Panji Wulung (dan Sejumput Doa untuk Kelanggengan Penjajahan)

Seja nyaba ngalalana

ngitung lembur ngajajah milangan kori

henteu puguh nu dijugjug

balik Paman sadaya

nu ti mana tiluan semu rarusuh

lurah begal ngawalonan,

aing ngaran Jayapati.

Masih ingat bait-bait di atas? Itu salah satu pupuh yang masih melekat dalam ingatan saya dari pelajaran basa Sunda di sekolah dasar: pupuh pangkur. Bait-bait pupuh pangkur yang saya kutip itu ternyata merupakan bagian dari Wawacan Panji Wulung, saat menceritakan Panji Wulung dalam pengembaraannya itu bertemu dengan Jayapati, seorang “raja” begal.

Jadi, walaupun namanya kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan di kota Garut, Panji Wulung itu nama tokoh cerita dalam Wawacan Panji Wulung, bukan tokoh sejarah. Bagi penikmat kuliner, mungkin Panji Wulung hanya identik dengan lotek karena di jalan Panji Wulung itu ada penjual lotek yang recommendedHehe

Wawacan Pandji Woeloeng terbitan pertama kali, Tahun 1871. Sumber: Semangat Baru (2013)

Wawacan Pandji Woeloeng terbitan pertama kali, Tahun 1871. Sumber: Semangat Baru (2013)

Supaya tidak melantur jauh ke masalah lotek, saya kutipkan saja ringkasan cerita dalam Wawacan Panji Wulung sebagaimana ditulis oleh Mikihiro Moriyama dalam buku Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19 terbitan Komunitas Bambu, April 2013:

Kerajaan Sokadana aman sentosa. Sang raja jatuh cinta pada salah seorang selirnya. Namun, karena persekongkolan ratu yang berhati dengki, hampir saja raja menghukum mati selir itu. Selir selamat berkat pertolongan patih yang setia, dan tak lama kemudian melahirkan seorang anak laki-laki di tempat persembunyiannya. Bayi itu diberi nama Panji Wulung dan dididik oleh patih hingga akil balig.

Pada suatu waktu Panji Wulung berkelana ke beberapa tempat, dan berkesempatan berkenalan dengan para penguasa-penguasa setempat berkat kelebihan lahiriah dan batiniah yang dimilikinya. Akhirnya Panji Wulung sampai di Cempa. Di sana ia menyelamatkan seorang putri Kerajaan Cempa dari cengkeraman seorang pelatih gajah di hutan. Panji Wulung jatuh cinta kepada sang putrid, dan Raja Cempa memberi restu kepada mereka untuk menikah. Setelah raja mangkat, Panji Wulung diangkat menjadi penggantinya, sesuai dengan wasiat almarhum.

Patih Sokadana setia mengunjungi Panji Wulung di Cempa, sedangkan Panji Wulung selalu mengunjungi ayah kandungnya di Sokadana hingga tahulah si ayah, Raja Sokadana, bahwa Panji Wulung adalah anak kandungnya sendiri. Anak lelaki patih menerima balas budi dari raja Sokadana atas kesetiaan yang ditunjukkan oleh ayahnya.

Panji Wulung balik ke Cempa setelah berhasil memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Patih Cempa yang tidak setia. Kerajaan Cempa dan Sokadana hidup makmur dan damai.

Sekarang, Wawacan Panji Wulung tinggal namanya saja sebagai karya sastra besar. Dulu memang demikian terkenal. Wawacan Panji Wulung diedarkan dan dikenal di Jawa Barat pada 1920-an dan 1930-an, lebih dari 50 tahunan sejak buku itu terbit pertama kali pada 1871. Edisi terbaru wawacan diterbitkan pada 1990 yang diedit oleh Ajip Rosidi, kritikus sastra Sunda terkemuka. Mikihiro Moriyama menulis, bahwa Ajip Rosidi pernah mengeluhkan generasi muda yang tidak mengenal lagi Wawacan Panji Wulung, apalagi pernah membaca teksnya. Termasuk saya…

***

Naskah Wawacan Pandji Woeloeng, koleksi K.F. Holle. (Sumber: Semangat Baru (2013)

Naskah Wawacan Pandji Woeloeng, koleksi K.F. Holle. (Sumber: Semangat Baru (2013)

Wawacan Panji Wulung ini dikarang oleh R.H. Moehamad Moesa pada 1869 dan diterbitkan pertama kali oleh Landsdrukkerij pada 1871. Dalam situs resmi Pemkab Garut (www.garutkab.go.id) ditulis bahwa R.H. Moehamad Moesa adalah Penghulu Kabupaten Limbangan. Ia lahir tahun 1822, merupakan keturunan ningrat, sebab ayahnya Patih Kabupaten Limbangan. Sejak kecil sudah pergi ke Mekah sambil mempelajari agama Islam. Tahun 1855 ia diangkat menjadi Hoofdpenghulu (Penghulu Besar) Kabupaten Limbangan.

R.H. Moehamad Moesa, koleksi KITLV. Sumber: Semangat Baru (2013).

R.H. Moehamad Moesa, koleksi KITLV. Sumber: Semangat Baru (2013).

R.H. Moehamad Moesa meninggal pada tanggal 10 Agustus 1886 di Bogor. Ia meninggalkan anak dan cucu yang kemudian menjadi orang terkenal di Priangan, diantaranya: R.A. Lasminingrat (tokoh pendidikan wanita), dan Adipati Suria Karta Legawa (Bupati Garut).

Kata Mikihiro Moriyama, dalam komunitas masyarakat tradisional, penghulu memainkan peran penting. Namun, ketika penghulu diintegrasikan ke dalam sistem administrasi bentukan Belanda, peran agama dan politik mereka dibatasi. Pemerintah kolonial memanfaatkan peran tradisional penghulu untuk memelihara orde kolonial jika mereka setuju untuk bekerjasama dengan Belanda. Sebagai hoofdpenghulu, Moesa menerima gaji yang malah lebih besar dibanding gaji seorang bupati atau patih. Boleh dikata, Hoofdpenghulu Limbangan adalah seorang yang berkuasa dan kaya pada masa itu.

Dalam situs Pemkab Garut itu, R.H. Moehamad Moesa ini dianggap tokoh sejarah Garut. Layakkah?

***

R.H. Moehamad Moesa dianggap sebagai pengarang dalam bahasa Sunda yang terkemuka, yang pada jamannya membuka era baru dalam kesastraan Sunda. Pembawa “semangat baru” dalam kesastraan Sunda abad ke-19 itu adalah orang Garoet: kebaruan dalam gagasan, format, dan media. Ringkasnya, R.H. Moehamad Moesa penebar modernitas awal kesastraan Sunda. Mungkin gagasan-gagasan baru ini timbul dari diskursus dengan sahabatnya, Karel Frederik Holle (K.F. Holle), pemilik Perkebunan Teh Waspada di Cikajang, yang juga peminat budaya Sunda.

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Semangat Baru (2013)

Foto R.H. Moehamad Moesa, koleksi keluarga. Sumber: Semangat Baru (2013)

K.F. Holle, dikenal penduduk sekitar perkebunan sebagai Tuan Hola, ternyata tidak sekedar sahabat dan teman diskusi yang hangat bagi R.H. Moehamad Moesa. Mikihiro Moriyama menulis, K.F. Holle bukan hanya bersenang-senang dengan sahabat Sundanya itu, tetapi ia juga memanfaatkan Moesa sebagai seorang informan yang penting dalam urusan-urusan yang berhubungan dengan masyarakat Sunda, sehingga nasihatnya dalam penyelesaian masalah-masalah politik dan administrasi selalu didengar oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Nah, lain dari itu, penghulu dari Limbangan itu dianggap pula oleh pemerintah Kolonial dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan keinginan pemerintah kepada masyarakat Bumiputra. Administrasi kolonial menginginkan tokoh seperti Moesa. Salah satu contoh yang baik tentang jasa baik Moesa bagi pemerintah Kolonial, menurut Mikihiro Moriyama, adalah waktu ia terlibat dalam penyusunan kembali apa yang disebut Preangerstelsel (sistem Priangan), yang menimbulkan banyak penderitaan bagi rakyat Priangan. Dengan Preangerstelsel ini penduduk desa diharuskan menyediakan tanah dan tenaga untuk pemerintah sehingga hasil-hasil panen yang bisa diperdagangkan dapat diproduksi dan dijual dengan harga yang telah ditentukan. Pemerintah kolonial dapat mengontrol petani secara langsung dan lebih ketat daripada masa sebelumnya. Atas jasanya itu, Moesa mendapat hadiah dari pemerintah Kolonial berupa medali emas sebagai tanda terimakasih atas semua yang ia lakukan.

Dan memang ternyata tidak sekedar modernitas yang diusung R.H. Moehamad Moesa dalam Wawacan Panji Wulung. Saat itu, Pemerintah Kolonial berkeinginan menciptakan golongan melek huruf di antara penduduk dengan menyediakan buku-buku yang ‘bagus’ dan ‘cocok’, yang akan membantu mereka berpikir ‘pada arah yang benar’ dari segi politik maupun budaya. Wawacan Panji Wulung dianggap cocok untuk tujuan itu. Buku ini menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah pemerintah kolonial. Dan pantas saja jika kemudian Wawacan Panji Wulung menjadi tulisan berbahasa Sunda yang paling sering dicetak pada masa kolonial.

Sikap R.H. Moehamad Moesa pun menjadi semakin jelas sebagaimana yang ia tulis pada bagian akhir teks Wawacan Panji Wulung ini: R.H. Moehamad Moesa menulis sejumput doa untuk kelanggengan penjajahan!

Dalam bagian paling akhir teks Wawacan itu, Moesa memohon: “Saya, sebagai pengarang, memohon kepada Allah” (Paneda kula nu ngarang, ka gusti rabul alamin), agar rezim politik di bawah pemerintah Belanda akan langgeng. Moesa menyatakan harapannya bahwa Gubernur Jenderal Belanda akan menjadi satu-satunya raja yang memerintah pulau Jawa. Hmmm… ternyata begitu geningan sikap ‘tokoh sejarah Garut’ ini teh.

Bait-bait terakhir Wawacan Panji Wulung itu kemudian sengaja dihilangkan dalam wawacan edisi 1973 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan RI. Editor dan penerjemah edisi ini, R.S. Subalidinata, menulis:

Dua bait tembang kedua dan ketiga dari akhir, tidak saya sertakan/terjemahkan, sebab isinya hanya harapan dan pujian pribadi kepada Penguasa Jajahan waktu itu, yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan isi cerita, maupun dengan penutup yang merupakan catatan pengarang mengenai selesainya karya-tulisnya.

Ya, memang tidak terkait dengan isi cerita, tapi menjelaskan sikap pengabdian si pengarang pada penjajah.

***

Dalam buku Kisah Para Preanger Planters karya Her Suganda, ada ditulis perbincangan antara K.F. Holle dengan keponakannya, Rudolph Albert Kerkhoven yang baru tiba dari negeri Belanda. Ia mengemukakan agar keponakannya itu melakukan pendekatan budaya agar usahanya berhasil.

K.F. Holle. (Sumber: Wikipedia)

K.F. Holle. (Sumber: Wikipedia)

Kepada keponakannya, K.F. Holle selanjutnya mengingatkan, bahwa penguasa pribumi sangat sensitif. Karena itu, untuk meraih simpatinya harus dilakukan dengan hati-hati. “Hargailah adat istiadatnya dan pelajarilah bahasanya,” pesannya. Dengan menguasai bahasanya, orang Belanda bisa menguasai rakyatnya. “Jika mereka sudah bisa menerima kita, maka mereka bisa dengan senang hati akan mematuhi perintah kita,” begitu nasihat K.F. Holle.

Ah, modus

[M.S]

Advertisements

4 thoughts on “Panji Wulung (dan Sejumput Doa untuk Kelanggengan Penjajahan)

    • Ada sebagian di buku Mikihiro Moriyama, “Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19”.

      Like

  1. Pingback: “Ayang-ayang Gung”: ‘Black Campaign’ Ala Menak Garoet | Naratas Garoet

  2. Pingback: Boetoeh Oelama Garoet Oentoek Takloekan Atjeh (Bagian 1) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s