10 September 1912: Kereta Anjlok di Pasirdjengkol!

Jalur kereta Tjibatoe-Garoet sepertinya diistimewakan pembangunannya. Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara, pada tahun 1886 memulai pembangunan jalur Tjitjalengka-Tjibatoe-Garoet, dan selesai pada tahun 1889. Dari timur, jalur kereta dari Djokdja sebelumnya sudah selesai sampai Tjilatjap pada 1887. Tapi, jalur Tjibatoe-Garoet didahulukan sebelum selanjutnya dibangun jalur dari Tjibatoe ke Tjilatjap. Mungkin, banyaknya turis yang plesiran ke Garoet menjadi pertimbangan mendahulukan jalur Tjibatoe-Garoet ini.

Potongan peta 'Residentien Batavia en Preanger Regentschappen' dari buku

Potongan peta ‘Residentien Batavia en Preanger Regentschappen’ dari buku “Batavia, Buitenzorg, en de Preanger” (1891) menunjukkan jalur kereta api dari Tjitjalengka ke Garoet sudah dibangun. Sementara itu, jalur ‘spoor’ ke arah Tasikmalaja masih berupa garis-garis putus tipis, yang menunjukkan jalur itu belum dibuka. Dalam peta, Tjibatoe ditulis Rantja Batoe.

Jadi, sebelum abad ke-19 berganti, jalur Tjibatoe-Garoet sudah mulai beroperasi. Transportasi dari Batavia dan Bandoeng menuju Garoet sekarang mulai ramai menggunakan kereta api. Dengan transit di Tjibatoe, perjalanan dilanjutkan menuju Garoet, yang menempuh jarak sepanjang kira-kira 20 km.

Sebagai gambaran perjalanan jalur Tjibatoe-Garoet itu, pada koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 10 Januari 1912, SS memasang iklan yang berisi pemberitahuan tentang perubahan jadwal perjalanan kereta. Jadwal perjalanan ‘Kereta jalur 17’, dari Garoet ke arah Tjibatoe, mulai tanggal 15 Januari 1912 mengalami perubahan jam keberangkatan dan perkiraan kedatangannya di tiap halte.

Dapat dilihat pada iklan itu, Garoet-Tjibatoe saat itu bisa ditempuh kira-kira 1 jam 30 menit. Juga bisa kita ketahui halte-halte yang sudah dibangun dan menjadi pemberhentian pada jalur itu, yaitu Soekarame, Tjimoerah, Toengilis, Wanaradja, Tjitameng, Pasirdjengkol, Tjikoan, dan berakhir di stasiun Tjibatoe.

Iklan SS pada koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, tanggal 10 Januari 1912.

Iklan SS tentang perubahan jadwal perjalanan kereta api dari garoet menuju Tjibatoe, pada koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië”, tanggal 10 Januari 1912.

***

Sampai akhirnya, tibalah tanggal 10 September 1912. Di hari Selasa yang naas itu, kereta dari Tjibatoe, dengan nomor gerbong SS ABR 206 WL, anjlok keluar rel setelah halte Pasirdjengkol. Kecelakaan terjadi pada pukul 06.11 waktu setempat.

Kecelakaan kereta api jurusan Garoet dari Tjibatoe, dengan nomor gerbong SS ABR 206 WL, setelah halte Pasirdjengkol. Tampak penumpang menyelamatkan barang bawaannya, sementara petugas memeriksa kerusakan. Tak ketinggalan, warga setempat menonton kejadian ini dari tanggul samping rel. (Judul foto: Ontsporing bij Garoet, Tanggal: 10-09-1912, Sumber: KITLV)

Kereta api jurusan Garoet dari Tjibatoe, dengan nomor gerbong SS ABR 206 WL, anjlok setelah halte Pasirdjengkol. Tampak penumpang menyelamatkan barang bawaannya, sementara petugas memeriksa kerusakan. Tak ketinggalan, warga setempat menonton kejadian ini dari tanggul samping rel. (Judul foto: Ontsporing bij Garoet, Tanggal: 10-09-1912, Sumber: KITLV)

***

Diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië tanggal 11 September 1912, lokomotif tampak keluar rel dan terbalik, dengan posisi roda di atas. Gerbong barang 1 dan 2 hancur. Demikian pula dengan gerbong penumpang kelas 1. Sementara itu, gerbong penumpang kelas 3 mengalami rusak berat, dan gerbong di bagian belakang semuanya keluar rel. Belum diketahui penyebab kecelakaan kereta api itu.

Dikabarkan, jalur Tjibatoe-Garoet total tidak bisa dilewati dan diperkirakan akan tutup selama enam hari untuk perbaikan. Petugas sudah mengirim telegram ke Bandoeng untuk mendatangkan pegawai dari bengkel kereta api di sana, dengan membawa serta alat-alat berat.

Para penumpang kereta yang akan bepergian ke Garoet itu harus berjalan sekitar lima ratus meter untuk mencapai kendaraan yang disediakan. Mereka kebanyakan adalah para turis. Tidak dikabarkan ada yang meninggal dunia.

***

Hari itu bertepatan pula dengan tanggal 27 Ramadan 1330 H, dua hari menjelang lebaran di tahun 1912. Seorang Tionghoa, pedagang dari Bandoeng, yang secara teratur mengirim bawang dan gula aren, mengalami kerugian gara-gara kecelakaan itu. Nasib si engko, lebaran eta mah ngegel curuk...

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s