Najoeban

J.Z. van Dijk, pelopor eksplorasi panas bumi di Kamodjang, adalah penulis buku berjudul Garoet en omstreken: Zwerftochten door de Preanger. Buku yang diterbitkan penerbit G. Kolff (Batavia) pada tahun 1922 itu menyatakan pengalaman van Dijk mengunjungi destinasi wisata yang ada di daerah Garut dan sekitarnya. Van Dijk menulis antara lain tentang Tjipanas, Sitoe Tjangkoewang, Sitoe Bagendit, Kawah Manoek, Kawah Kamodjang, Kawah Papandajan, Hotel Villa Paulina Tjisoeroepan, kerajinan di Indihiang (Tasikmalaja), dan Sitoe Pandjaloe. (Sedikit tentang van Dijk, lihat dalam J.Z. van Dijk, Garoet, dan Panas Bumi).

Dalam kata pengantar buku itu, ia menyatakan bahwa Nederlandsch Indische Hotelvereeniging alias The East Indian Travelling and Tourist Offices (EITTO) yang berkantor di Jalan Braga No. 56, Bandung, menawarinya untuk berkelana mengunjungi tempat-tempat menarik di Jawa. Atas tawaran tersebut, van Dijk sangat menyambut baik bahkan menikmatinya karena menurutnya sangat jarang ada orang yang berkesempatan berkeliling mengunjungi obyek-obyek menarik.

DaftarIsiGaroetenOmstreken

Daftar isi “Garoet en Omstreken”

Rupanya van Dijk juga tertarik pada soal-soal budaya, selain tentang sumber daya alam di Garoet dan sekitarnya. Van Dijk menyempatkan menulis bab tersendiri tentang belanja dan kehidupan pasar di Garoet, dan juga tentang ‘najoeban’.

Van Dijk berkesempatan melihat secara langsung ‘najoeban’ yang diselenggarakan bupati Garoet di Pendopo. Dalam buku Garoet en omstreken: Zwerftochten door de Preanger, van Dijk melukiskan momen perhelatan itu, yang disebutnya sebagai pesta tari (dansfeest). Dari paparannya, nuansa yang berlangsung saat ‘najoeban’ sedikitnya bisa menggambarkan gaya hidup menak Garoet di tahun 1920-an.

Soendanese dans (najoeban) op West-Java 1920 KITLV

Foto koleksi KITLV berjudul ‘Soendanese dans (najoeban) op West-Java’, sekitar tahun 1920, menggambarkan adegan tarian ‘najoeban’.

***

Naratas Garoet beruntung mendapatkan terjemahan cerita van Dijk tentang pesta ‘najoeban’ ini dari Bapak H. Rachmat Affandi, hingga dapat disampaikan ke hadapan pembaca sebagaimana berikut ini:

NAJOEBAN

Waktu itu dalam kegelapan malam. Di atas cakrawala tak nampak satupun awan. Bintang-bintang bersinar terlihat jelas di lazuardi, bagaikan mutiara-mutiara yang berserakan.

Kesunyian malam terpecah oleh bunyi goong, iramanya mengalun, bagaikan misteri yang melayang-layang, seperti daun-daun yang menutupi kegelapan. Irama musik gamelan yang menyayat, terdengar sayup-sayup dari kabupatenan, tempat tinggal kanjeng bupati.

Penduduk setempat yang sedang duduk-duduk di warung kopi, tempat bercengkrama pada malam hari, terhentak mendengar alunan irama alat musik rebab yang iramanya menyayat, dan juga suara suling yang melengking, yang bagaikan magnet, menarik perhatian orang-orang yang sedang duduk-duduk di beranda rumah sambil merokok kretek, menunggu malam yang indah itu berakhir.

Di Pendopo sedang berlangsung perhelatan. Kepala pengurus pendopo menyambut para undangan yang datang, antara lain para bupati dan ambtenaar dari kabupaten lain, juga para pejabat bangsa Belanda dari karesidenan. Dari dalam ruang pendopo mengalun musik gamelan dengan irama “kebo jiro”, memberikan sambutan selamat datang kepada para tamu undangan yang datang.

Para bupati beserta istri-istrinya disambut oleh pagar ayu pegawai kabupaten. Tampak para istri bupati-bupati saling menonjolkan diri dengan  menggunakan perhiasan yang serba mewah, seperti memakai hiasan bros, anting-anting, dan juga hiasan rambut bertatahkan emas berlian bagaikan raja dan ratu, kelihatannya sangat anggun, sopan dan ramah. Mereka selanjutnya memilih tempat duduk dan meja, yang masing-masing sudah ditata dengan apik.

Begitu juga para pemuda dan pemudi kerabat kabupaten diatur sedemikian rupa, dengan memakai seragam untuk mengikuti pentas tarian, dan ini merupakan pembelajaran awal bagi mereka dan sangat beruntung dapat ikut pada kesempatan perhelatan ini.

Dalam perhelatan ini, petugas pesta menyambut para tamu dengan suka cita dan menempatkan mereka di tempat yang sudah ditentukan, untuk tempat para dalem atau “menak”  dan para santana. Mereka bersikap hormat dan berbicara logat bahasa Sunda, dan para tamu terutama orang-orang Eropa sangat memahaminya, apalagi jika menggunakan bahasa mereka. Mereka dalam mengawali pembicaraan selalu diawali dengan sikap “sembah” dimana tangan mereka direkatkan dan ibu jari kena ke hidung mereka.

Di pintu gerbang, para undangan disambut oleh para ambtenaar, seperti wedana, camat, mantri-mantri, dan para lurah. Di samping itu, mereka dihibur dengan musik gamelan dan tari-tarian yang biasanya disebut ronggeng, di atas hamparan permadani yang dihiasi beraneka hiasan yang warna-warni keemasan.

Pendopo merupakan ruang terbuka, para tamu bebas bercengkrama satu sama lainnya dan bebas bergerak, sehingga mereka dapat memperkenalkan diri dan memberi salam dan juga dapat berdiskusi pengalaman di tempat dinasnya. Dan para istri-istrinya dapat bertegur sapa terutama dengan istri-istri pendatang baru yang masih muda belia. Sambil mereka belajar tatacara pergaulan para menak sambil mempraktekkan cara bergaul dengan kalangan ningrat, dan ini merupakan kesempatan emas yang jarang terjadi, hanya dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

Hari sudah mulai malam, maka perhelatan ini akan dimulai, dengan diawali oleh  Kanjeng Dalem dengan disaksikan oleh para Patih yang sudah berbaris lengkap dengan tanda pangkat medali perak dan memakai selendang “karembong” yang dilingkarkan pada keris yang diselipkan di belakang pinggang, dilengkapi dengan laken warna biru tua, kancing-kancingnya berornamen warna perak, sepatu laars panjang, kemudian obor dinyalakan dengan diikuti tari-tarian rampak lemah gemulai mengikuti irama musik gamelan… sesuai urut urutan yang sudah diatur… tapi kadang tarian bersemangat bak seorang pahlawan, mereka sangat mahir dan terampil tidak ada satupun membuat kesalahan gerakan “rengkak” gerakan demi gerakan kelihatan sangat gentle berirama dengan musik gamelan yang dimainkan, tidak satupun peserta tergesa-gesa, selalu mengikuti irama musik.

Patih dan bupati menari saling bergantian dengan melakukan “sembah” hormat dan saling balas dengan gerakan selendang. Irama musik sekarang tenang, maka bupati menyudahi tarian sambil “keupat” ke tempat duduk.

Suara musik tetap tenang berirama, bergantian dengan saling menukar selendang “soder” bersama penari perempuan, yang sebelumnya memberikan hadiah berupa uang “panyecep” dengan meletakan di kebaya, pemberian hadian besarnya bervariasi antara 2.5 gulden sampai 10 gulden.

Selanjutnya para patih dan para kepala ambtenaar turun bergabung dengan para penari lain, semua berirama yang selaras, semua gerakan rampak seirama. Akhirnya mereka menawarkan kepada para tamu untuk ikut berpartisipasi sehingga ruang pendopo menjadi penuh sesak tapi tidak membuat gaduh. Juga sesekali orang-orang Belanda turut menari meskipun tidak mahir seperti penari pribumi, meskipun demikian mereka sangat antusias dan penuh kesenangan. Apalagi jika penarinya pandai bernyanyi dan gerakan sangat lucu, banyak yang ingin memperoleh selendang karembong, sebelumnya dengan berbalas pantun atau “sisindiran”, pada akhirnya memberi salam perpisahan dan memberi harapan, jika tarian ‘najoeban-ronggeng’ terselenggara lagi di lain waktu…

Pesta ini  berlangsung sampai pagi…

***

Najoeban, dikenal juga sebagai tayuban atau ibing tayub, pada jamannya merupakan kalangenan para menak di tanah Priangan, termasuk Garoet. Saat para menak membutuhkan simbol atas ketinggian derajat mereka dalam berkesenian, mereka memilih tayuban, meniru tradisi di keraton Mataram, daripada mengangkat seni tari hiburan yang sudah berkembang di kalangan rakyat Priangan. Tarian rakyat dianggap tidak mewakili karakter dan nilai-nilai kaum menak. Mereka menemukannya pada najoeban ini.

Pementasan najoeban di kalangan menak doeloe seringkali diikuti dengan kebiasaan konsumsi minuman keras, lengkap dengan penonjolan seksualitas penari rongeng. Dalam tulisan Catatan Para Pelancong Doeloe (1): Archduke Franz Ferdinand dari Austria, Franz Ferdinand menceritakan kebiasaan para menak Garoet ini yang menari tayuban diselingi minum minuman keras, sampai mabuk.

Begitulah gaya hidup para menak Garoet doeloe…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s