Pangkalan Udara Pameungpeuk: Riwajatmoe Doeloe

Ini sedikit riwayat tentang Pangkalan Udara (airfield, airstrip, atau vliegveld) Pameungpeuk. Bermula dari informasi di Wikipedia. Disebutkan, Pangkalan Udara Pameungpeuk dulu adalah markas 4V1G-VI Coastal Patrol Squadron (Skuadron Patroli Pantai), dengan kekuatan pesawat Lockheed 212, dan pada saat Perang Dunia II pasukan Indonesia menahan tiga orang serdadu Belanda yang menumpang sebuah pesawat Amerika Serikat yang mendarat darurat di Pameungpeuk. Informasi ini saya telusuri, hingga dari berbagai sumber yang bisa diperoleh, saya mendapati bahwa peran lapangan terbang ini doeloe tak sekecil dan tak seterpencil landasan dan lokasinya. Landasannya hanya berkonstruksi rumput dengan panjang kira-kira 1000 m dan berlokasi di Pantai Cilauteureun, Pameungpeuk, ujung selatan Garoet. Justru karena kecil dan terpencil, pada masanya lapangan terbang ini menjadi strategis. Bahkan menjadi rebutan di masa perang.

Pameungpeuk Airstrip, Pameungpeuk Beach, South Garut, West Java, Indonesia.

Pameungpeuk Airstrip. (Sumber: indonesiaphotography.com)

***

13 Maret 1925

Tak jelas kapan Pangkalan Udara Pameungpeuk dibangun. Tapi setidaknya pada tahun 1925 lapangan terbang ini mulai digunakan. Pada koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 13 Maret 1925, diberitakan tentang rencana pembentukan skuadron terbang ketiga pasukan udara KNIL. Dan Pameungpeuk akan dijadikan tempat pengujian senjata pada pesawat.

16 Juli 1938

Pada tanggal 16 Juli 1938 terjadi kecelakaan pesawat latih jenis F.K-51 buatan pabrik pesawat Koolhoven, milik Angkatan Udara KNIL. Pesawat yang dikemudikan seorang kadet, Brigadir-penerbang Deen, berangkat dari vliegveld Andir menuju vliegveld Pameungpeuk. Kemudian setelah itu, pilot diperintahkan kembali ke Andir. Pada jam 11 hari Sabtu itu, tak ada kontak lagi dari pesawat. Demikian dilaporkan Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 18 Juli 1938.

Pesawat F.K-51 Koolhoven.

Pesawat F.K-51 Koolhoven.

Nasib pesawat dan pilotnya kemudian diketahui pada hari Kamis tanggal 21 Juli 1938. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 22 Juli 1938 melaporkan, pesawat ditemukan sudah hancur di antara selatan Goenoeng Kentjana dan utara Sitoe Tjirompang. Petugas, berkerjasama dengan penduduk dan administratur perkebunan Ardjoena, melakukan pencarian dan akhirnya dapat mengevakuasi pilot yang meninggal dunia di tempat.

Grafis pada koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 22 Juli 1938, menunjukkan jalur penerbangan pesawat yang melenceng. Ditunjukkan pula lokasi penemuan pesawat sekitar Goenoeng Kantjana dan Sitoe Tjirahong.

Grafis pada koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 22 Juli 1938, menunjukkan jalur penerbangan pesawat yang melenceng. Ditunjukkan pula lokasi penemuan pesawat di sekitar G. Kantjana dan Sitoe Tjirompang.

11-12 Maret 1942

Tanggal 8 Maret 1942 Sekutu menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Tanah ex Hindia Belanda kemudian dikuasai balatentara Jepang. Pasukan-pasukan sekutu yang kocar kacir menjadi tahanan Jepang. Tapi sebagian lain berhasil meloloskan diri.

Mumpung Jepang belum masuk, Pameungpeuk, yang memiliki lapangan terbang dan pelabuhan laut, menjadi salah satu pos pelarian keluar Indonesia, baik melalui udara maupun laut. Saya punya dua kisah berikut:

Escape From Java: 11 Maret 1942

Koran terbitan Selandia Baru Evening Post tanggal 13 April 1942 memberitakan keberhasilan pelarian empat orang serdadu Sekutu dari Jawa melalui udara. Mereka terdiri dari seorang sersan dari Selandia Baru, satu dari Kanada, dan dua orang Australia. Pada koran terbitan Melbourne The Argus tanggal 3 April 1943 disebutkan kemudian bahwa ternyata mereka berlima. Ada satu orang Belanda yang ikut dalam pelarian itu. Koran ini menceritakan perjalanan mereka secara lebih lengkap.

“Escape From Java – a Story of Peril, Courage, and Luck” (The Argus, Saturday 3 April 1943).

Pada saat itu posisi mereka berada di Garoet. Ketika Jepang mulai menguasai kota Garoet, mereka dengan menggunakan truk bergerak menuju Pangkalan Udara Pameungpeuk pada 11 Maret 1942. Di sana mereka menemukan 3 buah pesawat pembom jenis Lockheed yang rusak. Dengan perbaikan seadanya, akhirnya mereka bisa menerbangkan salah satu pesawat itu menuju Colombo, Srilanka, setelah sebelumnya singgah sebentar di Medan.

Pesawat jenis Lockheed 212 yang digunakan 5 orang pelarian dari Pameungpeuk 11 Maret 1942.

Pesawat jenis Lockheed 212, seperti yang digunakan 5 orang pelarian dari Pameungpeuk pada 11 Maret 1942.

Tertangkapnya Pasukan ‘Black Force’ Australia: 12 Maret 1942

Batalyon ‘Black Force’ dari Australia, yang dipimpin Brigadir A.S. Blackburn, pernah dikirim ke Timur Tengah, sebelum akhirnya diperbantukan untuk pasukan Sekutu di front Pasifik, ke Hindia Belanda. Kisahnya dimuat dalam koran Australia The Advertiser tanggal 3 dan 4 Oktober 1945. Diceritakan, pasukan tiba di Teloekbetong, Sumatera pada 16 Pebruari 1942. Kemudian mereka berlayar ke Batavia, dan selanjutnya ke Bandoeng. Saat Bandoeng hampir jatuh ke tangan Jepang, pasukan ‘Black Force’ bergerak lagi ke Garoet. Bandoeng akhirnya jatuh ke tangan Jepang pada 7 Maret 1942, dan ternyata esok harinya Sekutu menyatakan menyerah di Kalidjati.

Ilustrasi pada The Advertiser, tanggal 3 Oktober 1945, yang menggambarkan rute pasukan Black Force hingga akhirnya tertangkap di Tjikadjang pada 12 Maret 1942.

Ilustrasi pada The Advertiser, tanggal 3 Oktober 1945, yang menggambarkan rute pasukan ‘Black Force’ hingga akhirnya tertangkap di Tjikadjang pada 12 Maret 1942.

Pasukan ‘Black Force’ kemudian menuju pegunungan di selatan Garoet, dan tinggal di sebuah perkebunan teh di Tjikadjang. Bertahan selama empat hari, mereka terus berusaha untuk menghubungi Australia setelah melihat kemungkinan dapat meloloskan diri dari pasukan Jepang melalui Pameungpeuk. Tetapi cuaca yang buruk menggangu jalur komunikasi. Pelarian mereka gagal. Akhirnya, mereka tertangkap pada tanggal 12 Maret 1942.

23 Agustus 1945

Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah. Sekutu datang untuk membereskan urusannya dengan tentara Jepang, tapi Belanda ikut ‘menumpang’ demi menguasai kembali tanah Indonesia. Secara resmi Jepang menyatakan status quo, tetapi Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Negara muda itu belum sempat mengorganisir tentara secara profesional. Maka, dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945, termasuk matra udaranya BKR-Oedara (BKRO).

Dari website TNI AU diketahui bahwa dalam rangka konsolidasi organisasi, BKRO membentuk organisasi darat, yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). PPP dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara yang telah direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda. PPP saat itu masih bersifat lokal yang dibentuk di pangkalan-pangkalan udara, termasuk Pangkalan Udara Pameungpeuk. PPP ini adalah cikal bakal dari Skadron 465 Paskhas TNI AU.

Belum diketahui apakah di Pangkalan Udara Pameungpeuk saat itu terdapat pesawat-pesawat yang ditinggalkan pasukan Jepang, sementara di pangkalan udara lain banyak pesawat jenis ‘cureng’ (‘Churen’) dan pembom ‘Guntei’ yang direbut dan digunakan tentara Indonesia, sebagai kekuatan pertahanan udara selama masa agresi Belanda.

Pesawat Churen ('cureng'), peniggalan angkatan udara Jepang yang digunakan oleh kekuatan udara tentara Indonesia di masa agresi militer Belanda.

Pesawat Churen (‘cureng’), peninggalan angkatan udara Jepang yang digunakan oleh tentara Indonesia di masa agresi militer Belanda.

4 Oktober 1947

Pasukan Indonesia di Pameungpeuk (mungkin Pasukan Pertahanan Pangkalan?) pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober 1947 menangkap 3 orang serdadu Belanda yang diketahui ikut menumpang pesawat jenis Beechcraft milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Pesawat itu mendarat darurat di pangkalan Udara Pameungpeuk. Beritanya dimuat koran-koran saat itu, salah satunya dalam koran The West Australian tanggal 6 Oktober 1947.

Disebutkan, pesawat kemudian kembali ke Batavia, namun Kapten D.J MacCallum, atase Angkatan Laut AS di Batavia, menolak ikut dan tetap tinggal bersama 3 orang Belanda tadi. Letkol W. Feallock, yang bersama MacCallum tergabung dalam misi AS untuk mengawasi gencatan senjata, melaporkan kepada Konsul Jenderal AS di Batavia, Dr. Walter Foote, bahwa penahanan itu diketahui dan atas perintah dari pimpinan Angkatan Udara RI di Jokjakarta. Dr. Foote dikabarkan akan menghubungi Presiden Soekarno dan PM Sjarifoedin, untuk meminta agar dapat menjemput tentara Belanda yang ditahan. Katanya, mereka merupakan bagian dari misi yang direkrut atas permintaan pihak AS untuk membantu di lapangan.

Berita Examiner, tanggal 8 Oktober 1947,

Berita Examiner, tanggal 8 Oktober 1947, “Javanese Claim: U.S. Not Neutral”.

Menanggapi hal ini, pemerintah RI di Jogjakarta menuduh pihak AS telah bersikap tidak netral dalam posisinya sebagai pengawas gencatan senjata. Demikian yang diberitakan koran Australia, Examiner tanggal 8 Oktober 1947.

Namun demikian, seperti yang diberitakan The West Australian tanggal 8 Oktober 1947, ketiga serdadu Belanda itu akhirnya dibebaskan. Pemerintah RI menegaskan agar pihak AS dapat bersikap netral dalam pelaksanaan misi perdamaiannya.

Bagi pemerintah RI, kejadian di Pameungpeuk itu menunjukkan bahwa Belanda hanya dapat menguasai beberapa kota dan jalan raya saja. Selebihnya, masih dalam kontrol pemerintah RI.

24 Oktober 1947

Pada tanggal 24 Oktober 1947, Pangkalan Udara Pameungpeuk diketahui sudah diduduki oleh pasukan Belanda. Beberapa batalyon yang berada di bawah Divisi “7 December” turut mengamankan pangkalan ini. Bahkan batalyon 2-13 RI yang sesungguhnya bertugas di Jawa Tengah, tapi pada bulan September 1947 “sementara” dikirim ke Jawa Barat dan bermarkas di Garut. Pada tanggal 24 Oktober batalion ini bergerak dari Garut menuju ke Pameungpeuk. Setelah melalui Tjikadjang dan Soekamanah, pada 28 Oktober pasukan mencapai Pameungpeuk.

Mayor Jenderal Britt juga diketahui melakukan inspeksi ke Lapangan udara Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947(Jdul foto: Mevrouw Gideon in gesprek met generaal-majoor H.J.J.W. Dürst Britt op het vliegveld Pameungpeuk. Tahun: sekitar 1946-1950. Sumber: Gahetna.nl)

Inspeksi Mayor Jenderal Britt ke Pangkalan Udara Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947 (Sumber: Gahetna.nl)

Sebiuah pesawat jenis Dakota terlihat rodanya terbenam lumpur, nampak sedang ditarik kendaraan berat di Panhkalan Udara Pameungpeuk. (SUmber: gahetna.nl)

Sebuah pesawat jenis Dakota terlihat sedang ditarik kendaraan berat karena rodanya terbenam lumpur di Pangkalan Udara Pameungpeuk. (Sumber: Gahetna.nl)

2 Desember 1947

Pasukan Belanda yang berada di Pangkalan Udara Pameungpeuk dikabarkan mendapat serangan bom dan tembakan dari pihak tentara Indonesia selama dua hari berturut-turut, hingga membuat pasukan Belanda sibuk. Koran Utrecht Nieuwsblad terbitan 2 Desember 1947 sampai memunculkan judul berita: Apakah Pameungpeuk Sudah (Benar-benar) Dikuasai Belanda?

***

Pangkalan Udara Pameungpeuk sejak dulu memang merupakan salah satu lapangan terbang yang digunakan untuk kepentingan militer. Sekarang menjadi salah satu pos TNI Angkatan Udara di bawah komando Pangkalan Udara Husein Sastranegara Bandung, yang dulu dikenal sebagai vliegveld Andir. Pangkalan Udara Pameungpeuk tampaknya sekarang ini lebih sering difungsikan sebagai tempat latihan TNI dan kegiatan olahraga dirgantara sipil.

Ok, ada yang mau menambahkan lagi cerita tentang Pangkalan Udara Pameungpeuk ini?

[M.S]

Advertisements

3 thoughts on “Pangkalan Udara Pameungpeuk: Riwajatmoe Doeloe

  1. Ada yg punya data terkini ttg kondisi landasan Dan apron bandara Pameungpeuk kah ? Panjang lebar dan kondisi permukaan ? Rencana Saya dkk akan melakukan latihan terjun disana

    Like

  2. terimakasih sudah memuat sejarah dari lanud Pameungpeuk Garut karena sempat terheran-heran melihat satu foto dulu ketika ada sejumlah pasukan Australia yang bertahan di sebuah pabrik perkebunan di Garut..dan menjadi gamblang mengapa mereka juga di Garut waktu itu. Jika tentara Australia bertahan dengan taktik gerilya seperti yang mereka lakukan di hutan-hutan papua nugini maka setidaknya bisa menyambung nyawa tidak banyak kemungkinan yang tewas jika ditawan jepang dan dimasukan ke kamp tawanan yang sadis.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s