Jaman Caddy Golf Pake Kopeah: Ngamplang (1937)

Pada jaman sekolah dulu, sekitar tahun 1980-an, saat rumah orangtua masih di Kampung Sawahlega Desa Ngamplangsari – Cilawu, rasanya hampir tiap hari Minggu, pagi-pagi sekali, saya selalu menyempatkan untuk jogging ke Lapangan Golf “Flamboyan” di bukit Ngamplang. Bukan saya saja, sepanjang jalan Cimaragas sampai Ngamplang ngaleut orang berlari-lari kecil di tiap minggu pagi. Tapi saya lebih dari itu; sebenarnya saya lebih mengejar nikmatnya bubur kacang ijo dari salah satu pedagang yang ada di sana. Saat itu, di Ngamplang tersedia kolam renang, lapang tenis, dan lapang golf. Tapi tidak mungkin saya pagi-pagi renang di sana, dinginnya minta ampun. Juga tenis, karena memang tidak bisa mainnya; apalagi golf, olahraga yang mahal itu. Makanya, lebih enak makan bubur kacang ijo saja sambil lihat pemandangan ke arah kota Garut di bawah sana, sambil sesekali melirik orang-orang kaya yang lagi bersiap-siap main golf.

Pemandangan ke arah kota Garut dengan latar belakang kompleks gunung Guntur, dari ketinggian bukit Ngamplang. (Sumber: www.hoteldigarut.net)

Pemandangan ke arah kota Garut dengan latar belakang kompleks gunung Guntur, dari ketinggian bukit Ngamplang. (Sumber: http://www.hoteldigarut.net)

Baru tahu kemudian, doeloe sekali Ngamplang dengan segala fasilitas mewahnya adalah hotel yang tersohor sampai mancanegara pada jamannya: Hotel “Sanatorium” Ngamplang Garoet, peninggalan dokter dan pengusaha di jaman kolonial Belanda.

Salah satu brand Hotel Ngamplang doeloe.

Salah satu brand Hotel Ngamplang doeloe.

Tentang kemasyhuran hotel ini sudah banyak yang bahas, dan foto-foto eksotisnya pun sudah banyak yang upload. Karenanya, Naratas Garoet pernah membahasnya tapi selalu dengan sudut pandang yang lain, seperti dalam tulisan Batik Tulis Garoetan Motif “Sanatorium Garoet” (1918): Sebuah Mahakarya, juga Peta Kuno Wisata Keliling Garoet (Nederlandsch-Indische Hotelvereeniging, 1922).

***

Sebuah majalah khusus golf, juga dengan nama majalah “Golf”, yang dikatakan sebagai Officieel Orgaan van Het Nederlandsch Golfcomite, pada terbitan Tahun 1e No. 8, Tanggal 15 Oktober 1937, mengangkat tajuk tentang golf di Hindia Belanda (“Golf in Nederlandsch-lndië”). Tulisan utamanya dibuat oleh seorang kontributor bernama Mr. E. Veltman, yang merupakan Secretaris van de Tjandi Sports Club te Semarang.

Majalah "Golf" terbitan Tahun 1e No. 8, Tanggal 15 Oktober 1937.

Majalah “Golf” terbitan Tahun 1e No. 8, Tanggal 15 Oktober 1937.

Dikatakan dalam pengantar redaksi, bahwa keindahan golf ini, yang disebut sebagai permainan “de royal and ancient game”, secara antusias dimainkan pula di daerah tropis jajahan Belanda. Namun katanya, pemain golf orang Belanda di sana belum begitu banyak, dan salah satu sebabnya adalah kurangnya pelatih golf yang profesional.

Lanjut ke tulisan Mr. Veltman…

Dari tulisan Mr. Veltman ini kita bisa tahu sedikit tentang sejarah permainan golf di Hindia Belanda. Katanya, golf sudah dimainkan di Batavia sejak tahun 1872. Sementara itu, pada tahun 1895 didirikan klub golf pertama dengan nama de Tjandi Sports Club te Semarang. Namun, generasi awal permainan golf di Batavia ini masih sederhana. Saat itu, golf yang hanya dilakukan oleh expatriat asal Inggris itu dimainkan di lapangan Koningsplein (Lapangan Monas sekarang), yang jelas bukan lapangan golf sesungguhnya. Baru kemudian saja dibangun lapangan golf, yang berlokasi di Boekit Doeri, yang merupakan lapangan golf pertama di Hindia.

Foto udara Koningsplein (Lapangan Monas sekarang). Doeloe, di akhir abad ke-19, orang-orang Inggris "main golf" di sini sebelum dibangun lapang golf di Boekit Doeri. (Judul foto: Luchtfoto van het paleis van de Gouverneur-Generaal aan het Koningsplein Batavia, Tahun: 1925-1940, Sumber: Tropenmuseum)

Foto udara Koningsplein (Lapangan Monas sekarang). Doeloe, di akhir abad ke-19, orang-orang Inggris “main golf” di sini sebelum dibangun lapang golf di Boekit Doeri. (Judul foto: Luchtfoto van het paleis van de Gouverneur-Generaal aan het Koningsplein Batavia, Tahun: 1925-1940, Sumber: Tropenmuseum)

Nah, pada kisaran tahun 1937, di Hindia Belanda terdapat empat lapang golf yang penting: di Batavia, Soerabaia, Bandoeng dan Semarang. Di Batavia, berbeda dengan lapang Boekit Doeri, lapang golf yang punya 18 hole (lubang) baru dibangun di Rawamangoen, yang menggunakan jasa perusahaan arsitek lapang golf terkenal asal Inggris, Simpson & Co. Di Soerabaia juga lapang golf-nya punya 18 hole; sementara itu, di Bandoeng dan Semarang memiliki lapang golf 9 hole, pendek tapi menarik. Lapang golf yang bagus tapi kelasnya di bawah yang empat tadi, dengan 9 hole, ada di Buitenzorg, Tegal, Malang, Cheribon, dan Ngamplang (Garoet), sementara di Djember masih dalam tahap pembangunan.

Begitulah. (Saya harus bangga atau tidak, ya?) Garoet ternyata salah satu daerah yang pertama-tama punya sarana lapangan golf di Indonesia.

***

Di majalah “Golf” itu ada selanjutnya ditulis ulasan khusus tentang lapang golf di Ngamplang, Garoet, Golf te Ngamplang (bij Garoet). Berikut ringkasnya:

Hotel Ngamplang, berjarak 5 km dari Garoet, terletak di kaki gunung Tjikoray. Berada pada ketinggian 1000 meter, menawarkan, selain lapangan tenis dan kolam renang, lapangan golf yang sangat bagus. Dengan fasilitas olahraga lengkap, iklim yang sejuk dan pemandangan yang tak akan terlupakan oleh orang-orang langsung dari tiap kamar hotel serta dari lapangan golf ke arah lembah Garoet, dengan latar gunung berapi masih sebagian aktif seperti gunung Goentoer, Papandayan dan Tjikoray, telah membuat hotel ini salah satu yang paling dicari untuk liburan di Hindia Belanda.

Earlygolf_Page_23a

Pandangan ke arah pintu masuk Hotel Ngamplang. (Sumber: majalah “Golf”)

Earlygolf_Page_23b

Lapang golf Ngamplang, dengan latar belakang Gunung Tjikoray. (Sumber: majalah “Golf”).

Earlygolf_Page_23c

Dari kolam Lapang Golf Ngamplang, menyaksikan pemandangan ke arah lembah tempat kota Garoet terhampar, dengan latar Gunung Goentoer. (Sumber: majalah “Golf”)

Lapangan golf berbatasan langsung dengan bangunan hotel, dan terdiri dari 9 hole dengan panjang yang bervariasi antara 140-340 yard. Lapang golf Ngamplang mempunyai kontur yang berbukit-bukit, sangat terawat dengan baik, dan memiliki beberapa keunikan, antara lain, jurang yang dalam setinggi enam meter.

Keunggulan lapang golf Ngamplang antara lain, permainan golf di sana dapat dilakukan sepanjang tahun. Cuaca di daerah tropis sangat mendukung, karena selama 5 sampai 6 bulan per tahun praktis tidak ada hujan, sementara di bulan lain dari pagi sampai jam 1 siang rata-rata kering dan cerah. Kemudian, lokasi lapang yang berada di atas bukit ini membuat air dapat disalurkan melalui drainase yang alami, sehingga bahkan setelah hujan tropis yang deras sekalipun, lapangan tetap tidak tergenang.

***

Nah, yang unik lagi adalah mengenai caddy golf di Ngamplang doeloe. Kalau anda membayangkan mereka adalah gadis-gadis berparas cantik dengan “tampilan yang menggoda”, maka anda sepenuhnya salah. Mereka adalah anak-anak, laki-laki, dan pribumi. Berkopiah pula…

Coba saja anda lihat di foto-foto dari majalah “Golf” ini:

Earlygolf_Page_04Earlygolf22bEarlygolf_Page_22aEarlygolf22c

***

Sudah lama saya tidak pernah lagi lari pagi ke Ngamplang, faktor U. Bagaimana kondisinya sekarang, juga, caddy-nya seperti apa, saya tidak tahu. Tapi, kalau saja sekarang caddy golf di sana masih berkopeah seperti anak-anak itu, saya mungkin akan mempertimbangkan untuk ikut kursus golf…

[M.S]

Advertisements

One thought on “Jaman Caddy Golf Pake Kopeah: Ngamplang (1937)

  1. Pingback: Catatan Para Pelancong Doeloe (6): Charlie Chaplin dan Kenangan Guguling “the Dutch Wife” (1932) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s