Sungai Cimanuk Jangan Bernasib Seperti Sungai Citarum

Pengantar

Tulisan ini adalah karangan Usep Romli HM, yang pernah dimuat dalam Rubrik Teropong pada Surat Kabar Pikiran Rakyat tanggal 7 Juli 2014. Menceritakan sungai Cimanuk di masa lalu yang menjadi habibat beberapa ikan sungai yang besar saat “leuwi” dan “sedong” belum banyak terusik kerusakan alam. Sebagai salah satu urat nadi kehidupan, Sungai Cimanuk juga melahirkan beragam cerita rakyat. Tim Pengumpul Folklore Kab.Garut, yang dibentuk oleh UNESCO pada Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, mencatat kurang lebih seratus ceritera rakyat yang hidup turun temurun di kalangan masyarakat sepanjang aliran S.Cimanuk dari bagian hulu di Kab.Garut hingga bagian tengah Kab.Sumedang. Ceritera rakyat (folklore) itu, meliputi dongeng (legenda, mithos), kearifan lokal (babasan, paribasa, uga, upacara adat), alat-alat tradisional (pertanian, penangkapan ikan, tabuhan) dan kepercayaan bercorak mistik (pacaduan, pantangan), dan lain-lain. Pada tulisan ini, mamang tambahkan beberapa foto Cimanuk tempo doeloe sekadar ilustrasi. Selamat membaca…

[M.S]

SUNGAI CIMANUK JANGAN BERNASIB SEPERTI SUNGAI CITARUM

Oleh: Usep Romli HM


Hayu batur urang lintar ka Cimanuk
Sugan baě meunang
Gěnggěhěk atawa keting
Lamun meunang urang gancang-gancang panggang 

Dicocoběk sambarana make cikur
Uyah, gula, bawang
Diseungitan ku tarasi
Dicocolna ku sangu nu pulen pisan


Pupuh “Pucung” di atas, suka dinyanyikan anak-anak sekolah dasar tahun 1950-an. Menggambarkan kekayaan habitat alam Sungai Cimanuk. “Ngalintar”, menangkap ikan menggunakan “heurap” atau jala. Hingga mendapatkan ikan “genggehek” dan “keting”, untuk dijadikan menu “cobek”, sejenis kuliner khas Sunda. Dapat dibayangkan, kenikmatan makan nasi “pulen” (liat) dengan lauk “cobek” ikan sungai yang gurih alami. 

fishing-in-tjimanoek-5134-z7di0l-1927

Menjala ikan di Tjimanoek, Garoet, sekitar tahun 1927. (“Vischvangst Tjimanoek – Garoet, Fishing in Tjimanoek – Garoet”).


Sungai Cimanuk, yang mengalir dari Gunung Papandayan, Kab.Garut, dan bermuara di Laut Jawa, Kab.Indramayu, memang pernah memiliki peran penting dalam kehidupan manusia di wilayah cakupan Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas kl.3.000 km2 di kawasan kabupaten-kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka dan Indramayu. Sedikit banyak, S.Cimanuk telah mampu menjalankan peran dan fungsi kesungaiannya sebagai sumber peradaban manusia.

Walaupun kini terkena ancaman “penyakit ekologi moderen”, seperti pelumpuran dan limbah, baik industri maupun rumah tangga, S.Cimanuk masih bernasib agak baik dibanding S.Citarum yang sudah benar-benar “wassalam”. Sudah membangkai dan beralih menjadi septiktank terpanjang di muka bumi. Merana akibat hantaman limbah mengandung zat-zat beracun yang memusnahkan semua daya hidupnya.

S.Cimanuk mungkin tidak atau belum. Bagian hulu, dari Kecamatan Cisurupan, Kab.Garut, hingga batas utara Kecamatan Bayongbong, hanya menanggung beban pelumpuran dan sedikit limbah rumah tangga. Sejak masuk Kecamatan Garut Kota hingga Kec.Banyuresmi dan Kec. Wanaraja, sudah nampak gejala limbah industri. Ada beberapa institusi diduga membuang langsung limbah produk mereka ke sungai.

Hanya karena debit S.Cimanuk masih agak stabil, limbah-limbah tersebut, masih dapat dinetralisir. Namun jika dibiarkan, tanpa upaya pencegahan serius dari pihak-pihak berwenang, tak mustahil S.Cimanuk dalam waktu dekat, akan menyusul S.Citarum. Masuk ke kotak kematian amat tragis.

Sebagai bagian dari pusat peradaban manusia, khususnya di empat kabupaten Garut, Sumedang, Majalengka, dan Indramyu, umumnya Jawa Barat, S.Cimanuk telah memberikan kontribusi amat besar bagi orang dan lingkungan yang dilewatinya. Mulai dari tradisi menangkap ikan, rekreasi kearifan lokal, hingga irigasi dan bakal pembangkit listrik tenaga air Waduk Jatigede, Kab.Sumedang.

Tim Pengumpul Folklore Kab.Garut, yang dibentuk oleh UNESCO pada Tahun Buku Internasional Indonesia 1972, mencatat kl. seratus ceritera rakyat yang hidup turun temurun di kalangan masyarakat sepanjang aliran S.Cimanuk dari bagian hulu di Kab.Garut hingga bagian tengah Kab.Sumedang. Ceritera rakyat (folklore) itu, meliputi dongeng (legenda, mithos), kearifan lokal (babasan, paribasa, uga, upacara adat), alat-alat tradisional (pertanian, penangkapan ikan, tabuhan) dan kepercayaan bercorak mistik (pacaduan, pantangan), dll.

Misalnya, mithos tentang Leuwi Gombong, di Desa Surabaya, Kec. Balubur Limbangan. Sejak tahun 1940-an, berkembang kepercayaan, jika ada pegawai pemerintah, memancing atau menjala ikan di sana, akan diberhentikan dari jabatannya.

“Hal itu bermula dari peristiwa, seorang pejabat pemerintah menculik dan memperkosa seorang gadis setempat. Ia yang sedang asyik memancing, tergiur melihat paha mulus seorang gadis yang sedang menyeberang di bagian “hilir” lubuk. Terjadilah rudapaksa yang melahirkan “pacaduan” (tabu) dan kepercayaan itu,“ kata seorang narasumber folklore di Limbangan.

Padahal sebelumnya, sejak tahun 1920-an hingga awal zaman Jepang, Leuwi Gombong terkenal sebagai tempat rekreasi para pejabat tingkat kabupaten. “Kangjeng Dalem” (Bupati) beserta keluarga, suka datang ke situ. Menginap beberapa malam, untuk “munday” (menangkap ikan) di lubuk yang dalam dan panjang itu.

Pada hari kedatangan Kangjeng Dalem, para “palika” (penyelam) dari seluruh Garut, dikerahkan. Ditugaskan mengeluarkan ikan-ikan besar khas Cimanuk, seperti lika, kancra, jongjolong, dan lain-lain, keluar dari “sedong” tempat persembunyian mereka. Digiring masuk ke tengah lubuk. Sehingga mudah ditangkap oleh Kangjeng Dalem sekeluarga, yang berdiri di atas rakit, dengan jala atau sair. Jika berhasil menjala ikan sebesar bantal, bersorak-sorailah rakyat yang menonton. Gamelan ditabuh bertalu-talu. Kangjeng Dalem sendiri, diikuti para bawahannya, “ngengklak” di atas rakit.

“Pada zaman Jepang, tradisi Kangjeng Dalem “munday”, terhenti. Namun setelah merdeka juga terus terhenti, akibat gangguan keamanan DI/TII yang berlangsung sejak tahun 1949 hingga 1962. Ketika keamanan pulih, kebiasaan “munday” lenyap akibat berbagai hal. Termasuk perubahan habitat Sungai Cimanuk yang mulai terganggu,” sumber folklore tadi menambahkan.

Tapi sebagai sungai yang masih terhitung “selamat”, S.Cimanuk tetap menjadi tujuan para penggemar menangkap ikan di alam bebas. Baik memancing, maupun menjala. Masih ada juga yang memasang “badodon” (bubu besar), membuat “kombongan” (rumpon) atau memasang jaring. Musim kemarau, antara Juni-Agustus, hampir semua pinggir “leuwi“ S.Cimanuk di bagian hulu dan tengah, dipenuhi para pemancing dan penangkap ikan lainnya. Mereka berdatangan dari Bandung, Tasikmalaya, Jakarta dan lain-lain.

Brug over de Tjimanoek bij Garoet

Leuwidaun tempo doeloe. (Brug over de Tjimanoek bij Garoet (1914). Sumber: KITLV)



“Ingin merasakan kembali kegurihan ikan genggehek, keting, senggal, arelot, balar, hampal, beureumpanon, dan jenis-jenis ikan asli S.Cimanuk lainnya. Syukurlah kalau mendapat kancra atau lika,” kata beberapa orang pelanggan mancing di S.Cimanuk setiap musim kemarau, yang ditemui di Sasakbeusi, Kec.Cibatu, Kab.Garut.

Tentu saja, kehadiran para “hobbyist” tersebut, membawa dampak positip kepada masyarakat sekitar. Terutama dari aspek ekonomi. Kegiatan jual –beli kebutuhan sehari-hari, seperti beras, bumbu, air mineral, rokok, dll., meningkat keras. Maklum saja, banyak di antara para “hobbyist” itu, rela “mondok moek” di sisi-sisi “leuwi” S.Cimanuk. Mendirikan tenda dan meyediakan kebutuhan makan-minum untuk berhari-hari.

Bagaimanapun juga, S.Cimanuk masih memberi harapan bagi para penggemar memancing dan penangkap ikan lainnya. Baik yang sekedar hobby mengisi waktu senggang, maupun profesi. Mencari nafkah dari menangkap dan menjual ikan S.Cimanuk yang dijamin laku keras.

“Asal yang asli, ya seperti genggehek, keting, kancra tadi. Bukan ikan “aburan” seperti lele dumbo, nila, tawes, nilem, dan sejenisnya yang merupakan ikan peliharaan di kolam-kolam. Bukan ikan liar,” Mang Uha (65 th), penduduk Desa Majasari, Kec.Cibiuk, yang sejak usia muda menjadi tukang “lintar” di S.Cimanuk, mengisahkan.

***

“PALIKA” DAN “SEDONG”

“Palika” adalah gelar bagi seseorang yang pandai menyelam. Masuk ke dalam air hingga berjam-jam. Di tiap kampung atau desa yang dilewati sungai besar, seperti Cimanuk, selalu ada satu dua orang “palika”.

Dari keahlian menyelam itu, mereka dapat menolong orang yang tenggelam. Menyelamatkan dari arus deras atau pusaran air. Atau mengangkat jasadnya yang sudah tidak bernyawa.

Untuk menjadi seorang “palika” tidak mudah. Selain harus dibimbing dan dilatih oleh “palika” senior, juga harus punya ketahanan pisik prima, keberanian menghadapi risiko terburuk, dan rendah hati.

“Seseorang yang sakit-sakitan, kurang bernyali dan besar kepala, tidak layak menjadi ”palika”,“ kata Mahmud (67 th), seorang cucu “palika” terkenal di Limbangan tahun 1930-1970an. Ia menuturkan keterangan kakeknya yang wafat th.1988. “Ayah saya dan saya sendiri, tidak berhasil menjadi “palika” melanjutkan keahlian kakek karena punya penyakit kambuhan. Ayah menderita asma, yang tak kuat menghadapi cuaca dingin. Apalagi menyelam ke dalam air. Saya suka kaligata (alergi kulit). Kalau kena dingin seluruh badan “gimpa” dan gatal-gatal.”

Tapi Mahmud mampu menjelaskan ke”palika”an kakeknya, karena suka membantu menjaga buhul tali tambang yang mengikat tubuh kakeknya ketika menyelam. Tali tambang itu diikatkan kepada sebatang kayu, pohon bambu atau tonggak yang sengaja dibuat. Ditancapkan kuat-kuat. Buhul tali itu harus dijaga oleh anggota keluarga. Terutama anak, cucu, atau adik kandung. Tidak boleh ditinggalkan barang sejenakpun.

“Takut nanti ada yang berhianat. Memutuskan tali. Membuat “palika” tersesat di dalam lubang “sedong” dan mati di sana,” tutur Mahmud, yang berkali-kali menyaksikan kakeknya menyelam di beberapa lubuk besar S.Cimanuk. Termasuk Leuwi Gombong yang legendaris .”Jika ada orang kota pesan ikan kancra besar, kakek segera menyelam. Menangkap dua tiga ekor. Tentu mendapat imbalan lebih dari lumayan.”

Tentang “sedong”, Mahmud menerangkan, berdasarkan kisah kakeknya. Di tebing-tebing bagian dasar lubuk, biasanya terdapat lubang-lubang mirip gua. Ada yang sebesar pintu rumah, ada yang cuma seukuran badan orang dewasa. Nah, setelah mengikat badan dan memeriksa buhul tali pada pohon sudah kuat serta ditunggui orang kepercayaan, “palika” turun ke lubuk. Lalu menyelam ke arah lubang-lubang gua yang sudah dikenalnya. Masuk ke situ. Dan keluar di sebelah sana. Tempat yang disebut “sedong”. Sebuah gua besar, tinggi dan luas. Setengah atau seperempatnya berisi air sesuai dengan ketinggian air lubuk di luar. Di dalam “sedong” itu, berkumpul aneka jenis ikan penghuni S.Cimanuk. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Mata ikan-ikan besar menyala seperti lampu sorot, menembus kegelapan “sedong”. Mereka mendekati “palika” seperti ingin memeriksa siapa yang datang.

“Jika belum dikenal, ikan-ikan itu segera kabur. Menjauh ke seberang. Mungkin masuk lagi ke “sedong” lain di seberang “sedong” itu. Makanya, para “palika” yunior suka didampingi “palika” senior, masuk ke dalam “sedong” dan ”berkenalan” dengan ikan-ikan penghuninya. Kepada “palika” yang sudah dikenal, ikan-ikan itu terus mendekat. Mulailah aki membelai satu dua tubuh ikan besar. Kemudian mengajak berkata-kata, serta membujuk, mengajak mereka ke luar. Agar mau mengorbankan diri untuk ditangkap. Biasanya ada satu dua ekor ikan yang meluluskan permintaan aki. Lalu bersama-sama ke luar, dan diangkat ke darat. Agar ikan mau takluk, tentu tidak sembarangan. Ada jampi-jampi atau “jangjawokan” yang disebut “pangleumpeuh” (pelemas). Untuk menguasainya, perlu puasa sekian hari sekian malam. Ya, bagian terberat dari proses menempuh pendidikan “palika”,” papar Mahmud.

Sayang, seiring dengan perubahan lingkungan dan penurunan kesadaran manusia dalam menjaga kelestarian alam, keberadaan “sedong” berikut isinya, banyak yang musnah. Salah satu di antaranya, akibat bencana letusan Gn.Galunggung, April 1982. Debu dari letusan gununng itu, mendangkalkan sungai-sungai. Maka banyak “sedong” yang tertutup.

Disusul kemarau panjang hingga setahun terus-menerus. Pada waktu datang hujan, aliran air bercampur debu mengandung belerang dan mineral lain, masuk ke sungai-sungai. Membuat ikan-ikan bergelimpangan mati. Termasuk yang ada di dalam “sedong” 

“Kehidupan “palika” pun ikut terputus,” kata Mahmud sendu.

***

PARADE IKAN-IKAN BESAR SUNGAI CIMANUK

Hingga tahun 1970, beberapa lokasi di S.Cimanuk, memiliki aura angker. Terutama lubuk-lubuk besar yang sisi kiri kanannya dipenuhi tumbuhan khas sungai besar. Antara lain dadap-cangkring, tinggi menjulang. Batang, dahan dan ranting-rantingnya penuh duri. Berhiaskan bunga-bunga berkelopak besar berwarna merah cerah. Pohon ini merupakan tempat paling cocok untuk pemukiman burung-burung. Burung manyar membuat sarang mirip balon panjang. Bergelantungan di ranting-ranting yang menjulur. Begitu pula kerak, bincarung, jogjog, dan jenis-jenis burung lain. Di atas pohon dadap cangkring mereka merasa aman terlindungi.

Juga menjadi persinggahan burung-burung besar yang akan menuju kediamannya di gunung. Seperti kuntul, bukaupih, bangau. Sesekali mereka hinggap di sana sambil memakan ikan atau katak yang mereka peroleh di perjalanan.

Ada pula pohon-pohon warudoyong, kopo, geredog, haur, yang membentuk rumpun-rumpun peneduh sepanjang bantaran sungai.

Di bawahnya arus deras sungai Cimanuk pada bagian yang dangkal. Kemudian menggenang bagai berhenti pada bagian yang dalam dan luas. Disebut “leuwi” (lubuk). Sejak bagian tengah S.Cimanuk di daerah Kec. Wanaraja dan Banyuresmi, Kab.Garut ke sebelah hilir, hingga ke kawasan Tolengas, Kab.Majalengka, terdapat ratusan lubuk dengan segala “misteri” yang dikandungnya. Berupa kisah imajiner, peristiwa ajaib, dan aneka macam lainnya yang dapat dipercaya atau tidak. Namun hidup berkembang di lingkungan masyarakat yang sering berinteraksi dengan S.Cimanuk. 

Upamanya,peristiwa “kawẻnẻhan” (kebetulan), seseorang menyaksikan ikan-ikan besar, berenang berkelompok mengitari lubuk. Biasanya ikan-ikan liar itu muncul secara tak terduga, pada saat di langit sebelah barat, bersemburat cahaya lembayung. Sehingga disebut “ngalayung”. Sehingga ada seekor ikan besar, sejenisikan mas, berwarna kuning kemerahan, dinamai “Si Layung”. Selain karena warnanya mirip “layung” (lembayung), ikan itu selalu muncul pada setiap peristiwa “kawenehan” parade ikan-ikan besar S.Cimanuk.

Kantjra KITLV

Dua penangkap ikan menunjukkan hasil tangkapannya, seekor kancra, ‘the Java salmon’, hasil tangkapannya. (“The Java salmon, called “Kantjra” from the river Tjimanoek. Garoet – Java, 1910″, sumber: KITLV)



Ikan lain yang melegenda, adalah “Si Rawing”. Sejenis ikan kancra sebesar bantal. Berwarna hijau kehitaman. Sering terkena pancing, namun selalu berhasil meloloskan diri. Sehingga bagian bibirnya sobek-sobek tak karuan. Ya jadilah “rawing”.

Kadang-kadang “Si Layung” dan “Si Rawing” bersama-sama memimpin parade ikan-ikan besar itu. Kadang-kadang, terpisah. Muncul sendiri-sendiri, membawa barisan masing-masing.

Konon, banyak pemancing yang “kawẻnẻhan” menyaksikan pemandangan menakjubkan itu, terpukau. Berdiri atau duduk kaku bagaikan batu. Mereka tak mau bergerak. Takut menimbulkan suara gemerisik, yang akan membuat parade ikan liar itu bubar mendadak. Takut kehilangan keindahan pemandangan yang sedemikian mempesona, dan jarang sekali terjadi. Kecuali yang “kawẻnẻhan” saja itu. Betapa tidak! Belasan atau puluhan ekor ikan berbagai warna dan ukuran, begitu asyik “ngalayung”. Berenang berbarengan di atas permukaan air lubuk. Begitu lembayung lenyap di garis horison langit, mereka bubar. Menyelam kembali ke kedalaman lubuk. Masuk ke “sẻdong” tersembunyi di dasar lubuk. Tempat mereka hidup dan berkembang biak, terlindung dari ancaman para penjala dan pemancing.

Maka tak sedikit yang datang ke S.Cimanuk, tanpa membawa alat penangkan ikan, pancing atau jala. Tujuannya hanya sekedar berharap “kawẻnẻhan” melihat peristiwa langka itu.

Apakah setelah habitat sungai rusak diobrak-abrik limbah, penebangan liar dan penggunaan zat kimia atau elektrik dalam penangkapan ikan, yang menggejala sejak tahun 1980-an, masih ada parade ikan liar “ngalayung” di kala senja? Entahlah! “Si Layung” dan “Si Rawing” hanya tinggal dongeng masa lalu yang sulit dipercaya masa kini. Hanya tinggal nostalgia belaka. *** 

Advertisements

One thought on “Sungai Cimanuk Jangan Bernasib Seperti Sungai Citarum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s