Catatan Para Pelancong Doeloe (7): Nicholas Alexandrovich, Calon Tsar Rusia Terakhir (1891)

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanannya. Pada seri tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” berikut ini, Naratas Garoet tampilkan catatan perjalanan Nicholas Alexandrovich, saat masih sebagai putera mahkota Tsar Rusia. Ia berkunjung ke Garoet pada tahun 1891, tiga tahun jelang dikukuhkan sebagai Tsar Rusia, dikenal sebagai Tsar Nicholas II. Ia adalah Tsar Rusia terakhir, tumbang pasca berkecamuknya Revolusi Bolsewik 1917.

Tulisan ini sendiri merupakan saduran artikel berjudul “Ketika Calon Tsar Rusia Mampir ke Garut” yang ditulis oleh Bambang Hidayat dalam Harian Umum Pikiran Rakyat edisi tanggal 7 Juni 2016. Tulisan feature yang informatif ini sayang untuk dilewatkan. Di sini, foto Nicholas II ditambahkan sekadar sebagai ilustrasi.

Akhir kata, ada kutipan yang konon diucapkan Nicholas II tentang Garoet: “See Garoet, and then die!” Secara bebas, mungkin maksudnya sebelum anda mati, sempatkanlah untuk melihat dulu keindahan Garoet.

Selamat melancong, ke masa lalu Garoet…

[M.S]

***

Nicholas_II_of_Russia_1892

Nicholas II, 1892 (Sumber: Wikipedia)

Ketika Calon Tsar Rusia Mampir ke Garut

KEINDAHAN panorama Garut pada masa lalu sudah banyak dibicarakan orang. Koleksi foto Thilly Weissenborn pada tahun 1926 menegaskan, alam Garut dan sekitarnya bak bidadari yang sedang tidur, menyajikan pesona dan rasa hawa gunung dan nuansa tenang. Tak heran kalau banyak tokoh ternama berkunjung ke Garut.

SALAH satunya adalah anggota terhormat Wangsa Romanov yang berkunjung ke Garut pada minggu pertama Maret tahun 1891. Yang datang bukan sembarang anggota wangsa Romanov, tapi Nicholas Alexandrovich, putra mahkota kaisar Rusia. Entah dari siapa Alexandrovieh tahu tentang Garut. Soalnya, waktu itu Garut belum menjadi ibu kota kabupaten (yang baru diresmikan tahun 1913). Alexandrovich tertarik karena dataran tinggi Garut sudah terkenal sampai ke ranah semikutub itu berkat citra pegunungan tinggi yang mengelilinginya. Dalam jarak dekat dengan pusat hunian, menjulang anggun Cikuray, Papandayan, Galunggung, dan Talagabodas. Rupanya, wangsa elite di utara sana itu perhatiannya terpumpun pada berburu binatang buas di tengah hutan tropika basah. Berburu adalah permainan warga kelas atas.

Keberhasilan merangket binatang buas langka akan menjadi simbol status menak pria bangsawan di Eropa. Garut rupanya menyediakan kesempatan itu.

Kedudukan sebagai putra mahkota kerajaan besar dan berpengaruh dipergunakan oleh Alexandrovich. Dengan kapal perang Rusia “Nachimhoff’, Alexandrovich berlayar ke Hindia Belanda. Atas permintaan kekaisaran Rusia, rombongan disambut (lihat catatan Emden dan Brandt, Amsterdam 1964, dalam kumpulan esainya mengenai kenangan indah warga Belanda di Jawa Tua).

Kesibukan penyambutan terasa, di mana-mana pada tanggal 7 Maret 1891 ketika kapal perang Rusia berlabuh di Teluk Tanjung-priok. Pembesar sipil dan militer Belanda dengan tunik jas berkerah tegak menyambut kedatangan tamu agung itu: pemuda berusia 22 tahun berpakaian angkatan laut sederhana.

Tamu itu didampingi sepupunya, Pangeran George, Putra Raja Yunani, dan beberapa orang sosok penting kekaisaran Rusia. Sambutan dan pesta berlangsung meriah sekali. Ucapan “selamat datang Raja Ruslan” ikut mengisi rongga udara Priok dan Gambir (tercatat dalam surat kabar Jakarta waktu itu, Bataviasche Handelsblad). Stasiun Priok dan Stasiun Kereta Api Gambir (waktu itu bernama Weltevreden) bersolek sebagai tempat upacara penyambutan. Acara protokoler disusun rapi, termasuk permintaan putra mahkota untuk melihat wayang wong di Istana Bogor (menarik karena menyembulkan tanda tanya, kenapa “wayang wong” dari Jawa?). Semua stasiun antara Bogor dan Bandung terarah untuk menyambut tamu dengan iringan degung dan irama gamelan hidup.

Pada 11 Maret 1891 berlangsung parade di Taman Waterloo (sekarang Lapangan Banteng, di depan Departemen Keuangan RI) karena langganan ajek Kota Batavia (sekarang Jakarta) dibatalkan. Padahal Jenderal van Heutz (kelak terkenal dengan penelikungan Aceh) akan memimpin defile artileri itu. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Batavia di akhir abad ke-19 itu membuat lapangan terendam air, tidak memungkinkan pasukan bersenjata berdefile di sana. Pasase ini mungkin membuat pembaca tersenyum dikulum karena nyatanya banjir adalah kawan lama Kota Jakarta.

Untuk memenuhi naluri berburu sang pangeran, beberapa ekor harimau dan banteng didatangkan ke Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) agar dapat menjadi sasaran tembak “raja Ruslan”. Buaya di rawa dan danau sekitar Jatinegara juga dicadangkan menjadi incaran olah raga tembak bangsawan itu.

Catatan sejarah ini menggambarkan, Jatinegara kala itu masih belantara. Anno 2016, Jatinegara sudah lain karena yang ada hanya hutan beton dan aspal yang tidak memungkinkan lagi menjadi persembunyian harimau maupun buaya. Tetapi Alexandrovich baru bisa menembak buaya di Pasar Ikan (daerah yang pada tahun 2016 baru saja diramaikan penggusuran). Tiga ekor kepala buaya lengkap dengan kulitnya diangkut ke kapal perang ‘Azova”, untuk diawetkan di Rusia.

Kunjungan tamu agung itu ke Garut membuat Garut semarak. Jalanan dipenuhi aparat keamanan. Juru masak kepala dan 21 koki didatangkan dari Jakarta untuk menyediakan makanan buat Alexandrovich yang tergila-gila pada ragam flora Papandayan dan rangkaian keserasian pegunungan di sekitar Garut.

Kurang dari 20 kilometer dari tempatnya menginap, Alexandrovich menyaksikan megahnya onggok gunung berselimutkan hutan menjulang tinggi. Di bibir kawah Papandayan, pesta makan diadakan. Menunya antara lain terdiri dari sandwich au caviar (roti dengan telur ikan caviar yang barangkah diimpor dari Laut Hitam) dan pudding ala imperialle (puding raja). Selain mengagumi tarian klasik Sunda, dia juga terkesan kepada variasi isi piramida hias yang tersusun atas 250 macam buah tropika. Sayang, penulis tidak berhasil mengorek nama buah-buahan itu. Kunjungan kenegaraan yang mengesankan dan sekaligus meletakkan Garut pada peta dunia, berkat liputan mtedia cetak Rusia.

Nicholas_II_by_Boissonnas_&_Eggler_c1909

Nicholas II, 1909. (Sumber: Wikipedia)

Sepulang dari lawatan ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia), Alexandrovich beberapa kali menjadi sasaran pembunuhan. Tetapi cerita terpenting dalam konteks paparan ini ialah, tanggal 1 November 1894 dia dinobatkan menjadi Tsar Rusia. Dengan kekuasaan dan tangan besi Tsar ingin mengubah Rusia menjadi negara modem. Setelah 17 tahun lebih menguasai wilayah Rusia yang terentang luas dari padang stepa sampai pegunungan Urai, nasib membawanya ke keluruhan pemerintahan.

Revolusi Bolsewik bulan Februari 1917 menurunkan dia dari takhta agung itu. Pada tanggal 15 Maret 1917, pasukan merah menahan ceasarevich, dan mengakhiri hidupnya pada 16 Juli 1918. Tragis, tamu Agung Garut abad ke-19 beserta istri dan anak-anaknya dikubur tentara merah dengan kejam. Tulang-tulang keluarga Tsar yang berserakan masih menyisakan cerita menarik sampai pada abad ke-21 ini ketika ilmu pengetahuan modern yang berlandaskan identifikasi DNA dipergunakan untuk mencari keluarga dan keturunannya di beberapa bagian muka Bumi. (BAMBANG HIDAYAT, warga Lembang, Kabupaten Bandung Barat)

070616_Page_12a

Advertisements

One thought on “Catatan Para Pelancong Doeloe (7): Nicholas Alexandrovich, Calon Tsar Rusia Terakhir (1891)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s