Kisah Sinyo Tjibatoe: Fried Muller (1936-1939)

“Sinyo” adalah panggilan yang berarti “anak muda” dalam bahasa Melayu, yang diserap dari bahasa Portugis. Selain untuk anak-anak bule totok, panggilan “Sinyo” juga biasa digunakan untuk anak-anak Indo, yang berdarah campuran Eropa dan pribumi. Dan tidak ada yang memanggil saya “Sinyo”, karena memang bukan Indo. Kalau Johny Indo, yang bernama asli Johanes Hubertus Eijkenboom, mantan narapidana terkenal itu, memang benar-benar seorang Indo, sinyo asli kelahiran Garoet, 6 Nopember 1948. Saya mah bukan.

Dan ini kisah tentang masa kecil Fried Muller, seorang sinyo, di Tjibatoe, sekitar tahun 1936 sampai 1939. Saya cuplik bagian masa kecil dia saat tinggal di Tjibatoe, dari tulisan Fried Muller yang berjudul “Kisah Seorang Sinyo”, dengan beberapa keterangan yang saya tambahkan dari sumber lain yang relevan. Tentu mesti dipahami, cerita sinyo Fried ini adalah cerita dia yang mencoba mengkonstruksi masa kecilnya. Artinya, banyak segmen kehidupannya yang dipahami dengan cara pandang pada saat ia dewasa. Ambil saja satu contoh, tentang pemahamannya mengenai kehidupan beragama orang Tjibatoe yang dianggap fundamentalis. Pada saat kanak-kanak, tentu bocah Fried ini tidak mungkin punya kesimpulan demikian.

***

Tentang Silsilah

Fried Muller lahir di Purwakarta tanggal 9 September 1933. Anak laki-laki dari Lodewijk Muller dan Paula van Dietz. Pindah ke Tjibatoe pada tahun 1936 dan mulai sekolah di Taman Kanak-kanak Tionghoa di Garoet. Lodewijk Muller adalah seorang masinis kereta api, dan waktu itu ditempatkan di Tjibatoe. Selain sebagai masinis, Muller senior ini tampil juga sebagai tenaga mekanik di bengkel bersama rekan-rekannya saat perbaikan lokomotif.

Ayah Fried, Lodewijk Muller (memegang topi), bersama rekan-rekannya. (Sumber: Fried Muller)

Ayah Fried, Lodewijk Muller (memegang topi), bersama rekan-rekannya. (Sumber: Fried Muller)

Fried punya kakak lelaki bernama Ries dan adik perempuan, Reina.

Kakak-beradik Ries dan Fried Müller, mengapit Ernst Frank, teman dan tetangga mereka. (Sumber: Fried Muller)

Kakak-beradik Ries dan Fried Müller, mengapit Ernst Frank, teman dan tetangga mereka. (Sumber: Fried Muller)

Fried Muller lahir dari keluarga berdarah campuran. Ia seorang Indo. Kakek buyutnya dari pihak ayahnya adalah seorang Jerman bernama Gottfried Müller, berasal dari Bavaria. Sekitar tahun 1876, kakek buyutnya itu pindah ke Hindia Belanda, dan “mempunyai” seorang perempuan pribumi. Kata Fried, “tidak jelas apakah sudah dinikah, tetapi aku asumsikan tidak.” Jadi, nenek buyut Fried ini seorang “Nyai”. Ingatan saya langsung tertuju pada nama Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer.

Namun demikian kakeknya memperoleh nama keluarganya, Muller, yang berarti kakek-buyut telah mengakui anak laki-laki yang lahir secara alamiah sebagai anaknya, dan dia telah didaftarkan di balaikota Depok. Dari pihak ibu, Fried Muller juga mewarisi darah campuran, darah Belgia dan pribumi.

Foto keluarga besar Opa dan Oma Muller, tahun 1913. (Sumber: Fried Muller)

Foto keluarga besar Opa dan Oma Muller, tahun 1913. (Sumber: Fried Muller)

Rupanya, asal usul darah ini penting artinya di daerah koloni Hindia Belanda dulu. Kata Fried, “Kami yang memiliki nenek moyang Jerman, dianggap sebagai kelompok superior. Mengapa, kami tidak tahu, tetapi begitulah kami diberitahu.”

“Aku sendiri bimbang. Aku tidak bisa membayangkan bahwa kedudukan saya lebih unggul dari semua teman dan dari semua orang Indonesia. Waktu itu aku juga tidak bisa mengerti, tetapi saat itu orang-orang dipisah-pisah berdasar asal-usulnya, dan itulah tempat Anda dalam masyarakat kolonial.”

Namun, kelompok berdarah campuran, terlebih yang mewarisi kulit yang lebih gelap, mengalami pula diskriminasi dalam struktur masyarakat kolonial. Anak-anak campuran memang seringkali sangat tampan, “lebih bagus dari orang tuanya”. Namun dalam sistem kolonial, mereka otomatis didiskualifikasi dari kedudukan-kedudukan tertinggi karena tidak berdarah Eropa murni. “Di mata orang Eropa, anda tetap dianggap sebagai kulit berwarna meskipun anda kawin resmi dengan pegawai negeri tingkat tertinggi. Ini adalah aturan hidup tak tertulis di koloni seperti Hindia,” kata Fried.

“Oleh karena itu pertanyaannya adalah: kami ini orang Indonesia campuran atau Belanda campuran. Menurut perasaanku, kami termasuk kelompok pertama. Sebanyak yang menyangkut karakter, kami lebih tergolong pada keluarga (“clan“) Asia.

Kami di rumah dan di sekolah sering diindoktrinasi bahwa kami lebih cerdas daripada orang Indonesia. Aku sampai sekarang tak tahu mengapa selalu dibandingkan dengan orang Indonesia, sedangkan kami secara visual dan budaya lebih dekat ke grup ini daripada ke grup Belanda.

Jika aku ditanya siapa aku sebenarnya, aku selalu mengatakan bahwa aku adalah orang Indonesia dan aku bangga dengan jawaban itu.”

***

Tentang Tjibatoe

Stasiun Tjibatoe tahun 1918. (Judul foto: Treinen op het station van Tjibatoe, West-Java, Tahun: 1918, Sumber: Tropenmuseum)

Stasiun Tjibatoe tahun 1918. (Judul foto: Treinen op het station van Tjibatoe, West-Java, Tahun: 1918, Sumber: Tropenmuseum)

Dalam bayangan Fried, Tjibatoe adalah sebuah desa kecil yang terletak di persimpangan jalan kereta api Bandung-Yogyakarta dan juga menuju Garut. Dalam hal perkeretaapian, Tjibatoe adalah tempat yang penting. Di sini kereta-kereta api dengan lokomotif uap ditukar. Kereta api tujuan Bandung dipasangi lokomotif gunung, dan kereta dari Bandung ke Yogyakarta mendapat lokomotif pelari cepat untuk tanah datar.

Locomotif CC5003, si pelari cepat. (Sumber: Fried Muller)

Locomotif CC5003, si pelari cepat. (Sumber: Fried Muller)

Di sana ada bengkel tempat lokomotif-lokomotif diservis atau diperbaiki. Di tempat itu ada juga meja putaran besar tempat lokomotif-lokomotif dapat diputar arahnya. Jika ada dua lokomotif perlu diubah-arahkan secara berturut-turut untuk menarik kereta api berat di pegunungan atau menarik kereta api panjang ke Yogya, maka bagian depannya perlu dihadapkan ke arah yang benar. Hal ini untuk mencegah supaya masinis dan tukang penuang batu bara di lokomotif kedua tidak terbakar badannya kalau kabin tempat kerjanya terbuka menghadap ke arah yang salah.

Tjibatoe juga merupakan tempat dari mana dikirimkan semua produk perkebunan-perkebunan teh, kopi dan kina di sekitar Garoet ke kota-kota besar yang ada pelabuhannya.

Sebuah kendaraan di stasiun Tjibatoe. (Judul foto: Een auto naast het treinstation te Tjibatoe bij Garoet, Tahun: 1930, Sumber: KITLV)

Sebuah kendaraan di stasiun Tjibatoe. (Judul foto: Een auto naast het treinstation te Tjibatoe bij Garoet, Tahun: 1930, Sumber: KITLV)

Foto kendaraan paket teh kiriman Perkebunan Tjiboegel di Tjibatoe. (Judul foto: Het transport door de Cultuur Maatschappij Tjiboegel van thee voor de Koninkijke Paketvaart Maatschappij te Tjibatoe bij Garoet, Tahun: sekitar 1930, Sumber: KITLV)

Foto kendaraan paket teh kiriman Perkebunan Tjiboegel di Tjibatoe. (Judul foto: Het transport door de Cultuur Maatschappij Tjiboegel van thee voor de Koninkijke Paketvaart Maatschappij te Tjibatoe bij Garoet, Tahun: sekitar 1930, Sumber: KITLV)

Tjibatoe saat itu terdiri dari sebuah stasiun kecil dengan lapangan kecil yang bulat di depan stasiun, dan agak jauh ada sebuah jalan panjang dengan deretan rumah-rumah tinggal para pekerja kereta api.

“Kami tinggal di sebuah rumah milik jawatan kereta api di satu-satunya jalan di Tjibatoe di antara para pekerja kereta api lainnya. Seingat saya di sana hanya tinggal orang-orang yang bekerja di jawatan kereta api. Di ujung jalan ada toko-toko kecil dan pasar. Toko yang terbesar milik Kung Ju Lung, seorang Cina. Di belakang pasar terletak kampung.”

Saat itu, tidak ada listrik di Tjibatoe, dan di malam hari dinyalakan lampu-lampu petromax (dengan penyala spiritus). Tetapi jaringan telepon sudah masuk, sejajar dengan keberadaan rel kereta api.

Pemandangan pesawahan di Tjibatoe. (Judul foto: Rijstvelden in de omgeving van Tjibatoe bij Garoet, Tahun: antara 1920-1940, Sumber: KITLV)

Pemandangan pesawahan di Tjibatoe. (Judul foto: Rijstvelden in de omgeving van Tjibatoe bij Garoet, Tahun: antara 1920-1940, Sumber: KITLV)

Fried menggambarkan rumah-rumah pekerja kereta api di sana: berupa sebuah bangunan utama dari batu, dan bangunan samping tempat para pembantu rumah tinggal. Dapur, kamar mandi dan toilet juga ada di sana. Banyak rumah di daerah tropis berbentuk demikian. Rumah-rumah tembok batu bata dan ubin berwarna merah. Bangunan utama kebanyakan terdiri dari sebuah ruang makan/duduk, tiga kamar tidur dan ruangan tamu terbuka yang biasanya untuk duduk-duduk atau pada saat ada pesta digunakan sebagai ruang dansa. Untuk ruang masuk kami pasang korden dari anyaman pandan, yang tergantung sampai ke atas lantai, dan bahkan sebagian tergeletak santai di lantai.

“Semua tamu dan kenalan diterima di ruang tamu. Ibu-ibu tetangga suka di sini pada hari-hari main kartu dan bergosip pagi hari. Kalau paman-pamanku datang, di situ kami selalu makan atau main musik, dan menjadi ruang budaya.”

Rumah keluarga Muller di Tjibatoe. (Sumber: Fried Muller)

Rumah keluarga Muller di Tjibatoe. (Sumber: Fried Muller)

Di belakang rumah dipelihara banyak bebek, ayam, angsa, dan juga seekor anak kambing. Angsa-angsa dipakai sebagai anjing penjaga melawan pencuri dan ular.

Tjibatoe saat malam sepi sekali. Kata Fried: “Sejauh yang aku ingat, di Tjibatoe tidak ada penjual sate atau mie seperti di kota-kota besar, tempat berbagai penjaja makanan menjual dagangannya setelah pukul 6 sore di sepanjang perumahan. Lewat pukul 6 sore suasana jalanan depan rumah kami di Tjibatoe biasanya mati. Di belakang rumah kami juga ada jalanan, namun aku tidak pernah tahu menuju ke mana jalan itu. Di situ selalu sepi sekali.” Karena itu, tak heran jika banyak penghuni yang memiliki pistol (schrootgeweer) di rumahnya.

Keluarga Fried rupanya kurang taat dalam hal agama. Katanya: “Mengenai gereja, saat itu kami tak pernah mendengarnya, apalagi mengunjunginya. Di rumah kami tidak pernah berbicara tentang gereja atau agama. Terlebih lagi, tak ada tempat atau jalan di sekitar Tjibatoe di mana dapat ditemukan gereja. Sungguh mengherankan, masjid juga tak ada meskipun penduduk setempat sangat fanatik dalam berkepercayaan.” Sepertinya memang Fried tidak pernah bermain dari lingkungan dekat stasiun ke arah alun-alun Tjibatoe. Kenyataannya, di Tjibatoe telah berdiri Mesjid Agung, dan tercatat terdapat perayaan “pasar malam” memperingati ulang tahun Ratu Juliana, yang tidak pernah disinggung-singgung dalam catatan Fried ini.

Mesjid Tjibatoe, 1925. (Judul Foto: Moskee te Tjibatoe ten noorden van Garoet, Tahun: sekitar 1925, Sumber: KITLV)

Mesjid Tjibatoe, 1925. (Judul Foto: Moskee te Tjibatoe ten noorden van Garoet, Tahun: sekitar 1925, Sumber: KITLV)

Pasar malam di Tjibatoe, memperingati ulang tahun Ratu Juliana. (Judul Foto: Pasar malam ter gelegenheid van de 3e verjaardag van prinses Juliana te Tjibatoe ten noorden van Garoet, Tahun: 30-04-1912, Sumber: KITLV)

Pasar malam di Tjibatoe, memperingati ulang tahun Ratu Juliana. (Judul Foto: Pasar malam ter gelegenheid van de 3e verjaardag van prinses Juliana te Tjibatoe ten noorden van Garoet, Tahun: 30-04-1912, Sumber: KITLV)

Jalanan di waktu itu sempit-sempit dan dipakai oleh para petani yang membawa barang-barangnya ke pasar untuk dijual. Barang-barang dagangan itu kebanyakan ditempatkan dalam keranjang-keranjang yang dikaitkan di ujung pikulan bambu dan dipikul di atas pundak mereka. Hampir tiap minggu keluarga Fried pelesiran ke situ Bagendit, melewati jalan-jalan ini.

“Pada hari Minggu kami sering pergi ke danau Bagendit yang terletak begitu indah di sela-sela pegunungan. Atau pergi ke Tjipanas yang ada sumber air panas dan sebuah kolam renang kecil beratap dengan air hangatnya yang jernih berbau belerang. Seluruh daerah tempat kami tinggal sangat vulkanis, dan dimana-mana ditemukan sumber air panas.”

Ibu dan tante Muller pulang berburu. (Sumber: Fried Muller)

Ibu dan tante Muller pulang berburu. (Sumber: Fried Muller)

Tentang budaya orang Tjibatoe, Fried menyoroti kentalnya kepercayaan yang takhayul. “Kami tahu dari omongan bahwa penduduk setempat adalah orang-orang Islam yang taat tetapi juga percaya tahayul, seperti juga semua orang di Indonesia.”

***

Tentang Masa kanak-kanak

Fried kecil sekolah di taman kanak-kanak Cina di Garoet. “Aku ingat bahwa tak satu kata pun kupahami dari apa yang dikatakan dan dibicarakan. Kerjaku banyak menempel-nempel dan mewarna-warnai,” kata Fried mengenang sekolahnya dulu.

Fried berangkat sekolah bersama kakaknya, Ries, yang sudah duduk di sekolah dasar. Mereka berangkat pukul 7 pagi, naik kereta api ke Garut. Kebiasaan Fried, di setasiun membeli semacam wafel, kue pukis (kue berbentuk pukis yang terbuat dari santan kelapa) untuk dimakan selama perjalanan di kereta. “Aku sangat menyukainya, dan itu menjadi kebiasaanku tiap pagi. Tanpa wafel ini aku tak akan naik kereta,” katanya.

Mereka diantar oleh seorang jongos (pembantu rumah). Perjalanan makan waktu hampir satu jam. Pukul 4 sore kami melaju pulang, dan perjalanan makan waktu hanya setengah jam karena jalanan menurun.

Sepertinya, yang paling berkesan bagi Fried kecil ini adalah main layang-layang. Ia diajari oleh tukang kebun. Fried masih ingat bagaimana cara membuat layangan, benang gelasan, ngadu layangan, dan menjahili benang layangan orang lain yang melintang di kebunnya.

“Daerah tempat kami tinggal merupakan tempat aduan layang-layang. Begitu mengasyikkan, dan aku bisa masa bodoh dengan pekerjaan yang lain demi bermain layang-layang. Setelah lewat masa layangan, aku sendiri bisa membuat layang-layang yang indah, bahkan sekarang juga masih bisa.”

Selain layangan, Fried juga ternyata belajar pencak silat. Ayahnya sengaja menyewa seorang pelatih pria dan sekali seminggu Muller bersaudara diajari pencak silat selama setengah jam. Fried merasa beruntung belajar pencak silat. Saat sekolah dasar, kadang anak baru ditantang berkelahi, katanya, dan ini jadi sangat berguna. Tak ada lagi yang mau mencoba menantangnya lagi.

Fried dan Reis. (Sumber: Fried Muller)

Kaka beradik Fried dan Ries. (Sumber: Fried Muller)

Satu hal lagi, Fried sangat dekat dengan pembantu-pembantu rumah yang orang pribumi. Keluarga Fried punya 3 orang pembantu. Dari ceritanya, ada seorang tukang masak, seorang “babu cuci”, dan seorang tukang kebun. Dan Fried menampilkan mereka sebagai orang-orang yang baik dan rajin. Terlebih “babu cuci”, yang menjadi tempat pelarian ketika Fried “dihukum” ibu atau tante-tantenya. “Dia melebihi ibuku sendiri. Aneh rasanya bila menceritakan hal itu, tetapi begitulah aku tumbuh, karena dialah yang selalu memberiku makan dan asuhan. Kalau ada bahaya dialah tempatku berlindung,” kata Fried. Babu cuci pula yang mengajari Fried bahasa Melayu, juga yang memberi panggilan “sinyo”.

“Kami mempunyai tiga orang pelayan seperti halnya di Indonesia dan di negara-negara tetangga, setiap keluarga yang berada mempunyainya, dan begitu juga kami. Ini tidak ada hubungannya dengan kolonialisme, karena orang-orang Cina dan Indonesia juga mempunyainya, itu adalah gaya hidup tropis.

Itu adalah kebiasaan hidup yang normal. Hakekatnya itu adalah kebiasaan sosial, karena pembantu rumah kebanyakan termasuk dalam kelompok termiskin dalam masyarakat, dan dengan mempekerjakan mereka maka Anda memberi mereka makan setiap hari dan pada akhir bulan sejumlah uang dan saat Lebaran, yaitu periode setelah Ramadhan, mereka mendapat uang untuk membeli pakaian baru dan hadiah untuk keluarganya.

Dari ayahku mereka menerima tiket kereta api sehingga mereka dapat melakukan perjalanan ke keluarga mereka naik kereta api. Jika mereka tidak mempunyai keluarga, maka mereka tetap tinggal di rumah dan pergi dengan kenalan-kenalan dan teman-teman mereka yang bekerja di tetangga-tetangga kami ke tempat-tempat perayaan.”

***

Ketika Jepang datang, Tjibatoe sempat menjadi penampungan sementara tawanan perang (POW) sebelum diangkut ke Garoet, kemudian ke Tjimahi atau Bandoeng (lihat Hari-hari Tawanan Jepang di Garoet Tahun 1942: Gerrit Jan Van Dam). Ayah Fried Muller juga sempat ditangkap Jepang, bukan di Tjibatoe, tapi saat di Yogyakarta. Kemudian ibunya juga. Baru pada bulan Agustus 1945, mereka bisa berkumpul kembali.

Kartu identitas ayah Muller sebagai tawanan Jepang. (Sumber: Fried Muller)

Kartu identitas ayah Muller sebagai tawanan Jepang. (Sumber: Fried Muller)

***

Cerita ini bersumber dari tulisan Fried Muller sendiri, yang selengkapnya bisa anda akses versi bahasa Indonesianya di link http://serveam.com/memoires/fried1id.htm. Sangat kebetulan, masa kanak-kanaknya sempat di Tjibatoe. Dan ternyata, dimana-mana anak-anak sama saja, dunia mereka adalah bermain. Mudah-mudahan masa kecil anda juga…

[M.S]

Advertisements

One thought on “Kisah Sinyo Tjibatoe: Fried Muller (1936-1939)

  1. Pingback: Tjan Tian Soe | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s