Catatan Para Pelancong Doeloe (6): Charlie Chaplin dan Kenangan Guguling “the Dutch Wife” (1932)

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanan, yang akan saya tampilkan cuplikan singkatnya dalam rangkaian tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” di Naratas Garoet ini. Catatan-catatan yang masih jarang diungkap itu, selagi tersedia informasinya, akan dilengkapi pula dengan biografi singkat mereka. Selamat melancong…

Konon, Charlie Chaplin, komedian legendaris asal Inggris itu, pernah datang ke Garoet doeloe. Banyak tulisan yang saling kutip, tapi tetap saja minim informasi. Begitupun foto-fotonya, minim dokumentasi. Disebutkan, Charlie Chaplin pernah datang sampai dua kali ke Garoet. Macam-macam disebutkan: tahun 1927 dan 1932, tapi ada juga yang menyebut tahun 1927 dan 1935. Mana yang benar? Terus, apa saja yang dilakukan Charlie selama di Garoet? Katanya, pokoknya –-memang tak ada yang mendetail ceritanya–, tiba di stasiun Tjibatoe, nginep di hotel Ngamplang, dan jalan-jalan. Begitulah, kedatangan Charlie di Garoet pun jadi semacam legenda juga. Tapi lumayan buat jualan Garoet: pernah disinggahi Charlie Chaplin dan menjuluki Garoet sebagai Swiss van Java (kan harusnya Swiss of Java?).

Awalnya males juga nulis tentang Charlie Chaplin di Garoet ini, hal yang orang sudah banyak tulis. Pasti basi dan tak ada informasi baru. Tapi, setelah baca tulisan “World Tour Revisited” dalam Discovering Chaplin, pandangan pun berubah. Tulisan-tulisan dalam Discovering Chaplin ini dibuat oleh Jessica, yang menyebut dirinya sebagai seorang “Charlie Chaplin enthusiast and researcher”. Memang cukup meyakinkan untuk dirujuk. Karena belum bisa mengakses buku Charlie Chaplin, “A Comedian Sees the World” (1933), yang menceritakan kisah perjalanan keliling dunia, termasuk Garoet, akhirnya tulisan ini banyak bersumber dari Discovering Chaplin, ditambah beberapa informasi dari suratkabar djadoel.

***

“World Tour Revisited” mencatat perjalanan Charlie keliling dunia di tahun 1932. Pada perjalanan ini, Charlie ditemani saudaranya, Sydney Chaplin. Perjalanan Chaplin bersaudara di pulau Jawa berlangsung antara tanggal 30 Maret sampai 1 April 1932. Sebentar saja…

Ringkasnya, setiba dari Singapura tanggal 30 Maret, singgah sebentar di Batavia, siangnya lanjut ke Bandoeng menggunakan mobil, kemudian malamnya lanjut dan tiba di Garoet, sore tanggal 31 Maret menuju Djokja menggunakan kereta api, dan tanggal 1 April 1932 tiba di Soerabaja. Kemudian lanjut ke Bali menggunakan kapal laut…

Jadi, kehadiran Charlie di Garoet pada tahun 1932 itu hanya 1 malam dan 1 hari saja. Dan, menggunakan mobil, bukan kereta api!

Nah, menurut penulis “World Tour Revisited” ini, Charlie Chaplin sebelumnya tidak pernah ke Garoet. Jadi tidak benar informasi yang menyebutkan bahwa pada tahun 1927 Charlie datang ke Garoet bersama seorang aktris bernama Mary Pickford. Chaplin was never there in 1927. Those rumors are false, begitu.

Jreng jreng… Charlie Chaplin tidak pernah berkunjung ke Garoet di tahun 1927.

Diketahui, kunjungan kedua Charlie Chaplin adalah pada tahun 1936. Pada kunjungan kedua itu, Charlie datang bersama seorang aktris, Paulette Goddard. Tapi saat ini mah Naratas Garoet mau cerita kunjungan yang pertama aja dulu…

***

Batavia – Bandoeng – Garoet. 30 Maret.

Bersumber dari Kantor Berita Aneta, rencana kedatangan Charlie Chaplin dari Singapura ke Batavia sudah diberitakan sejak tanggal 29 Maret 1932 di beberapa suratkabar. Misalnya dalam De Sumatra Post, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, dan De Indische Courant. Bukan saja rencana kedatangan di Batavia, malah kemungkinan Charlie Chaplin akan melakukan perjalanan ke Garoet pun sudah muncul beritanya. Perjalanan Charlie Chaplin ini dikatakan diatur oleh Cook’s Reisbureau (biro perjalanan Cook’s).

Dengan menggunakan kapal Van Lansberge, rombongan Chaplin berlayar dari Singapura. Tiba di pelabuhan Tandjong Priok, Charlie menggambarkan suasana saat kedatangannya di Batavia itu: “Dari Singapura, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal Van Lansberge ke Batavia, ibukota Java di Hindia Belanda. Setiba di sana kami disambut kerumunan orang di dermaga dan dikalungi karangan bunga selamat datang.”

Heboh memang. Beberapa suratkabar tanggal 31 Maret menurunkan berita dengan headline: Charlie Chaplin Op Java. Enthousiaste Ontvangst (Charlie Chaplin di Jawa. Disambut dengan Antusias).

Charlie Chaplin nampak tersenyum dari atas geladak kapal Van Lansberge setiba di pelabuhan Tandjong Priok. (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 31 Maret 1932).

Charlie Chaplin nampak tersenyum dari atas geladak kapal Van Lansberge setiba di pelabuhan Tandjong Priok. (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 31 Maret 1932).

Dalam De Indische Courant ditulis, saat Charlie Chaplin menerima karangan bunga itu (dari seorang produser film), anak-anak menatap penuh rasa penasaran pada kaki Charlie dari bawah meja.

Anda penasaran juga bagaimana kaki si Chaplin? Hehe..

Charlie Chaplin, di tengah-tengah importir film di Batavia. (Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 31 Maret 1932).

Charlie Chaplin, di tengah-tengah importir film di Batavia. (Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 31 Maret 1932).

Tapi tak lama Chaplin bersaudara di Batavia ini. Setelah acara minum teh bersama seorang kameramen Belanda, Henk Aalsem, di Hotel Java, Charlie dan Syd “diajak tur darat lintas Jawa ke Soerabaja” menggunakan mobil. Pemberhentian pertama nanti dalam perjalanan itu adalah Bandoeng.

Namun, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandoeng, rombongan Chaplin ini katanya sempat keliling Batavia dulu, konvoi menggunakan kendaraan terbuka, dari Priok menuju Weltevreden.

Charlie Chaplin berkendara dari Priok menuju Weltevreden. (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 31 Maret 1932).

Charlie Chaplin berkendara dari Priok menuju Weltevreden. (Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 31 Maret 1932).

Ya, Charlie dan Syd merencanakan perjalanan dengan kendaraan lintas Jawa menuju Soerabaja. Mereka mengejar kapal milik KPM atau Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (maskapai perkapalan Belanda) di Soerabaja untuk melanjutkan perjalanan ke Bali.

Perjalanan lintas Jawa itu ditempuh dengan jarak 400 mil. Jauhnya jarak tempuh membuat mereka harus merencanakan tempat pemberhentian: Bandoeng, Garoet, dan Djokja.

Dari penuturan Charlie, perjalanan dari Batavia menuju Bandoeng itu ditempuh dalam waktu 6 jam dengan mobil, melalui jalanan yang bagus. (Sebagus apa, saya belum bisa membayangkannya… jaman harita lho).

Charlie Chaplin pergi menuju Garoet. (Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 31 Maret 1932).

Charlie Chaplin pergi menuju Garoet. (Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 31 Maret 1932).

Di Bandoeng, Chaplin bersaudara mengambil kamar di Hotel Preanger. Kata Charlie, saat itu hanya di hotel Preanger ini yang tersedia bak mandi dengan fasilitas air panas yang “bergaya Eropa”. Di hotel lain, katanya, kamar mandinya masih menggunakan gayung untuk mengambil air dari bak. Setelah istirahat dan makan malam, Chaplin bersaudara melanjutkan perjalanan ke Garoet.

***

Petualangan Malam di Garoet. 30 Maret.

Tanggal 30 Maret malam, Charlie tiba di Garoet dan menginap satu malam di sebuah hotel. Tak disebutkan nama hotelnya, tapi dari gambaran Syd, sepertinya memang hotel Ngamplang: “In the morning we found the hotel had a beautiful view over the mountains and valleys.” Katanya, saat pagi tiba baru tahu bahwa hotel yang ditempatinya itu punya view gunung-gunung dan lembah yang indah. Cerita orang-orang tentang Charlie Chaplin pernah menginap di hotel Ngamplang nampaknya memang cocok dengan gambaran Syd. Dari hotel Ngamplang ini terbentang pemandangan lepas ke arah lembah Garoet, dengan gunung-gunung di sekelilingnya. Keindahan pemandangan dari Ngamplang pernah dilukiskan Leo Eland (baca, Lembah Garoet, Lukisan Leo Eland (1915-1920)). Sedikit tentang hotel Ngamplang, dapat pula dibaca dalam Batik Tulis Garoetan Motif “Sanatorium Garoet” (1918): Sebuah MahakaryaJaman Caddy Golf Pake Kopeah: Ngamplang (1937), dan ‘Jalan ka Ngamplang’ (1939).

Pemandangan ke arah lembah Garoet dari kolam ikan hotel Ngamplang. (KITLV, sekitar 1925).

Pemandangan ke arah lembah Garoet dari kolam ikan hotel Ngamplang. (KITLV, sekitar 1925).

Tapi apa yang berkesan bagi Chaplin saat bermalam di Garoet? Mereka menyebutnya “dutch wife”.

“Dutch wife” ini adalah istilah “nakal” untuk guling atau guguling, temannya bantal. Dengan memeluk dan menempatkannya di antara kedua paha, “dutch wife” ini memberikan rasa tenang selama tidur dan menenangkan saraf. Bukan kata saya, tapi kata si Charlie. Dan Charlie memang sempat tertawa saat diberitahu pertama kali tentang fungsi “dutch wife” ini.

Kata Charlie, “Di sinilah saya menemukan pengalaman pertama saya dengan “dutch wife” , yang kalau Anda tinggal di daerah tropis untuk waktu yang lama, maka Anda akan mengetahui bahwa Anda sangat memerlukannya.”

Tapi, Syd lebih ngeres lagi komentarnya, “We get a lot of amusement out of “Dutch wife” in bed.” (Duka ah, teu ngartos Syd…)

Memang kabarnya, dulu banyak pendatang dari Belanda yang tidak membawa serta istri mereka, hingga guguling lah yang menggantikannya sebagai “istri orang Belanda” selama tinggal di Hindia Belanda yang tropis ini. Saya punya satu “dutch wife”. Anda?

IMG_0001

Ilustrasi yang menggambarkan Garoet dan “dutch wife” oleh Robert Gellert.

Namun, kata Charlie, pada malam hari itu ada banyak yang menemani selain dari “dutch wife”. Apa Sarupaning serangga yang beterbangan sekitar kain kelambu, dengan suara-suara khas yang berseliweran. Tapi lanjutnya, “My first night’s adventure gave me many comedy ideas for a picture.” Bagi Charlie, guguling dan serangga malam Garoet memunculkan banyak ide untuk film komedi…

***

Tjisoeroepan – Lake Leles – Bagendit. 31 Maret.

Tak banyak yang digambarkan Chaplin bersaudara selama di Garoet. Syd yang punya cerita.

Jelang siang, Charlie dan Syd pelesiran ke Tjisoeroepan Hot Springs (mungkin maksudnya kawah Papandayan), Lake Leles (situ Cangkuang), dan Bagendit. Di Bagendit, kata Syd, mereka membagi uang ke arah kerumunan anak-anak, sampai-sampai anak-anak gadis bertelanjang berlarian dari arah danau untuk mendapatkan bagiannya. Anak-anak, bukan remaja.

Tapi heran juga, sejak kapan kebiasaan “minta recehan” ini mulai ada…

Sore harinya Charles dan Syd melanjutkan perjalanan ke Djokja dengan kereta api. Pasti harus naik dari stasiun Tjibatoe. Tidak diceritakan mereka menggunakan kendaraan apa dari Garoet menuju ke Tjibatoe. Apa naik kereta api juga?

Ada sebuah foto yang didapatkan Naratas Garoet dari majalah Moesson tanggal 15 Januari 1995. Pada caption-nya disebutkan: Charlie Chaplin op het perron van station Garoet, 1932 atau Charlie Chaplin di depan peron stasiun Garoet, tahun 1932. Foto ini koleksi Ernst Drissen, yang diketahui pernah tinggal di Garoet. Hanya saja memang foto ini tampak sudah dicorat coret. Jika benar keterangan pada foto itu, maka dapat diduga Chaplin bersaudara berangkat menuju ke Tjibatoe menggunakan kereta api dari stasiun Garoet.

Moesson 15011995 p9

Tapi ada cerita lucu. Saat berangkat ke Djokja dari Tjibatoe itu Chaplin bersaudara tidak mendapatkan tempat duduk di kabin penumpang, sehingga sepanjang perjalanan duduk di gerbong makan. Katanya, mereka terkena asap dan kotoran (jelaga) yang beterbangan dari mesin.

Mereka kapok dan memutuskan untuk tidak menggunakan kereta api lagi. Harideung meureun…

Benar saja, dari Djokja mereka tidak naik kereta api melainkan kembali menggunakan mobil menuju Soerabaja.

***

Perjalanan Charlie Chaplin di Garoet rupanya membekas dalam benak komikus asal Jawa Barat Yaya Riyadin. Berbekal peristiwa tersebut, Yaya Riyadin mencoba mengangkat kisah jalan-jalan Chaplin ke dalam sebuah komik.

charlie-chaplin1 Yaya Riyadin

Dengan memadukan sejarah dengan fiksi, Yaya mencoba menceritakan kembali kisah jalan-jalan Charlie Chaplin di Garut pada awal abad 20. Sayang, referensinya masih versi kedatangan Chaplin tahun 1927 dan 1935, bukan 1932 dan 1936. Saya belum berkesempatan mendapatkan komiknya, juga belum tahu apa sudah diterbitkan atau belum, tapi dari situs Kaori Nusantara disebutkan beberapa treasernya sudah dipublikasikan oleh Yaya. Yang mau ngintip, silakan kunjungi https://www.kaorinusantara.or.id/newsline/32312/intip-teaser-komik-charlie-chaplin-di-garoet.

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s