Mencari Jalan Abdoel Moeis di Garut…

Abdoel Moeis. (Judul foto:  Abdoel Moeïs, lid van de Volksraad, journalist en schrijver, vermoedelijk te Batavia, Tahun: 1916, Sumber: KITLV)

Abdoel Moeis, foto saat menjadi anggota Volksraad, tahun 1916. (Judul foto: Abdoel Moeïs, lid van de Volksraad, journalist en schrijver, vermoedelijk te Batavia, Tahun: 1916, Sumber: KITLV)

Jika dirunut tentang apa yang terpikirkan ketika disebut nama Abdoel Moeis, atau Abdul Muis, maka saya punya ingatan seperti ini: novel Salah Asuhan terbitan Balai Pustaka, terminal angkot di Bandung yang lebih dikenal sebagai terminal Kebon Kalapa, dan terakhir, aktivis Sarekat Islam di jaman kolonial.

Pertama-tama memang novel Salah Asuhan yang mengenalkan saya pada nama Abdoel Moeis. Samar-samar teringat, pada pelajaran bahasa Indonesia di masa sekolah dasar dulu sudah dikenalkan dengan karya-karya sastrawan Indonesia. Termasuk karya Abdoel Moeis ini. Tapi saya sungguh-sungguh punya novel Salah Asuhan itu hanya baru-baru ini saja. Di Blok M Square Jakarta ada tempat bursa buku-buku murah. Terselip di antara buku-buku bekas dan buku-buku bajakan, saya menemukan Salah Asuhan itu. Lusuh, jilid yang hampir copot, dan kertas buram dengan hiasan bekas gigitan tikus di beberapa sudut halamannya. Hampir-hampir saja nasibnya sama dengan terminal Abdul Muis di Kebon Kalapa Bandung: hilang ditelan jaman. Terminal penuh kenangan itu kini berganti rupa menjadi sebuah pusat pertokoan. Selanjutnya, tentang aktivitas perjuangan Abdoel Moeis bersama Sarekat Islam. Tapi, terlalu panjang untuk menuliskan riwayatnya di sini. Untuk ringkasnya, sebagai awal perbincangan tentang Abdoel Moeis ini, ia bergabung dengan Sarekat Islam sejak tahun 1913. Banyak aktivitas Abdoel Moeis yang dianggap membahayakan keamanan di tanah jajahan Belanda, karena itu ia pernah beberapa kali masuk penjara, dan terakhir, oleh pemerintah Hindia Belanda ia dihukum tidak boleh meninggalkan pulau Jawa. Abdoel Moeis menjalani masa pengasingan. Di mana? Di Garoet.

Nah sekarang sudah nyambung, mengapa tokoh Abdoel Moeis ini dibahas di Naratas Garoet. Tapi saya tak hendak mengurai riwayat hidupnya yang bisa pembaca peroleh dengan lebih lengkap dari sumber yang lain. Cukup kiranya di sini dibahas hal-hal yang semestinya orang Garut dapat memberikan penghargaan yang lebih untuk tokoh yang satu ini.

***

Tahukah pembaca bahwa tanggal 3 Juli didaulat sebagai Hari Sastra Indonesia? Pada 24 Maret 2013, pertemuan sastrawan terkemuka Indonesia di Bukittinggi, Sumatra Barat, menetapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia. Tanggal itu diambil dari kelahiran Abdoel Moeis. Abdoel Moeis lahir di Bukittinggi pada 3 Juli 1883 (catatan: ada beberapa versi tentang tempat dan tahun kelahiran Abdoel Moeis).

Abdoel Moeis. (Tahun: -, Sumber: Wikipedia)

Abdoel Moeis. (Tahun: -, Sumber: Wikipedia)

Diberitakan dalam antaranews.com tanggal 24 Maret 2013, mengutip Taufiq Ismail, sastrawan senior Indonesia, Abdoel Moeis dinilai paling aktif dalam pergerakan nasional di zaman penjajahan Belanda. Taufiq juga mengemukakan Abdoel Moeis memiliki banyak karya yang fenomenal  seperti novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia.

“Pada awalnya kami mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai Hari Sastra Indonesia,” kata Taufiq Ismail.

Abdoel Moeis meninggal pada 17 Juni 1959 di Bandung. Pada tahun itu juga dia diangkat menjadi pahlawan nasional, yang dianugerahkan oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959. Dan ini perlu juga dicatat: Abdoel Moeis adalah orang pertama yang mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Abdoel Moeis, diabadikan dalam perangko tahun 1961. (Sumber: Wikipedia)

Abdoel Moeis, diabadikan dalam perangko tahun 1961. (Sumber: Wikipedia)

***

Abdoel Moeis tinggal di Garoet sejak tahun 1924. Kabarnya, Abdoel Moeis tinggal dan menjadi petani di Wanaradja. Dan sepertinya Abdoel Moeis bukan petani biasa. Ia tetap beraktivitas sebagaimana sebelumnya: jurnalistik dan politik. Dalam laman Badan Bahasa Kemdikbud disebutkan, meskipun tidak boleh meninggalkan Pulau Jawa, tidak berarti aktivitas Abdoel Moeis berhenti. Ia mendirikan harian Kaoem Kita di Bandoeng dan Mimbar Rakjat di Garoet. Namun, kedua surat kabar tersebut tidak lama hidupnya.

Pada tahun 1926, Abdoel Moeis terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garoet, semacam dewan perwakilan di tingkat kabupaten. Kemudian pada tahun 1932 ia menjadi Regentschapsraad Controleur Garoet. Dari KITLV, dapat disaksikan foto-foto pembentukan Regentschapsraad Garoet dan suasana sidang pertamanya.

Anggota-anggota Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 01-01-1926 - 14-05-1929 (mungkin maksudnya masa kerja), Sumber: KITLV)

Anggota-anggota Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926 (mungkin maksudnya masa kerja), Sumber: KITLV)

Suasana saat pelantikan anggota Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Pimpinan sidang Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Installatie van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Suasana rapat pertama Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Eerste vergadering van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Suasana rapat pertama Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Eerste vergadering van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Suasana rapat pertama Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Eerste vergadering van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Suasana rapat pertama Regentschapsraad Garoet. (Judul foto: Eerste vergadering van de regentschapsraad van Garoet, Tahun: 1926, Sumber: KITLV)

Selain aktif dalam Regentschapsraad Garoet, dalam masa pengasingannya di Garoet itu Abdoel Moeis melahirkan karya besarnya: Salah Asuhan. Mulai ditulis sejak tahun 1927, novel itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1928. Beritanya muncul dalam satu koran terbitan Belanda, Nieuwe Rotterdamsche Courant, edisi tanggal 25 September 1928, dengan judul berita: “Abdoel Moeis als vertaler en auteur” (Abdul Moeis sebagai Penerjemah dan Penulis). Dikatakan, figur dengan masa lalu yang penuh gejolak ini, yang kemudian menjadi anggota Regentschapsraad di Garut, telah muncul sebagai penulis yang sukses. Dia menerjemahkan karya Mark Twain berjudul “Tom Sawyer.” Karya ini sukses besar dan telah diterbitkan dalam tiga volume oleh Volkslectuur (sebelum jadi Balai Pustaka). Tak hanya itu, ia juga menulis sebuah karya asli yang diperkirakan akan sukses besar juga, yang berjudul “Salah Asuhan” (dalam koran itu disebut “Salah Pilihan”).

Tapi Abdoel Moeis tak “salah pilihan” ketika menetapkan Garoet sebagai tempat “pengasingan”. Garut subur tanah, subur risalah. Seperti yang tertulis dalam Bongkahan Pustaka dari Garut, tak hanya untuk tanaman, tanah Garut subur pula melahirkan penulis. Ratusan karya lahir dari tangan anak-anaknya. Dari waktu ke waktu seolah ada barisan panjang, turun-temurun, sambung-menyambung untuk menulis. Sepertinya, orang Garut punya rumus; subur tanah harus subur risalah. Kitu cenah…. Dan masterpiece sastra karya Abdoel Moeis lahir di tanah Garoet. Bangga atuh

Berita lain muncul dari koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie edisi 15 Desember 1928. Isinya? Pujian untuk Abdoel Moeis. Dikatakan, Abdul Moeis, mantan editor koran Kaoem Moeda, yang sekarang anggota Regentschapsraad di Garoet dan merupakan penduduk Wanaradja itu, telah diangkat dan efektif mulai 1 Januari sebagai editor Priangan untuk koran Bintang Timoer terbitan Weltevreden (sebutan Jakarta Pusat dulu), dengan kedudukan di kota Bandoeng. Seseorang dengan masa lalu sebagaimana Abdul Moeis ini, katanya, sangat tepat sebagai penyuara untuk kepentingan publik!

Tapi tak kurang kritikan muncul pula saat Abdoel Moeis diangkat sebagai Regentschapsraad Controleur Garoet, seperti dimuat De Sumatra Post edisi 26 April 1932. Mereka mengingatkan pengangkatan untuk jabatan itu terlalu cepat. Abdoel Moeis yang sebelumnya adalah “interneeran”, juga diduga terlibat dalam peristiwa di Toli-toli yang menyebabkan terbunuhnya seorang serdadu Belanda, dalam kaitan dengan gerakan SI afdeeling B, sekarang seolah-olah tiba-tiba menjadi orang penting, yang dapat hidup enak dengan segala fasilitas dari jabatan terhormat itu.

Itulah sedikit kisah tentang Abdoel Moeis, dan Garoet. Mudah-mudahan ada yang tertarik untuk menggali kesejarahan Abdoel Moeis di Garoet secara lebih mendalam.

***

Sesungguhnya saya punya pertanyaan: mengapa jalan protokol di Garoet yang pada jaman Hindia Belanda dinamai Societeitstraat itu kemudian diberi nama “jalan Jenderal Ahmad Yani”. Sepertinya, tidak ada tokoh yang lahir, besar, atau punya peran di Garut, yang layak mendapat kehormatan diabadikan sebagai nama jalan utama di Garut itu. Tapi biarlah, mungkin sudah terlanjur basah pakai nama Jenderal Ahmad Yani, toh pahlawan juga. Hanya saja, setelah mencermati ketokohan Abdoel Moeis, aktivitas dan karyanya di Garoet, adakah jalan atau tempat dengan nama Abdoel Moeis di Garut? Saya benar-benar tidak tahu…

[M.S]

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Jalan Abdoel Moeis di Garut…

  1. Pingback: Lambang Kaboepaten Garoet Masa Kolonial | Naratas Garoet

  2. Pingback: Kantor Regentschapsraad Garoet (1932) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s