Pirelli van Boenisari Tjisompet

Tanaman karet asal Amerika Selatan pertama-tama didatangkan pada 1867an dan diteliti di the Government Botanical Garden di Buitenzorg. Dan kemudian, tahun 1876 menjadi tahun yang penting bagi budidaya karet di Hindia Belanda. Saat itu didatangkan varietas karet baru yang ternyata sangat cocok tumbuh di iklim tropis Asia Tenggara. Seiring dengan meningkatnya penggunaan bahan karet dalam industri otomotif dan kabel, maka pada permulaan abad ke-20 Hindia Belanda menjadi area budidaya pohon karet besar-besaran.

Sejak tahun 1905, tercatat mulai banyak penanam modal dari Eropa membangun perkebunan karet, terutama di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Kira-kira ada 210 perusahaan perkebunan karet pada tahun 1911, sebagaimana yang terdata dalam buku “Rubber Companies in the Netherland East Indies” (1911).

rubbercompanies00londgoogw

Mungkin karena dipersiapkan menjadi handbook pada “the Internasional Rubber Exhibition” di London tahun 1911, maka buku ini ditulis oleh delegasi Belanda dalam bahasa Inggris.

***

Pada buku itu tercatat dua perkebunan karet yang berada di wewengkon Garoet, yang saat itu (tahun 1911) masih bernama kaboepaten Limbangan yang beribukota (hoofdplaat) di Garoet. Dua perkebunan itu adalah perkebunan Boenisari dan perkebunan Tjondong.

Boenisari01

Sebagaimana tertera pada gambar di atas, perkebunan Boenisari dimiliki oleh perusahaan “Plantagen Gesellschaft Boenisari”. Berdiri sejak Desember 1906, perusahaan ini memiliki kebun di blok Boenisari III di Tjisompet dan Padarame (ditulis Tjigompet and Padarameh), yang doeloe termasuk dalam wilayah distrik Nagara, seluas 1200 bouws (2100 acres) atau kira-kira 850 hektar. Mereka menyewa dari pemerintah Hindia Belanda untuk jangka waktu 75 tahun dengan harga f 1,- per bouw (bouw ini mungkin asal mula istilah bahu atau bau sebagai ukuran tanah?). Perkebunan Boenisari berjarak kira-kira 30 mil dari stasiun kereta api Garoet dan kira-kira 11 mil dari pantai Tjilaoeteureun di selatan Jawa. Selain karet, kebun Boenisari juga ditanami kina, teh, dan coklat.

tjongomg

Sementara itu, perkebunan Tjondong dimiliki oleh perusahaan Cultuur Maatscappij “Tjondong” (Societe De Culture De Tjondong). Perusahaan yang berkantor di Paris ini, selain memiliki kebun di Tjondong I-IV seluas 1788 bouws, juga di Boemi Ajoe I-VI (Jawa Tengah?) seluas 2747 bouws, sehingga total menguasai lahan seluas 4535 bouws atau 7954 acres. Kebun Tjondong termasuk wilayah distrik Kandangwesi.

***

Pirelli-Power

Pirelli, produsen ban multinasional yang berbasis di Milan, Italia, mengakuisisi perkebunan karet Boenisari, di Tjisompet Garoet. Berita Pirelli mengakuisisi perkebunan Boenisari di antaranya muncul di koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 11 Juni 1920. Modal yang dikeluarkan Pirelli untuk membeli kebun itu senilai f 1.350.000, dengan nama perusahaan “Cultuur-Industrie- en Handel Maatscahppij Pirelli Java”.

Bataviaasch nieuwsblad 11061920

Mungkin karena dimiliki oleh Pirelli inilah Boenisari pun disebut-sebut dalam Encyclopedia Britannica. Encyclopedia Britannica Volume 17 menyebutkan bahwa perusahaan “Pirelli and Co. and Societa Italiano Milano” Itali didirikan pada tahun 1872 oleh Ing. Giovanni Battista Pirelli, yang secara bertahap berkembang dan kemudian memiliki pabrik yang besar di Itali (Milano, Bicocca, Spezia dan Vercurago), Spanyol (Villanueva y Geltra and Manresa), dan di Argentina (Buenos Aires). Pirelli bergerak dalam bidang industry kabel elektrik, ban berbagai jenis, serta produk olahan dari karet asal Hindia, serta gutta-percha. Dan, “Another Pirelli company owns large rubber plantations at Boenisari, Isle of Java.”

***

Banyak koleksi foto jadul yang menggambarkan “de rubberonderneming van Pirelli bij Boenisari op West-Java” di tahun 1920an itu. Naratas Garoet sertakan di sini sebagian foto-foto dari koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen, Belanda, berikut ini:

De binnenplaats met houten hoofd- en bijgebouwen van Lendra Estate, de rubberplantage van de Pirelli cultuuronderneming te Boenisari 1925

Bangunan utama pabrik karet Pirelli di kebun Lendra-Boenisari. (Judul foto: De binnenplaats met houten hoofd en bijgebouwen van Lendra-estate de rubberplantage van de Pirelli cultuuronderneming te boenisari. Tahun: 1925)

Het inzamelen van latex op rubberplantage Lendra-Boenisari van de Pirelli cultuuronderneming op West-Java 1925 TM-60011587

Para pekerja perkebunan menyetorkan lateks hasil penyadapan mereka. Tampak logo Pirelli-Java terpampang di depan pabrik. (Judul foto: Het inzamelen van latex op rubberplantage Lendra-Boenisari van de Pirelli cultuuronderneming op West Java. Tahun: 1925).

Op_de_Lendra_Estate_van_de_Pirelli_cultuuronderneming_te_Boenisari_West_Java_staat_de_verpakte_latex_op_de_vrachtauto_klaar_voo

Lateks produk perkebunan Pirelli-Java Boenisari dikemas dan siap dikirim untuk tujuan Genoa, Italia. (Judul foto: Op de Lendra Estate van de Pirelli cultuuronderneming te Boenisari West Java staat de verpakte latex op de vrachtauto klaar voor verscheping naar Genua in Italië. Tahun 1925)

Dari sumber yang lain, Naratas Garoet juga memperoleh foto-foto berikut:

Pirelli Facory (Cultuur-Industrie- en Handel Mij) at Lendra Estate. Front.1900

Pirelli Factory (Cultuur-Industrie- en Handel Mij) at Lendra Estate. Front.

Pirelli Facory (Cultuur-Industrie- en Handel Mij) at Lendra Estate. Interior

Pirelli Factory (Cultuur-Industrie- en Handel Mij) at Lendra Estate. Interior.

Dan dari laman Archivio Storico Pirelli (Arsip Sejarah Pirelli), hanya foto berikut yang tersedia:

Piantagione di gomma della Pirelli a Boenisari (Giava), 1920. Raccolta del lattice Archivio Storico Pirelli

Seorang pekerja sedang mengumpulkan hasil penyadapan di kebun karet Pirelli Java, Boenisari. (Judul foto: Piantagione di gomma della Pirelli a Boenisari (Giava), 1920, Raccolta del lattice. Sumber: Archivio Storico Pirelli).

***

Banyak hal yang belum tuntas dibahas di atas. Tapi, satu hal saja sebagai penutup tulisan ini: bulan Juni 2015 kemarin Pirelli dikabarkan menggandeng perusahaan lokal dan resmi membuka pabrik ban di Indonesia, hampir satu abad sejak mereka doeloe membuka pabrik pertama kalinya di sini. Pirelli masih menegaskan sebagai salah satu perusahaan terkemuka di era sekarang ini, tapi bagaimana dengan kondisi perkebunan Boenisari yang ditinggalkannya itu?

[M.S]

Advertisements

2 thoughts on “Pirelli van Boenisari Tjisompet

  1. Aura kolonialnya disana masih kental kang, bangunan2 belanda masih berdiri tegak dan terpelihara.

    Kegiatan perkebunan kini hanya sebuah perkebunan yang tidak banyak memberikan kemajuan pada daerah tersebut. Mungkin PTPN pengelolaannya kurang sehebat Firelli kali ya kang.

    Dengan hadirnya riwajat ini ada nuansa magis yang kuat kang, mungkin akan membawa perubahan baik jika pengelolaan lahan perkebunan berpola jaman itu.

    Baik itu komoditas perkebunannya serta pengelolaannya yang benar seperti kegiatan yang terdokumentasi dengan rapi pada poto-potonya. Padahal itu jaman dulu ya kang.

    Dulu kebayang kejayaannya Bunisari punya brand yang kuat. Sangat beda dengan sekarang. Kini hanya muter2 aja gonta-ganti tanaman, ujung-ujungnya bali ke karet juga. Itu pun hanya menyerap sebagian kecil saja masyarakat yang bekerja disana.

    Like

    • Terimakasih infonya. Salah urus perkebunan ex pengusaha jaman kolonial memang jadi gejala umum. Komoditi yang dulu jadi produk unggulan kelas dunia sekarang terseok2. Aset tidak terpelihara, dan warga pun menggarap tanah2 terlantar itu. Dan akhirnya terjadi konflik agraria. Di bunisari, bom waktu konflik agraria belum sepenuhnya tuntas. Sayang sekali…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s