Mooie Garoet, dalam Novel “Gadis Garut” (1929)

Pengantar

Beberapa karya sastra lama, berupa novel atau roman, ternyata menampilkan pula deskripsi Garoet tempo doeloe dengan gambaran alam dan manusianya, sebagai bagian dari setting ceritanya. Salah satu novel yang layak disebut adalah “Gadis Garut” yang berjudul asli “Fatat Garut”, sebuah novel berbahasa Arab terbitan tahun 1929. Dikarang oleh penulis Arab, Sayid Ahmad Abdullah Assegaf, kisah dalam novel ini mengambil setting masa penjajahan Belanda, tepatnya akhir tahun 1920-an, malah dengan sebagian besar kisahnya terjadi di daerah Garut.

Nah, satu bab dalam novel ini secara tersendiri diberi judul “Garut”. Dalam bab ini penulis sepertinya selain ingin memberikan gambaran Garut sebagai setting cerita “Gadis Garut” secara umum, juga menunjukkan betapa indahnya Garut yang patut dikunjungi. Betapa tidak, penulis memberikan pujian yang selangit pula: jika Pulau Jawa diumpamakan seikat cincin zamrud, maka Garut adalah pusat dari cincin itu yang merupakan permata yang tiada bandingnya. Di luar bab “Garut” itu, ada beberapa nama tempat yang sering disebut, misalnya Ranca Bango, Ranca Nasar, Tarogong, Hotel Sanatorium, dan kota Garut sendiri. Bab “Garut” ini akan disadur secara utuh. Deskripsi penulis novel ini tentang Garut itu sepertinya mewakili pandangan wisatawan saat itu, mengapa mereka menyukai Garut sebagai destinasi plesiran mereka. Beberapa foto Garoet tempo doeloe ditambahkan sekadar ilustrasi untuk tulisan ini.

Bagi yang belum sempat membaca novelnya secara langsung, berikut saduran bab “Garut” dalam novel “Gadis Garut” karya Sayid Ahmad Abdullah Assegaf, yang diambil dari edisi terjemahan yang diterbitkan penerbit Lentera, 2008.

[M.S]

cover-gadis-garut

Cover “Gadis Garut”, Sayid Ahmad Abdullah Assegaf, edisi terjemahan, Penerbit Lentera 2008.

GARUT

Garut adalah sebuah kota di Priangan, yang terletak di Pulau Jawa, salah satu pulau di Kepulauan Asia Pasifik. Seandainya Pulau Jawa yang dianugerahi oleh Allah tanah yang subur dan pemandangan yang indah, kita umpamakan seikat cincin zamrud, maka Garut adalah pusat dari cincin itu yang merupakan permata yang tiada bandingnya. Garut terletak di sebuah bukit, ketinggiannya 2336 kaki dari permukaan laut, sedangkan jaraknya dari Betawi sekitar 253 km dan dapat ditempuh dengan kereta api selama kurang lebih tujuh setengah jam (di masa itu— pen.). Ada kereta api khusus yang menuju Garut dari Stasiun Cibatu yang merupakan stasiun terbesar kedua untuk kereta api ekspres yang berangkat dari Bandung ke Surabaya.

collectie_tropenmuseum_treinen_op_het_station_van_tjibatoe_west-java_tmnr_60010786-1918

Stasiun Kereta Api Tjibatoe (1918). Koleksi: Tropenmuseum.

Pulau Jawa mempunyai keistimewaan dibandingkan pulau-pulau lain dengan hasil buminya yang melimpah, tanahnya yang subur, dan pemandangan alamnya yang indah. Sedangkan daerah Priangan dibandingkan daerah-daerah lain di Pulau Jawa mempunyai keistimewaan lagi karena semua yang ada di sana menarik perhatian dan menyejukkan pandangan. Bukit-bukitnya, lembah-lembahnya, dan dataran-datarannya bagai ditutupi kain sutera hijau yang ditenun oleh tangan-tangan alam.

Jika Anda naik kereta api dari Surabaya menuju Bandung, maka pada waktu siang hari Anda akan merasakan sulitnya perjalanan disebabkan penuh sesaknya para penumpang, buruknya tingkah laku sebagian mereka, udara panas yang menyiksa, dan kurangnya pandangan yang menyejukkan mata dan sebagainya.

Sehingga, terkadang Anda membayangkan seolah-olah sedang berada di sebuah penjara yang bergerak. Tetapi jika kereta telah sampai di stasiun Banjar yang merupakan stasiun pertama di daerah Priangan, Anda akan merasa seolah-olah pindah dari satu alam ke alam yang lain. Lihatlah ke luar jendela….! Anda akan saksikan dataran yang luas yang diliputi hamparan hijau, dikelilingi bukit-bukit yang tinggi dan ditutupi rerumputan yang dapat menenangkan hati dan menghilangkan kegundahan. Semua yang Anda lihat dapat menyejukkan pandangan. Kereta api bergerak naik di kaki-kaki perbukitan yang hijau sampai ke puncak-puncaknya. Pemandangan itu semakin jelas terlihat dan tampak dalam bentuknya yang paling indah, dengan warna yang jarang ditemui dan dengan tampilan yang sungguh mempesona.

Di Stasiun Banjar dan di stasiun-stasiun sesudahnya, para penumpang dari daerah tersebut naik dengan tertib, dengan penampilan yang baik dan pakaian yang bersih. Anda akan kagum dengan akhlak mereka yang lembut, penuh sopan santun terhadap teman duduknya, dan sangat menghormati orang yang berbicara dengannya. Anda pun akan merasa bahwa berbincang-bincang dengan mereka itu tidak kurang asyiknya dibandingkan menikmati pemandangan-pemandangan indah yang Anda saksikan.

Jika sebelumnya Anda selalu menghitung waktu dari menit ke menit dan ingin seandainya saja kereta itu mempunyai sayap dan dapat membawa Anda terbang sampai ke Bandung agar Anda bebas dari kesulitan-kesulitan yang dirasakan, maka sekarang waktu terasa berlalu begitu cepat. Waktu sejam Anda rasakan seolah-olah hanya beberapa menit saja. Anda ingin agar kereta berjalan lambat-lambat saja di antara bukit-bukit dan dataran-dataran itu.

Jika sebelumnya Anda merasa lesu dan letih karena terlalu lama duduk di bangku kereta, maka sekarang Anda merasa bahwa duduk di bangku itu akan sangat menyenangkan tanpa perasaan tersiksa. Setiap kali kereta berhenti dan Anda butuh makanan, Anda dapat memanggil pedagang yang mana saja yang Anda sukai. Anda dapat membeli apa pun yang Anda senangi. Anda akan melihat tempat-tempat makanan yang bersih dan rupa-rupa makanan yang membangkitkan selera. Para pedagangnya tampak bersih dan sangat lemah lembut. Tingkah laku mereka terhadap pembeli pun baik sekali.

Kesimpulannya, semua yang Anda tidak sukai di dalam kereta sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Banjar sekarang berubah menjadi Anda sukai. Hal itu tidak lain karena Anda sekarang sudah berada di daerah Priangan dan kebanyakan orang yang Anda ajak bicara adalah orang-orang Sunda. Sebelum jam enam sore, pemeriksa karcis melewati seluruh gerbong dan mengingatkan para penumpang bahwa mereka yang memegang karcis ke Garut agar bersiap-siap pindah ke kereta lain di Stasiun Cibatu. Pada jam enam kereta berhenti di stasiun tersebut. Para penumpang yang hendak ke Garut pindah ke kereta khusus yang biasanya telah menunggu mereka di stasiun itu. Sejam setelah itu yakni pada jam tujuh, kereta sampai di Stasiun Garut. Daerah inilah tempat terjadinya sebagian besar kejadian dalam kisah ini.

station-van-de-staatsspoorwegen-te-garoet-ca1895-kiltv

Stasiun Kereta Api Garoet, 1895. Koleksi: KITLV.

Garut bukanlah daerah perdagangan, melainkan daerah yang banyak tempat rekreasinya. Karena itu di sana banyak dibangun tempat-tempat penginapan yang besar dan rumah makan-rumah makan yang teratur rapi yang menyediakan semua yang dapat menyenangkan para wisatawan dan dapat memenuhi cita rasa mereka. Kebanyakan orang Eropa yang menetap di Garut adalah para wisatawan dan orang-orang yang ingin menikmati udaranya yang sejuk. Mereka adalah orang-orang kaya atau orang-orang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dalam pekerjaannya.

Jika dilihat ketinggiannya dari permukaan laut, daerah Garut pantas berudara dingin. Terkadang udara terasa begitu dingin sehingga orang-orang sengaja mandi dengan air panas alami di daerah Cipanas. Daerah ini terletak di lereng gunung berapi. Dari situlah memancar sumber air panas yang terkadang panasnya mencapai 36 derajat. Di Garut terdapat daerah-daerah wisata seperti Situ Bagendit, Sanatorium, dan lain-lainnya yang semuanya dikelilingi oleh pemandangan alam yang menakjubkan. Alam daerah tersebut, daerah kota Garut dan sekitarnya, memang mempunyai kelebihan dengan keindahannya yang memikat.

Bila Anda berkeliling kota, Anda akan saksikan rumah-rumah yang indah dan jalan-jalan yang bersih. Orang-orang  dari berbagai bangsa merasa bahagia. Terlihat tanda-tanda kegembiraan di wajah mereka. Sedangkan para penduduk asli, baik laki-laki maupun perempuannya merupakan gambaran dari perasaan yang lembut dan halus.

Garoet (Java) 2400 F. ü. d. M. Stationsstrasse in Garoet mit wilden Mandelbäumen. Avenue of almond trees, Station Road, Garoet 1910 KITLV

Salah satu sudut jalan yang teduh dan rindang di Garoet doeloe, jalan menuju stasiun Garoet tahun 1910. (Foto: KITLV)

Jika Anda berjalan-jalan keliling kota, Anda akan melihat pemandangan-pemandangan yang Allah jadikan dapat menghibur hati yang sedang sedih dan jiwa yang sedang berduka. Anda akan lupa dengan kesedihan dan kesusahan Anda. Saat Anda berada di daerah itu terasa seolah-olah diri Anda sedang berada di alam yang lain dari alam tempat hidup Anda. Anda berada di suatu alam di mana teman Anda adalah pemandangan yang indah dan kawan bicara Anda adalah alam yang nyata.

Advertisements

3 thoughts on “Mooie Garoet, dalam Novel “Gadis Garut” (1929)

    • Kalau novel terjemahannya mudah-mudahan via online masih bisa dapat. Tapi kalau novel asli berbahasa arab mungkin tersedia di perpustakaan nasional. Nuhun.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s