Hadiah HUT RI ke-20: Dari Pameungpeuk Kita Tembus Angkasa Luar…

Perang dingin antara Uni Sovyet dengan Amerika Serikat di awal tahun 1960an merembet pada perlombaan teknologi luar angkasa. Saat itu, Sovyet lebih dulu maju selangkah setelah untuk pertama kalinya mengorbitkan manusia dalam penjelajahan antariksa. Presiden Indonesia, Soekarno, yang saat itu lebih bersahabat dengan blok Sovyet, tertarik pula untuk mengembangkan teknologi luar angkasa. Pada kesempatan kunjungan ke Moskow di tahun 1961, Soekarno sempat memberikan gelar Bintang Maha Putra untuk Yuri Gagarin, kosmonot atau astronot pertama itu.

Pada tanggal 22 September 1962 dibentuk Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal atau “PRIMA” sebagai afiliasi dari AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), sekarang TNi AU, dan ITB (Institut Teknologi Bandung). Hasil dari proyek ini adalah peluncuran dua seri roket “Kartika”. Akhirnya, pada tanggal 14 Agustus 1964, Indonesia akhirnya berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri, Kartika 1, dengan berat 220 Kg, dari Pameungpeuk. Peluncuran ini membuat Indonesia menjadi negara kedua di Asia dan Afrika yang mampu mengembangkan teknologi pembuatan rudal dan roket setelah Jepang.

Roket Kartika-1

Roket Kartika-1

Begitulah. Perkembangan teknologi roket dan antariksa di Indonesia tak mungkin melepaskan nama Pameungpeuk dari sejarahnya. Saat peluncuran roket Kartika itu, stasiun peluncuran roket belumlah dibangun secara resmi. Tempat itu dipilih mungkin karena terdapat fasilitas lapangan terbang milik TNI AU di sana.

Lapangan Terbang Pameungpeuk milik TNI AU dan Stasiun Peluncuran Roket LAPAN. (Peta dari Bing Maps)

Lapangan Terbang Pameungpeuk milik TNI AU dan Stasiun Peluncuran Roket LAPAN. (Peta dari Bing Maps)

***

Mengutip Majalah ARSIP edisi 65 tahun 2015, untuk menjawab perkembangan zaman dan memulai kegiatan keantariksaan yang lebih sistematis, pada 14 Desember 1962 Dewan Penerbangan (DEPANRI) membuat suatu panitia teknis yaitu Panitia Astronautika yang khusus menangani masalah keantariksaan di Indonesia. Selanjutnya, pada 27 November 1963, dibentuklah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk melembagakan penyelenggaraan program-program pembangunan kedirgantaraan nasional.

Di era ini, Presiden Sukarno menyetujui pembelian roket dari Jepang untuk proyek peluncuran roket seri Kappa-8. Selain itu, untuk mempersiapkan peluncuran roket-roket itu, maka seorang konsultan Jepang, Prof. Hideo Itokawa, diundang guna merancang dan membangun stasiun peluncuran yang telah dipilih, yaitu lokasi yang pernah digunakan peluncuran roket Kartika-1, di Pameungpeuk, Garut.

Pembangunan landasan luncur roket di Pameungpeuk (Koleksi Arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015).

Pembangunan landasan luncur roket di Pameungpeuk (Koleksi Arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015).

Penurunan Roket-roket Kappa-8 dari pesawat Helikopter AU (Koleksi arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015)

Penurunan Roket-roket Kappa-8 dari pesawat Helikopter AU (Koleksi arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015)

Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia roket Kappa-8-1 dapat diluncurkan dengan mulus pada tanggal 9 Agustus 1965 mencapai angkasa luar dengan ketinggian 334 km, jauh lebih tinggi dari jarak yang dapat ditempuh oleh astronot-astronot di seluruh dunia saat itu, hal ini merupakan sejarah besar dalam hal keantariksaan di Indonesia, bahkan dalam lingkup Asia-Afrika. Peluncuran sebuah wahana roket dari bumi Indonesia hingga mencapai luar angkasa merupakan peristiwa sejarah yang memiliki arti penting dalam bidang keantariksaan di Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 11 Agustus 1965 roket Kappa-8-4 berhasil meluncur dengan ketinggian 250 km, tepat pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1965 meluncur roket ketiga Kappa-8-3 dengan ketinggian 70 km.

Guntingan berita Koran Kompas yang memberitakan kesuksesan peluncuran roket di tahun 1965. (Koleksi Arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015).

Guntingan berita Koran Kompas yang memberitakan kesuksesan peluncuran roket di tahun 1965. (Koleksi Arsip dan Dokumentasi LAPAN). (Sumber: Majalah ARSIP Edisi 65 Tahun 2015).

***

Sebetulnya, lokasi stasiun peluncuran roket LAPAN dengan koordinat (7.646643°S 107.689018°E) ini terletak di kecamatan Cikelet. Entah mungkin karena terlanjur sebelumnya area itu termasuk wilayah kecamatan Pameungpeuk, maka akhirnya tetep nama Pameungpeuk yang dikenal. Saya juga latah…

Secara resmi instalasi ini berada di bawah Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN. Instalasi uji terbang roket LAPAN ini dilengkapi dengan fasilitas Motor Assembly Building, Launch Control Center Building, Meteorological Sounding System Building, Gudang Penyimpanan Motor Roket, dan Asrama.

Peluncuran roket

Saat ini, kondisi instalasi uji terbang roket LAPAN ini, khususnya untuk melakukan uji coba, launching pad-nya sudah tidak ideal lagi berada di Pameungpeuk, mengingat zona aman ll 2000 meter dari launching pad harus kosong. Sedangkan saat ini, dalam ruang zona ll tersebut banyak dipenuhi oleh penginapan warung, dan permukiman warga, serta tempat pelelangan ikan. Setiap kali akan melakukan uji terbang, maka terlebih dahulu harus mengungsikan warga pada pukul 06:30 WIB, dan beberapa hari sebelumnya ada himbauan agar para nelayan pada hari (H) uji coba peluncuran dilarang melaut pada hari tersebut.

***

Mungkin suatu saat memang tak akan ada lagi peluncuran roket dari Cilauteureun ini. Mengingat kondisinya yang kurang mendukung pengembangan peluncuran roket berskala besar, maka LAPAN sekarang ini sedang mencari alternatif penggantinya. Kalau demikian adanya, maka potensi wisata pantai di sana bisa dikembangkan lebih leluasa dan lebih bagus. Tapi ingat, indikator tempat wisata yang bagus itu bisa dilihat dari tiga hal saja: parkir, tempat sampah, dan toilet. Dari urusan roket akhirnya berujung ke toilet. Ya, itu saja dulu.

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s