Ketika “Merpati” Jatuh di Gunung Puntang

Musibah kecelakaan pesawat kembali terjadi. Sebuah pesawat angkut militer jenis Hercules jatuh dan terbakar di tengah kota Medan, Selasa 30 Juni 2015. Seratus lebih korban meninggal. Sementara itu, orang-orang bersegera berdebat tentang (dugaan) penyebab kecelakaan, sekalipun penyelidikan belum lagi dilakukan. Usia pesawat salah satu yang menjadi tertuduh, tapi sebagian menyebut faktor human error karena sang Hercules dianggap masih terawat dengan baik.

Saya jadi teringat peristiwa jatuhnya pesawat “Merpati” pada tanggal 18 Oktober 1992, di Gunung Puntang, Garut.

Peta Gunung Puntang. (Sumber: Google Maps)

Peta Gunung Puntang, berada di kawasan Gunung Papandayan. (Sumber: Google Maps)

Harian Kompas edisi 20 Oktober 1992 mengabarkan pesawat Merpati itu diketemukan di blok Barukaso Pasir Uji, Desa Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Garut, sekitar 80 KM dari Kota Bandung, Badannya terlihat menancap di gunung, kedua sayap pesawat nampak terlipat, sementara hanya bagian ekor yang terlihat masih utuh.

Dikabarkan, sekitar lokasi jatuhnya pesawat, pepohonan menghitam bekas terkena embusan api dari pesawat. Bahkan menurut petugas, asap bekas terbakarnya pesawat masih terlihat mengepul ke udara pada keesokan harinya. Tempat jatuhnya cukup sulit dijangkau, karena terletak diantara dua lereng bukit yang sangat terjal. Petugas yang hendak mengevakuasi korban, terpaksa berjalan kaki selama tiga jam dengan mendaki gunung yang cukup terjal.

Sepekan dari tanggal kejadian, majalah Tempo menurunkan laporan utama tentang kecelakaan itu dengan tajuk: CN 235 Salah Siapa. Dapat diduga, yang menjadi fokus adalah perdebatan mengenai penyebab kecelakaan dan jadi tanggung jawab siapa. B.J Habibie tentu membela habis-habisan performa pesawat ciptaannya itu.

Cover majalah Tempo, edisi No. 35 Tahun XXII, 31 Oktober 1992

Cover majalah Tempo No. 35 Tahun XXII, 31 Oktober 1992

Tapi terlalu panjang untuk menampilkan perdebatan tentang penyebab kecelakaan itu di sini. Saya hanya ingin mengenang peristiwa kecelakaan pesawat yang terjadi di daerah Garut itu, yang disebut-sebut salah satu kecelakaan pesawat terburuk di Indonesia.

Berikut kutipan dari salah satu tulisan dalam laporan Tempo itu:

MERPATI five six zero one. We are from Semarang“. Sapaan itu mengalir lewat gelombang radio dari balik kokpit pesawat CN 235 Merpati Mz 5601 ke menara di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung, pukul 13.35 ahad pekan lalu. Dalam kontak radio itu Pilot Fierda Basaria Panggabean, 29 tahun, mengabarkan pesawatnya berada di atas Cirebon pada ketinggian 12.500 kaki (4.144 meter). Trangadi, nama pesawat Merpati itu, siap mendarat di Bandung 21 menit kemudian. Cuaca Bandung ketika itu kurang bersahabat. Sumardi, petugas di APP (Aprroach Control Office) Husein Sastranegara mengabarkan kepada Pilot Fierda, hujan turun disertai guntur. Awan bergelantungan kendati tak terlalu tebal, pandangan visual mengjangkau jarak 4-5 km. “Maintain one two five,” Sumardi berpesan agar Fierda mempertahankan ketinggian pesawatnya di 12.500 kaki.

Bagi pilot dengan pengalaman 6.000 jam terbang seperti Fierda, cuaca Bandung saat itu boleh jadi tak terlalu mencemaskan. Maka dengan sepengetahuan APP di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Fierda menurunkan Trangadi sampai 8.500 kaki (2.833 meter). Dia mengabarkan manuver itu ke Bandung pukul 13.40, dan memutuskan melakukan pendaratan dengan visual approach, mengandalkan pandangan mata. Sumardi menyilakan Fierda membuka kontak kembali setelah Trangadi melihat ujung landasan Bandara Husein.

Gambar jalur normal penerbangan dan jalur ang diambil pilot Fierda. (Sumber: Tempo)

Gambar jalur normal penerbangan dan jalur yang diambil pilot Fierda. (Sumber: Tempo)

Namun kontak itu tak pernah terjadi. Trangadi tak pernah mencapai Bandung. Pesawat CN 235 nahas itu mengakhiri perjalanannya secara tragis di Gunung Puntang pada ketinggian 2.040 meter, sekitar 60 km arah tenggara Bandung. Tubuh pesawat hancur berkeping, hangus terbakar. Hidung pesawat menancap ke tebing, menghadap ke selatan. Agaknya pada detik-detik terakhir Trangadi masih mencoba menghindari tebing dengan mengangkat tubuhnya. Seisi pesawat, 27 penumpang dan empat awak, tewas. Jenazah Fierda ditemukan tim SAR dengan tubuh hangus, kedua tangannya masih memegang tangkai kemudi pesawat. Meka Fitriyani, 9 tahun, tewas dalam dekapan ibunya. Seorang penumpang terlempar 20 meter dari pesawat akibat benturan keras. Dia hanya beruntung lolos dari api, tapi tak luput dari renggutan maut.

Puing pesawat CN 235 di Gunung Puntang. (Sumber: Tempo)

Puing pesawat CN 235 di Gunung Puntang. (Sumber: Tempo)

Puing pesawat CN 235 di Gunung Puntang. (Sumber: Tempo)

Puing pesawat CN 235 di Gunung Puntang. (Sumber: Tempo)

Konon, Gunung Puntang ini tempat yang angker. Sempat-sempatnya Tempo menuliskan itu dalam laporannya. Mengutip cerita penduduk setempat, katanya, setelah ditemukan (pesawat itu) esok paginya, penduduk pun ingat cerita bahwa daerah itu dianggap angker. Ada wanita, Ambu Hasan namanya, dikisahkan hilang di kawasan itu. Selain itu, ada pula kisah anak kecil yang lepas dari gendongan ibinya. Tahu-tahu anak itu sudah berada di kaki Gunung Puntang. Leres kitu eta teh? Tentu faktor keangkeran ini tidak akan pernah dihitung sebagai salah satu penyebab kecelakaan pesawat oleh pihak KNKT.

***

Terakhir, saya ingat, satu baling-baling yang masih utuh dari pesawat jenis CN 235 itu ditempatkan di depan balai desa Cipaganti sebagai tugu peringatan jatuhnya pesawat “Merpati” tersebut. Entah sekarang, masih terawatkah tugu itu?

[M.S]

Advertisements

5 thoughts on “Ketika “Merpati” Jatuh di Gunung Puntang

  1. Ini pernah dibahas dalam kuliah di Teknik Penerbangan ITB. Dugaan penyebabnya, pilot Frieda sedang ‘balapan’ agar bisa sampai ke Bandung dengan cepat. Jalur yang dilalui tidak wajar alias tak baisa dilewati oleh pesawat rute Cirebon-Bandung. Pilot tak sadar pesawat mengarah ke Gunung Puntang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s