Angkloeng

Dari banyak koleksi foto Garoet jaman doeloe, terselip beberapa di antaranya foto yang menampilkan gambar rombongan anak-anak yang sedang memainkan alat musik angklung. Ada lima sampai enam anak memainkan angklung, sebagai instrumen yang mengiringi anak lainnya menari (ngibing), yang dalam satu rekaman pilem bisu, disebut sebagai “mentjak” atau main pencak. Ya, mungkin memang bukan ngibing, tapi “mentjak”.

Sepertinya memang angklung menjadi atraksi kesenian yang banyak disuguhkan penduduk setempat untuk para pelancong yang datang ke Garoet di era kolonial doeloe. Dari foto-foto yang ada itu, atraksi ini tidak diselenggarakan di suatu panggung khusus, tetapi berlangsung seadanya di tempat terbuka, seperti jalanan atau tempat wisata, seperti di pinggiran situ Bagendit. Malah, dalam salah satu catatan pelancong, diketahui pula pertunjukan angklung itu berlangsung di dekat kawah Papandajan.

Mungkin ini salah satu cikal bakal profesi pemusik keliling. Ya, pengamen, istilah sekarang. Dengan menggunakan instrumen angklung, mereka menghibur para pelancong. Tetapi ada pula pertunjukan angklung yang memang disuguhkan pihak hotel untuk para tamunya. Seperti di Hotel Papandajan, para tamu dihibur dengan musik angklung terutama saat sarapan dan makan malam.

***

Berikut foto-foto grup anak-anak pemain angklung doeloe yang dapat dihimpun Naratas Garoet:

Angkloeng-orkestje te Garoet, Tahun: 1915. Sumber: KITLV

Angkloeng-orkestje te Garoet, Tahun: 1915. Sumber: KITLV

Angkloeng-spelers bij het meer van Bagendit bij Garoet. Tahun: 1920. Sumber: KITLV

Angkloeng-spelers bij het meer van Bagendit bij Garoet. Tahun: 1920. Sumber: KITLV

Angkloeng-spelers bij Sitoe Bagendit bij Garoet. Tahun: 1928. Sumber: KITLV

Angkloeng-spelers bij Sitoe Bagendit bij Garoet. Tahun: 1928. Sumber: KITLV

Een van de attracties van het Bagendit meer in de vlakte van Garoet was het spelevaren met varende huisjes en de muziek die er met de angkloeng voor de bezoekers gemaakt werd. Tahun: antara 1920-1940. Sumber: Tropenmuseum

Een van de attracties van het Bagendit meer in de vlakte van Garoet was het spelevaren met varende huisjes en de muziek die er met de angkloeng voor de bezoekers gemaakt werd. Tahun: antara 1920-1940. Sumber: Tropenmuseum

Angkloeng-spelers te Garoet. Tahun: 1920. Sumber: KITLV

Angkloeng-spelers te Garoet. Tahun: 1920. Sumber: KITLV

***

Dari gambaran yang diberikan pelancong doeloe dalam catatan perjalanannya ke Garoet, umumnya mereka merasakan suara musik yang asing, dan merasa kelucuan ketika melihat tingkah laku anak-anak saat sedang memainkan angklung ini. Hal itu juga pernah disinggung seorang professor dari School of Music, Northern Illinois University, Kuo-Huang Han, dalam makalahnya yang berjudul Can You Shake It? The Angklung of Southeast Asia, bahwa: “There are many reports about the ‘funny’ manner of angklung performance in Sunda, West Java, by European travelers in the nineteenth and early twentieth centuries”.

Seperti yang dialami Charlotte Cameron, pelancong wanita dari Inggris, yang pernah mengunjungi Garoet kira-kira antara tahun 1922 dan 1923. Dia menginap di Hotel Papandajan. Model kamar paviliun yang terpisah-pisah di area taman hotel membuat orang-orang bisa datang langsung ke depan paviliun yang tempatnya menginap. Dia, katanya, setiap hari didatangi mulai dari pedagang makanan, tukang ramal, sampai yang menawarkan golok dan sarung, semua ada. Beruntung pedagang bisa ditolak secara baik-baik, tapi kadang ada pula yang ngomel-ngomel setelah setengah diusir. Satu hari, saat dia sedang baca buku, datang pemusik jalanan. Anak-anak. Rombongan pemain angklung. Tapi, untuk ini, Mrs. Cameron cukup apresiatif. Makanya, dia abadikan foto anak-anak pemain angklung itu dalam bukunya. (Lengkapnya, dapat dilihat dalam, Catatan Para Pelancong Doeloe (3): Charlotte Cameron, Traveler Wanita dari Inggris). Ini foto yang ditampilkan Mrs. Cameron dalam bukunya itu:

Enam bocah pemain angklung ngamen di hotel Papandajan. (Judul: Javanese Musical Instruments, Sumber: Wanderings in South-Eastern Seas)

Enam bocah pemain angklung ngamen di hotel Papandajan. (Judul: Javanese Musical Instruments, Sumber: Wanderings in South-Eastern Seas)

Dalam majalah National Geographic Vol. XVII Year 1906, seorang pembaca bernama Emily Bell, asal Philadelphia, mengirim foto untuk rubrik “Correspondence”. Dalam fotonya itu tampak sekelompok anak-anak pemain musik angklung. Mungkin Emily telah berkunjung ke Garoet setidaknya pada tahun 1905. Tulis Emily, foto itu “represents a native boy orchestra in Garoet, Java. The musical instruments are of bamboo cut in unequal lengths so as to form a sort of octave, and after being hollowed out the tubes are attached loosely together with thin strips of wood, so that when gently or forcibly shaken very agreeable music is produced. The instrument is called an Antlung”. Maksudnya, angklung. Ini fotonya:

NatGeo 1906

***

Jika diperhatikan, pemain angklung pada foto-foto djaman doeloe itu adalah anak-anak. Mengapa? Konon, angklung dikenal oleh masyarakat Sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung. Pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak pada waktu itu. Tapi informasi ini masih butuh rujukan, begitu kata Wikipedia.

***

Angklung, yang sekarang terdaftar sebagai “Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia” (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) dari UNESCO tahun 2010 itu, selalu menjadi suguhan bagi para pelancong yang datang ke Garoet tempo doeloe. Entah di hotel, di pinggir situ, di dekat kawah, atau di jalanan sekalipun. Tapi apa kabarnya angklung dalam pariwisata Garut sekarang? Entahlah…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s