Tjan Tian Soe

Awalnya hanya akan menyusuri keberadaan pabrik sabun “Nansen” di Sukadana saja, tapi pengembaraan ini akhirnya melayang sampai masa-masa awal perkembangan kota Garoet, sekaligus awal-awal kedatangan orang-orang Tionghoa, sampai pada sosok seorang Tionghoa bernama Tjan Tian Soe. Berbekal referensi yang terbatas, tulisan ini tentu belum cukup untuk dikatakan lengkap. Memang begitulah Naratas Garoet

***

Tak terlalu banyak orang Tionghoa yang datang dan menetap di Garoet doeloe. Tapi mereka pedagang handal. Di Garoet, mereka tinggal terpusat di lingkungan bisnis dekat jalur keretaapi, dari stasiun ke arah timur, antara Pengkolan di selatan, sampai Goentoerweg di utara. Jalan A. Yani mulai dari pertigaan Pengkolan doeloe malah disebut juga sebagai Chineesche voorstraat. Mereka praktis menguasai “hajat hidup” orang kebanyakan, yang menjual berbagai kebutuhan penduduk sehari-hari.

Interieur van een Chinese manufacturenwinkel, vermoedelijk te Garoet 1940 KITLV

Suasana dalam toko kelontong milik warga Tionghoa di Garoet sekitar tahun 1940an (Sumber: KITLV)

Mengutip tulisan Sugiri Kustedja, “Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung” (2012), sejak pemerintahan VOC, daerah Priangan telah dipolakan secara khusus tertutup bagi para pendatang asing. April 1764 dikeluarkan larangan masuk untuk etnis Tionghoa, Eropa, ataupun kelompok lain yang bukan penduduk asli Priangan, dengan ancaman hukuman bagi yang melanggar.

Tahun 1821 Gubernur Jendral GA van der Capellen mengeluarkan peraturan yang melarang bangsa Belanda, Eropa, dan asing lain untuk menetap atau berdagang di daerah Priangan (9 Januari 1821, Staatsblad no. 6 tahun 1821). Peraturan ini bertujuan agar perdagangan kopi dapat tetap dikendalikan hanya oleh pemerintah Hindia Belanda. Baru pada tahun 1852 keresidenan Priangan dinyatakan terbuka untuk pendatang oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kehidupan kota Garoet, sebagaimana Bandoeng, berhubungan erat dengan perkembangan perkebunan di sekitarnya. Para pemodal swasta masuk ke daerah Priangan setelah peraturan Cultuurstelsel secara bertahap dihapuskan. Dalam rangka ini, pada tahun 1870 dikeluarkan peraturan agraria Hindia Belanda sehingga berdatanganlah para pemodal Eropa, yang dikenal kemudian sebagai para Preanger planters, yang memulai perkebunan kina, teh, karet, dan coklat, di samping kopi yang ditanam sebelumnya secara tanam paksa oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Seiring dengan itu, pada tahun 1869-1873 jalan kereta api dibangun antara Batavia dan Buitenzorg. Lalu pada tahun 1879 mulai diperpanjang melewati Bandoeng sampai Tjitjalengka (selesai tahun 1884) dan disambung ke Tjibatoe kemudian ke Garoet tahun 1889. Dalam rangka pembangunan jalan kereta api ini, Belanda banyak mendatangkan tenaga kerja etnis Tionghoa.

Dibukanya jalur kereta api memudahkan akses dan mobilisasi perdagangan. Komoditi alam dari perkebunan dari sekitar kota Garoet dan barang-barang dari luar yang masuk ke Garoet menjadi semakin mudah pengangkutannya.

Stasiun kereta api Garoet tahun 1910an. (Repro: Album Garoet tempo Doeloe).

Stasiun kereta api Garoet tahun 1910an. (Repro: Album Garoet tempo Doeloe).

Pada tahun 1930-an Garoet pun tumbuh menjadi salah satu daerah industri. Dalam salah satu pemberitaan surat kabar Algemeen Handelsblad tanggal 19 April 1936, dengan headline “Nieuwe Industrie te Garoet”, disebutkan Garoet telah tumbuh menjadi daerah industri. Saat itu, setelah berdiri dua pabrik besar, yaitu pabrik tenun Preanger Bontweverij di Goentoerweg dan pabrik sabun Nansen & Co. (Parfumerie- en Toiletzeepfabriek Nansen & Co.) di Nansenweg, maka menyusul pabrik rokok “Serajoe” (N.V. Sigarettenfabriek „Serajoe”) di Tjiwalen. Dengan tumbuhnya industri ini dikabarkan terbuka pula lapangan kerja hingga penduduk Garoet tidak sesulit kehidupan penduduk di daerah lain.

Algemeen Handelsblad 21041936

Selain menjadi tempat bermukim kalangan orang Eropa, keluarga para Preanger planters, pemilik dan pegawai pabrik, serta pedagang Tionghoa, kota Garoet menjadi semakin ramai karena menjadi salah satu destinasi wisata utama di Hindia Belanda. Para turis yang berdatangan kemudian menghidupkan bisnis hotel, restoran, agen wisata, dan angkutan. Dan toko-toko Tionghoa tumbuh sepanjang pusat perdagangan Pengkolan, Pasar Baroe, dan Goentoerweg.

Pengkolan 1920

Suasana keramaian Pengkolan di tahun 1920an. (Repro dari Album Garoet Tempo Doeloe)

Dalam buku Album Garoet Tempo Doeloe (2012), Sudarsono Katam dan Rachmat Affandhi mencatat bahwa pemerintah kolonial memang memberi keistimewaan kepada pedagang Tionghoa sebagai pemasok kebutuhan perkebunan-perkebunan milik orang Eropa, misalnya Thio Tiang Tjin, dikenal sebagai “baba gemuk” pemilik toko Ek Bouw, Tan Tiang Tjin (toko Batavia), dan Khoe Pek Goan (toko roti Khoe Pek Goan) (sedikit tentang toko roti Khoe Pek Goan, lihat dalam Khoe Pek Goan (Anno 1885)). Ada pula Yo Hong Gan (toko Bandoeng) sebagai penyalur kain sarung tjap Padi produk Preanger Bontweverij (tentang Preanger Bontweverij, lihat dalam Empat Kisah dari Jaman Kejayaan Pabrik Tenun Garut ).

***

Masih dari buku Album Garoet Tempo Doeloe (2012), pada mulanya pemukiman komunitas Tionghoa di kota Garoet dibatasi dan mendapat pengawasan yang ketat dari pemerintah kolonial. Mereka ditempatkan di Tjiwalen atau Sukaregang Hilir. Pemukiman warga Tionghoa ini sudah ada sejak 1895. Baru pada tahun 1920-1930 warga Tionghoa dapat menempati daerah tengah kota di sekitar Pengkolan.

Suasana Pengkolan ("The Main Street" Garoet) tahun 1922, sebagaimana dimuat dalam surat kabar Australia, Western Mail, tanggal 1 Juni 1922.

Suasana Pengkolan (“The Main Street” Garoet) tahun 1922, sebagaimana dimuat dalam surat kabar Australia, Western Mail, tanggal 1 Juni 1922.

Pengawasan terhadap warga Tionghoa dilakukan melalui wijkmeester atau orang Tionghoa menyebutnya bek, yang ditunjuk pemerintah kolonial. Tan Tjin Liong adalah wijkmeester orang Tionghoa di kota Garoet tahun 1920-1940, yang kemudian digantikan oleh Yo Tek Kun.

Walaupun pemukiman komunitas Tionghoa baru terlihat pada tahun 1895, diketahui Kelenteng di kota Garoet sudah dibangun sejak 1838. Tempat ibadah orang Tionghoa ini disediakan untuk para pedagang keliling dan petani Tionghoa yang datang ke ibukota kabupaten Limbangan. Mereka datang dari Kesultanan Cirebon dan Sumedanglarang sebelum berlaku isolasi residentie Preanger regentschappen.

***

Dari buku Leo Suryadinata, Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (1995), diperolehlah satu nama Tionghoa di Garoet yang dianggap menonjol pada jamannya: Tjan Tian Soe. Leo merujuknya dari buku Tan Hong Boen, Orang-orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java (1935). Tak banyak yang ditulis Leo. Begini saja:

Born in Batang in 1896, he was educated at a local Hokkien school, the THHK (Bandung and Jakarta), the PHS (Jakarta), and a commercial school (Jakarta). He returned to Batang where he became a leader of the THHK (Batang). In 1931 he moved to Garut and served as the director and co-owner of the Nansen Soap Manufacturing Company. In the 1930s he also served as the president of the CHH (Garut branch).

Leo memberi catatan tentang Tjan Tian Soe ini dalam tiga sebutan: “Community leader. Soap manufacturer. Peranakan”.

***

Tjan Tian Soe disebut Leo sebagai ‘pemuka masyarakat’ itu mungkin terkait dengan perannya dalam organisasi THHK dan CHH. THHK (Tiong Hoa Hwee Kwan) sendiri adalah sebuah organisasi yang didirikan tanggal 17 Maret 1900 oleh beberapa tokoh keturunan Tionghoa di Batavia. Untuk kemajuan orang Tionghoa, THHK merintis pendirian sekolah-sekolah Tionghoa THHK di berbagai kota.

Di Garoet, sekolah THHK didirikan pada tahun 1907 oleh Lauw O Teng, seorang pengusaha hasil bumi, beserta kedua anaknya, Lauw Tek Hay dan Lauw Tek Siang. Sekolah THHK Garoet, yang disebut juga sekolah “Ya Hoa” ini, terletak di jalan Lio (sekarang, jalan Gunung Payung) dan lokasi bekas bangunannya itu sekarang digunakan oleh sebuah sekolah negeri.

Murid-murid sekolah THHK Garoet. (Tanpa tahun. Repro dari Album Garoet Tempo Doeloe).

Murid-murid sekolah THHK Garoet. (Tanpa tahun. Repro dari Album Garoet Tempo Doeloe).

Dari salah satu forum mailing list, Naratas Garoet mendapati foto gerbang sekolah THHK Garoet itu:

THHK Garoet

Selain sekolah THHK yang lebih mengedepankan budaya Tionghoa dan ajaran Konghucu, pada tahun 1910 berdiri pula sekolah Kristen Tionghoa Christelijke Hollandsche Inlandsche Chineesche School (CHICS) di Taloonweg. Sinyo Fried, sebagaimana diceritakan dalam Kisah Sinyo Tjibatoe: Fried Muller (1936-1939), pernah bersekolah di sini.

Murid-murid Christelijke Hollandsche Inlandsche Chineesche School. (Tanpa tahun. Repro: Album Garoet tempo Doeloe)

Murid-murid Christelijke Hollandsche Inlandsche Chineesche School. (Tanpa tahun. Repro: Album Garoet tempo Doeloe)

De Holland Chinese School te Garoet, tahun 1939, saat kedatangan seorang suster.

De Holland Chinese School te Garoet, tahun 1939, saat kedatangan seorang suster.

***

Kembali ke Tjan Tian Soe. Pria kelahiran tahun 1896 di Batang ini bersekolah di sekolah Hokkien Batang, kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah THHK Bandoeng dan Batavia, serta HBS dan Handelsschool di Prins Hendrik School (PHS) Batavia. Ia kembali ke Batang dan menjadi pimpinan THHK di sana. Sedikit jejaknya, dapat diperoleh dari beberapa iklan surat kabar tentang sekolah dan berita kelulusannnya.

Berita kelulusan Tjan Tian Soe dan kawan-kawannya dari sekolah Prins Hendrik School (PHS) afd. HBS dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 16 Mei 1916.

Berita kelulusan Tjan Tian Soe dan kawan-kawannya dari sekolah Prins Hendrik School (PHS) afd. HBS dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 16 Mei 1916.

Berita kenaikan kelas Tjan Tian Soe saat sekolah di PHS afd. Handelsschool, dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 24 April 1917.

Berita kenaikan kelas Tjan Tian Soe saat sekolah di PHS afd. Handelsschool, dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 24 April 1917.

Pada tahun 1931, Tjan Tian Soe pindah ke Garoet dan menjadi Direktur sekaligus pemilik pabrik sabun Nansen. Saat di Garoet ini, Tjan Tian Soe menjadi pimpinan organisasi CHH (Chung Hua Hui) cabang Garoet. CHH adalah sebuah organisasi politik yang didirikan oleh kalangan intelektual berpendidikan Belanda dan pengusaha Tionghoa peranakan. CHH yang didirikan pada tanggal 9 April 1928 ini secara politik mendukung pemerintahan kolonial dengan tetap memegang budaya Tionghoa dan menjalin hubungan dengan negara Tiongkok.

Terdapat pula keterangan dari Database Gelijkstellingen, Toepasselijkverklaringen en Naturalisaties Nederlands-Indie en Indonesie yang dicatat DM de Calonne, bahwa pada tahun 1939 Tjan Tian Soe mendapatkan status “kewarganegaraan” Hindia Belanda melalui mekanisme toepasselijkverklaringen berdasarkan Ordonnantie tanggal 21 Juli 1939 Staatsblad tahun 1939 No.410.

kewarganegaraan DM de Calonne

***

Sedikit informasi tentang Tjan Tian Soe diperoleh pula dari tulisan Tan Soey Beng, “Jejak Leluhur Dari Fu Jian Sampai Ke Tanah Parahyangan”, dalam Jurnal Sosioteknologi, Vol. 14, No 3, Desember 2015. Tan Soey Beng menelusuri asal usul leluhur Tan Sim Tjong, yang namanya dikenang masyarakat Citepus Bandung sebagai nama salah satu jalan, gang Sim Cong. Leluhur Tan Sim Tjong berasal dari Kampung Nan Jing di Provinsi Fu Jian. Leluhurnya berpindah ke Asia Tenggara. Tan Hwie Tjeng adalah salah satu leluhur yang tercatat menetap di Batang, pesisir utara Jawa Tengah untuk beberapa generasi lalu berpindah ke Cirebon dan Jamblang. Di sana mereka berkembang menjadi pedagang dan pemimpin masyarakat Tionghoa Cirebon. Tan Sim Tjong, bersama saudaranya Tan Sim Sioe, pindah ke Bandung saat dibangunnya ”Groote Postweg” dan sukses sebagai pengusaha. Keturunan mereka berpindah ke arah timur dan bermukim di Kota Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, juga Cimahi, Bandung, Cirebon, Tegal, Pekalongan, dan Jakarta.

Diceritakan, keturunan Tan Sim Sioe, bernama Tan Tjeng Tong, menetap dan menjadi pengusaha di Tasikmalaya. Ia punya perusahaan dagang Tasikmalaya, mendirikan pabrik batik dan menjual produknya sampai ke Bandung dan Jakarta. Pemakai produknya kebanyakan kaum perempuan peranakan. Tahun 1912, Tan Tjeng Tong menjadi ketua THHK Tasikmalaya lalu mendirikan sekolah.

Nah, salah satu anak perempuan Tan Tjeng Tong, yaitu Tan Kwan Lie Nio menikah dengan Tjan Tian Soe, dan mendirikan pabrik minyak wangi dan sabun merek “Nansen” di Garut.

Tentang asal usul leluhur Tjan Tian Soe sendiri, belum Naratas Garoet dapatkan. Hanya saja, dari salah satu situs pencarian silsilah, disebutkan Tjan Tian Soe ini anak dari Tjan Soen Kiat. Pada iklan berita kematian Tjan Tian Soe yang dimuat dalam surat kabar Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode tanggal 12 dan 13 Juli 1955, tertera nama ibu Tjan Tian Soe, disebut sebagai janda dari Tjan Soen Kiat (“Nj, Dj. Tjan Soen Kiat”). Tjan Tian Soe meninggal pada tanggal 8 Juli 1955, dan dimakamkan di kuburan Pandu, Bandung.

Algemeen Indisch dagblad de Preangerbode 13071955

Tjan Tian Soe mempunyai dua istri, yaitu Tan Kwan Lie Nio alias Tan Aloes Nio dan Marie Nio Ko. Dari Aloes Nio, Tjan Tian Soe mempunyai sembilan anak dan dari Marie Nio punya satu anak.

Pada tahun 1972, diketahui Tan Aloes Nio mengajukan kewarganegaraan belanda dan mendapat naturalisasi pada tanggal 16 Juni 1972. Terakhir, ia tinggal di Rotterdam, Belanda.

Naturalisasi Aloes Nio

***

Sekarang, tentang pabrik parfum dan sabun “Nansen”...

Iklan lelang Nansen & Co. dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 07 November 1933.

Iklan lelang Nansen & Co. dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 07 November 1933.

Sudah disebutkan, Tjan Tian Soe datang ke Garoet dan menjadi Direktur serta co-owner pabrik sabun “Nansen” pada tahun 1931. Anggap saja, tahun 1931 sebagai awal berdirinya pabrik sabun Nansen. Tapi pabrik sabun Nansen ini memperoleh status sebagai badan hukum “Naamlooze Vennootschap” atau “Perseroan Terbatas” pada tahun 1935. Kabar ini dapat diketahui dari iklan pada surat kabar De Indische courant tanggal 28 November 1935. sejak itu, nama resminya adalah “N.V. Parfumerie- en Toiletzeepfabriek Nansen & Co.”.

De Indische courant 28111935

Menurut Rachmat Affandhi, sebenarnya nama Nansen sendiri merujuk pada jenis sabun yang harum. Nama Nansen itu berasal dari seorang ilmuwan Norwegia, Fridtjof Wedel-Jarlsberg Nansen, yang merupakan orang yang pertama kali menjelajahi daerah kutub utara. Di sana, Fridtjof Nansen bereksperimen membuat sabun dari lemak beruang salju yang ternyata berbau harum.

Tapi, tak banyak yang diketahui dari pabrik sabun Nansen di Garoet ini. Bangunan bekas pabrik Nansen ini konon sekarang menjadi bangunan salah satu sekolah swasta di jalan Bratayuda, daerah Sukadana. Doeloe, jalan ini malah disebut sebagai Nansenweg.

Sedikit dari jejak pabrik sabun Nansen ini masih dapat terlacak dari kertas-kertas surat yang menggunakan kop surat N.V. Parfumerie- en Toiletzeepfabriek Nansen & Co. dari tahun 1941 dan 1942.

Kop Surat Nansen onokuno-kuno

Nansen Postblad onokunokuno

Surat Nansen onokunokuno

***

Sebetulnya Naratas Garoet belum mau menutup tulisan ini. Tak puas rasanya, karena banyak hal tentang Tjan Tian Soe dan pabrik sabun Nansen ini yang harus ditelusuri lagi. Namun apa daya, sementara ini referensi sangat terbatas. Jelas, beberapa pertanyaan memang masih menggantung…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s