Kerkop

Nama “kerkop” bukan sesuatu asing bagi orang Garut. Jika disebut nama itu, maka orang pasti langsung akan mengasosiasikannya dengan sarana olahraga yang dinamai Lapangan Merdeka di Haurpanggung. Dan sekarang, jalanan sekitar Kerkop menjadi salah satu titik keramaian di kota Garut. Hiruk pikuk berbagai macam angkutan melewati jalur ini setiap harinya. Tapi, puluhan tahun yang lampau Kerkop boleh jadi merupakan tempat yang paling sepi hingga orang-orang memilih untuk tidak melewatinya. Sebab, dulu Kerkop adalah lokasi kuburan yang besar khusus untuk orang Tionghoa dan Eropa.

Kerkop sendiri merupakan pelafalan yang mudah untuk ‘kerkhof‘ (dengan satu “f“), yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti ‘halaman gereja’. Namun kemudian lebih diartikan sebagai ‘kuburan’, mungkin karena di sana kuburan memang banyak berada di halaman gereja. Istilah lain untuk kuburan ini adalah ‘begraafplaats‘.

Dan bagaimanakah gambaran Kerkop doeloe? Walaupun tidak banyak keterangan yang bisa diperoleh, Naratas Garoet masih beruntung menemukan beberapa dokumentasi fotonya untuk ditampilkan dalam tulisan ini.

***

Kerkhof Haoer Panggoeng berdiri sejak tahun 1923. Sebelumnya, kuburan untuk orang Kristen/Eropa berada di Dayeuhandap. Naratas Garoet belum berkesempatan menelusuri lebih lanjut lokasinya sekarang, tetapi gambarannya dapat diperoleh dari peta kota Garoet dan sekitarnya (Wandelkaart van Garoet en omstreken) yang tertera dalam buku “Eenige Wandelingen in de Omstreken van Garoet Behoorende bij de Wandelkaart (Some Walks in the Vicinity of Garoet as Shown on the Map of the Garoet and Vicinity)” (Buku panduan wisata ini pernah dibahas dalam tulisan 15 Route Djeladjah Garoet di Tahoen 1924). Tampak pada peta, lokasi kuburan di Dayeuhandap ini ditandai dengan lambang salib.

Peta kota Garoet dan sekitarnya (1924)

Kuburan ini disebut sebagai ‘Oude Begraafplaats in de kotta‘ (kuburan lama yang berlokasi di kota), sebagai perbandingan dengan ‘Nieuw Begraafplaats in de dessa Tarogong‘ (kuburan baru yang berlokasi di desa Tarogong), yaitu Kerkhof di Haoer Panggoeng.

Selain untuk pemakaman orang-orang Eropa dan beragama Kristen (Europeesche begraafplaatsen), Kerkhof di Haoer Panggoeng ini digunakan juga untuk pemakaman orang-orang Tionghoa (Chineesche begraafplaatsen).

Sementara itu, untuk pemakaman kaum muslim (Mohammedaansche begraafplaatsen), pemerintah kolonial menyediakan tempat di Tenjolaya, yang dibangun pada tahun 1937. Kabarnya, dulu pun pemakaman ini oleh masyarakat waktu itu disebut juga sebagai “kerkop”.

Saat ini, gerbang makam Tenjolaya dianggap sebagai salah satu bangunan sejarah. Hanya saja, bentuk atapnya sudah berubah setelah mengalami beberapa kali pemugaran. Awalnya, atap gerbang ini menggunakan model atap berumpak dua, seperti banyak digunakan pada mesjid-mesjid di Jawa.

Gerbang TPU (Taman Pemakaman Umum) Tenjolaya

Gerbang TPU (Taman Pemakaman Umum) Tenjolaya

***

Seperti inilah gambaran Kerkhof Haoer Panggoeng sekitar tahun 1947-an, saat Garoet diduduki tentara NICA. Pada salah satu momen pemakaman tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran saat itu, Kerkhof terdokumentasikan dalam beberapa sudut pengambilan gambar:

Gerbang Kerkhof bertuliskan “Anno 1923” dan “Memento Mori”

Begraafplaats te Garoet 1947 KITLV

indiegangers normal_11e_pag_garoet_b

Pada foto atas (sumber: KITLV) dan foto bawah (sumber: indiegangers) ini nampak tentara Belanda berpose di depan gerbang Kerkhof. Tulisan “Anno 1923” menunjukkan makam ini dibangun pada tahun 1923. Sementara itu, tulisan latin “Memento Mori” kurang lebih artinya: “ingatlah (semua akan) mati”.

Sisi kiri gerbang Kerkhof

45_De_ingang_van_het_kerkhof-5120-1500-1500-80

Foto berjudul “De ingang van het kerkhof” atau ‘gerbang kerkhof‘ (sumber: Indiegangers) ini mengambil sudut ke arah sisi kiri gerbang Kerkhof. Tampak rombongan pengantar jenazah berjalan melalui gerbang dari sisi kiri ini.

Tulisan “Hodie Mihi Cras Tibi” pada bagian belakang gerbang

9_David_Surat_de_begraafplaats_binnengedragen-5156-1500-1500-80

Pada foto “de begraafplaats binnengedragen” (sumber: Indiegangers) ini, tampak rombongan pengantar jenazah melewati gerbang untuk masuk ke lokasi pemakaman. Di bagian belakang gerbang terdapat tulisan latin “Hodie Mihi Cras Tibi” yang kurang lebih artinya: “sekarang saya (yang mati), besok mungkin giliran anda”.

Goenoeng Tjikoeraj di arah selatan

indiegangers 11e_pag_garoet

Jajaran nisan pemakaman di Kerkhof, dengan latar belakang Goenoeng Tjikoeraj yang tampak gagah menjulang di arah selatan (sumber: Indiegangers).

Goenoeng Goentoer di arah utara

6_Het_laatste_saluut-5161-1500-1500-80

Het laatste saluut“, judul foto ini (sumber: Indiegangers), yang berarti ‘tembakan penghormatan terakhir’. Tampak di latar belakang pemandangan bisa langsung ke arah Goenoeng Goentoer karena di seberang Kerkhof belum ada rumah-rumah penduduk.

Bangunan Preanger Bontweverij (PTG) di latar belakang

indiegangers normal_38_De_begraafplaats_te_Garoet

Dari foto berjudul “De begraafplaats te Garoet” (sumber: indiegangers) ini, dapat terlihat di latar belakang jejeran bangunan pabrik “Preanger Bontweverij” atau pabrik tenun Priangan, yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai PTG (Pabrik Tenun Garut).

***

Keberadaan Kerkhof Haoer Panggoeng akhirnya harus menyerah pada perkembangan kota Garut. Kota Garut saat itu sedang memulai pembangunan ke arah utara. Puncaknya berlangsung pada masa Bupati Taufik Hidayat. Setelah pembangunan jalan Perintis Kemerdekaan, kompleks Pasar dan Terminal Guntur di Ciawitali pun kemudian dibangun.

Maka, pada tanggal 1 Februari 1981 dimulailah relokasi makam-makam orang-orang Eropa atau beragama Kristen dan orang-orang Tionghoa dari Kerkhof Haoer Panggoeng ke TPU Santiong, di Karangpawitan. Pemerintah kabupaten memiliki sebidang tanah untuk pemakaman baru, yang terletak di dekat pemakaman Santiong di desa Godog dulu.

Dalam suatu majalah komunitas orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Indonesia dulu, Moesson, pada edisi tanggal 15 Januari 1981, dimuat berita tentang rencana relokasi makam di Kerkhof Haurpanggung ini.

Moesson 15011981 p5

Kurang lebih berita pada majalah Moesson itu memberitahukan kepada para ahli waris dari orang-orang Belanda yang meninggal dan dikuburkan di Garut (dan Kertosono) untuk segera mengurusnya. Dikatakan, jika sampai dengan tanggal 1 Februari 1981 itu belum diurus, maka jenazah yang dikuburkan di Kerkhof Haurpanggung akan dipindahkan ke Santiong.

Mungkin benar komentar dari redaksi Moesson bahwa pemberitahuan relokasi itu terlalu dekat waktunya. Sampai sekitar tahun 1983-1984, masih banyak makam yang belum dipindahkan. Saat jalan Perintis Kemerdekaan dan jembatan Cimanuk sudah dibangun, yang menghubungkan jalan Guntur dengan jalan Haurpanggung (jalan Merdeka), kita masih dapat melihat beberapa makam orang-orang Tionghoa, tepat di sekitar bunderan Kerkop sampai dengan pertigaan di jalan Haurpanggung.

***

Dan kemudian, menjelmalah Lapangan Merdeka di atas bekas lokasi Kerkhof Haoer Panggoeng. Begitulah, cerita tentang kuburan tak sekedar seputar urban legend, tentang hantu noni-noni atau soldadu Belanda berpakaian putih yang bergentayangan. Lebih dari itu, keberadaan kuburan sesungguhnya menjadi penanda riwayat perkembangan kota.

Nah, jika anda rutin berolah raga di sana, ingatlah tulisan di gerbang Kerkhof doeloe: “Memento Mori“.

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s