‘Zaman Meleset’, Gaji Pegawai pun Dikurangi (1931)

Jumat, 25 Oktober 1929. Bursa saham New York tiba-tiba ambruk. Nilai saham meluncur bebas hingga ke titik terendah dalam sejarah dunia saat itu. Dalam satu malam saja, para milyuner kehilangan uang mereka dan para pensiunan kehilangan tabungannya. Jumat itu kemudian dikenal sebagai “Jumat Hitam”.

Efeknya begitu dahsyat. Hari itu menjadi awal terjadinya sebuah krisis besar yang menggoyang ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pengangguran dan kemiskinan merajelala di mana-mana. Getarannya bahkan terasa di negara-negara Asia, termasuk Hindia-Belanda.

***

Saya kutip dari artikel “Jaman Meleset” dalam berdikarionline.com, Bung Hatta menggambarkan situasi di Eropa dan Amerika Serikat kala itu sebagai berikut: “Bermilyun karung kopi dijadikan bakal penghidupi api dalam tungku paberik, karena berlebih dan tidak laku lagi. Beratus ribu karung gandum dilempar saja ke dalam laut, karena tidak tahu lagi apa yang akan diperbuat dengan itu. Hendak dijual, sudah tidak berharga lagi. Dalam pada itu berpuluh juta orang miskin di Eropah dan Amerika yang hampir mati kelaparan“.

Dampak krisis itu pun mendera Hindia-Belanda. Banyak perusahaan dan bank gulung tikar, orang kehilangan rumah dan harta benda. Kemelaratan pun muncul di mana-mana. Pengangguran mencapai setengah dari populasi pada tahun 1932. Di Sumatera timur, banyak kuli perkebunan yang menganggur dipulangkan ke Jawa tanpa pesangon. Krisis itu tidak hanya menyerang kaum buruh saja, tetapi juga para pegawai pemerintahan dan para petani. (Tapi justru pada masa itu, pabrik tenun terbesar saat itu, Preanger Bontweveij, didirikan di Garoet. Baca Empat Kisah dari Jaman Kejayaan Pabrik Tenun Garut).

Dalam pemberitaan, krisis ini disebut sebagai zaman malaise. Para aktivis pergerakan kemudian memplesetkan istilah zaman malaise itu menjadi “zaman meleset”.

***

Dampak krisis ekonomi dan melemahnya keuangan pemerintahan kolonial Hindia-Belanda di zaman meleset ini tercermin pula dalam struktur anggaran di pemerintahan Kaboepaten (Regentschap) Garoet saat itu. Dalam jurnal Locale Belangen edisi 16 November 1931, dimuat sebuah laporan mengenai Anggaran Dewan Kaboepaten Garoet yang membahas penyusunan rencana anggaran (begrooting) “penerimaan dan keloearan” (APBD) Kaboepaten Garoet untuk tahun 1932.

Locale Belangen 16111931a

Dewan Kaboepaten (Regentschapsraad) Garoet pada persidangan raad tanggal 30 September 1931 telah menetapkan anggaran untuk tahun 1932. Sejak tahun 1925, Kaboepaten Garoet memang sudah ditetapkan sebagai daerah otonom, sehingga dapat mengatur keuangannya sendiri. Disebutkan, untuk tahun anggaran 1932 itu anggaran keloearan (anggaran belanja) ditetapkan sebesar f 215.177,-. Sementara itu, untuk anggaran penerimaan djoemblahnja f 228.157,-. Ternyata, APBD di jaman kolonial dulu pernah surplus juga.

Berikut saya kutipkan mata anggaran yang disusun waktu itu untuk mendapat gambaran item-item penerimaan dan belanja pemerintahan kaboepaten di jaman kolonial:

Adapoen anggaran keloearan besarnja f 215.177,-. Oentoek afdeeling I, Pemerintah dari Regentschap disediakan wang f 20.077,-; oentoek afdeeling II, pekerdjaan oemoem jang tidak masoek dalam afdeeling-afdeeling jang berikoet f 96.729,- oentoek afdeeling III, pendjaga kebersihan f 6.200,-; oentoek afdeeling IV, pendjaga kebakaran f 1.339,-; oentoek afdeeling V, penerangan djalan f 8.050,-; oentoek afdeeling VI, koeboeran oemoem f 960,-; oentoek afdeeling VII oeroesan adegan f 4.410,-; oentoek afdeeling VIII, peroesahaan pasar f 17.169,-; oentoek afdeeling IX, tempat pedjagalan f 1.820,-; oentoek afdeeling X, memeriksa chewan dan daging f 1.800,-; oentoek afdeeling XI subsidie-subsidie kepada Locale Belangen, commissie adatrecht di Negri Ollanda, Wegenvereeniging Blindeninstituut Bandoeng, dan kepada Vereeniging boeat memberi peladjaran kepada anak-anak jang tidak bisa mendengar atau bitjara masing-masing f 25,-, mendjadi djoemblah f 125,-; oentoek afdeeling XIII, pesanggrahan-pesanggrahan f 1.143,-; oentoek afdeeling XIV, daja oepaja boeat memadjoekan kesehatan f 8.187,-; oentoek afdeeling XV, daja-oepaja boeat memadjoekan penghidoepan rajat (pemilihaan chewan, membetoelkan pakerdjaan2 desa d.1.1.) f 875,-; oentoek afdeeling XVI, daja oepaja oentoek memadjoekan kedatangan toeristen f 300,-; oetoek afdeeling XVIII, aer leiding f 34.523,-; oentoek afdeeling XIX, pembajaran leening f 3090,-; oentoek afdeeling XX toendjangan Regentschap kepada Europ. Locaal pensioenfonds f 6.012,-; oentoek afdeeling XXIII, lain-lain keloearan jang tidak terdoega f 3.578,-;

Anggaran penerimaan djoemblahnja f 228.157,- diantara mana onderdeel 1, voor, deelig saldo dari taoen 1930 dapat ditaksir f 827,-; onderdeel 2, padjek keramaian oemoem f 6.000,-; onderdeel 3, padjek andjing f 400,-; onderdeel 4, padjak penerangan djalan f 1.000,-; onderdeel 5, padjak pendjoealan minoeman keras f 1.400,-; onderdeel 6, padjak kendaraan f 12.000,-; onderdeel 7, padjak pendjoealan petasan f 3.500,-; onderdeel 8, rooigelden f 1.600,-; onderdeel 9, penerimaan dari keuring chewan dan daging f 1.600,-; onderdeel 10, penerimaan dari pedjagalan f 3.000,-; onderdeel 11, penerimaan dari pasar-pasar f65.000,-; onderdeel 12 penerimaan dari tempat mandi f 10.000,-; onderdeel 13, penerimaan dari pesanggrahan f 400,- ; onderdeel 14 dan 15 penerimaan dari peroesahaan waterleiding f 28.400,-; onderdeel 16 penerimaan dari badplaats Sanding f 1.000,-; onderdeel 17, penerimaan dari Reclameverordening f 500,-; onderdeel 18, penerimaan dari koeboeran f 1.500,-; onderdeel idzinan memakai djalan f 500,-; onderdeel 24, soembangan pasarpasar desa Tjibatoe dan Leuwigoong boeat pemeliharaan djalan f 750,-; onderdeel 25, soembangan onderneming Tjiboegel dan Nandjoengdjaja boeat mengoeroes djalan desa jang diambil over oleh regentschap f 2.000,-; onderdeel 27, pendapatan sarang boeroeng f 500,-; onderdeel 30, penerimaan 6% opcenten dari inkomsten dan personeele belasting f 9.000,-; onderdeel 31, penerimaan dari opcenten verpondingsbelasting f 12.000,-; onderdeel 33, toendjangan jang tentoe dari Negri f 57.616,-.

Namun, anggaran yang sudah ditetapkan itu harus ditinjau ulang. Dikatakan, Berhoeboeng dengan kehendak Pemerintah akan mengoerangi toendjangan jang tetap boeat taoen 1932, maka terpaksalah begrooting jang telah disahkan tadi haroes dirobah dan ditetapkan poela. Dalam surat yang ditujukan kepada Regentschapsraad, Boepati Garoet saat itu, RAA. Moeh. Moesa Soeria Kertalegawa, menyatakan bahwa Pemerintah menghendaki adanya penghematan karena keadaan wang dari Pemerintah jang dari sehari ke sehari mangkin djelek (moendoer), dan item yang akan dihemat adalah tunjangan tetap bagi daerah otonom:

Sesoedahnja ditetepkan begini, maka Pemerintah mewartakan pada Locale ressorten dan zelfstandige gemeenschappen jang beroeang sendiri, bahwa keadaan wang dari Pemerintah jang dari sehari ke sehari mangkin djelek (moendoer) telah memaksa padanja boeat meneroeskan penghematan lebih landjoet dan lantaran itoe Pemerintah terpaksalah mengoerangi toendjangan Negri lebih banjak dari sekarang dan barangkali sama sekali menjaboet toendjangannja.

R.A.A. Moeh. Moesa Soeria Kartalegawa, Boepati Garoet 1929-1944. (Sumber: garutkab.go.id)

R.A.A. Moeh. Moesa Soeria Kartalegawa, Boepati Garoet 1929-1944. (Sumber: garutkab.go.id)

Akibat kebijakan pemerintah pusat itu, penerimaan Kaboepaten Garoet menjadi berkurang. Karenanya, anggaran belanja pun mau tak mau harus dipangkas pula. Sasaran anggaran yang dipangkas adalah gaji pegawai kabupaten (regentschapsambtenaren). Pemerintah pusat menetapkan kebijakan pengurangan gaji “untuk sementara waktu” sebanyak 10%.

Pertama haroeslah diberitahoekan pada Raad, jang berhoeboeng dengan pengoerangan dari toendjangan itoe, terpaksaiah sekarang gadjih2 dari regentschapsambtenaren dan beambten boeat sementara waktoe dikoerangi dengan l0% dan pengoerangan ini djoega dikenakan pada gadjih2 jang koerang dari f 50,-. Verordening tentang pengoerangan gadjih ini diatoerkan pada Raad dengan soerat tt. 31 October 1931 No. 27 boeat ditetapkannja.

***

Pengurangan gaji pegawai pada masa krisis sebagaimana yang diceritakan di atas itu kejadian di masa lalu. Ini hari sedang jaman sulit juga, tapi justru Anggota DPR mah menuntut kenaikan tunjangan. Ironis, bukan?

[M.S]

Advertisements

One thought on “‘Zaman Meleset’, Gaji Pegawai pun Dikurangi (1931)

  1. Pingback: Lambang Kaboepaten Garoet Masa Kolonial | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s