Boetoeh Oelama Garoet Oentoek Takloekan Atjeh (Bagian 1)

Selama berabad-abad, sejak jaman Kompeni, Aceh tak benar-benar bisa seluruhnya ditaklukan oleh Belanda. Perlawanan terus berlangsung bahkan sampai menjelang kedatangan Jepang. Namun, ibukota Kesultanan Aceh, Koetaradja, sekarang Banda Aceh, jatuh ke tangan Belanda pada awal 1874. Tapi butuh dua kali ekspedisi militer untuk menguasai Koetaradja. Pada agresi pertama, malah seorang jenderal Belanda, Johan Harmen Rudolf Köhler, menjadi tumbal saat terjadi pertempuran memperebutkan Masjid Raya Baiturrahman.

Dalam proses penaklukan Aceh itu, secara khusus pemerintah Hindia-Belanda melakukan penyelidikan mengenai agama dan adat istiadat penduduk Aceh. Setidaknya tercatat dua orang penasehat urusan pribumi untuk pemerintah Hindia-Belanda, yang pernah melakukan tugas ini untuk dua fase waktu yang berbeda, K.F. Holle dan Snouck Hurgronye. Dan keduanya mengandalkan ulama asal Garoet untuk membantu mereka. Tak cukup satu, tapi dua orang ulama.

***

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sekitar Tahun 1922-1923. (De Baiturrahman moskee in Koetaradja, Tahun: 1922-1923, Sumber: Tropenmuseum)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sekitar Tahun 1922-1923. (De Baiturrahman moskee in Koetaradja, Tahun: 1922-1923, Sumber: Tropenmuseum)

Hoofd-Penghoeloe Garoet dan Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman

Memang Masjid Raya Baiturrahman ini menjadi basis perlawanan rakyat Aceh. Lebih dari sekedar markas pasukan, tetapi juga simbol semangat jihad melawan kaphé (kafir) penjajah. Masjid Raya Baiturrahman terbakar habis pada agresi tentara Belanda kedua yang dipimpin oleh van Swieten. Tindakan Belanda ini membuat rakyat Aceh semakin murka.

Untuk membuat rakyat Aceh tenang, van Swieten, juga kemudian ditegaskan oleh Gubenur Jenderal van Lansberge menyatakan permintaan maaf dan berjanji akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pembangunan Mesjid Raya mulai dilaksanakan oleh Karel van der Heijden selaku gubernur militer Aceh pada Oktober 1879.

Dalam buku Mesjid-mesjid Bersejarah Di Aceh (Jilid 1), terbitan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh (2011), disebutkan pembangunan kembali masjid ini dirancang oleh arsitek De Bruins dari Departemen Pekerjaan Umum (Departement van Burgelijk Openbare Werken) di Batavia, bekerjasama dengan L.P. Luyks sebagai opzichter (pengawas), dan insinyur-insinyur lain. Nah, dalam perancangan masjid ini De Bruins dibantu oleh seorang yang disebut sebagai “penghulu besar yang berasal dari Garut”. Dikatakan, De Bruins memerlukan pendapat dari ulama Garut ini agar pola yang dirancangnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

***

Siapakah penghulu besar (hoofd-penghoeloe) Garut itu? Sebuah artikel dalam atjehpost.co, “Amazing Baiturrahman, Kisah Awal Mula Masjid Raya Banda Aceh”, menulis bahwa sumber-sumber sejarah tak menyebut nama lengkap ulama itu. Artikel ini menduga, ulama dimaksud adalah Hadji Hasan Moestopa, ulama Garoet, yang diangkat menjadi hoofd-penghoeloe di Koeta Radja tahun 1893. Namun kiranya kurang tepat, sebab pada masa pembangunan Mesjid Raya Baiturrahman, Hadji Hasan Moestopa sedang berada di Mekkah dan baru kembali pada tahun 1882, sementara pembangunan mesjid sudah selesai dan diresmikan pada 1881. Dan sebagai Hoofd-Penghoeloe Koetaradja, ia baru diangkat pada tahun 1893.

“Penghulu-besar yang berasal dari Garut” itu lebih mungkin adalah Rd. Hadji Moehamad Moesa, yang diangkat sebagai Hoofd-Penghoeloe Garoet sejak 1864. Sebagaimana pernah diceritakan dalam “Ayang-ayang Gung”: ‘Black Campaign’ Ala Menak Garoet dan Panji Wulung (dan Sejumput Doa untuk Kelanggengan Penjajahan), Moesa menjadi partner K.F. Holle, penasihat urusan pribumi dan agama Islam untuk pemerintah Hindia Belanda, dan Moesa sendiri secara pribadi dekat dan disukai oleh pejabat-pejabat kolonial saat itu.

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Semangat Baru (2013)

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Semangat Baru (2013)

Dalam Moriyama (2013), pemerintah memanfaatkan orang seperti Moesa untuk menghimpun informasi tentang penduduk lokal dan keadaan masyarakat. Lebih dari sekali Moesa dikirim untuk perjalanan inspeksi. Berulang kali ia diminta nasihatnya mengenai berbagai hal seputar pertanian dan agama, dan lebih dari sekali ia menyertai perjalanan pegawai-pegawai Belanda di pulau Jawa.

Dan khusus penyelidikan mengenai penduduk dan agama orang Aceh, Moesa pernah menyertai Holle berkunjung ke Aceh pada tahun 1871. Juga pernah bersama Holle pergi ke Singapura pada tahun 1873, untuk menyelidiki bagaimana komunitas Islam di Singapura saat itu yang mendukung kaum Muslim di Aceh.

Mungkin dalam satu kesempatan perjalanan di Batavia, atau bahkan mungkin khusus untuk maksud itu, De Bruins berkonsultasi dengan Rd. Hadji Moehamad Moesa, “penghulu besar yang berasal dari Garut” dalam rangka pembangunan masjid di Aceh itu, tapi Moriyama melewatkan tentang ini dalam bukunya.

***

Begitulah. Dengan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman, Belanda ingin merebut hati orang Aceh. Dan, siapa pun ia, “penghulu besar yang berasal dari Garut” itu ikut andil…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s