

Gadung merupakan jenis umbi yang mengandung racun dioscorine yang tinggi dan berakibat fatal jika dimakan tanpa proses pengolahan khusus terlebih dahulu. Namun dengan perlakuan khusus, umbi beracun ini bisa diolah menjadi bahan baku makanan lezat. Warga pedesaan tempo dulu, cukup ahli merawat umbi gadung. Mengupas kulitnya tebal-tebal, mengiris umbinya tipis-tipis. Kemudian dicampur dengan abu dapur, hingga seluruh permukaan terselimuti abu. Abu sisa pembakaran kayu dalam “hawu” (tungku), berfungsi sebagai penetral racun. Setelah abu meresap, potongan gadung dijemur hingga kering, lalu direndam dalam air mengalir selama 2-3 hari, hingga keluar lendir, yang kemudian dicuci bersih agar lendir hilang. Aliran air Sungai Cimanuk yang besar dan deras, sangat cocok untuk merendam irisan-irisan gadung yang sedang diproses pembuangan racunnya.

Setelah diangkat dari rendaman, gadung dijemur lagi hingga kering. Malam hari juga dibiarkan di udara terbuka. “Dipoe diibun” selama empat lima hari. Baru diangkat, dan dibersihkan menggunakan daun. Proses selanjutnya tinggal menggoreng hingga jadi keripik, atau ditumbuk dijadikan tepung untuk bahan baku “kejo gadung”, yang sangat berguna menggantikan beras selama musim “nguyang” (paceklik).

Menurut penelitian para ahli, gadung memiliki nilai gizi dan nutrisi cukup tinggi. Kandungan kabrohidrat dan protein lumayan besar. Setiap 100 gm gadung mengandung energi 102 kal, protein 2.0 g, lemak 0.2 g, karbohidrat 23.3 g, kalsium 20 mg, fosfor 50 mg dan besi 0.6 mg.

Sebagian kecil masyarakat adat di Tatar Sunda, masih ada yang menjaga tradisi membudidayakan gadung. Sebagian mengandalkan gadung liar untuk dimanfaatkan. Keberadaan gadung, baik budidaya maupun liar, menunjukkan kesuburan tanah dan kelestarian lingkungan. Sebab gadung tak dapat tumbuh di atas tanah gersang gundul.

Karena kelangkaannya sekarang, dengan daya tarik rasa lezat gurih, gadung memiliki peringkat lumayan, sebagai “tanaman wisata”. Sebagai bahan cendera mata di pusat-pusat wisata terkemuka. Di beberapa warung tradisional masyarakat adat, kadang-kadang masih suka ditemukan “kejo gadung” dijajakan dalam bungkus daun pisang. Cukup disukai para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tapi terlepas dari semua itu, gadung merupakan tanaman penting dalam menjaga ketahanan pangan. Dapat berperan sebagai makanan pokok pengganti beras. Juga sebagai pertanda kesuburan tanah dan kelestarian hutan serta alam Jawa Barat, masa lalu, yang harus dipertahankan masa kini hingga masa datang. Terutama di sepanjang aliran Sungai Cimanuk.

Opak Cipeujeuh

Desa Cipeujeuh Kecamatan Balubur Limbangan, berada di aliran sungai Cianten, yang bemuara ke Sungai Cipancar, kemudian bermuara ke Sungai Cimanuk. Di kawasan ini, tepatnya di Kampung Poronggol, terdapat makam bersejarah yang banyak diziarahi. Yaitu makam “Sunan Rumenggong”, leluhur para “Dalem” atau Bupati Kabupaten Limbangan, hingga awal abad 19, sebelum menjelma menjadi Kabupaten Garut, 16 Pebruari 1813.

Di Desa Cipeujeuh, terdapat industri rumah tangga kuliner “Opak Cipeujeuh”. Terkenal sejak abad 17, karena merupakan makanan khusus untuk “seba” (persembahan) kepada Kangjeng Dalem. Salah seorang Dalem Limbangan, “Wangsadita I” (1726-1740), merasa “kalandep” (berselera) oleh “Opak Cipeujeuh” yang gurih renyah. Sehingga ia berpesan, agar opak tersebut terus dibuat dan mutu citarasanya dipertahankan.

Karena itu, opak Cipeujeuh mampu bertahan hingga sekarang. Apalagi kondisi tanah di desa tersebut, sangat cocok untuk menanam padi “ketan” sebagai bahan baku utama opak. Juga masih banyak tanaman kawung (enau) yang menghasilkan “lahang” (air nira) untuk diolah menjadi guta merah, atau gula aren, pemanis opak. Di samping pohon kelapa yang menghasilkan buah matang untuk diambil “cipati” (saripati)nya. Ketan, guta aren dan cipati merupakan paduan bahan utama opak Cipeujeuh yang terkenal sejak dulu hingga kini.

kearifan-budaya-lokal-di-sepanjang-sungai-cimanuk-ful-testl_page_63

***

“MASYARAKAT ADAT”

Di Indonesia, terdapat banyak komunitas masyarakat adat. Yaitu kelompok masyarakat yang masih mempertahankan adat kebiasaan “karuhun” nya dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari. Segala ucapan, tindakan, dan prediksi masa depan, selalu berpedoman kepada segala sesuatu yang pernah dan sudah digariskan leluhurnya di masa lampau. Mulai dari cara mencari nafkah, memelihara kelestarian alam, adab tatakrama sosial, dan lain sebagainya. Mereka mencoba bertahan di tengah perubahan zaman yang sangat cepat dan maju. Tentu saja dengan berbagai risiko yang membawa beraneka macam terhadap nilai-nilai tradisi yang mereka kukuhi.

Di Tatar Pasundan (meliputi Jawa Barat dan Banten), keberadaan masyarakat adat cukup mengakar. Memberi corak dan sumbangan tersendiri bagi lingkungan geografisnya. Seperti Kanekes Baduy di Kabupaten Lebak, Citorek di Kabupaten Pandeglang (Provinsi Banten), Kampung Naga (Kabupaten Tasikmalaya), Kampung Dukuh dan Pulo Cangkuang (Kabupaten Garut), Cigugur (Kabupaten Kuningan), Sirnaresmi (Kabupaten Sukabumi), dan sebagainya.

Di luar itu, terdapat “masyarakat adat” yang tidak membentuk komunitas tersendiri. Mereka hidup sebagaimana masyarakat umum di tempat-tempat “terbuka”. Namun tetap memelihara adat kebiasaan, tradisi kehidupan yang dicontohkan leluhurnya. Mereka memegang prinsip “pengkuh kana galur”. Kukuh memegang garis tradisi. Yaitu “basajan” (sederhana), “babarayaan” (memelihara tali persaudaraan), “nyaah ka lingkungan” (memelihara alam lingkungan penuh kasih sayang), dan seterusnya, segala aturan kehidupan yang baik-baik.

Ekologi sebagai ilmu mungkin sudah sangat dikuasai oleh masyakarat moderen. Namun secara terapan, hanya berlaku di kalangan masyarakat adat yang sama sekali tidak belajar ekologi dari bangku sekolah. Mereka hanya mengetahui dari “pituduh karuhun”. Bahwa merusak hutan “pamali” (terlarang). Menebang pohon tanpa alasan yang jelas, apalagi secara habis-habisan, termasuk pekerjaan “cadu” (tabu). Menangkap ikan hanya diperbolehkan selama menggunakan tatacara yang baik, tidak “kokomoan” (rakus), dan jangan “popohoan” (lupa waktu dan ukuran). Sehingga alat-alat penangkap ikan, bercorak sangat sederhana. Mulai dari pancing, sirib, susug, bubu, ayakan, sair. Bahkan menggunakan tangan kosong dengan cara “ngagogo” atau “kokodok” di sela-sela batu atau lubang-lubang tepi sungai. Sangat pantang menggunakan “tuba” atau “tua” (racun terbuat dari perasan sejenis pohon yang dapat memabukkan ikan). Apalagi menggunakan fotas atau alat setrum listrik. Menggunakan racun dan listrik sudah melanggar batas-batas “pamali” dan “pacaduan”. Sudah termasuk “kokomoan” dan “popohoan”.

Itu hanya satu aspek dari kekayaan rohani masyarakat adat yang masih dipertahankan oleh mereka dalam memelihara lingkungan, yang menjadi sumber nafkah kehidupan mereka. Sebuah tradisi linuhung yang tak pernah diserap oleh masyarakat “non adat” kendati sering mengunjungi komunitas masyarakat adat, baik sebagai turis maupun sebagai pengamat. Dan “masyarakat adat” ini, tersebar di sepanjang aliran Sungai Cimanuk.

***

“BENGKONG” dan “SUNATAN”

Disunatan” – istilah umum di pedesaan untuk khitanan, membuang kulit “kulup” dari alat kelamin anak laki-Iaki – merupakan pekerjaan wajib menurut kaidah hukum Islam. Berpahala jika dilaksanakan, berdosa jika ditinggalkan. Jadi bukan sekedar “sunat” yang berarti berpahala jika dikerjakan, tidak berdosa jika ditinggalkan. “Sunat” di situ, lebih merujuk kepada perubahan lafal saja. Konon berasal dari kata “disundat”. Yang berarti dikerat atau disodet.

Dalam “sunatan”, peran tukang sunat sangat berperan. Tukang sunat disebut juga “paraji sunat” atau “bengkong” (huruf “e” dilafalkan “e” seperti pada kata “ember”). Dialah pusat kesuksesan atau kegagalan proses “sunatan”. Jika “budak sunat” hanya menderita sakit dan penyembuhan kurang dari sepuluh hari, berarti bagus. “Bengkong” yang demikian akan mendapat reputasi terpuji. Dipercaya oleh siapa saja yang akan mengkhitan anaknya.

Jika bekas luka keratan pada kelamin “budak sunat” sulit sembuh, sakit hingga dua tiga minggu, mengalami infeksi dan gangguan lain – seperti sulit buang air kecil – berarti jelek. “Bengkong” semacam itu akan kehilangan aura dan wibawa. Lenyap di tengah persaingan dengan para bengkong lain.

Padahal upaya untuk menjadi seorang “bengkong” bukan pekerjaan mudah. Harus mengalami latihan dan ujian lahir batin di bawah bimbingan “bengkong” senior yang berkenan mewariskan ilmunya. Pada tahun 1950-an-1970-an, di setiap desa rata-rata hanya ada satu orang “bengkong” saja. Sehingga pada musim “marema” khitanan, mereka sering kewalahan melayani pasien. Apalagi pada waktu itu, tradisi “nyutanan” harus berada di tempat hajatan. Artinya “bengkong” dipanggil datang. Belum lumrah anak yang akan dikhitan dibawa ke tempat orang yang akan mengkhitan seperti sekarang.

Mungkin karena pada waktu itu, khitanan masih merupakan rangkaian acara yang satu sama lain tak terpisahkan. Misalnya, sebelum dikhitan, “budak sunat” harus dibawa dulu ke sebuah lubuk sungai pada waktu subuh. Disuruh berendam selama kurang lebih setengah jam. Sampai “kabulusan”. Maksudnya, agar kulup yang akan dikerat “baal”. Mati rasa. Prosesi “ngamandian” ini merupakan acara tersendiri. Diiringi tabuhan genjring atau terebang dan alunan “sholawat”.

Selesai direndam, dibawa ke tempat khitan di tengah halaman rumah. Dipangku oleh ayah atau saudaranya duduk di atas kursi. Dikelilingi sanak kerabat dan para tetangga yang melantunkan “Ya Nabi salam alaika, ya Rosul salam alaika”. Di situ “bengkong” sudah siaga. Terampil memasang “babango” untuk menekan hulu kelamin ke menekuk dalam, kemudian dipasangi “cacapit”. Dan “bret”, kulit kulup dikerat secepat kilat dengan pisau tajam sekali. Orang-orang berseru “salamet”. Pada waktu itu juga, seekor ayam jago yang sudah disiapkan sejak tadi, langsung disembelih. Sebagai “bela” bagi anak yang dikhitan, yang mungkin menangis meraung-raung akibat ketakutan, atau diam tenang karena tidak merasakan apa-apa, kendati darah mengucur dari ujung kelaminnya.

Untuk mencegah infeksi luka, pada bekas keratan diteteskan getah pohon talas atau pelepah pisang yang langsung ditebas di sekitar halaman. Getah kedua jenis tumbuhan itu memang mujarab untuk mengeringkan luka menganga.

Setelah “budak sunat” dipindahkan ke tempat yang disediakan di dalam rumah, menghadapi “pamasangan” terdiri dari nasi tumpeng, “bakakak” ayam, buah-buahan, dan lain sebagainya, para tamu yang hadir dipersilakan mencicipi hidangan “kuah beukah”. Sepiring nasi putih diberi kuah “maranggi” – semacam sayur berisi daging dan tulang belulang kambing – yang kental dengan santan dan bumbu-bumbu khas aneka macam yang disebut “sambara dua belas”. Sambil menyantap hidangan, para tamu mengeluarkan “panyecep” – hadiah uang – bagi “budak sunat”.

Seorang “bengkong” secara non-formal, merangkap pula sebagai tokoh masyarakat. “Pananyaan balarea”. Tempat orang-orang bertanya mengenai berbagai masalah. Juga merangkap tukang menyembuhkan aneka macam penyakit, memberi “jampe pamake” untuk jalan kehidupan sehari-hari. Betul-betul memiliki keunggulan tersendiri di tengah masyarakat yang masih sederhana.

Maka pada masa jayanya, seorang yang ingin menjadi “bengkong”, harus mempelajari ilmu lahir – batin. Mulai dari ilmu “silat” yang bersifat lahiriah. Menguasai jurus-jurus “eusi” dari aliran-aliran silat terkenal, seperti Cimande, Cikalong, Pamacan, dan lain sebagainya. Untuk membela diri sekaligus melumpuhkan lawan yang mengancam keselamatan. Jurus-jurus “eusi” tadi didampingi “jurus kembang” berupa aneka macam “ibing” dan “igel” sekedar untuk kaul diiringi irama “kendang penca”, untuk menghibur “budak sunat”.

Hingga menguasai ilmu “shalat” yang bersifat batin. Shalat dalam arti senyatanya melaksanakan kewajiban sembahyang lima waktu, serta shalat dalam makna lebih mendalam: disiplin diri, patuh kepada aturan, meninggalkan hal yang jelek dan terlarang, sesuai dengan kaidah “Innashshalata tanha anil fahsya wal munkar” (Qur’an, s.al Ankabut : 45).

Perjuangan berat untuk meraih predikat “bengkong” ternyata mudah dikalahkan oleh perkembangan zaman. Erosi tradisi, diikuti perubahan persepsi masyarakat pedesaan terhadap segala sesuatu yang serba praktis dan bercorak moderen, menjadikan acara khitanan tidak lagi ritual dan sakral. Melainkan dititikberatkan kepada unsur medis dan ekonomis. Jadilah para “bengkong” kehilangan popularitas di tengah kibaran kehebatan para “mantra” dan “tukang sunat” dengan alat-alat serba higienis.

Kondisi tersebut, menjadikan profesi “bengkong” tidak menarik lagi. Atau mungkin dianggap terlalu berat dalam menempuh syarat-syarat untuk mencapainya. Sehingga, profesi “bengkong” dapat dianggap “the glory is over”. Kejayaan telah berlalu.

Kecuali di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh jarum suntik pembeku rasa dan sinar laser pemotong kulup. Di kalangan masyarakat pekampungan dan pedesaan sepanjang aliran Sungai Cimanuk, tradisi “sunatan” menggunakan “bengkong” masih tetap ada. Mampu bertahan dari gerusan modernisasi.

kearifan-budaya-lokal-di-sepanjang-sungai-cimanuk-ful-testl_page_75

***

HUTAN RAKYAT DAN HUTAN ALAMI SEPANJANG ALIRAN SUNGAI CIMANUK

Istilah hutan selalu diidentikan dengan hutan milik negara, yang dikelola perusahaan atau badan usaha pemerintah. Seperti Perhutani di Pulau Jawa, atau Inhutani di luar Jawa. Sehingga dalam hubungan dengan pengembangan ekonomi, sangat terbatas. Hanya melibatkan masyarakat sekitar hutan beserta kepentingan perusahaan itu sendiri.

Padahal, hutan dalam arti luas, juga secara de-facto lebih luas daripada hutan negara, adalah “hutan rakyat”. Yaitu tanah milik setiap penduduk berdasarkan sertifikat, kikitir atau pengakuan legal-formal berdasarkan tradisi yang dijadikan hutan, di luar batas areal hutan negara. Ditanami berbagai jenis pohon hutan seperti yang terdapat di hutan negara.

Termasuk hutan “tak bertuan” di sepanjang bantaran sungai-sungai besar. Termasuk Sungai Cimanuk.

Hutan rakyat, memiliki banyak manfaat, baik untuk kepentingan ekonomis para pemilik dan penduduk sekitarnya, maupun bagi kesejahteraan umum. Karena hutan tidak hanya menghasilkan produk-produk tanaman buah-buahan atau kayu saja. Melainkan juga mendatangkan produk-produk sampingan berupa kelestarian alam, penjagaan sumber daya air, serta ketenangan hidup yang berkaitan erat dengan kondisi mental kejiwaan. Nuansa hutan yang sejuk, teduh, rimbun, merupakan “air condision” alamiah yang mampu menyingkirkan keresahan dan kegerahan rutinitas kehidupan.

Hanya saja, masalahnya, sebagian besar penduduk pemilik tanah, lebih sering menggunakan tanahnya untuk kepentingan pertanian jangka pendek, daripada menjadikannya hutan yang bersifat jangka panjang. Desakan kebutuhan sehari-hari terutama di bidang pangan merupakan salah satu faktor pendorong pilihan jangka pendek itu. Dengan menanam padi huma, jagung, singkong, umbi, dan sebagainya yang berumur 3 – 11 bulan sejak masa tanam hingga masa panen, terasa sangat praktis dan pragmatis. Tanaman pohon-pohonan yang ada sekedar dijadikan selingan saja. Itupun untuk kebutuhan jangka pendek pula. Terutama untuk kebutuhan rumah atau kayu bakar.

Padahal, jika tanah-tanah milik penduduk yang pada kenyataan sering dibiarkan gundul serta terlantar sehabis masa panen sambil menunggu musim garapan baru, diubah menjadi hutan rakyat, prospek cerah telah menunggu di depan mata. Penghutanan tanah pertanian, dapat berlangsung tanpa mengganggu proses pertanian jangka pendek. Malahan, antara kegiatan pertanian jangka pendek, dengan penghutanan jangka panjang, terdapat jalinan kerja yang saling menguntungkan satu sama lain.

Mungkin masih terdapat salah pengertian, sehingga para pemilik tanah pertanian tidak mau menghutankan tanahnya. Salah satu di antaranya, anggapan bahwa jika sudah dihutankan, pantang ditanami, sebelum tanaman hutan menghasilkan. Sebuah anggapan kurang tepat. Sebab di celah-celah tanaman hutan (kayu keras), masih dapat ditanami tanaman jangka pendek, menggunakan sistem “tumpangsari”.

Terhadap sistem “tumpangsari” ini pun terdapat anggapan keliru. Tanaman sistem “tumpangsari” semula dilakukan di lahan-Iahan hutan milik negara (Perhutani), dan sudah berlangsung belasan tahun. Kemudian “tumpangsari” dilarang oleh pemerintah daerah, karena mengakibatkan penggerusan (erosi) dan perluasan penggunaan lahan di luar kendali. Bahkan peralihan penggunaan lahan di luar sistem “tumpangsari” itu sendiri. Pemprov Jawa Barat, misalnya, melarang tanaman “tumpangsari” di kawasan Bandung Selatan pada tahun 1978, dan di Bandung Utara tahun 2004.

Padahal tanah milik penduduk yang rata-rata berada pada kelandaian 120-150 derajat, tidak akan menimbulkan masalah ekologis dan erosi berat jika tetap dijadikan lahan “tumpangsari” dalam mendukung upaya penghutanan. Alhasil, dalam hal ini, diperlukan penyuluhan dan sosialisasi terus-menerus, agar para pemilik tanah menyadari pentingnya penghutanan tanah milik, di samping untuk kepentingan tanaman ekonomis jangka pendek.

Aneka jenis kayu hutan yang sudah akrab dengan tradisi masyarakat di Jawa Barat khususnya seperti “rasamala” (altingia excelsa), “jeungjing” atau sengon (Paraserianthes falcataria), “juar” atau johor (Cassia siamea lamk), “kihiang” (Albizzia procera Benth), “puspa” (Schlma wallichii), “suren” (Toona sureni), “tisuk” (hibicus macrophyillus Roxb.), “awi bitung” (denarocalamus asper), dan lain-lain merupakan pilihan terbaik untuk merintis pengembangan hutan rakyat. Tentu saja, institusi-institusi yang terkait dengan urusan hutan, seperti Dinas Kehutanan, Perhutani, serta LSM-LSM yang bergerak dalam kegiatan lingkungan, harus turun tangan memberikan pengertian menyeluruh mengenai manfaat hutan rakyat. Mulai dari penyuluhan, sosialisasi, hingga upaya penyediaan benih, pemeliharaan dan pengolahan hasil.

Banyaknya areal gundul, gersang dan terbengkalai di lahan-lahan milik pribadi, menjadi tantangan menggairahkan bagi para rimbawan untuk mengubahnya menjadi lahan hutan yang memiliki prospek ekonomi dan lingkungan yang diidam-idamkan. Program “Gerakan Rehabilitasi Lahan Kehutanan” (GRLK) yang sempat digembar-gemborkan pemerintah beberapa waktu yang lalu dan tampaknya mengalami kegagalan perlu digiatkan kembali tanpa pamrih. Para pemilik lahan pasti bukan tidak mau lahan pertanian mereka dihutankan. Melainkan belum mengerti dan curiga, karena berbagai program penghutanan atau penghijauan yang dibiayai negara, selalu kurang berhasil.

Sedangkan “hutan tak bertuan” di sepanjang bantaran sungai, sangat bermanfaat bagi penjagaan kekayaan ragam hayati sungai. Mencegah kelongsoran tebing, serta memberi lahan hidup bagi aneka macam satwa. Seperti burung, sero, peusing, ular, dan lain-lain.

Di negara-negara maju, hutan rakyat dan hutan bantaran sungai dijaga kelestariannya. Selain untuk melindungi habitat sungai, juga untuk keindahan panorama yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Misalnya di kota Paris, Prancis, hutan kota dan hutan sungai “Bois St.Cloude” sedikit di luar kota sebelah barat Paris. Itulah hutan kota kebanggaan warga Paris dan seluruh Prancis. Bahkan nilainya dianggap berkali lipat lebih tinggi dari Eiffel atau Louvre. Sebab Bois St.Cloude, selain indah menawan, juga menjadi kawasan resapan air bagi kota Paris dan sekitarnya. Setiap Jum’at sore ribuan kendaraan rela antri menempuh kemacetan untuk mencapai Bois St.Cloude. Setengah penduduk Paris menikmati akhir pekan di hutan tersebut. Melepaskan kejenuhan hidup metropolitan di tengah suasana hening tenang di bawah pohon-pohon berusia ratusan tahun. Baru kembali Ahad sore, menempuh lagi kemacetan, sebelum disergap kesibukan rutin di tempat kerja masing-masing keesokan harinya.

Tanah hutan pujaan Paris itu, seluas kurang lebih 100 hektar, merupakan pemberian dari Kaisar Napoleon III, abad 18. Khusus untuk ditata menjadi hutan lindung. Warga Paris hingga sekarang, selalu bersyukur ada penguasa murah hati semacam Napoleon III. Sengaja menghibahkan tanah untuk dijadikan hutan. Sebuah perbuatan yang akan dianggap kontroversi dan kontradiktif menurut anggapan penguasa zaman sekarang, yang lebih suka “menjual” hutan kepada para pebisnis.

Atau, di India. Di situ banyak terdapat taman-taman dan hutan-hutan kota peninggalan para penguasa tempo dulu. Terutama para sultan dari dinasti-dinasti umat Islam yang menguasai anak benua tersebut selama kurang lebih 12 abad. Mereka mendirikan kota-kota yang penuh taman dan hutan, yang masih terpelihara hingga sekarang. Dijadikan kawasan resapan air, laboratorium botani dan segala macam kepentingan inmaterial, untuk menunjang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Di bagian kota Delhi Lama (Old Delhi), misalnya, dapat disaksikan Taman Lodi, yang dibangun pada zaman Dinasti Lodi (1451-1555). Sebuah taman hutan, berisi aneka macam flora dan fauna. Bunga-bunga yang dipetik dari Taman Lodi, selalu menjadi hiasan utama pada setiap hari kemerdekaan India. Pusat Taman Lodi, adalah musoleum megah yang merupakan makam dari raja-raja Dinasti Lodi, antara lain Bahlul Lodi, Nizham Khan Sikandar II dan Ibrahim II. Sekeliling taman, adalah hutan lindung yang oleh pemerintah India dijadikan pusat penelitian botani terpenting.

Para sultan Dinasti Mughal (1526-1858), selalu meninggalkan warisan taman dan hutan, untuk dilanjutkan atau dikembangkan oleh sanak keturunannya. Tokoh-tokoh Dinasti Mughal yang terkenal sebagai pecinta taman, pencipta hutan kota, antara lain Nuruddin Humayun (1555), Jalaluddin Akbar I (1556), dan Syah jihan I (1628). Selain membangun musoleum Taj Mahal di Agra, Syah jihan I juga membangun taman-taman dan hutan kota di India Utara. Termasuk Taman Hutan Salimar yang kini berada di wilayah Kashmir.

Menurut para pakar sejarah kebudayaan Islam India (antara lain Majumdar, penulis buku “The Delhi Sultanate”, 1969, dan “An Advance History of India”, 1973), keberadaan taman dan hutan kota, selain dimaksudkan untuk keindahan dan pelestari lingkungan, juga untuk meredam keresahan dan kegelisahan penduduk dalam menghadapi keadaan sehari-hari. Sehingga angka krimintalitas dan huru-hara penuh kekerasan dapat ditekan ke tingkat paling minimal. Taman dan hutan ditempatkan sebagai produk ketinggian budaya dan peradaban zamannya.

Maka berdasarkan konklusi Majumdar, hutan rakyat dan hutan bantaran sungai yang dianggap tidak bertuan, produk budaya dan peradaban para leluhur Tatar Sunda. Harus dipelihara dan dijaga. Jangan dibabat dan dialihfungsikan. Karena jika demikian, sama dengan merusak produk budaya dan peradaban.

***

TRADISI BULAN RAMADAN

Penduduk pekampungan dan pedesaan sepanjang aliran Sungai Cimanuk, mayoritas menganut agama Islam. Mereka mendirikan surau (tajug) di sekitar tempat bekerja sehari-hari di sawah atau ladang, masigit (untuk shalat di lingkungan Rukun Tetangga), dan masjid (untuk shalat di lingkungan Rukun Warga, terutama shalat Jum’at).

Di situ mereka menjalankan kegiatan ritual shalat, wirid, membaca sholawat, dan sebagainya sebagai tanda kepatuhan kepada Alloh SWT. Suasana di tempat-tempat ibadah itu, semakin ramai pada saat bulan Ramadan. Menjalankan ibadah saum wajib sebulan penuh, dihiasi berbagai tradisi lokal, semakin menambah kemeriahan. Memberi nuansa dan kesan, Tatar Sunda di sepanjang aliran Sungai Cimanuk betul-betul “subur makmur gemah ripah lohjinawi, raweuy beuweungeun rambay alaeun, bru di juru bro di panto, rejeki bijil ti mana mendi dibarung ku tengtrem tingtrim santosa raharja, sepi paling towong rampog”, yang disebutkan dalam Quran S.an Nahl : 112 dengan penghuni yang “darehdeh hade hate, someah akuan ka semah, akur jeung dulur, jenuk jeung batur, daek tulung tinulungan”.

Sungai Cimanuk dan sungai-sungai kecil lainnya yang bermuara ke sana, sangat berperan dalam menyambut kedatangan bulan Ramadan. Melalui kegiatan “kuramas”, pada hari “munggah”, leuwi lubuk di sungai-sungai itu, mendadak ramai. Dipakai mandi “kuramas” massal. Tentu saja, ketika kondisi air sungai masih bersih terpelihara dari hulu hingga ke hilir. Tidak ada kotoran apapun yang tega “membunuh” sungai sehingga kehilangan fungsi dan peran sebagai sarana pengembangan peradaban manusia di muka bumi. Sungai adalah sebuah “onderdil” kelestarian alam yang mustahil terpisahkan dari rotasi bumi. Sungai menjadi refleksi keutuhan lingkungan hutan. Dan sungai pun menjadi lahan hidup manusia yang beradab dan berbudaya. Semua sungai, baik besar maupun kecil. Bukan hanya sungai-sunga bertaraf internasional dan tercantum dalam peta bumi; seperti Amazon, Nil, Euphrat, Tigris, Yantze Kiang, lrawadi, Indus, Gangga, dan sebagainya. Melainkan juga sungai-sungai kecil di pedalaman. Di tingkat RT/RW atau lebih rendah lagi.

Di “!euwi”, para penduduk sekitar melakukan upacara khusus “kuramas” sehari menjelang bulan Ramadhan. Membersihkan diri dari segala kotoran pisik, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Mereka ingin menghadap Al Khaliq melalui ibadah shaum Ramadhan dalam kondisi suci dan hening. Sesuci air sungai yang memenuhi syarat “thaharah”. Sehening lingkungan “leuwi” yang biasa dikitari rimbun tumbuhan rumpun dan semak penahan erosi. Di situ mereka “icikibung” (berkecimpung) sehingga bunyi air menimbulkan dendang harmoni dengan desau angin dan cicit burung. Mereka “silanglang” (telentang di permukaan air), “papalidan” (berhanyut-hanyut mengikuti arus air), “kokojayan” (berenang ke sana ke mari). Seolah-olah ingin meresapkan keakraban jiwa dengan air dan alam sekitar selama proses penyucian pisik berlangsung.

Sehingga idiom “ka leuwi ka geusan mandi, ka darat ka geusan hanjat” mengandung lukisan indah tentang peran dan fungsi lubuk, sungai dan bagian-bagian di sekelilingnya yang benar-benar terpelihara utuh, jauh dari kerusakan-kerusakan yang mengakibatkan sungai beserta segala kegunaan dan habitanya mati membangkai.

Mereka amat mengetahui, proses ibadah shaum Ramadhan, ibarat perjalanan sungai yang penuh keikhlasan dan manfaat, menuju muara ridlo Allah SWT. Melebur di samudra luas dalam bingkai ketakwaan sebagai manusia “muttaqien”. Manusia yang siap dan sanggup melaksanakan segala perintah Allah SWT sekaligus meninggalkan segala laranganNya. Sehingga mampu dan siap menampung berkah serta rahmat Allah SWT yang akan dicurahkan dari langit dan bumi sebagai karunia anugrah bagi orang beriman dan bertakwa kepadaNya (Q.S.al A’raaf: 96).

Tapi semua proses itu, dapat tercapai jika semua orang telah berusaha menata kembali pijakan kehidupannya yang seimbang antara dirinya pribadi, sesama manusia dan lingkungannya. Jika tanpa keseimbangan tersebut, kiranya akan gagal total. Karena dalam ketidakseimbangan, semua orang akan dikuasai tiga unsur pembawa kerusakan. Yaitu kesombongan. Merasa menjadi mahluk paling super. Sehingga merasa tak perlu menghargai mahluk-mahluk lain. Termasuk alam lingkungan. Kemudian, keserakahan. Mengumbar hawa nafsu dengan aneka macam perbuatan merusak tanpa merasa puas. Dan terakhir, kedengkian, yang menjadikan manusia saling memelihara ego, meremehkan mahluk lain dan menganggap dapat hidup sendiri tanpa dukungan siapapun sesama mahluk.

***

TRADISI “MAMALEMAN”

Salah satu kebiasaan yang masih lestari hingga sekarang dan diabadikan pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan adalah “mamaleman”, yang menunjukkan arti malam demi malam sejak malam ke-21 atau “salikur” hingga malam terakhir menjelang Idul Fitri atau malem takbiran.

“Mamaleman” disebut juga lilikuran, diprediksi sebagai saat “Lailatulqodar”, yang bernilai setara dengan seribu bulan. Pada malam itu, Malaikat Jibril turun ke bumi, menaburkan berkah keselamatan, pahala, dan karunia bagi orang-orang yang berpuasa, yang melakukan berbagai ibadat ritual atau ibadat sosial berupa kebajikan kepada sesama.

Maka, penduduk desa, terutama kaum perempuan, menyibukkan diri dengan membuat aneka penganan khas menyambut lailatulkadar saat mamaleman atau lilikuran, dengan berbuat bajik, yaitu mengirim makanan kepada para jemaah yang melaksanakan shalat tarawih di masjid.

Sebagian besar aneka penganan itu terbuat dari bahan-bahan lokal dan tradisional, seperti “dupi” atau “tangtang angin”. Berbahan baku beras dan dibungkus daun bambu, dupi yang mirip segitiga sama sisi atau prisma itu merupakan “primadona” pada mamaleman. Tidak afdol jika mamaleman tanpa kehadiran dupi walaupun masih terdapat jenis-jenis makanan lain yang terbuat dari beras dan dibungkus daun pisang, seperti “uras”, “!eupeut”, dan “leumeung teundeur”, atau “katimus” yang terbuat dari parut singkong yang diberi gula merah, parut kelapa, dan dibungkus daun pisang.

Makanan lain yang terbuat dari parut singkong dan terbungkus daun pisang adalah “putri noong”, yang selain diberi manis gula juga dilengkapi potongan pisang di bagian tengahnya. Ada juga yang terbuat dari aci kawung (tepung aren), seperti “onggol-onggol”. Gumpalan aci kawung hasil rebusan dikerat-kerat kecil lalu diberi “kinca” cairan manis yang terbuat dari rebusan gula merah yang diberi pengharum daun pandan atau buah nangka.

Acara makan-makan hidangan dalam mamaleman berlangsung semarak dan riuh rendah seusai shalat tarawih, terutama di tempat anak-anak berada, yaitu di pojok masjid atau di bawah tempat penyimpanan “beduk” dan “kohkol”. Acara ini sering membuat tukang yang membagikan makanan kewalahan karena jemaah ribut saling berebut. Tak jarang, makanan berjatuhan ke lantai masjid, berceceran, kotor, dan lengket. Namun, itu tidak menjadi masalah dan dimaklumi sebagai bagian dari kegembiraan mamaleman menyambut lailatulqadar.

Yang menarik untuk diamati dan diperbincangkan dari aspek sosial adalah kebersamaan dalam menyiapkan penganan mamaleman itu, yaitu saling membantu, saling memberi, sekaligus saling menerima pancen (tugas) masing-masing. Ada yang memetik daun bambu untuk bungkus dupi; ada yang mengambil daun pisang untuk bungkus katimus; ada yang mengerjakan mulai dari proses penyediaan bahan; ada yang memasak hingga siap dihidangkan. Semua dilakukan bersama-sama. “Paheuyeuk-heuyeuk leungeun”. Gotong royong spontan tanpa diperintah atau diajak, termasuk dalam menyediakan bahan-bahan, baik beras, singkong, gula, kelapa, maupun pisang.

Maka, tak ada yang merasa dituding sendirian ketika seseorang berkomentar, dupi kurang garam atau terlalu asin; onggol-onggol terlalu encer; atau katimus masih agak mentah alias “kabeberig”. Semua kekurangan itu merupakan tanggung jawab bersama, dan tidak pernah menimbulkan “benceng ceweng” (keributan akibat hal tetek bengek atau hal yang sepele), yang akan mengakibatkan bengkah (perseteruan).

Komentar-komentar “miring” tadi dianggap “pepeling” (kritik lembut), yang dapat diterima dengan dada lapang, serta disandarkan pada situasi dan kondisi kejiwaan para pembuatnya yang rata-rata “lanjang jekekan” (gadis menjelang remaja). Kurang garam dianggap “teu uyahan” (tidak lucu) karena mungkin para gadis terlalu ketus, kurang respek, dan api lain (acuh tak acuh) kepada pemuda yang menaksirnya.

Jika terlalu asin, mungkin para pembuatnya sedang “mangkat beger” (menginjak masa puber). Ketika bekerja, sering “malaweung” (tidak konsentrasi) dan termenung panjang membayangkan bakal pujaan hati.

Karena itu, mamaleman juga merupakan kesempatan bagi para “bujang” dan “lanjang” saling bertemu muka, bertukar pandang, dan mendekatkan hati masing-masing. Selain itu, mamaleman juga menjadi lahan persemaian cinta kasih “baleg tampele” (mulai punya perhatian kepada lawan jenis), dan “galak sinongnong” (ingin bertemu langsung, tetapi masih malu-malu kucing). Suatu proses unik yang sulit dipahami anak-anak muda masa kini.

Terlepas dari hal itu, mamaleman termasuk salah satu simpul tradisi keakraban masyarakat Sunda dengan alam lingkungannya. Penggunaan bahan-bahan serba alami, seperti daun bambu, daun pisang, aci kawung, atau aci singkong, menunjukkan bukti “salieuk beh” (segala macam kebutuhan tersedia). Walaupun tidak “bru di juru bro di panto ngalayah di tengah imah” (kaya raya, berlebihan); itu menjadi pertanda bahwa sandang-pangan cukup terjaga. “Beuti kari ngali, daun kari nutuh” (umbi-umbian tinggal menggali, daun tinggal memapas) merupakan bagian dari “rikrik gemi” (hemat). Hemat dalam mengelola hak milik dan hemat memanfaatkan lingkungan alam.

Karena mamaleman merupakan bentuk kebajikan nyata, tak heran jika rahmat dan karunia Allah SWT yang turun meluncur dari langit ketujuh pada saat Lailatulqadar melimpah ruah ke hamparan tanah orang Sunda sehingga benar-benar “gemah ripah loh jinawi” (subur makmur) dan “tiis ceuli herang mata” (aman tenteram).

Masyarakat sepanjang aliran Sungai Cimanuk, hingga sekarang, masih tetap memelihara tradisi “Mamaleman” setiap bulan Ramadan. Dan semoga semua itu menjadi berkah bagi kelestarian Sungai Cimanuk sendiri sebagai sumber dan penyangga peradaban manusia di sepanjang alirannya.

***

Biodata Penulis

Haji Usep Romli HM, dilahirkan di Limbangan, Garut, tanggal 16 April 1949. Menempuh pendidikan SD, SMP dan pesantren dl Limbangan (1955-1964). Melanjutkan ke Sekolah Pendldikan Guru Negeri (SPG) Garut (1964-1967). Pernah kuliah di IKIP Bandung, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (1983), dan lAIN Sunan Gunung Jatl Bandung, jurusan Sastra Arab (1986).

Sejak duduk di bangku SMP, sudah mulai memasuki dunia tulis-menulis. Setamat SPG (1966), terjun ke dunia wartawan, sambil menjalankan tugas sebagai PNS Guru SD di sebuah pedesaan terpencil Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut (1966-1983). Kemudian diangkat menjadi Kepala Seksi di Dinas P dan K Provinsi Jawa Barat (sekarang Disdik). Tapi meminta berhenti dari PNS (tanpa pensiun) karena ingin berprofesi penuh sebagai wartawan dan pengarang.

Menjadi wartawan “Pikiran Rakyat” di Bandung (1984) hingga pensiun (2004). Tercatat sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), pemegang “kartu biru” seumur hidup. Di organisasi PWI pernah menjabat Ketua Seksi Pendidikan dan Latihan PWI Cabang Jawa Barat (199S.2002).

Selama menjadi wartawan “PR” pemah menjalankan tugas jurnalistik ke berbagai negara Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Terutama ke kawasan-kawasan yang sedang bergolak, seperti Irak, Palestina, Sudan, Somalia, Bosnia Herzegovina, dll.

Setelah pertama kali menunaikan ibadah haji (1989), sering diminta menjadi pembimbing ibadah haji dan umroh oleh berbagal biro perjalanan. Antara lain Tiga Utama, Interlink, Gelora Indah Perdana, dan lain-lain. Sejak tahun 1996, hingga sekarang, menjadi pembimbing tetap haji dan umroh BPHU Megacitra/KBIH Mega Arafah, kota Bandung.

Telah menulis 57 judul buku dalam bahasa Sunda dan Indonesia, berupa ceritera anak-anak, sajak, novel, ceritera pendek, dan lain-lain. Bukunya berjudul “Zionis Israel di Balik Agresi AS ke Irak” (2003) mengalaml belasan kali cetak ulang dan menjadi bacaan “pengayaan” di jurusan Hubungan Intemaslonal (H.I) beberapa universitas. Sedangkan buku “Percikan Hikmah” berupa kumpulan anekdote sufi (1999) mengalami lima kali cetak ulang.

Meraih Hadiah “Rancage 2010” bidang sastra, untuk buku kumpulan carita pondok “Sanggeus Umur Tunggang Gunung” (2009), dan Hadiah “Rancage 2011” untuk bidang jasa terhadap bahasa dan sastra Sunda_ Tahun 2012 mendapat “Anugerah Budaya” Gubernur Jawa Barat, dan tahun 2014 mendapat “Hadiah Asrul Sani 2014” dari NU-Online PBNU, bidang kesetiaan berkarya.

Kini tinggal di Desa·Majasari, Kecamatan Cibiuk Kabupaten Garut, mengelola lembaga Pengabdian Masyarakat “Raksa Sarakan” yang bergerak di bidang pengasuhan dan beasiswa anak du’afa, dan pelestarian lingkungan. ***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s