Kebakaran di Kampung Papandak (1929)

Kampung Papandak. Dulu sekali, Papandak bukanlah sekedar nama sebuah kampung di Desa Sukamenak Kecamatan Wanaraja. Saat terakhir Kabupaten Limbangan dibubarkan Daendels pada tahun 1811, Papandak adalah salah satu distriknya, selain Baloeboer, Malangbong, Wanaradja, Wanakerta, dan Tjibeureum.

Kemudian, setelah Kabupaten Limbangan dibentuk kembali pada tahun 1813, Papandak menjadi salah satu desa di Distrik Wanaradja. Saat itu, Kabupaten Limbangan meliputi distrik-distrik: Panimbong, Soetjie, Wanaradja, Wanakerta, Soetalarang, Tji-pietjung dan Passangrahang. Sebagai catatan tambahan, pada saat pembentukan Kabupaten Garoet di tahun 1913, Wanaradja turun pangkat, karena Kabupaten Garoet pada awalnya itu meliputi distrik-distrik: Garoet, Bajongbong, Tjibatoe, Tarogong, Leles, Baloeboer Limbangan, Tjikadjang, Boengboelang, dan Pameungpeuk.

***

Apa istimewanya Kampung Papandak? Foto-foto lama memperlihatkan bangunan rumah penduduk Kampung Papandak yang eksotis. Kita sebut saja sebagai ‘rumah Papandak’, yang dikenal sebagai model rumah julang ngapak dengan ornamen cagak gunting.

Judul foto: Huizen in Papandak, Thaun: sekitar 1910-1940, Sumber: Tropenmuseum

“Huizen in Papandak” (sumber: Tropenmuseum)

Judul foto: Papandak bij Wanaradja West-Java, Tahun: 1910-1918, Sumber: Tropenmuseum

“Papandak bij Wanaradja West-Java” (sumber: Tropenmuseum)

Judul foto: Kampong Papandak op de weg naar Telaga Bodas bij Garut, Tahun: sekitar 1925, Sumber: KITLV

“Kampong Papandak op de weg naar Telaga Bodas bij Garut” (sumber: KITLV)

Judul foto: Huizen, vermoedelijk te Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet, Tahun: sekitar 1920, Sumber: KITLV

“Huizen, vermoedelijk te Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet” (sumber: KITLV)

Judul foto: Huizen te Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet, Tahun: sekitar 1933, Sumber: KITLV

“Huizen te Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet” (sumber: KITLV)

Judul foto: Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet, Tahun: sekitar 1920, Sumber: KITLV

“Papandak bij Wanaradja in de buurt van Garoet” (sumber: KITLV)

Judul foto: "Kampong Papandak", Tahun: sekitar 1900, Sumber: KITLV

“Kampong Papandak” (sumber: KITLV)

Dilingkupi dengan pemandangan yang indah di sekelilingnya, orang-orang Belanda terpesona melihat ini. Kampung Papandak pun jadi salah satu destinasi wisata, satu paket dengan kawah Talagabodas. Artikel berjudul “Een Tochtje naar Waspada” di koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi tanggal 16 April 1910, misalnya, memuat catatan perjalanan wisata ke sana. Dikatakan bahwa pemandangan di sana sebagai one of the world’s great views. Juga, ada artikel: “Naar Talaga Bodas” di koran Bataviaasch nieuwsblad, edisi tanggal 4 September 1929.

***

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang, rumah-rumah indah itu tak berbekas. Banyak yang merasa kehilangan, sampai-sampai muncul istilah Papandak sebagai “kampung yang hilang”. Jika menyempatkan diri Googling dengan input “papandak kampung yang hilang”, maka banyak tulisan yang membahas itu. Dan kerinduan akan kehadiran rumah julang ngapak itu mendorong pula Pak Kuswandi membangun replikanya di “Rumah Bambu” di Cimurah, Karangpawitan. Dan memang “Rumah Bambui” memasang tagline “Mengenang Sesuatu yang Hilang”. Liputannya bisa dibaca, misalnya, dalam kompas.com tanggal 17 April 2013 dan H.U. Pikiran Rakyat tanggal 1 Juni 2013.

Pemandangan "Rumah Bambu" di Cimurah, Karangpawitan. (sumber: Pikiran Rakyat)

Pemandangan “Rumah Bambu” di Cimurah, Karangpawitan. (sumber: Pikiran Rakyat)

Jauh sebelumnya, diduga bangunan lama kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dulu dikenal sebagai Technische Hogeschool (THS) Bandoeng, pun didirikan dengan mengadopsi model rumah Papandak ini. Tapi itu masih diperdebatkan, sebab ada pula yang berpendapat lain; bangunan ITB itu bukan mencontoh rumah Papandak melainkan rumah adat Minang, atau juga rumah adat Batak. Silakan para sejarawan dan arsitek untuk ikut berdebat, da saya mah mending menikmati saja potret lama bangunan kampus ITB berikut ini:

"De Technische Hogeschool in Bandoeng" (sumber: Tropenmuseum)

“De Technische Hogeschool in Bandoeng” (sumber: Tropenmuseum)

"De Technische Hogeschool in Bandoeng" (sumber: Tropenmuseum)

“De Technische Hogeschool in Bandoeng” (sumber: Tropenmuseum)

***

Pertanyaan yang belum terjawab adalah: mengapa rumah Papandak jadi “menghilang” tak berbekas?

Ada yang menyebutkan bahwa Kampung Papandak pernah “dua kali musnah rata dengan tanah. Lantaran dibakar pada jaman kolonialis Belanda, serta jaman penjajahan Jepang”. Ini ditulis dalam garutnews.com edisi tanggal 27 September 2014. Tapi saya merasa belum puas kalau sumber informasinya adalah konon.

Maka, dari hasil pencarian, untuk sementara, ini informasi yang saya dapatkan: Kampung Papandak pernah mengalami kebakaran hebat! Sebanyak 121 rumah, 3 mesjid, dan lumbung-lumbung padi ludes terbakar. Kambing dan ayam lepas entah kemana. Hingga kerugian ditaksir mencapai 30 sampai 40 ribu gulden. Namun tidak dilaporkan adanya korban jiwa.

Itu terjadi pada tahun 1929, tepatnya 6 Nopember 1929. Banyak koran yang terbit di Hindia Belanda maupun koran-koran di Belanda sana yang meliput peristiwa itu, dengan materi yang sama (karena mengutip dari satu sumber: kantor berita Aneta). Misalnya, koran Bataviaasch nieuwsblad edisi tanggal 7 Nopember 1929.

Tapi, lanjutan informasinya ini yang bikin saya ngenes: diberitakan bahwa kebakaran itu disebabkan oleh kelakuan seorang kakek yang menyambut kelahiran cucunya, sesuai kebiasaan lama (entah kebiasaan yang mana), dengan “tembakan” sukacita. Saya membayangkan meriam “lodong”. Pendek kata, sabut kelapa yang dipakai si kakek sebagai “peluru” itu berapi, kemudian terlontar dan jatuh ke atap sebuah rumah. Terbakarlah itu rumah. Dalam kondisi angin yang kencang dan susah mencari air, kebakaran semakin hebat melanda seluruh kampung. Lagipula, rumah-rumah itu seluruhnya terbikin dari bahan yang mudah terbakar: tiang kayu, dinding bilik bambu, dan atap jerami. Hanguslah semua. Huh, dasar si aki…

Satu hal, jika melihat jumlah rumah yang disebut terbakar itu, sebanyak 121 rumah, terbayang padatnya Kampung Papandak itoe soeda sedjak doeloe. Anggaplah setiap rumah punya 4 orang anggota keluarga, maka setidaknya di Kampung Papandak itu dulu dihuni 400-an lebih penduduk. Jadi, pantas saja di Kampung Papandak itu terdapat setidaknya 3 buah mesjid pula.

Sayang, informasi selanjutnya tentang nasib rumah-rumah di Kampung Papandak itu tidak tersedia. Apakah penduduk membangun kembali rumah-rumah dengan bentuk semula, atau bentuk lain, atau bagaimana, masih belum jelas.

Hanya saja, ada terbitan di tahun 1934 yang kembali menyinggung tentang rumah Papandak. Dalam I.B.T. Locale Techniek edisi Tahun 3e No. 6 bulan Nopember 1934 yang diterbitkan oleh Technisch Orgaan Van De Vereeniging Voor Locale Belangen En De Vereenigin G Van Bouwkundige – Bandoeng, dibahas sejumlah bangunan tua yang digunakan penduduk untuk beberapa kepentingan yang berbeda dan layak mendapat perhatian, sebagai bangunan “monumen” lokal. Ada banyak bangunan dari berbagai daerah, dan salah satunya adalah rumah Papandak.

view

Seperti yang tertera pada gambar, tertulis keterangan dalam bahasa Melayu sebagai berikut:

“Di ini kampoeng pembikinan romah lain dengan kebiasaanja di antero Priangan. Bertaoen-taoen itoe matjem kampoeng tida berobah; boleh dikatakan berdasar “oud-Indonesische bouwstijl” (pembikinan tjara India zaman Kedjawèn sabeloemnja Boedo). Di lain tempat sepertinja di Sumatra djoega terdapet pembikinan romah sedemikian.”

Apakah ini berarti rumah-rumah Papandak yang terbakar pada tahun 1929 telah dibangun kembali? Atau, itu rumah-rumah yang selamat dari bencana kebakaran? Tidak ada keterangan (atau, saya belum mendapatkannya).

***

Begitulah. Sekarang, rumah Papandak benar-benar hilang. Mungkin ada sejarawan Garut yang bisa mengungkapkan penyebabnya, sejelas-jelasnya? Naratas Garoet cuma bisa sebatas ini, amatiran sih

[M.S]

Advertisements

One thought on “Kebakaran di Kampung Papandak (1929)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s