Kekuatan Tersembunyi: Haji dan Garoet dalam Novel “De Stille Kracht” (1900)

Dalam https://nl.wikipedia.org/wiki/Garut ada ditulis kalimat seperti ini: Het station van Garoet wordt genoemd in het boek “De stille kracht” van Louis Couperus, yang kira-kira artinya: “stasiun Garoet disebut-sebut dalam buku “De Stille Kracht”-nya Louis Couperus”. Panasaran…

***

“De Stille Kracht” adalah novel berbahasa Belanda karya Louis Couperus yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1900. Sementara itu, terjemahan dalam bahasa Inggris, dengan judul “The Hidden Force”, menyusul terbit pada tahun 1920. Dan sudah juga tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia, dengan judul “Kekuatan Diam”, terbitan Kanisius, tahun 2011, seperti yang sekarang sedang saya baca.

Cover

Cover “De Stille Kracht” tahun 1900, dengan hiasan berupa pola batik.

Cover versi bahasa Inggris

Cover versi bahasa Inggris “The Hidden Force”, tahun 1992.

Cover versi bahasa Indonesia

Cover versi bahasa Indonesia “Kekuatan Diam”, Penerbit Kanisius, tahun 2011.

Tadinya, sebagaimana biasa, saya hanya ingin ngaguar apa yang ditulis dalam novel itu sejauh tentang Garoet saja. Tapi, mau tak mau, akhirnya harus pula nyinggung tentang siapa Louis Couperus dan novelnya ini secara umum…

Pertama tentang Louis Couperus. Saya kutip saja siapa Louis Courperus ini ringkasnya dari buku “Kekuatan Diam”. Ia, nama lengkapnya Louis Marie-Anne Couperus, adalah seorang novelis dan diakui sebagai salah seorang tokoh paling terkemuka dalam sastra Belanda. Karya-karyanya wajib dibaca di Belanda. Louis Courperus lahir di Den Haag, 10 Juni 1863, dibesarkan dalam sebuah keluarga bangsawan kaya, dan melewati sebagian masa remajanya di Hindia Belanda serta bersekolah di Batavia. Cicit dari Abraham Courperus, Gubernur Malaka Belanda di abad ke-18 ini meninggal di Den Steeg, Rheden pada 16 Juli 1923.

Louis Couperus (1863-1923)

Louis Couperus (1863-1923)

Tentang “De Stille Kracht” sendiri, penterjemah versi bahasa Indonesia novel ini, Christina Dewi Elbers, menulis dalam pengantarnya bahwa novel yang disebut-sebut sebagai salah satu karya agung pengarang Belanda Louis Couperus ini memotret kehidupan zaman kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Pengarang mengangkat pemikiran dan pandangan orang Belanda tentang masyarakat Jawa dan filosofinya, cara mereka menyikapi alam dan kekuatan yang ada di dalamnya, dan juga takhayul: kekuatan tersembunyi. Couperus seolah-olah sedang meramalkan kegagalan pemerintahan kolonial, yang walaupun secara administratif berkuasa, tapi tak mampu menaklukkan kekuatan spiritual masyarakat Hindia.

Novel ini bisa disejajarkan dengan “Max Havelaar” dalam mengungkapkan kebobrokan moral, kebaikan diri sendiri, dan sikap materialistis pemerintah kolonial Belanda. Dan novel ini menjadi lebih menarik bagi bangsa Indonesia, ketika Pramoedya Ananta Toer, berpuluh tahun kemudian, memotret kehidupan zaman kolonial sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dalam novelnya, dengan tokoh Minke yang mempertanyakan pemikiran dan pendidikan Belanda (Eropa).

Saya ringkaskan alur cerita “De Stille Kracht” seperti ini: Van Oudijck, residen di Laboewangi, nama fiktif yang digambarkan berada di Jawa Timur, adalah seorang yang idealis dan berusaha bertindak profesional sebagai pejabat pemerintahan (Binnelands Bestuur). Dalam upayanya “meningkatkan peradaban” masyarakat Jawa, ia menghadapi rintangan dari bangsawan Jawa yang menguasai pemerintahan pribumi. Ada salah satu bupati pribumi yang menjadi bawahannya, bupati Ngajiwa, yang dianggap tidak mampu menjaga kewibawaan pemerintahan, hingga diancam akan dipecat. Raden Ayu (ibu si bupati) memohon agar residen membatalkan pemecatan itu, tapi Van Oudijck tetap pada putusannya. Sejak itu, muncul gangguan-gangguan, mulai dari datangnya surat-surat kaleng sampai munculnya pemberontakan kecil. Lain dari itu, datang pula kejadian-kejadian gaib yang mulai dirasakan keluarga residen: sesosok bayangan haji bersorban putih yang menghantui, muncul suara-suara aneh, dan percikan ludah sirih, entah dari mana, pada tubuh istri residen, Leoni, saat di kamar mandi. Konflik di keluarga juga terjadi, sementara ketegangan residen dengan kalangan priyayi pribumi itu tidak semakin mereda. Perselingkuhan istrinya berujung pada perceraian. Van Oudijck akhirnya mundur dari jabatan residen dan menyembunyikan diri di Leles, Garoet, sampai kemudian terlacak juga keberadaannya oleh bekas anak buahnya, Eva. Van Oudijck menikahi anak dari seorang bekas mandor perkebunan, dan hidup sederhana di dekat situ Cangkuang. Van Oudijck menolak pulang ke Belanda.

Salah satu adegan dalam mini-seri

Salah satu adegan dalam mini-seri “De Stille Kracht”. (Sumber: anp-archief.nl)

Pada tahun 1974, novel ini pernah diangkat menjadi mini-seri di tv Belanda dengan judul yang sama (http://www.imdb.com/title/tt0071058/).

***

Saya tertarik dengan bagian akhir dari “De Stille Kracht” ini. Louis Couperus menggambarkan keadaan di sekitaran danau Leles, sangat mungkin maksudnya adalah situ Cangkuang. Juga, seperti yang diungkap di awal tulisan ini, tentang stasiun Garoet. Louis Couperus memang pernah mengunjungi Garoet, seperti yang ditulisnya dalam catatan perjalanannya, Oostwaarts (eds. H.T.M. van Vliet, J.B. Robert dan Gerard Nijenhuis (1992)).

Situ Cangkuang, Leles, sekitar tahun 1900. (Judul foto: Meer van Tjitjangkoewang bij Leles, West-Java, Sumber: KITLV)

Situ Cangkuang, Leles, sekitar tahun 1900. (Judul foto: Meer van Tjitjangkoewang bij Leles, West-Java, Sumber: KITLV)

Simak penceritaannya saat perjalanan Eva dari sebuah hotel di Garoet menggunakan delman menuju rumah Van Oudijck di Leles (ditulis: Lelles):

Dan mereka berjalan lama, melewati danau Lelles dimana kusir meminta perhatian Eva untuk danau itu: danau yang suci dan suram, dimana di atas dua pulau terbaring makam orang suci, makam yang sudah tua sekali. Sementara itu di atas ada kerumunan kalong, seperti sekimpulan awan gelap kematian, sebuah kerumunan kalong besar yang selalu berputar-putar, sambil mengepakkan sayap-sayap raksasa mereka dan sambil meneriakkan keputusasaan, berputar-putar: putaran hitam menentang langit biru cerah tanpa ujung di hari itu…

Eva yang tahu kejadian-kejadian gaib pernah menyerang keluarga residen Van Oudijck di Laboewangi, merasakan pula daya magis alam Garoet.

Dan semua itu begitu mencekam: danau yang keramat, kuburan yang keramat dan di atas sana sekumpulan setan hitam di angkasa biru cerah, karena apakah semua misteri dari Hindia tiba-tiba muncul, dan tidak lagi menyembunyikan diri di kekaburan, tapi tampak nyata di bawah matahari, mengesankan kemenangan yang mengancam…

Tak ada sihir dan hal-hal gaib di sini. Bayangan ketakutan menciptakan persepsi yang sejenis pula. Sebab, sejurus kemudian, pemandangan berubah.

Eva meneruskan perjalanannya dan dataran Lelles yang luas dan hijau dan ramah di depannya. Dan detik kemudian semua sudah berlalu: tidak ada lagi selain kemewahan hijau dan biru dari alam Jawa: misteri sudah pergi bersembunyi di antara rumpun bambu yang melambai dan halus, dan larut dengan biru samudra langit.

Kusir pelan-pelan menaiki jalan. Sawah berair yang berundak-undak seperti teras cermin menuju atas, hijau pupus dari batang padi yang ditanam dengan hati-hati; kemudian tiba-tiba muncul semacam bulevar yang kanan kirinya ditumbuhi pakis; pakis-pakis raksasa yang menjulang tinggi, dan kupu-kupu yang menggelepar berputar. Dan di antara bilah-bilah bambu tampak sebuah rumah tinggal yang kecil, setengah batu, setengah gedek, dengan kebun kecil di sekitarnya dengan beberapa pot putih bunga mawar…

Itu rumah Van Oudijck…

Pemandangan sawah-sawah di lembah Leles, sekitar tahun 1925. (Judul foto: Sawahs in de vlakte van Leles bij Garoet, West-Java, Sumber: KITLV)

Pemandangan sawah-sawah di lembah Leles, sekitar tahun 1925. (Judul foto: Sawahs in de vlakte van Leles bij Garoet, West-Java, Sumber: KITLV)

Louis Couperus sepertinya ingin memperlihatkan kegagalan orang Eropa, yang dididik berpikir rasional dan tidak mempercayai takhayul itu, untuk memahami fenomena ganjil, sebuah “kekuatan tersembunyi” yang tampak “nyata” di Jawa. Pada Eva, Van Oudijck mencurahkan ketidakmengertiannya itu:

“…Saya telah melawannya dengan baik, tapi kekuatan saya kalah. Tapi hal itu tak teratasi. Saya tahu benar: itu adalah Bupati. Ketika saya mengancamnya, hal itu berakhir. Tapi, ya Tuhan, katakan pada saya, Nyonya, apakah itu? Apakah Anda tahu? Tidak, bukan? Tidak ada, tidak pernah ada yang tahu. Malam-malam yang mengerikan, suara-suara yang tak dapat dijelaskan di atas kepala saya; malam itu di kamar mandi dengan mayor dan perwira yang lain. Toh hal itu bukan khayalan. Kami melihatnya, kami mendengarnya, kami merasakannya: Sesuatu menimpa kami, meludahi kami: seluruh kamar mandi penuh ludah sirih!! Orang lain yang tidak mengalaminya, dapat dengan mudah mengingkarinya…”

“…dan itu membawa saya sampai di sini…”

Tapi, Van Oudijck tak mau balik ke Belanda. Ia sudah merasa nyaman di Leles. Katanya, “Dan ini begitu bagus: di sini saya pensiun, minum kopi enak dan mereka mengurus seorang laki-laki tua dengan baik.” Van Oudijck merasa tanah Hindia sudah memilih dirinya untuk tinggal dan mati di sana.

***

Saat mengantar Eva kembali ke Garoet, yang akan melanjutkan perjalanan ke Batavia, Van Oudijck melihat rombongan haji yang baru pulang dari Mekah turun di stasiun kereta api. Stasiun ini yang disebut dalam Wikipedia itu.

Kereta kuda itu berjalan dan melewati sebuah stasiun kereta api kecil. Dan di wilayah yang biasanya begitu sunyi itu, menjadi aneh, karena seluruh penduduk, kerumunan beragam orang Sunda, mengalir bersama ke stasiun kecil itu, memandang dengan penuh keingintahuan ke sebuah kereta lambat yang mendekat, dengan asap hitam yang mengepul di antara pohon-pohon bambu. Semua mata terbuka lebar, bagaikan mengharapkan kebahagiaan dari pandangan pertama, bagaikan sebuah harta bagi jiwa mereka, dari kesan pertama yang akan mereka terima.

“Itu adalah kereta dengan haji-haji baru,” kata Van Oudijck, “semua rombongan Mekah yang masih baru…”

Stasiun kereta api Garoet, dibuka pada tahun 1926, dan berhenti beroperasi pada tahun 1983.

Stasiun kereta api Garoet doeloe. Pada tahun 1983 berhenti beroperasi.

Ya, Louis Couperus menutup novelnya ini dengan perpisahan Eva dan Van Oudijck, di tengah-tengah kerumunan haji-haji yang baru tiba dan lautan orang-orang yang menyambutnya, di stasiun Garoet.

Kereta berhenti, dan dari gerbong panjang kelas tiga, secara khidmat, lambat, penuh kesucian, dan sadar akan nilai mereka, turunlah haji-haji itu, dengan sorban kuning dan putih meriah di kepala mereka, dengan mata mereka berkilat-kilat bangga, bibir ditutup rapat dengan angkuh, dalam jas-jas baru mengkilap, pakaian panjang kuning keemasan dan keungu-ungan yang jatuh menjuntai hampir mencapai kaki. Dan, suara-suara terpesona, terkadang diikuti oleh pekikan tinggi dari ekstase yang ditekan, mendorong kerumunan itu lebih jauh, membanjiri pintu-pintu keluar sempit dari gerbong-gerbong kereta yang panjang itu. Para haji, dengan khidmat, turun. Dan saudara-saudara dan teman-teman mereka berebut menggapai tangan-tangan mereka, pinggiran pakaian panjang kuning keemasan dan keungu-unguan mereka, dan mencium tangan suci itu, jubah suci itu, karena telah membawakan sesuatu untuk mereka dari Mekah yang suci. Mereka berebutan sengit, saling mendorong di sekeliling haji-haji itu, agar dapat menjadi yang pertama kali memberikan ciuman. Dan para haji itu, dengan angkuh, percaya diri, tampat tak melihat perjuangan itu, dan terutama tenang dan sangat khidmat di tengah-tengah pertentangan itu, di tengah-tengah gelombang dan kerumunan yang berseru-seru itu, dan membiarkan tangan mereka, membiarkan pinggiran jubah mereka diciumi secara fanatik oleh siapa saja yang mengikuti mereka.

Ada rasa takjub, terpesona… tapi, mereka juga merasakan sesuatu yang “tak terkatakan”: kekuatan tersembunyi. Louis Couperus secara simbolis menulisnya sebagai “sosok putih besar yang muncul di atas kerumunan”.

Dan pada saat merasakannya, bersamaan dengan kesedihan dari perpisahan mereka, yang sudah di depan mata, mereka tak melihat, di tengah-tengah kerumunan yang mengombak dan mengalun, bagai gerakan hormat haji-haji berpakaian kuning dan keunguan yang baru kembali dari Mekah – mereka tak melihat sosok putih besar yang muncul di atas kerumunan…

***

Membaca gambarannya tentang haji-haji ini, saya merasa Louis Couperus sedang mengungkapkan “kekuatan tersembunyi” yang sebenarnya dari masyarakat Jawa saat itu, yaitu: kekuatan Islam, yang tersimbolkan dengan haji. Ini yang sesungguhnya terus menghantui kolonialisme itu, lebih menakutkan dari sekedar kuntilanak, genderuwo, dan ludah sirih.

Bagaimana pun, haji ditengarai tak hanya menandakan ketaatan beragama, tapi juga kekuatan ekonomi dan solidaritas. Mudah-mudahan haji di masa sekarang juga begitu, sanes kitu pak haji?

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s