Oedjoengan: Seni Ketangkasan yang (Pernah) Terlarang (1871)

Osaka, 7 Mei 1985. Budayawan Sunda Ajip Rosidi berkirim surat pada Arief Budiman. Surat itu salah satu yang terkumpul dalam Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang, 1980-2002 (2008). Ajip Rosidi mengklarifikasi isi (draft) buku biografi H.B. Jassin yang ditulis oleh Darsjaf Rachman, yang menyinggung tentang peran Ajip Rosidi dalam Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia (KKPI), yaitu konferensi yang dihadiri sastrawan dan budayawan se-Indonesia -yang berlawanan dengan Lekra- pada tanggal 1-7 Maret 1964. Dalam biografi Jassin itu ditulis bahwa Ajip Rosidi dan kawan-kawan dari Bandung “mengacau jalannya sidang, sesuai dengan siasat orang kiri”.

Terungkap, sikap Ajip Rosidi sebetulnya lebih mengkritisi panitia KKPI yang “terlalu cepat menjalin hubungan dengan Nasution (tentara)”. Tulis Ajip, “yang tak dapat kuterima ketika itu bukanlah Manifes Kebudayaan, tetapi sikap para panitia KKPI yang terlalu cepat menjalin hubungan dengan Nasution (tentara), tanpa menetapkan tempat tegak. Sampai sekarang pun aku berpendapat adalah suatu penghinaan kepada eksistensi kepengarangan kalau sebuah konferensi pengarang diketuai oleh seorang kolonel yang dokter dan bukan pengarang sama sekali.”

Tentu tak dapat semua isi surat Ajip Rosidi ini dikutipkan di sini berkaitan dengan dinamika yang terjadi saat dan pasca KKPI, yang kemudian berujung pada pembubaran Manifesto Kebudayaan oleh presiden Soekarno. Saya sebetulnya lebih tertarik pada bagian surat yang menceritakan tentang pergulatan Ajip Rosidi “di lapangan Kesenian Rakyat” melawan Lekra. Begini tulisnya, “Saya sendiri pada waktu itu sedang sengit “bergerilya” berhadapan dengan kang Hendra (almarhum) yang memimpin Lekra Jawa Barat di lapangan Kesenian Rakyat, sampai pun pada bidang ujungan, yaitu saling pukul badan dengan sekerat rotan dalam permainan-permainan yang sempat kami ikuti.” Ajip Rosidi berusaha “menjauhkan” seniman-seniman di Jawa Barat dari pengaruh Lekra, termasuk dalam seni ketangkasan ujungan.

Apa itu “ujungan”?

***

Sudah disinggung sedikit dalam surat Ajip Rosidi, ujungan itu permainan “saling pukul badan dengan sekerat rotan”. Deskripsi tentang ujungan ini rada lengkap antara lain ada dalam buku Jaap Kunst, Music in Java: Its Histoy, Its Theory and Its Technique (1949). Ujungan yang disebutnya sebagai whipping play ini dimainkan oleh dua orang lelaki yang badan masing-masing pemainnya dibalut dengan baju yang dilapisi luarnya dengan ijuk. Kepala pemain menggunakan topeng “balakutak” yang terbuat dari kapas dan serabut kelapa. Tetapi terdapat bagian tubuh yang terbuka, yaitu kaki yang hanya menggunakan calana sontog. Para pemain dilengkapi dengan senjata berupa sebatang rotan berukuran kira-kira satu setengah sampai dua meter panjangnya, yang dilapisi dengan ketan kering. Dengan batang rotan ini para pemain akan mengincar bagian tubuh lawannya (tangan dan kaki), sehingga bagaimana pun akan menimbulkan luka sobekan pada kulit.

Permainan ujungan ini diiring dengan tetabuhan kendang, tarompet, dan gong kecil.

Kunts mencatat bahwa permainan ujungan ini sangat popular di bagian selatan Tasikmalaya (desa Cijulang dan Parigi). Tetapi sebenarnya permainan ini tidak hanya popular di sana. Selain di Priangan Timur, termasuk Garut, ujungan dikenal pula misalnya di Bekasi dan Sukabumi. Malah, saya baca di beberapa media, sekarang ini ujungan disebut sebagai “kesenian asli” Bekasi. Mangga wae…

Dan Kunts juga mencatat bahwa permainan ujungan ini sesungguhnya merupakan kebudayaan lama yang terdapat di banyak daerah di Nusantara. Dengan nama serupa, ujungan dikenal di Banyumas dan Tegal. Di Banyuwangi dikenal dengan nama gitikan; di Ponorogo dan Blilar, disebut gebugan; di Bali, disebut kare atau ende; dan di Manggarai, disebut main chacki(k) atau parise. Saya tambahkan, di Mataram, permainan ini disebut paresean.

***

Salah satu rekaman pertunjukan ujungan di Garoet tempo doeloe dapat kita baca dalam buku berbahasa Sunda berjudul Rasiah Priangan karya Mas Kartadinata, terbitan Bale Poestaka tahun 1921. Buku ini menceritakan peristiwa persiapan “pemberontakan” sekelompok orang yang bermarkas di Boengboelang terhadap pemerintahan kolonial, yang sebetulnya bermula dari intrik antar menak di Bandoeng, dengan sasaran penggantian Boepati Bandoeng saat itu. Pemberontakan akhirnya dapat ditumpas setelah dikerahkan pasukan-pasukan dari seluruh kabupaten di Priangan. Pada kesempatan lain, Rasiah Priangan yang dituturkan dengan model wawacan ini menarik pula untuk dikupas dalam Naratas Garoet. Nanti…

Rasia Priangan

Jadi, untuk menyambut pasukan kabupaten Garoet sekembali dari Boengboelang yang sukses membasmi pemberontak, maka di alun-alun Garoet saat itu diadakan keriaan. Pesta rakyat ini salah satunya mempertunjukan kesenian ujungan. Bagaimana kemeriahannya, berikut kutipan dalam bahasa Sunda dari Rasiah Priangan dalam format pupuh Gambuh:

16. GAMBOEH

      1.  Kotjapkeun nagara Garoet,

            Kangdjeng Dalem prantos tjoendoek,

            toean Kashouder ge soemping,

            nja eta toean van der Moer,

            ponggawa areureun ngaso.

  1.   Engkena toean van der Moer,

            wartosna ti sepoeh2,

            ngadjadi Residen nagri,

            njeta di dajeuh Tjiandjoer,

            ngalih ka Bandoeng Tjitjendo.

  1.   Doepi sakitan noe taloek,

            djeung batoerna dibelenggoe,

            diarasoepkeun ka boei,

            pek dikintoen ka Tjiandjoer,

            engke oge katjarios.

  1.   Sami soeka oerang Garoet,

            samoelih tina ngaroeroeg,

            nja pesta tjara di nagri,

            di Bandoeng djeung di Tjiandjoer,

            najoeb ngibing pada pogot.

  1.   Malah pesta nganggo oedjoeng,

            geus biasana di Garoet,

            di aloen2 maranti,

            djalma pada siligeboeg,

            koe hoena siligebot.

  1.   Ari atoeran noe oedjoeng,

            sakoer lalaki noe segoet,

            djelema anoe barani,

            pakeanana araloes,

            make balakoetak kedok.

  1.   Aja anoe koelit woengoe,

            aja anoe hideung woengkoel,

            dikoeroengkeun make tali,

            nja eta ngaboengkoes hoeloe,

            tali njangreud dina gado.

  1.   Beungeut balakoetak loetjoe,

            roepi kedok noe araloes,

            tjara beungeut wajang kai,

            tjalanana oendoer-beroek,

            tjalana sontog dipangrod.

  1.   Badjoena soetra araloes,

            aja noe hedjo noe woengoe,

            potongan tongkeng noe toekik,

            tjara djoki koeda adoe,

            asoep ka kalangan keprok.

  1.   Gamelan ditabeuh ngoengkoeng,

            tandak renggong-malang ngemproeng,

            noe rek odjoeng pada ngibing,

            tatandang pasegoet-segoet,

            pek madjoe dek siligablog.

  1.   Koe hoe teh siligeboeg,

            gedena saindoeng soekoe,

            siliteunggeul siligitik,

            keuna kana pingping toeoer,

            kana tonggong djeung bobokong.

  1.   Siligitik tambah roesoeh,

            toengtoengna ngarontok geloet,

            ngewel balakoetak tarik,

            keur geloetna silisoeroeng,

            noe kawon roeboeh ngadjolor.

  1.   Ger soerak ti pihak moesoeh,

            noe kawon teh loempat moendoer,

            soekoe tjingkoed pingping njeri,

            awak garareuneuk biroe,

            tapak hoe malaledog.

  1.   Teu diboeroehan sabaroe,

            diadoe djalma teu poegoeh,

            badanna roeksak njareri,

            dina saminggoe ngoedoepoeng,

            ngarengkol bae di enggon.

  1.   leu hal oedjoeng di Garoet,

            di Soemedang oge kitoe,

            di Soekapoera ge sami,

            ngan di Bandoeng djeung Tjiandjoer,

            teu aja oedjoengan jaktos.

  1.   Doepi lirenna hal oedjoeng,

            mimitina dina tahoen,

            tahoen toedjoeh poeloeh hidji,

            geus gentos atoeran baroe,

            liren sabab oedjoeng awon.

  1.   Goepernemen anoe agoeng,

            henteu idin lampah kitoe,

            ti wangkid eta berenti,

            henteu aja deui oedjoeng,

            marakbak sadaja atoh.

 ***

Sengaja dikutipkan seluruh bait di atas, karena ternyata keseluruhannya mendeskripsikan dengan lengkap permainan ketangkasan oedjoeng(an). Melengkapi catatan Kunts, wawacan Rasiah Priangan ini menyebutkan bahwa kesenian ujungan merupakan permainan yang biasa diselenggarakan di Garoet untuk memeriahkan pesta atau hajatan daerah. Pesta ini dilaksanakan di alun-alun Garoet.

Tapi disebutkan pula bahwa ujungan tidak khas Garoet. Ujungan yang sama diselenggarakan pula di Soemedang dan Soekapoera, tetapi di Bandoeng dan Tjiandjoer tidak ada.

Ujungan ini permainan lelaki, dan harus orang yang pemberani (sakoer lalaki noe segoet, djelema anoe barani). Pakaian yang digunakan pemain ujungan disebutkan araloes (bagus-bagus), berbahan sutra, dan berwarna ungu atau hijau. Modelnya serupa dengan djoki koeda adoe. Sementara, celana yang digunakan adalah tjalana sontog, yang menutup sampai sebatas lutut saja.

Untuk melindungi kepalanya, pemain ujungan menggunakan topeng balakutak (balakoetak kedok), berbahan kulit dan berwarna ungu atau hitam. Topeng membungkus seluruh kepala dan diikatkan pada dagu. Topeng balakutak dihias lucu-lucu dan bagus, seperti hiasan pada muka wayang kai (wayang golek).

Ujungan dimainkan dengan iringan gamelan. Para pemain mulai menari dengan gaya menantang lawannya. Kemudian mereka maju dan saling pukul dengan rotan sebesar jempol kaki. Sasaran yang dipukul adalah betis, pinggang, tumit, dan bokong.

Permainan ujungan di Garoet tempo doeloe ini tidak hanya saling pukul dengan rotan. Setelah mulai saling pukul dan suasana memanas, permainan berubah menjadi semacam gulat. Pemain menyergap lawannya dan saling dorong sampai lawannya roboh terjatuh. Roboh terjatuh berarti kalah, dan langsung keluar dari arena.

Begitulah gambaran permainan ujungan di Garoet, sampai kemudian menjadi permainan yang terlarang. Pihak pemerintah kolonial resmi melarang permainan ujungan pada tahun 1871. Sejak itu, tidak ada lagi penyelenggaraan ujungan di Garoet. Alasannya, ujungan adalah permainan yang “awon”, yang dapat membuat cedera pemainnya. Rasiah Priangan menyebut bahwa pemain ujungan akan mendapatkan luka parah hingga tidak dapat beraktivitas selama seminggu.

Dan larangan itu, katanya, disambut gembira, “marakbak sadaja atoh”.

Kunts juga mencatat bahwa pemerintah kolonial melarang ujungan ini karena berbahaya. Dalam permainan biasa, masing-masing pemain mendapat giliran yang adil untuk memukul lawannya. Tetapi adakalanya diselenggarakan pertandingan yang serius sehingga pertandingan tidak akan berhenti sampai salah seorang pemain mati. Adakalanya batang rotan dalam pertandingan semacam ini dibubuhi racun yang mematikan. Serem…

***

Jika kembali merujuk pada surat Ajip Rosidi, maka pada kisaran tahun 1960-an ujungan ternyata masih eksis. Saya tidak tahu apakah larangan permainan ujungan pada jaman penjajahan ini hanya berlaku untuk di beberapa daerah saja, ataukah ujungan tetap dimainkan dengan modifikasi tertentu sehingga dapat diterima. Atau, selepas kemerdekaan permainan ujungan kembali dimainkan di daerah Jawa Barat?

Yang jelas, dalam berita Pikiran Rakyat tanggal 1 April 2015, bertajuk “24 Warisan Budaya tak Benda Tradisional Jabar Didaftarkan”, disebutkan pada tahun 2015 sebanyak 24 Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tradisional Jawa Barat didaftarkan ke Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Untuk jenis kesenian, warisan budaya tak benda yang didaftarkan adalah kesenian sintren (Indramayu, Majalengka dan Cirebon), mamaos (Cianjur), tarawangsa (Sumedang), reak (Bandung), tarling (Indramayu), pencak silat, ronggeng bugis (Cirebon), badeng, ujungan, lais, dan surak ibra (Garut). Ya, ujungan didaftarkan sebagai kesenian dari Garut!

Dan terus terang, saya belum pernah menonton pertunjukan ujungan ini… *meungpeun*

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s