Lambang Kaboepaten Garoet Masa Kolonial

Lambang, atau dengan istilah lain, logo, merupakan suatu gambar atau sekadar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga, dan hal lainnya membutuhkan sesuatu yang singkat dan mudah diingat sebagai pengganti dari nama sebenarnya. Logo harus memiliki filosofi dan kerangka dasar berupa konsep dengan tujuan melahirkan sifat yang berdiri sendiri atau mandiri. Logo lebih lazim dikenal oleh penglihatan atau visual, seperti ciri khas berupa warna dan bentuk logo tersebut. Begitu kata Wikipedia

Republik Indonesia punya lambang negara: Garuda Pancasila. Tiap daerah tak ketinggalan juga punya lambangnya masing-masing, propinsi maupun kota atau kabupaten. Pun kabupaten Garut.

***

Tampaknya lambang daerah atau pun negara, dimana pun, cenderung kaku, kuno, terkesan jadul. Tapi mau bagaimana lagi, lambang daerah atau pun negara itu selain dikukuhkan secara resmi, juga diberi kesan “sakral”. Pada tiap garis atau bentuk, serta warna di dalamnya, dianggap punya makna.

Lihat saja lambang kabupaten Garut. Entah siapa yang merancangnya, yang jelas, lambang kabupaten Garut ini dikukuhkan dalam Perda No. 9 tahun 1981.

lambang-kabupaten-garut

Dalam Perda itu disebutkan, lambang daerah adalah suatu lukisan yang mempunyai bentuk tertentu dan terlukiskan nilai-nilai potensi alam wilayah kabupaten Garut. Makanya, gambar-gambar yang ada dalam lambang Garut ini berbentuk bintang, gunung berpuncak 5 (Gn.Talagabodas, Gn. Cakrabuana, Gn. Cikuray, Gn. Papandayan, dan Gn. Guntur), sungai dalam 3 garis putih (Cimanuk, Cikandang, dan Cilaki), 3 gelombang samudra Indonesia, dan buah jeruk (walaupun jeruk Garut kini tak lagi jadi komoditi unggulan). Pun pilihan warna, biru menunjukkan laut dan hijau menggambarkan tanah yang subur. Semuanya terbingkai dalam sebuah perisai dan diberi pita merah dengan tulisan putih berbunyi: “Tata Tengtrem Kertaraharja”.

Kalau boleh usul sih, biar kekinian dan amazing, lambang kabupaten Garut ini apa gak bisa dibuat lebih dinamis gitu? Hehe…

***

Pada kesempatan ini, Naratas Garoet hendak ngaguar lambang kaboepaten Garoet di masa kolonial. Satu referensi baru saja didapatkan berupa laporan hasil rapat Dewan Kabupaten atau Regentschap Raad Garoet. Regentschap Raad ini serupa DPRD sekarang, hanya saja anggota-anggotanya ditunjuk berdasarkan perwakilan kelompok atau partai yang ada, yang tentu saja penunjukkannya sesuai dengan selera penguasa kolonial saat itu. Di kaboepaten Garoet sendiri, Regentschap Raad mulai dibentuk pada tahun 1926. Tulisan Naratas Garoet terkait dengan Regentschap Raad ini bisa dilihat misalnya dalam ‘Zaman Meleset’, Gaji Pegawai pun Dikurangi (1931) dan Mencari Jalan Abdoel Moeis di Garut…

Anggota-anggota Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 01-01-1926 - 14-05-1929 (mungkin maksudnya masa kerja), Sumber: KITLV)

Anggota-anggota Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 01-01-1926 – 14-05-1929 (mungkin maksudnya masa kerja), Sumber: KITLV)

Tentang ‘lambang kaboepaten’ hasil pembahasan Regentschap Raad Garoet ini, Naratas Garoet dapatkan dari majalah Locale Belangen, tepatnya, “lampiran” dari majalah Locale Belangen edisi tanggal 1 November 1930 No.21.

Cerita sedikit… Dulu, perangkat pemerintahan di daerah membuat asosiasi yang bernama perhimpunan Locale Belangen. Mereka punya orgaan berupa majalah Locale Belangen, yang memuat isu-isu pemerintahan lokal di daerah. Namun, Locale Belangen dianggap kurang memperhatikan pemerintahan daerah yang diselenggarakan oleh orang pribumi, yaitu kaboepaten atau regentschap. “Tjita-tjita perkoempoelan Locale Belangen antara lain djoega akan menoendjang dan memetingkan berkembangnja „perhatian keperloean sesoeatoe daerah oleh badan-badan jang berkoeasa dan berdiri sendiri dalam daerah itoe” (behartiging der plaatselijke belangen door ter plaatse aanwezige autonome lichamen). Tjita-tjita ini tak akan berlakoe dengan sempoerna, kalau keperloean raad-raad kaboepaten koerang diperhatikannja dari pada keperloean raad-raad gemeente.” Demikian ditulis dalam pengantar majalah Locale Belangen edisi lampiran “Rubreik Regentschappen” itu.

Locale Belangen

Maka dari itu, lahirnya edisi khusus yang membahas “raad-raad kaboepaten” ini disambut hangat. “Dengan amat girang hati kita menerima chabar dari Commissie van Redactie tijdschrift Locale Belangen, menerangkan, bahwa molai tanggai 1 boelan November ini perhimpoenan kita LOCALE BELANGEN atas iniatiatiefnja Redactie aken mengeloearkan periodiek sendiri, jang seoleh-oleh bisa dianggep sebagai lampiran dari orgaan Locale Belangen, dan tjoema atau sebagian besar bergoena oentoek memoeat karangan perihal Regentschappen. Itoe periodiek hendak dikeloearkan dalem bahasa Melajoe, aken tetapi djikalau perloe karangan di dalem bahasa Ollanda aken diterimanja djoega.” Jadilah, pada Locale Belangen tertanggal 1 November 1930 No. 21 itu ditambahkan lampiran “Rubreik Regentschappen” edisi 1 November 1930 No.1.

***

Majalah Locale Belangen edisi itu memuat laporan hasil kegiatan Raad kaboepaten Garoet pada persidangan tertanggal 30 September 1930. Salah satunya, tentang “Menetapkan wapen boeat regentschap Garoet”. Disebutkan, atas permintaan Raad lid (ketua dewan), toean Helb, Regentschap Raad Garoet telah memajukan usulan rancangan lambang (ontwerp-wapen) kaboepaten Garoet.

Raad Garoet

Bagaimanakah rancangan untuk lambang kaboepaten Garoet saat itu?

Regentschap Raad, dengan memperhatikan “kehendak” Gecommitteerde Raad, mengusulkan lambang kaboepaten itu harus memuat “beberapa hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap di ibaratkan pada gambarnja”. Alhasil, rancangan lambang kaboepaten Garoet usulan Raad ini mencakup gambar-gambar seperti berikut:

“… kaoem bangsawan di ibaratkan dengan gambar harimau dan keris, jang dapat ditoeroen dari gambar2 wajang. Diatas gambar tadi adalah gambar mahkota sebagai ibarat pembesar kaboepaten. Distrikt 9 dari Regentschap di ibaratkan dengan 9 panah jang ditengkeram oleh kaki kiri dari harimau tadi; warna biroe dan poetih itoe diambilnja dari Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng, sedang kalimat pada pita jang boenjinja „opes regum corda subditorum”.

Rancangan lambang kaboepaten yang telah disetujui oleh Raad kaboepaten Garoet ini akan dikirimkan kepada Hooge Raad van Adel di Negeri Belanda untuk mendapatkan persetujuan. Demikian tulis Locale Belangen

***

Jika disusun secara sistematik, maka hal-hal yang disebut sebagai cerminan kondisi kaboepaten Garoet (“hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap”) untuk digambarkan dalam lambang kaboepaten itu adalah:

  1. Kaoem bangsawan”, digambarkan dengan harimau dan keris, yang diambil dari kisah dalam wayang.

Saat itu kalangan menak mempunyai status yang tinggi dalam strata sosial, dan kedudukan mereka sesuai dengan kepentingan politik kolonial.

  1. Pembesar kaboepaten”, disimbolkan dengan mahkota di atas harimau dan keris.

Mungkin “pembesar kaboepaten” ini maksudnya adalah kangdjeng boepati sendiri, jadi di atas kaoem bangsawan ada sosok boepati. Saat itu, yang menjadi bupati Garoet adalah Adipati Moh. Moesa Soeria Kartalegawa.

  1. Distrikt 9 dari Regentschap”, digambarkan dalam bentuk 9 panah yang dicengkeram kaki kiri harimau.

Saat itu kaboepaten Garoet terdiri dari 9 distrik, yaitu Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.

  1. Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng”, dilambangkan dengan warna biru dan putih.

Tak usah heran jika adu kuda menjadi penting untuk disebut sebagai hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap! Ya, begitu pentingnya sehingga warna biru dan putih lambang Perhimpoenan Adoe Koeda Haoer Panggoeng (Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng atau Raceclub Haoer Panggoeng) harus muncul dalam lambang kaboepaten. Tentang bagaimana ngadu kuda yang menjadi hobi para pembesar kaboepaten dan kaoem bangsawan, Garoet ini, sila baca lagi dalam Ngadu Kuda Dulu, Baru Urusan Politik: Kisah Bupati Soeria Karta Legawa (1919).

  1. Terakhir, terdapat pita dengan kalimat: “opes regum corda subditorum”.

Kata-kata latin tersebut dalam bahasa Belanda, katanya, berarti “Op de liefde der onderdanen berust de macht der Regenten” yang dalam bahasa Melajoe artinya: “Kekoeasaan Boepati-boepati itoelah berdiri atas ketjintaan ra’ja”. Maksudnya, boepati (“pembesar kaboepaten”) itu berkuasa karena memang sudah menjadi kehendak rakyat! (Saat itu, mana ada bupati yang dipilih oleh rakyat).

Nah, bisa dibayangkan lambang kaboepaten Garoet yang disetujui Raad itu akan menjadi seperti apa hasilnya?

***

Naratas Garoet belum lagi mendapatkan keterangan apakah rancangan lambang kaboepaten Garoet yang ditetapkan oleh Regentschap Raad Garoet tanggal 30 September 1930 itu kemudian disetujui atau tidak oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, atau malah oleh Kerajaan Belanda. Tetapi, dari situs Heraldry of the World, ada logo yang ditempatkan sebagai logo atau arms dari Garut, seperti ini:

Garoet

Tak ada tambahan informasi untuk gambar itu. Tapi ada sedikit keterangan bahwa literatur sumbernya adalah Rühl, 1933; Koffie Hag Albums, 1920s. Jika memang benar logo itu merujuk pada Koffie Hag Albums tahun 1920an, maka berarti Regentschap Raad Garoet pada tanggal 30 September 1930 itu sedang memutuskan usulan perubahan lambang kaboepaten, yang lebih disesuaikan dengan “hal-hal jang berhoeboengan dengan regentschap”. Mungkin begitu…

Dari lambang Garoet tahun 1920an ini, anggap saja benar, tampak memang ada beberapa simbol yang masih akan dipertahankan: mahkota, keris, dan pita bertuliskan: opus regum corda subditorum (ejaan yang benar opus, bukan opes). Tetapi tidak untuk singa, yang diusulkan akan diganti dengan harimau, yang memang hewan endemik Jawa, yang kaki kirinya akan digambarkan sedang mencengkeram 9 anak panah…

Lambang yang kolonial banget

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s