Garoet dan Death NICA (1947)

Death NICA. Sebuah coretan grafiti tertulis demikian, dengan ‘hiasan’ gambar tengkorak, tertera di dinding sebuah bangunan yang rusak, tampaknya bekas kebakaran. Sumber foto itu memberikan keterangan bahwa coretan itu sebagai “Republikeinse opschriften en propaganda” (tulisan dan propaganda kaum republik). Disebutkan, foto itu diambil pada tanggal 10 Oktober 1947, dan lokasinya di Garoet.

Death NICA! (Judul Foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Republikeinse opschriften en propaganda. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Death NICA. (Judul Foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Republikeinse opschriften en propaganda. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Menarik untuk ditelusuri, karena ternyata bukan hanya bangunan itu yang dalam kondisi demikian saat itu. Dalam cakupan yang lebih kecil dari peristiwa “Bandoeng Laoetan Api”, di Garoet pun TNI dan laskar-laskar melakukan aksi bumi hangus bangunan-bangunan strategis yang mungkin akan dimanfaatkan oleh pihak Belanda. Hanya saja, sementara ini, cerita tentang bumi hangus di Garoet ini belum lengkap bisa diperoleh…

***

12 Agoestoes 1947

Belum genap dua tahun Repoeblik Indonesia merdeka, kota Garoet kembali dikuasai oleh tentara Belanda. Sebagai bagian dari aksi Agresi Militer I, tentara Belanda dari C-Divisie “7 December” (Divisi C – “7 Desember”), khususnya satuan-satuan yang tergabung dalam 3e Infanterie Brigade Groep (Brigade Infantri ke-3), pada tanggal 12 Agustus 1947 menguasai kota Garoet.

Resminya, Agresi Militer pertama yang oleh pihak Belanda disebut sebagai Aksi Polisionil (“Politioneel Actie”) itu berlangsung dari tanggal 21 Juli 1947 sampai dengan 5 Agustus 1947. Tapi pada kenyataannya, aksi pendudukan itu terus berlanjut. Brigade Infantri ke-3 ini bergerak dari Cirebon, Kuningan, dan melalui Tasikmalaya terus ke Garoet. Dan Garoet pun dikuasai justru pada tujuh hari setelah pengumuman penghentian “Aksi Polisionil”.

Atas desakan dunia internasional, Pemerintah RI dan Belanda sepakat akan melakukan perundingan yang dikenal kemudian sebagai Persetujuan Renville. Secara resmi, mulai 17 Agustus 1947 dinyatakan berlaku gencatan senjata, sampai dengan ditandatanganinya perjanjian itu. Tapi di lapangan, pertempuran terus terjadi, antara tentara Belanda dengan laskar-laskar dan TNI.

Sampai dengan bulan Oktober 1947, nampaknya pertempuran masih terjadi di Garoet. Pasukan TNI dan laskar melakukan perlawanan dan membakar bangunan-bangunan strategis yang potensial akan digunakan Belanda. Tak ketinggalan, coretan grafiti bernada ajakan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda pun tertera di dinding-dinding bangunan. Simak foto-foto berikut:

Foto hasil jepretan Thilly Weissenborn ini menggambarkan bangunan yang rusak akibat perang. Bangunan ini sebelumnya adalah sebuah toko buku yang terletak di depan Societeit Inta Montes di Societeitstraat. Dari papan depan bangunan ini tertera nama (lebih jelas pada foto kedua) Kantor Peroemahan Repoeblik Indonesia (KAPRI). (Judul foto: Beschadigd gebouw te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Foto hasil jepretan Thilly Weissenborn ini menggambarkan bangunan yang rusak akibat perang. Bangunan ini sebelumnya adalah sebuah toko buku yang terletak di depan Societeit Inta Montes di Societeitstraat. Dari papan depan bangunan ini tertera nama (lebih jelas pada foto kedua) Kantor Peroemahan Repoeblik Indonesia (KAPRI). (Judul foto: Beschadigd gebouw te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Kantor KAPRI, nampak dari samping. (Judul foto: Kantoor van de KAPRI te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Kantor KAPRI, nampak dari samping. (Judul foto: Kantoor van de KAPRI te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Kantor Pos pun tak luput dari sasaran bumi hangus. (Judul foto: Het beschadigde postkantoor te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Kantor Pos pun tak luput dari sasaran bumi hangus. (Judul foto: Het beschadigde postkantoor te Garoet, Tahun: sekitar 1947, Sumber: KITLV).

Bangunan Djawatan Listrik dan Gas Garoet pun terbakar, yang disebut sebagai kerusakan akibat perang. Apakah gedung ini yang sekarang ditempati PLN di Jalan Pramuka sekarang? (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Oorlogsschade in Garoet. Tahun: antara 1946-1949). Sumber: Stoottroepen Museum)

Bangunan Djawatan Listrik dan Gas Garoet pun terbakar, yang disebut sebagai kerusakan akibat perang. Apakah gedung ini yang sekarang ditempati PLN di Jalan Pramuka sekarang? (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Oorlogsschade in Garoet. Tahun: antara 1946-1949). Sumber: Stoottroepen Museum)

Sumber foto ini tidak memberikan keterangan. Hanya disebutkan berlokasi di Garoet. Hotel Villa Dolce kah? (Sumber: Gahetna.nl)

Sumber foto ini tidak memberikan keterangan banyak. Hanya disebutkan berlokasi di Garoet. Hotel Villa Dolce kah? (Sumber: Gahetna.nl)

Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan

Foto ini pun tidak diberikan keterangan yang cukup. Tampak coretan “Pemoeda marilah kita berdjoang” dan “Igama” di dinding bangunan. (Sumber: Gahetna.nl)

Stasiun kereta api Garoet termasuk bangunan strategis yang dihancurkan. Tampak depan stasiun Garoet di tahun 1947. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Stasiun kereta api Garoet termasuk bangunan strategis yang dihancurkan. Tampak depan stasiun Garoet di tahun 1947. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Keadaan di bagian peron stasiun Garoet pasca pembakaran. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Keadaan di bagian peron stasiun Garoet pasca pembakaran. (Judul foto: Verblijf en optreden van het 3e Bataljon Regiment Stoottroepen in Nederlands-Indië. Vernielingen op het station van Garoet. Tahun: 10 Oktober 1947. Sumber: Stoottroepen Museum)

Gedung penjara Garoet nampak luput dari upaya pembakaran. Namun tak bisa terhindar dari coretan dan lukisan dinding:

Gedung penjara Garoet (sekarang Rutan Garut) nampak luput dari upaya pembakaran. Namun tak bisa terhindar dari coretan dan lukisan dinding: “Teroes berdjoang oentoek keselamatan bersama.” (Sumber: Gahetna.nl)

***

Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Dan Garoet adalah salah satu daerah perkebunan utama sejak masa Hindia Belanda.

Untuk menjamin posisi Belanda di Garoet itu, Mayor Jenderal H.J.J.W. Dürst Britt, komandan C-Divisie “7 December”, pun tak segan langsung turun ke Garoet untuk melakukan inspeksi. Bahkan sampai ke Pameungpeuk, meninjau lapangan terbang (Vliegveld) Pameungpeuk.

Mayor Jenderal Britt (kanan) sedang melakukan inspeksi pasukan di Garoet pada 23 Oktober 1947. (Judul foto: Garoet: Generaal Dürst Britt (rechts) op inspectiereis in het gebied, dat door de 3e Inf. Brig. wordt gezuiverd. In het midden de Brigade-Cdt. Kol. Lentz. Tahun: 23 Oktober 1947, Sumber: Gahetna. nl)

Mayor Jenderal Britt (kanan) sedang melakukan inspeksi pasukan di Garoet pada 23 Oktober 1947. (Judul foto: Garoet: Generaal Dürst Britt (rechts) op inspectiereis in het gebied, dat door de 3e Inf. Brig. wordt gezuiverd. In het midden de Brigade-Cdt. Kol. Lentz. Tahun: 23 Oktober 1947, Sumber: Gahetna. nl)

Mayor Jenderal Britt juga diketahui melakukan inspeksi ke Lapangan udara Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947(Jdul foto: Mevrouw Gideon in gesprek met generaal-majoor H.J.J.W. Dürst Britt op het vliegveld Pameungpeuk. Tahun: sekitar 1946-1950. Sumber: Gahetna.nl)

Mayor Jenderal Britt juga diketahui melakukan inspeksi ke lapangan udara (vliegveld) Pameungpeuk pada 24 Oktober 1947. (Judul foto: Mevrouw Gideon in gesprek met generaal-majoor H.J.J.W. Dürst Britt op het vliegveld Pameungpeuk. Tahun: sekitar 1946-1950. Sumber: Gahetna.nl)

***

Berdasarkan keputusan Perjanjian Renville, pasukan TNI dari Divisi Siliwangi harus meninggalkan wilayah Jawa Barat selambat-lambatnya pada Februari 1948. Belanda pun kemudian menguatkan posisi status quo-nya di Garoet.

3-14riboek

Sebuah buku peringatan ex serdadu yang pernah bertugas di Batalyon 3-14 RI. Nampak emblem pasukan Divisie “7 December”, 3e Infanterie Brigade Groep, dan Bataljon 3-14 RI.

Salah satu kesatuan Brigade Infantri ke-3 yang bertugas di Garoet adalah Bataljon 3-14 Regiment Infanterie. Batalyon ini dianggap berhasil menegakkan ketertiban dan keamanan di Garoet. Nah, merasa keamanannya terjamin selama periode November 1947 sampai Desember 1948, perusahaan-perusahaan perkebunan di Garoet memberikan batalyon ini penghargaan yang dinyatakan dalam sebuah piagam.

oorkonde_3_14_ri

Pada saat itu setidaknya terdapat 22 perkebunan besar di Garoet. Tertera pada piagam itu nama-nama perkebunan: Arinem, Bandjarwangi, Boenisari Lendra, Dajeuh Manggoeng, Giriawas, Goenoeng Badega, Juliana, Miramare, Nagara, Neglasari G. Gadjah, Papandajan, Selecta, Soemadra, Tjidatar, Tjikadjang Pamegatan, Tjilaoet, Tjisaroeni, Tjisompet, Tjondong, Waspada, Bangsasinga, dan G. Satria. Mereka jelas-jelas memihak aksi Belanda. Tak salah lagi, memang perang itu ujung-ujungnya adalah soal penguasaan ekonomi juga ternyata…

***

12 Agustus 2015

Hari ini 12 Agustus 2015, lima hari jelang tanggal 17 Agustus 2015. Tak banyak yang bisa saya tulis tentang riwayat lembur sendiri di masa perdjoangan doeloe. Aneh juga, tak banyak sumber sejarah sendiri yang bisa diakses publik dengan mudah. Rasanya ingin kembali mencorat coret dinding Rutan Garut itu dengan tulisan ini lagi: Teroes berdjoang oentoek keselamatan bersama…

[M.S]

Advertisements

6 thoughts on “Garoet dan Death NICA (1947)

  1. suka banget kalimat endingnya “Rasanya ingin kembali mencorat coret dinding Rutan Garut itu dengan tulisan ini lagi: Teroes berdjoang oentoek keselamatan bersama…”
    Emh.. da gening Garut kiwari mah gening kieu ayana…

    Like

  2. Pingback: Studio “Foto Lux” Garoet | Naratas Garoet

  3. Pingback: Telefoon | Naratas Garoet

  4. Pingback: Grafiti Komunis di Garoet (1947) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s