Dari Sebuah Sidang Kasus Kecelakaan di Tjikadjang (1937)

Ini bukan cerita sejarah. Hanya nukilan sebuah persidangan pidana di jalam kolonial. Ceritanya pun tidak tuntas, tidak full sampai persidangan selesai. Memang sumbernya juga cuma satu, berita dalam suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 17 Desember 1937. Jadi tidak tahu apakah si terdakwa akhirnya dihukum bersalah atau malah bebas. Kasusnya pun bukan sesuatu yang berdampak secara sosial-politik, yang mengganggu kekuasaan kolonial. Hanya kasus kecelakaan mobil. Kan memang Naratas Garoet mah maunya jadi tempat mengungkap banyak cerita yang biasa-biasa saja.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indi 17121937

Suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië ini terbit sore. Pada berita yang berjudul “Een Doodelijke Aanrijding” (Tabrakan Maut) ini persidangan yang diliput itu disebutkan terjadi pada “pagi ini”. Jadi, pada sore tanggal 17 Desember 1937 itu berita ini masih hangat. Suratkabar yang terbit pagi baru akan memuatnya pada esok hari. Kalau sekarang mah berita sore pun sudah kalah hangat dengan media online. Hehe…

***

Pagi tanggal 17 Desember 1937 itu, Landraad (pengadilan negeri) Bandoeng melanjutkan persidangan atas kasus tabrakan maut yang terjadi di Tjikadjang, dengan terdakwa Mr. B.S., usia 44 tahun, seorang karyawan perusahaan perkebunan Pamegatan (Tjikadjang, Garoet).

Pemandangan perkebunan teh Pamegatan, sekitar tahun 1910-1940. (Sumber: Tropenmuseum)

Pemandangan perkebunan teh Pamegatan, sekitar tahun 1910-1940. (Sumber: Tropenmuseum)

Sidang dipimpin oleh politierechter (hakim) Mr. Bangert. Jaksa penuntut umum pada perkara itu adalah Mr. Barendrecht, sementara Mr. Rijckmans bertindak sebagai panitera. Dan pembela terdakwa adalah Mr. Visser.

Oh, ya… di Landraad Bandoeng ini pula Soekarno muda pernah diadili, dan pledoi pembelaannya yang berjudul “Indonesia Menggugat” sekarang diabadikan menjadi nama gedung ini.

Landraad Bandoeng gd Ind menggugat

Sebagai ilustrasi suasana persidangan di jaman kolonial, berikut adalah gambar persidangan di sebuah landraad. Kebetulan terdakwanya orang pribumi, hingga diharuskan duduk bersila di depan hakim. Tapi kalau terdakwanya orang Eropa atau yang dipersamakan, maka ia akan duduk di kursi. Begitulah nasib pribumi yang terjajah di negeri sendiri, terdiskriminasi…

Zitting van de Landraad. (Sumber: Tropenmuseum, sekitar 1889-1900).

Zitting van de Landraad. (Sumber: Tropenmuseum, sekitar 1889-1900).

Satu hal, suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië ini dalam pemberitaannya tidak sekalipun menyebut nama terdakwa, hanya inisialnya saja. Prinsip asas praduga tidak bersalah rupanya masih setia dijalankan.

***

Dalam dakwaan jaksa disebutkan terdakwa mengendarai kendaraan menuju ke Bandung pada tanggal 29 Oktober 1937, dan di sekitar desa Tjikadjang menabrak seorang pribumi yang sedang berjalan kaki. Setelah mendapat perawatan sekitar 10 hari di rumah sakit provinsi di Garoet, akhirnya korban pun meninggal dunia.

Suasana jalanan menuju Tjikadjang di tahun 1930. (Sumber: Moesson)

Suasana jalanan menuju Tjikadjang di tahun 1930. (Sumber: Moesson)

Atas dakwaan itu, terdakwa pada sidang hari Kamis minggu yang lalu membantah bersalah dalam kecelakaan itu dan kemudian memberikan pembelaan dengan menguraikan fakta-fakta dari kasus tersebut.

Terdakwa menyatakan masih ingat bahwa sebelum kecelakaan terjadi ia sudah menurunkan kecepatan dan membunyikan klakson. Hal itu ia lakukan sehubungan ada sekelompok siswa sekolah desa yang berjalan di kedua sisi jalan. Mobil berjalan dengan kecepatan 40 km per jam. Saat itu mobil katanya berjalan lebih di tengah-tengah jalan, maksudnya menghindari sisi jalan.

Tak jauh dari sana, ada pejalan kaki yang berjalan searah dengan mobil. Terdakwa kemudian membunyikan klakson lagi, tanpa menambah kecepatan. Ketika mobil berada sekitar 3 m, pria pejalan kaki itu sempat melirik tapi kemudian malah berlari, menyeberang jalan. Terdakwa membanting mobil ke arah kanan dan berusaha mengerem dengan kuat untuk menghindari kecelakaan, tapi jarak itu terlalu dekat. Pejalan kaki itu tertabrak oleh bagian kiri depan mobil dan kemudian terlempar ke aspal jalan.

Mobil akhirnya berhenti di bahu jalan sebelah kanan. Terdakwa dan istrinya yang duduk di sampingnya dan djongos yang duduk di belakang, segera keluar untuk membantu penjalan kaki yang tertabrak itu, juga segera melaporkan kejadian itu kepada polisi. Korban dilarikan ke rumah sakit di Garut dengan taksi satu jam setelah kecelakaan. Jaman itu polisi lapangan atau opas kebanyakan pribumi.

Setelah terdakwa menyampaikan pernyataan ini, terjadi tanya jawab  antara Hakim dengan terdakwa. Hakim mencecar terdakwa terutama mengenai kecepatan dan jarak antara mobil dengan korban, mengingat dari gambar-situasi  dan hasil penyelidikan polisi diketahui terdapat bekas tanda pengereman yang berjarak 17 meter. Artinya, kendaraan terdakwa sedang melaju kencang.

Terdakwa meragukan akurasi gambar-situasi, baik soal tanda pengereman atau detail lainnya, dan bertahan dalam keterangannya. Terdakwa mengatakan gambar-situasi itu belum pernah dilihat sebelumnya, dan juga sama sekali tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan pendahuluan.

***

Ny. S. dan si djongos didengar juga keterangannya sebagai saksi, di bawah sumpah. Mereka membuat kesaksian yang cocok dengan keterangan terdakwa. Dikatakan, Soemarta, petugas polisi kelas 2, yang tiba pertama di tempat kejadian kecelakaan setelah laporan kecelakaan dan segera membuat berita acara pemeriksaan, memperkirakan tanda pengereman kurang dari 6 meter panjangnya.

Saksi melihat korban tergeletak di jalan, di belakang roda belakang sebelah kanan mobil, dan saksi punya kesan bahwa korban tidak terluka serius, setidaknya tidak banyak terlihat dalam penampilan fisik. Juga saat itu korban mampu menanggapi beberapa pertanyaan dari saksi.

Menanggapi jawaban itu, Jaksa mengungkapkan bahwa korban justru sempat menyatakan ia tidak mendengar tanda apapun, termasuk klakson mobil.

Berdasarkan pemeriksaan terdakwa dan saksi, yang mempertanyakan akurasi gambar-situasi yang dibuat polisi, akhirnya jaksa pun mengangap perlu untuk memanggil petugas yang menangani kasus ini hadir dalam persidangan sebagai saksi. Hakim mengabulkan permintaan ini.

Dan tok tok tok… sidang dilanjutkan minggu depan.

***

Mobil Pontiac tahun 1936 yang peyok masuk jurang. (Suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 30 November 1936).

Mobil Pontiac tahun 1936 yang peyok masuk jurang. (Suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 30 November 1936).

Sebelumnya, pada November 1936 diberitakan terjadi kecelakaan tunggal di Garoet. Mobil mewah merek Pontiac keluaran baru (1936) masuk jurang. Tidak disebutkan lokasi kecelakaannya. Tapi lucunya, kecelakaan ini mah malah jadi iklan.

Jadi, dalam kecelakaan itu tidak ada korban. Sopir dan penumpang selamat, hanya luka ringan saja. Mengapa? Katanya, ini terjadi karena kualitas mobil yang bagus, jaminan produk dari pabrikan General Motors di Hindia Belanda.

Aya-aya wae…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s