Catatan Para Pelancong Doeloe (5): Robert Allan, Datang Saat Hotel Di Garoet Full Booked (1911)

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanan, yang akan saya tampilkan cuplikan singkatnya dalam rangkaian tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” di Naratas Garoet ini. Catatan-catatan yang masih jarang diungkap itu, selagi tersedia informasinya, akan dilengkapi pula dengan biografi singkat mereka. Selamat melancong…

Goenoeng Papandajan soeda dikenal sedjak doeloe. Gunung ini menjadi destinasi utama para pelancong yang datang ke Garut sejak abad ke-19. Adalah Robert Allan, turis asal New Zealand, di tahun 1911, penasaran pula untuk menjajal keindahan Papandajan. Padahal, saat ia datang, tak ada akomodasi yang tersedia di Garoet. Hotel-hotel sudah penuh oleh bule-bule dari Batavia dan Soerabaja, yang menghindar dari wabah penyakit; saat itu Batavia terjangkit wabah kolera, sementara wabah pes sedang melanda Soerabaja.

Gezelschap op de kraterrand van de Papandajan bij Garoet 1925 KITLV

Sekumpulan pelancong berdiri di bibir kawah Papandajan, sekitar tahun 1925. (Foto: KITLV)

Bersama dua rekannya, Robert mengunjungi Garoet dalam rangkaian perjalanan menjelajahi pulau Java. Memulai perjalanannya, dengan menumpang sebuah kapal, mereka menuju pelabuhan Soerabaja. Mungkin kabar tentang wabah itu telah sampai pula ke New Zealand sebelumnya, makanya tak banyak turis yang ikut dalam pelayaran kapal itu. Hanya 7 orang saja, yang nekad.

Garoet akan dikunjungi Robert setelah Semarang. Di Semarang ini, melalui telegram ia mendapat kabar dari Hotel Van Horck di Garoet bahwa kamar hotel sudah penuh. Pihak Hotel Van Horck bersedia membantu mencarikan kamar di hotel yang lain, tapi kepastiannya baru diperoleh keesokan hari, saat Robert sudah berada di Maos. Sementara itu, sebagian barang-barang Robert sudah terlanjur dikirim melalui kereta api ke Garoet.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Weg_naar_het_station_met_rechts_het_hotel_Van_Horck_te_Garoet_TMnr_60009519 18901900

Jalan menuju stasiun Garoet (1890-1900). Hotel Van Horck, sebelah kanan gambar, semula akan dijadikan tempat menginap Robert Allan, tetapi sudah tidak ada kamar yang kosong. (Foto: Tropenmuseum)

***

Catatan perjalanan Robert Allan ini ditulis secara berseri dalam sebuah suratkabar di New Zealand, Nelson Evening Mail, yang seri pertamanya dimuat pada edisi tanggal 15 September 1911. Tulisannya itu diberi judul “Java and Its People”. Catatan perjalanan saat di Garoet dimuat pada seri ke-8, tanggal 3 Oktober 1911. Berikut kisahnya… (ilustrasi gambar ditambahkan Naratas Garoet)

Java and Its People

No. VIII

Oleh: Robert Allan

Pada pukul 12.30 siang keesokan harinya, sebuah pesan telegram diterima manajer hotel (di Maos) yang menyampaikan kepada kami bahwa tidak ada akomodasi yang tersedia di Garoet. Kabarnya, terjadi eksodus dari Batavia (akibat wabah kolera) dan dari Soerabaya (akibat wabah pes), ke Garoet. Padahal barang-barang kami sudah dikirim dengan kereta api pagi ini, yang telah dipesan waktu di Semarang. Setelah lama berbincang-bincang, maka diputuskan untuk nekad saja, hingga kemudian kami meninggalkan Maos menuju Garoet dengan kereta api “Java Express” pada pukul 2 siang.

Kereta api tiba di Tjibatoe, kira-kira pukul 6 sore, tempat persilangan jalur kereta api yang berjarak kira-kira 20 mil lagi ke Garoet. Perjalanan kereta api sekarang melalui daerah pegunungan. Tempat tujuan kami memang berada pada ketinggian 2000 sampai 3000 kaki di atas permukaan laut. Kereta api berjalan pelan menanjak, dengan jalur panjang berliku, melintasi jembatan dengan tiang berkonstruksi “jaring laba-laba” di atas jurang yang dalam; kadang melintasi jurang yang serupa itu 2 atau 3 kali pada jalur yang semakin naik ketinggiannya. Jauh di bawah kami air mengalir deras pada sungai-sungai dan saluran-saluran, yang di sana-sini menyalurkan air untuk kepentingan irigasi. Pemandangan di sepanjang perjalanan sangat indah, diapit gunung-gunung tinggi yang perlahan muncul dan berwarna biru di kejauhan, sebelum akhirnya sekitar pukul 8 malam tiba di Garoet. Hari sudah gelap.

Station van de Staatsspoorwegen te Garoet 1895 KITLV

Stasiun keretaapi Garoet di tahun 1895. (Foto: KITLV)

Tak bisa mengatakan sepatah kata pun dalam bahasa setempat, dan mendapat kabar sebelumnya tentang tak adanya akomodasi di sana, membuat kami merasa tidak nyaman juga akhirnya. Kami panggil begitu saja nama seorang pelayan yang sebelumnya mengirimkan telegram pada saat kami memesan kamar hotel dari Semarang. Mendengar namanya dipanggil, seorang pelayan melihat pada kami. Dia adalah “mandor” Hotel Van Horck, yang bertugas di stasiun kereta api, yang telah menunggu kami 6 sampai 7 jam, sambil menjaga barang-barang kami yang sudah tiba sebelumnya.

Anak muda ini akan membawa kami ke sebuah losmen (“Hotel Pension”). Katanya, “Hanya kamar di penginapan itu yang tersedia saat ini di Garoet, dan kalian akan baik-baik saja di sana.” Ternyata itu sebuah penginapan yang kecil dan jauh untuk disebut nyaman, tapi cukuplah untuk sekedar tempat bermalam.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 01041911

Hotel “Pension” Garoet, salah satu hotel kecil yang pernah ada di Garoet. Tampak pada gambar, dalam salah satu iklannya pada koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië” tanggal 1 April 1911.

Garoet terkenal sebagai spot yang cantik dan juga resort kesehatan yang favorit, dengan hawanya yang sejuk pada siang hari dan dingin pada malamnya. Ditambah lagi banyak tempat yang mempesona dan menarik, ini memang pusatnya tempat-tempat seperti itu. Garoet dikelilingi gunung-gunung dengan ketinggian antara 7.000-8.000 kaki. Kota ini ditata dengan baik, semua jalan, besar dan kecil, teduh dengan pohon-pohon, dengan rumah-rumah yang yang memiliki taman dan halaman pribadi yang menghadap jalan.

Garoet (Java) 2400 F. ü. d. M. Stationsstrasse in Garoet mit wilden Mandelbäumen. Avenue of almond trees, Station Road, Garoet 1910 KITLV

Salah satu sudut jalan yang teduh dan rindang di Garoet doeloe, jalan menuju stasiun Garoet tahun 1910. (Foto: KITLV)

Pada pukul 4 pagi besoknya, kami memulai perjalanan, dengan menggunakan kereta berkuda empat, menuju Tjisoeroepan, sekitar 11 mil sebelah selatan Garoet. Ketinggian tempat ini sekitar 4000 kaki dari permukaan laut. Terdapat hotel yang nyaman di sana, tempat kami beristirahat sebelum mendaki gunung “Papandajan”, dengan ketinggian sekitar 8000 kaki dari permukaan laut. Pendakian ke Papandajan ini bisa dilakukan dengan menunggang kuda atau berjalan kaki.

Man te paard nabij de Krater van de Papandajan bij Garoet 1930 KITLV

Untuk mencapai kawah Papandajan, para pelancong doeloe punya pilihan: berkuda, ditandu, atau jalan kaki. Tampak dalam gambar, seorang pelancong sedang menunggang kuda di gunung Papandajan, sekitar tahun 1930. (Foto: KITLV)

Saat pendakian berakhir maka kita akan sampai di “Rotorua”, tepat di tengah-tengah area air panas yang mendidih, kolam-kolam lumpur yang beruap, dan bongkahan belerang yang terbentuk secara alami. Di sini kita dapat melihat ke dasar kawah yang mendidih dengan suara yang mendesing, dan pada sisi dinding yang curam yang mengelilinginya pada tiga sisi yang membentuk setengah lingkaran. Dengan diantar seorang guide, kita dapat berjalan di antara kolam lumpur panas dan pilar-pilar belerang, di tengah-tengah suara yang bising dari semburan uap panas, lumpur vulkanis bercampur air panas, saat tengah hari pun datang. Kami bertemu dengan sekelompok turis yang akan kembali ke Australia setelah bepergian dari Jepang. Kami sebelumnya pernah bertemu mereka di “Empire Hotel”, Wellington, kira-kira 3 tahun yang lalu.

Setelah menyantap makanan ringan, kami kembali turun menuju hotel di Tjisoeroepan untuk makan siang.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Prentbriefkaart_met_het_interieur_van_hotel_Tjisoeroepan_TMnr_60045041 19001940

Suasana klasik di ruang dalam Hotel Tjisoeroepan, sekitar 1900-1940. (Foto: Tropenmuseum)

Kami sekarang ini berada di daerah Keresidenan Priangan, berada di antara orang-orang Sunda, yang sedikit berbeda dibandingkan dengan orang-orang Tengger, Banten, atau penduduk Jawa Tengah. Mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda, rata-rata lebih besar badannya, lebih sejahtera, dengan berpakaian yang lebih baik, dan terlihat lebih bersih. Di saat pagi-pagi sekali sebelum matahari muncul, terasa asing juga melihat mereka sudah berlalu lalang pagi-pagi di jalanan, dengan rupa-rupa kain yang menutupi kepala dan bahu. Kain itu juga mereka pegang hingga menutup mulut dan hidup untuk mencegah udara pagi yang sangat dingin.

Di sore hari, datanglah sekelompok pemusik anak-anak pribumi, yang memainkan instrumen berupa gong dan tongkat dari bambu, yang asing kedengarannya. Besok paginya, pada saat setelah sarapan, mereka datang lagi dan memainkan musik itu lagi. Penampilan mereka memang asing bagi kami. Tidak terdapat alat musik tiup, dan suara instrumen musiknya dihasilkan dengan cara digoyang-goyang.

Angkloeng-spelers te Garoet 1920 KITLV

Anak-anak pemain Angkloeng, tahun 1920an. (Foto: KITLV)

Kira-kira pukul 9 pagi besoknya, kami mulai lagi perjalanan dengan kereta kuda menuju sitoe Bagendit, sekitar dua setengah mil dari Garoet, kemudian ke Tjipanas, yang merupakan tempat pemandian air panas dengan pemandangan yang indah; kemudian kembali lagi ke penginapan, melalui Pasar Wengi (?), sebuah tipikal kampung Soenda.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_meer_van_Bagendit._TMnr_60007811 1920-1925

Keindahan Sitoe Bagendit di tahun 1920an. (Foto: Tropenmuseum)

Kami berharap dapat tinggal di Garoet selama seminggu, tetapi akomodasi yang kami dapat tidak sesuai dengan yang kami mau. Akhirnya, besok harinya kami berangkat menuju Bandoeng…

***

Cerita Robert Allan melengkapi entah berapa banyak tulisan dan ilustrasi tentang keindahan kawah Papandajan yang terdokumentasikan dalam catatan para pelancong jaman doeloe. Tak perlu tafsiran yang rumit, jelas itu menunjukkan pamor Papandajan yang masyhur ke seantero dunia saat itu.

Jadi, kapan lagi pamor Papandajan akan seperti doeloe?

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s