K.H Mustofa Kamil

Pengantar

Tulisan berikut ini adalah makalah Mumuh Muhsin Z., sejarawan Unpad, yang berjudul Kiai Jerajak dari Kota Intan, Kepahlawanan K.H Mustofa Kamil (1884-1945) dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Makalah tersebut pernah disampaikan dalam “Seminar Nasional Pengusulan alm. K.H. Mustofa Kamil sebagai Pahlawan Nasional” tanggal 23 April 2009 di Garut.

Pada momen peringatan Hari Pahlawan 10 November ini, bagi masyarakat Garut rasanya relevan untuk mengingat kembali sosok K.H. Mustofa Kamil. Sebab utamanya, K.H. Mustofa Kamil adalah sosok ulama Garut, yang bersama rekan seperjuangannya, ikut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian dikenang sebagai ‘Hari Pahlawan’. Dalam pertempuran di Surabaya itu, beliau gugur sebagai syuhada. Namanya sekarang diabadikan menjadi salah satu nama jalan di daerah Ciawitali, Tarogong, Garut.

Naratas Garoet, tanpa mengesampingkan tokoh-tokoh lain, memandang sosok K.H. Mustofa Kamil sangat layak mendapatkan penghargaan dari Negara sebagai Pahlawan Nasional. 

[M.S]

Hote-orange

Pemuda Surabaya mengibarkan bendera merah putih, setelah merobek warna biru bendera Belanda di hotel Yamato, 18 September 1945, menandai perlawanan terhadap kekuatan sekutu di Surabaya, yang puncaknya terjadi pertempuran besar pada 10 November 1945. (Sumber: wikipedia)

——————————————————-

KIAI JERAJAK DARI KOTA INTAN

Kepahlawanan K.H Mustofa Kamil (1884 – 1945) dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia

oleh: Mumuh Muhsin Z.

 

Abstrak

K.H. Mustofa Kamil adalah seorang ulama. Keulamaannya telah mendorong beliau untuk berjuang membela tanah air dari rongrongan penjajah. Perjuangan yang beliau lakukan melampaui batas tanggung jawabnya. Dari Garut bersama sejumlah teman seperjuangannya beliau berangkat ke Surabaya untuk turut serta berjuang menghalau datangnya entarat Sekutu yang membawa semangat kolonialisme dan imperialisme. Dalam pertempuran di Surabaya beliau gugur sebagai syuhada.

Pengantar

“Ada di antara pejuang kita yang selalu keluar masuk bui secara tetap,” kata Gatot menerangkan. “Seorang pemimpin yang di Garut. Dia sudah masuk 14 kali. Pembesar di sana menamakannya sebagai pengacau. Dalam jangka waktu enam tahun dia meringkuk selama enam bulan di dalam penjara, setelah itu bebas selama dua bulan, lalu masuk selama enam bulan dan keluar lagi tiga bulan, kemudian delapan bulan di belakang jerajak besi. Setelah itu dia bebas lagi selama satu setengah tahun, dan hukumannya yang terakhir adalah dua tahun”. (Adams, 1988: 127).

Kalimat di atas disampaikan oleh Bung Karno kepada seorang wartawati berkebangsaan Amerika Serikat bernama Cindy Adams. Kemudian hasil dari wawancara itu disusun sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bung Karno menjuluki K.H. Mustofa Kamil sebagai “Kiai Jerajak” karena beliau terlalu sering keluar masuk penjara.

Tidak cukupkah kata-kata Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden Pertama RI, di atas jadi sandaran kuat akan kepahlawanan K.H. Mustofa Kamil dan mengukuhkannya sebagai Pahlawan Nasional? Adakah tuntutan lainnya?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa (1988), kata “pahlawan” berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jadi ada tiga aspek kepahlawanan, yakni: 1) keberanian, 2) pengorbanan, 3) membela kebenaran. Dari segi pemaknaan bahasa pun, ternyata, K.H. Mustofa Kamil memenuhinya.

Lantas, kriteria apa lagi yang mau diterapkan? Kita coba mencari tahu siapa yang layak dianggap pahlawan oleh ilmuwa Barat. Sidney Hook dalam buku The Hero in History (dalam Adam, 2004) membedakan antara eventfulman dan eventmakingman. Yang pertama adalah orang yang terlibat dalam suatu peristiwa, sedangkan yang kedua adalah orang yang membuat peristiwa. Bisa saja seorang tokoh beruntung karena berada pada posisi dan waktu yang tepat mengambil keputusan yang berdampak besar bagi masyarakat luas. Namun, figur dalam kelompok kedua adalah orang yang mampu mengendalikan peristiwa, bahkan mengarahkan masyarakat sesuai tujuan yang diinginkannya. K.H. Mustofa Kamil dengan pidato-pidatonya (khutbah, pengajian) yang inspiratif, dalam tulisan­tulisannya yang dimuat dalam Surat Kabar Soeara PSII yang menggugah semangat bisa dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Ternyata, dari criteria Sidney Hook pun kriteria K.H. Mustofa Kamil sebagai pahlawan terpenuhi.

Berdasarkan paparan singkat di atas, tentu saja kita dengan mudah menyepakati kepahlawanan K.H. Mustofa Kamil. Akan tetapi, persoalan selanjutnya adalah apakah Pemerintah Republik Indonesia dapat menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional?

Pahlawan Nasional

Pemerintah menetapkan pengertian Pahlawan Nasional, yaitu “gelar yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada seorang warga bangsa/warga negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan Negara”. Adapun yang dianggap sebagai Tindak Kepahlawanan adalah “perbuatan yang dilakukan secara sadar dan mengandung risiko bahkan mengorbankan jiwa dan raga dalam perjuangan mencapai cita-cita luhur bangsa, yakni kemerdekaan dan kedaulatan menuju masyarakat adil dan makmur, baik melalui perjuangan bersenjata/fisik, maupun perjuangan nonfisik, antara lain di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sedangkan Nilai Kepahlawanan adalah ”suatu sikap dan perilaku perjuangan yang mempunyai mutu dan jasa pengabdian serta pengorbanan terhadap bangsa dan negara”.

Tampaknya, dihubungkan dengan pengertian-pengertian yang diberikan Pemerintah tentang Pahlawan Nasional, Tindak Kepahlawanan, dan Nilai Kepahlawanan, semuanya terpenuhi pada sosok K.H. Mustofa Kamil.

Pahlawan Nasional adalah suatu gelar yang diberikan pemerintah Indonesia terhadap seseorang yang dianggap berjasa. Jadi, pahlawan merupakan suatu domain politik. Gelar pahlawan nasional diberikan berdasar pada suatu peraturan, yakni P.P. No. 33 tahun 1964. Dalam pasal 1 P.P. tersebut pahlawan di artikan sebagai “Warga Negara Republik Indonesia yang gugur atau tewas atau meninggal dunia karena akibat tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa” dan “Warga Negara Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacad nilai perjuangan karenanya”.

Adapun kriteria pahlawan nasional berdasarkan Peraturan Pesiden nomor 33 tahun 1964 adalah:

  1. Warga Negara Republik Indonesia yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai/merebut/mempertahankan/mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Calon juga telah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara dan telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
  2. Pengabdian dan perjuangan yang dilakukannya berlangsung hampir sepanjang hidupnya (tidak sesaat) dan melebihi tugas yang diembannya.
  3. Perjuangan yang dilakukannya mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
  4. Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan/nasionalisme yang tinggi.
  5. Memiliki akhlak dan moral keagamaan yang tinggi.
  6. Tidak pernah menyerah pada lawan/musuh dalam perjuangan.
  7. Dalam riwayat hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya.

Untuk ketujuh kriteria ini pun, K.H. Mustofa Kamil cukup memenuhinya.

 

Sekilas tentang K.H. Mustofa Kamil

Pria kelahiran tahun 1884 di Kampung Bojong, Desa Pasirkiamis, Kecamatan Tarogong, Garut hidup dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Laki­laki yang sewaktu kecilnya bernama Muhammad Lahuri lahir sebagai anak pertama dari pasangan K.H. Jafar Sidiq dan Hj. Siti Habibah. Semasa kecil dan remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Bahkan, beliau tholabul ilmi sampai ke kota Mekkah. Dari perjalanan spiritualnya tidak diragukan lagi kapasitas keilmuan beliau dalam bidang agama.

Nilai-nilai dan pemahaman yang luas tentang agama inilah yang memotivasi dan menginspirasi beliau dalam menjalani kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat.

Ketika terjun ke masyarakat, beliau berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwanya tanah airnya berada di bawah dominasi kekuasaan asing, Pemerintah Hindia Belanda. Tak pelak lagi, melihat kenyataan itu jiwanya berontak karena semuanya bertolak belakang dengan nilai-nilai keislaman yang dipahaminya, yakni Islam mengajarkan kemerdekaan, keadilan, kesetaraan, dan sebagainya.

Ekspresi pemberontakannya diwujudnya melalui media pengajian, khutbah, tulisan, aktif di organisasi pergerakan, rapat terbuka, dan sebagainya. Di banyak kesempatan beliau membangkitkan kesadaran masyarakatnya untuk merdeka, mewujudkan keadilan, kesamaan hak, dan seterusnya. Aktivitas­aktivitasnya seperti itu membangkitkan amarah Pemerintah Kolonial Belanda. Konsekuensinya adalah K.H. Mustofa Kamil harus keluar-masuk penjara. Rupanya penjara bukan hal yang menakutkan lagi bagi beliau.

Pemerintah Kolonial selalu berupaya untuk “menjinakkan” beliau supaya berhenti melakukan aktivitas politik yang membahayakan eksistensi Pemerintah. Namun, semua upaya itu gagal. Pernah Pemerintah menawari beliau sebuah kedudukan prestisius dalam birokrasi pemerintah kabupaten dalam bidang keagamaan, yakni sebagai penghulu Masjid Kaum. Tawaran itu ditolaknya.

Ketika muncul issu bahwa beliau akan dibuang ke Digul, berliau berucap: “Kekhawatiran saya, takut ummat Islam diserang penyakit lemah hati. Biarkanlah saya mengalami berbagai penderitaan dalam berjoang, bahkan biarkanlah saya manjadi kifarat ummat Islam asal cita-cita ummat Islam dapat terlaksana”.

Bergantinya pemerintahan dari Kolonial Belanda ke Pemerintah Pendudukan Jepang, tidak membuat K.H. Mustofa Kamil mengubah sikapnya. Beliau tetap tampil sebagai seorang pejuang yang ingin memerdekakan bangsanya. Sebagai konsekuensi dari perjuangannya, tidak kurang dari dua kali beliau dipenjara oleh Pemmerintah Pendudukan Jepang.

Beberapa saat setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan muncul kenyataan bahwa Belanda ingin kembali menguasai Indonesia. Setelah mendapat berita bahwa Pasukan Belanda dengan membonceng Pasukan Sekutu akan mendarat di Surabaya, semangat jihad beliau bangkit lagi. Sampai akhirnya beliau bersama beberapa orang lainnya dari Garut merasa terpanggil untuk terlibat jihad melawan Sekutu di Surabaya.

Bulan November tahun 1945 beliau gugur sebagai syuhada. Hanya empat bulan beliau menghirup udara merdeka, yang sesungguhnya itu pun masih harus dipertahankan. Memang beliau tidak menikmati indahnya kemerdekaan yang beliau perjuangkan dengan segala pengorbanan. Akan tetapi di Alam Barzakh sana beliau Insya Alloh menikmati jamuan ilahiyah yang merupakan buah dari kematian dengan martabat syuhadanya.

Keikutsertaan K.H. Mustofa Kamil dalam pertempuran di Surabaya ditegaskan melalui Surat Persaksian BKS Ulama-Militer Pusat. Sejalan dengan itu, sebagai penghargaan atas pengorbanannya bagi kemerdekaan bangsa dan Negara, melalui Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 159/PK tertanggal 23 Februari 1959 Pemerintah Republik Indonesia menetapkan K.H. Mustofa Kamil sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.

K.H. Mustofa Kamil bergabung dengan Badan Pemberontak Rakyat Indonesia di Surabaya dan ditempatkan di Divisi VII Komando TKR Surabaya dengan pangkat Letnan Kolonel. Ia bertugas di daerah pertempuran Surabaya Sektor Selatan. Ketika pertempuran mundur ke daerah luar Surabaya, ia bersama beberapa barisan mundur ke daerah Gedangan dan terus melakukan pertahanan (Surat Persaksian front Nasional BKS Ulama-Militer Pusat).

 

Penutup

Apakah kita masih memerlukan pahlawan nasional? Tentu, kita masih perlu figur pahlawan nasional, setidaknya sebagai figur yang bisa memberikan inspirasi dan keteladanan kepada kita, kepada generasi muda, generasi penerus, bagaimana seharusnya kita berbuat bagi negeri ini. Kalau dahulu sebelum merdeka, para pahlawan nasional dilahirkan karena ada musuh yang nyata: penjajah asing. Sekarang, musuh itu sudah berganti rupa, dalam bentuk kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan.

Dalam suatu kesempatan, Profesor Taufik Abdullah pernah menyatakan bahwa apa yang disebut pahlawan sebenarnya tidak ada dalam sejarah, karena pahlawan tidak muncul dalam peristiwa sejarah atau pun dalam tindakan seseorang dalam suatu peristiwa sejarah. Pahlawan merupakan soal penilaian atau pun pengakuan kemudian dari orang lain terhadap tindakan yang dilakukan seseorang, lalu penilaian atau pun pengakuan itu kemudian ada yang dikukuhkan oleh negara.

Memang gelar pahlawan nasional diberikan oleh pemerintah, sehingga aspek politis dari pemberian itu bisa lebih menonjol. Karena aspek politisnya menonjol, maka pengusulan lewat jalur dan lobby politik juga efektif dan sering dilakukan orang. Jika pahlawan nasional diartikan sebagai gelar yang diberikan pemerintah Indonesia kepada seseorang yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara, maka dari perspektif tinjauan sejarah kritis, seharusnya ada hal yang diselesaikan lebih dulu sebelum menilai seorang tokoh apakah layak diusulkan menjadi pahlawan nasional.

——————————————————-

MOMEN-MOMEN BERSEJARAH DALAM KEHIDUPAN K.H. MUSTOFA KAMIL (1884-1945)

5 Agustus 1884

Muhammad Lahuri lahir di Kampung Bojong, Desa Pasirkiamis, Kecamatan Tarogong, Garut sebagai anak pertama dari pasangan K.H. Jafar Sidiq dan Hj. Siti Habibah.

Belajar di beberapa pesantren, yaitu:

  1. Pesantren Bojong pimpinan K.H. jafar Siddiq.
  2. Pesantren Biru, Tarogong, Garut pimpinan Kiai Muhammad Fatah
  3. Pesantren Pangkalan, Tarogong pimpinan Kiai Kurtubi
  4. Pesantren Dukuh, Tarogong pimpinan K.H. Syarbini
  5. Pesantren Surajaya, Cirebon
  6. Pesantren Kuningan pimpinan K.H. Abdul Qohar
  7. Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur pimpian K.H. Hasyim ‘Asy’ari

(Belum diperoleh informasi mengenai waktunya.)

1900-an awal

Menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Tinggal beberapa tahun di Mekkah.

1900-an awal

Menikah dengan Hj. Siti Aminah puteri Syekh Salim (orang Indonesia bermukim di Mekkah). Setelah menikah berganti nama H. Mustofa Kamil.

1914

Kembali ke Garut

1914

Berdiri Sarekat Islam Lokal Garut pimpinan Raden Yahya dan Utar Juned

1914/15

Menjadi anggota SI Lokal Garut

1915

Masuk penjara kolonial selama satu tahun, dituding menghasut rakyat untuk melawan pemerintah kolonial melalui khotbah-khotbahnya.

1916

Menjadi pengurus SI Lokal Garut di bagian propaganda.

1916-1919

Sebagai Adviseur (Penasihat) SI Lokal Garut.

1919

Dituding oleh Pemerintah Kolonial sebagai salah seorang “aktor intelektual” Peristiwa Cimareme pimpinan H. Hasan. K.H. Mustofa Kamil kembali masuk penjara.

1920-an

Berangkat bersama keluarganya ke Mekkah. Mukim selama satu tahun, mendalami ilmu agama.

1920-an

Terpaksa berpisah dengan istrinya, Hj. Siti Aminah, karena K.H. Mustofa Kamil menolak keinginan mertuanya untuk tidak kembali lagi ke Indonesia. Mertuanya menginginkan K.H. Mustofa Kamil tinggal menetap di Mekkah melanjutkan pekerjaan berdagang dan meninggalkan perjuangan melawan pemerintah kolonial yang penuh risiko. Beliau tetap kembali ke Indonesia.

1920-an

Beberapa waktu setiba di Indonesia beliau menikah dengan Siti Rochmah yang kemudian dari pernikahannya ini melahirkan beberapa orang anak, antara lain yaitu: Ace Saefulloh, Abdullah Ridwan, Siti Rochwah, Gaus Saefuddin, Aan Nasrulloh, dan Kamil Mustofa.

1922

SI Lokal Garut mendirikan sekolah bernama Broederschap Onderbouw SI di Jl. Cikuray, kemudian pindah ke Lio. K.H. Mustofa Kamil menjadi guru agama di sekolah tersebut.

26 Desember 1924

Di Garut berdiri Perkumpulan Moesjawaratoel Oelama (MO) yang beranggotakan kiai-kiai Garut.

1924-1926

K.H. Mustofa Kamil menjabat sebagai Vice President atau Wakil Ketua MO.

1925

Ditangkap dan dipenjara selama setahun karena dituduh menghasut masyarakat menentang peraturan pajak (verponding) dan memberontak.

1925

Mendirikan masjid di atas tanah milik Asikin. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Ciledug atau Masjid Partai Sarekat Islam Indonesia. Pada periode kemudian masjid ini berubah nama menjadi Masjid Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.

1927

Untuk “menjinakkan” K.H. Mustofa Kamil dalam aktivitas politik Pemerintah Kolonial Belanda menawarinya untuk menjadi penghulu di Masjid Kaum (Masjid Kabupaten) dengan segala fasilitasnya. K.H. Mustofa Kamil dengan tegas menolaknya.

Dipenjara lagi karena dianggap membangkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu menyelenggarakan Jumatan selain di Masjid Kaum dan menerjemahkan khutbah dalam Bahasa Sunda.

Dipenjara lagi karena dalam khutbah dan pengajian-pengajiannya menyerukan Ummat Islam untuk merdeka.

1929

K.H. Mustofa Kamil bergabung dengan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

1930

K.H. Mustofa Kamil sebagai Ketua Departemen Syariat wal Ibadah merangkap Ketua PSII Cabang Garut.

1933

K.H. Mustofa Kamil bersama K.H. Badruzzaman mendirikan Perkumpulan Al-Muwafaqoh. Perkumpulan ini diketuai oleh K.H. Badruzzaman, sekretarisnya H. Sanusi. K.H. Mustofa Kamil sendiri sebagai penasihat. Pendirian perkumpulan Al-Muwafaqoh ini bertujuan untuk menjembatani perpecahan di tubuh SI.

K.H. Mustofa Kamil ditangkap dan dipenjara selama 100 hari karena dituduh melakukan persiapan pemberontakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda.

1937

K.H. Mustofa Kamil bersama K.H. Yusuf Taujiri menjadi anggota Dewan PSII.

1940

K.H. Mustofa Kamil dipernjara lagi atas tuduhan mempersiapkan pemberontakan.

1942-1943

K.H. Mustofa Kamil dipenjara oleh Pemerintah Pendudukan Jepang karena beliau menolak bekerja sama dengan pemerintah.

1943

K.H. Mustofa Kamil bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI).

31 November 1943

Berdiri Majelis Sjuro Muslimin Indonesia (Masyumi). K.H. Mustofa Kamil menjadi ketua bagian propaganda Masyumi Cabang Carut.

Mengikuti latihan militer bersama Hisbullah di daerah Cibarusa yang diselenggarakan oleh balatentara Jepang.

K.H. Mustofa Kamil mengkordinasi para ulama dan pemuda di seluruh Garut untuk bergabung dalam Hisbullah dan melakukan latihan militer di daerah Cipanas.

K.H. Mustofa Kamil masuk lagi penjara Jepang, karena anggota Hisbullah di Garut tidak mau melakukan seikerei. Mereka malah melakukan ikrar yang diawali dengan takbir sambil menghadap kiblat.

K.H. Mustofa Kamil dipenjara lagi karena bersama beberapa kiai lainnya yaitu K.H. Yusuf Taujiri, K.H. Badruzzaman, dan K.H. Busrol Arifin membuat surat protes kepada Pemerintah Pendudukan Jepang.

Oktober – November 1945

K.H. Mustofa Kamil berangkat ke Surabaya untuk ikut berjihad melawan Tentara Sekutu. Beliau ingin mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beliau tidak ingin Indonesia dijajah kembali.

November 1945

K.H. Mustofa Kamil wafat sebagai syuhada. Seorang saksi mata, yaitu Lurah Dongkol, Gedangan, Surabaya bernama Dono menyatakan bahwa ia melihat K.H. Mustofa Kamil gugur setelah senapan menghantam ke arah kepalanya. Peristiwa ini terjadi di sebuah tempat bernama Taman Bahagia.

23 Februari 1959

K.H. Mustofa Kamil ditetapkan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (Surat Keputusan Menteri Sosial No. Pol. 159/PK tertanggal 23 Februari 1959).

21 Juli 1964

Makam K.H. Mustofa Kamil dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Surabaya. K.H. Mustofa Kamil dimakamkan dengan upacara militer (Surat Keputusan Komando Wilayah Pertahanan II Komando Garnisun Surabaya, 1983 No. SKEP 089/XII/1983).

Advertisements

2 thoughts on “K.H Mustofa Kamil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s