“Ayang-ayang Gung”: ‘Black Campaign’ Ala Menak Garoet

Alkisah, HoofdPenghoeloe (Kepala Penghulu) Limbangan (Garoet), Rd. Hadji Moehamad Moesa, merasa khawatir karir anaknya akan dikalahkan oleh salah satu lawan politiknya, kepala distrik (Wedana) Soetji, seorang lelaki bernama “Tanoe”. Moesa yang memang dikenal juga sebagai seorang sastrawan Sunda terkemuka, kemudian menggubah sebuah lagu (kawih). Dalam kawih itu kemampuan Tanoe dipertanyakan, kelicikannya diejek. Dan mengetahui bahwa rumor dapat menjadi senjata tajam, maka ia berupaya agar lagu itu menjadi lebih dikenal luas. Alhasil, seantero tanah Sunda memang akhirnya mengenal kawih: “Ayang-ayang gung…

ayang ayang gung

Teks “Ayang-ayang gung” versi Poeradiredja, dalam Moriyama (2013)

Saya tulis lirik kawih itu dalam ejaan Sunda lama, sesuai versi Poeradiredja (1919), seperti yang ditulis dalam Moriyama (2013):

Ajang-ajang goeng – goeng,

goeng goongna ramè – mè,

mènak Ki Mas Tanoe – noe

noe djadi Wadana – na

naha mana kitoe – toe

toekang olo olo – lo

loba anoe giroek – roek

roeket ka koempeni – ni

niat djadi pangkat – kat

katon kagorèngan – ngan

ngantos Kandjeng Dalem – lem

lempa lempi lempong,

ngadoe pipi djeung noe ompong.

***

Moriyama tidak menjelaskan siapa nama anak Moesa itu. Juga tidak menyebutkan bentuk persaingannya dengan ki Mas Tanoe itu seperti apa. Tapi, dari lirik kawih itu kita bisa tahu Tanoe ini digambarkan sebagai penjilat (toekang olo-olo), makanya banyak orang yang tidak suka (loba anoe giroek), dekat dengan penguasa kolonial Belanda (roeket ka koempeni, istilah ‘kumpeni’ masih sering digunakan untuk menyebut pemerintah kolonial Belanda, padahal Kompeni (VOC) sendiri sudah bangkrut jelang akhir abad 18). Tanoe juga disebut sebagai seorang yang ambisius (niat djadi pangkat), tapi akhirnya kebusukannya diketahui umum (katon kagorèngan). Lirik akhir kurang lebih dimaknai bahwa Tanoe menunggu kedatangan Bupati (ngantos Kandjeng Dalem), dan tidak perlu repot-repot untuk maju (lempa lempi lempong), keduanya sudah tua (ngadoe pipi djeung noe ompong).

Java Tijd Ayang2gung

Teks “Ayang-ayang gung” pada artikel Soendasche Kinderliederen En Spelen dalam majalah tigamingguan “Djawa” dari Java-Instituut edisi No. 1 Januari-April 1921.

Ada versi lain mengenai latar belakang kawih itu. Versi ini tidak menyebut siapa penggubah kawih itu, tapi isi sindirannya itu ditujukan untuk Tanoe dari Kampung Baru, nama untuk wilayah Bogor di masa VOC masih berkuasa. Saya lebih memilih versi yang diceritakan kembali oleh Moriyama. Jauh sebelum Moriyama menulis, ada artikel berjudul: Soendasche Kinderliederen En Spelen (Lagu-lagu dan Permainan Anak-anak Sunda) dalam majalah tigamingguan “Djawa” dari Java-Instituut edisi No. 1 Januari-April 1921. Artikel ini kurang lebih menyebutkan hal yang sama, bahwa kawih itu gubahan Moesa dan sedang menyindir ki Mas Tanoe, Wedana Soetji. Munculnya versi lain itu bisa jadi menandakan harapan Moesa terkabul, kawihnya telah pula sampai ke tatar Sunda bagian barat.

***

Kisah kawih “Ayang-ayang gung”  tidak berhenti di sana. Pada tahun 1919 diselenggarakan Eerst Congres voor de Taal-, Land-, en Volkenkunde van Java (Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa). Dalam kongres itu, R. Poeradiredja, ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur (Balai Pustaka), dan M. Soerijadiradja, seorang guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool (sekolah pelatihan) di Serang, memperkenalkan kawih itu sebagai salah satu puisi Sunda yang terkenal. Tapi mereka menyebut bahwa puisi itu dikarang oleh penulisnya untuk mengejek ambisi Moesa yang dianggap sudah kelewat batas. Puisi tersebut dinyanyikan di Kongres itu “supaya enak didengar”.

Tentu Moesa, yang meninggal tahun 1886, tidak akan membayangkan kawih yang digubahnya semula untuk menyindir Tanoe itu, justru dalam Kongres itu dikatakan sebagai ejekan untuk dirinya, malah untuk keturunannya kemudian: rupanya senjata makan tuan! Makanya, tong sok ngagogoreng batur bisi keuna ka sorangan.

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Semangat Baru (2013)

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Moriyama (2013)

Ya, memasuki abad ke-20, pamor Moesa mulai menurun. Semasa hidupnya, Moesa dekat dengan K.F. Holle, pemilik perkebunan Waspada sekaligus seorang penasehat pemerintah kolonial Hindia-Belanda untuk urusan-urusan pribumi. Moesa menjadi partnernya dalam memberikan nasehat-nasehat kepada pemerintah Hindia-Belanda. Kedekatan mereka tak hanya dalam urusan pekerjaan, tetapi juga secara pribadi. Bahkan, Moesa saat meninggal ada di pangkuan Holle.

Walaupun punya pamor dalam bidang kesastraan Sunda, tapi sebagai menak dengan jabatan HoofdPenghoeloe, Moesa dianggap oportunis dan ambisius. Moriyama menulis, fakta menunjukkan bahwa ia sering tunduk kepada Belanda dan ini dilihat sebagai suatu aib (baca: Panji Wulung (dan Sejumput Doa untuk Kelanggengan Penjajahan). Beredar rumor bahwa pemerintah kolonial telah memberi ganjaran atas pelayanannya yang setia dalam banyak hal, antara lain, sampai tujuh turunannya kemudian menjadi bupati, termasuk R.A.A. Moesa Soeria Kartalegawa, Bupati Garut terakhir (sebelum Jepang datang). R.A.A. Moesa Soeria Kartalegawa inilah yang kemudian lebih memilih NICA, dengan mendirikan Negara Pasundan, daripada berpihak pada kaum republiken semasa perang kemerdekaan (baca: Riwayat Buram Seorang Oud-Regent van Garoet: “Soeria-Nica-Legawa”).

***

Kawih “Ayang-ayang gung” memang mengena di hati orang Sunda. Namun entah kenapa kawih ini akhirnya menjadi pengiring kaulinan barudak (permainan anak-anak) di tanah Sunda. Seperti telah ditulis di atas, di tahun 1920 saja kawih “Ayang-ayang gung” sudah disebut sebagai lagu dalam permainan anak-anak Sunda. Dan di tahun 1970-an, sebagai anak jaman itu, saya masih sempat merasakan suasananya.

Copy-of-buku-rusdi-11-267x300

Empat jilid buku “Roesdi Djeung Misnem” (Sumber: Telaah Atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem sebagai Bacaan Murid-Murid Sekolah Rakyat di Jawa Barat sebelum Perang Dunia II, H.W. Setiawan, dkk, dalam ITB J. Vis. Art. Vol. 1 D, No. 3, 2007)

Malah, Rusdi pun, tokoh dalam Roesdi Djeung Misnem, buku anak-anak berbahasa Sunda legendaris yang menjadi bacaan wajib di masa kolonial, sudah menyanyikan kawih itu. Buku itu terbit pertama kali pada tahun 1911. Pada jilid pertama Roesdi Djeung Misnem itu diceritakan, setelah bermain di tepi sungai yang tiba-tiba arusnya membesar, Rusdi dan teman-temannya kemudian pulang. Mereka berjalan ayang-ayang gung (tangan diletakkan di pundak teman di depannya), sambil mendendangkan kawih itu. Saya cuplik saja sedikit:

Barang keur ramè-ramè aroelin, ger tjaah gedè naker teu kanjahoan lebna. Baroedak laloempatan, paheula-heula ka darat. Goegoenoengan pasir tèa bèak kabawa tjaah.

”Hajoe oerang baralik, bisi ditjarekan koe ema.” Broel baroedak tèh baralik, ajang ajang goeng, bari kakawihan, kieu kawihna:

Ajang – ajang goeng, goeng,

….

[M.S]

Advertisements

One thought on ““Ayang-ayang Gung”: ‘Black Campaign’ Ala Menak Garoet

  1. Pingback: Boetoeh Oelama Garoet Oentoek Takloekan Atjeh (Bagian 1) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s