Catatan Para Pelancong Doeloe (3): Charlotte Cameron, Traveler Wanita dari Inggris

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanan, yang akan saya tampilkan cuplikan singkatnya dalam rangkaian tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” di Naratas Garoet ini. Catatan-catatan yang masih jarang diungkap itu, selagi tersedia informasinya, akan dilengkapi pula dengan biografi singkat mereka. Selamat melancong…

Mrs. Charlotte Wales-Almy Cameron (Sumber: A woman's Winter in Africa, 1913)

Mrs. Charlotte Wales-Almy Cameron (Sumber: A Woman’s Winter in Africa, 1913)

Ternyata tak semua pelancong doeloe terkesan dengan Garoet. Mrs. Charlotte Cameron ini salah satunya. Dia mengunjungi Garoet kira-kira antara tahun 1922 dan 1923, sebagai bagian dari perjalanannya keliling Asia Tenggara. Catatan perjalanannya tertuang dalam buku Wandering In South-Eastern Seas (1924). Kenapa Garoet tidak berkesan?

 ***

Charlotte Cameron ini seorang wanita kaya asal Inggris. Nama lengkapnya, Charlotte Wales-Almy Cameron. Dikenal sebagai traveler dan penulis. Lahir di tahun 1872/3; pertama kali menikah dengan Mayor Donald Cameron yang meninggal kira-kira tahun 1901; menjadi janda dan kembali menikah pada tanggal 29 Mei 1901 dengan Auguste Ernst George Jacquemard de Landresse. Tapi perkawinan keduanya ini berumur pendek, hingga dia tidak menggunakan nama suami keduanya itu. Mrs. Cameron meninggal tahun 1946.

Dalam buku Wandering In South-Eastern Seas, Mrs. Cameron menulis daftar perjalanan keliling dunia yang pernah dilakukannya. Dia memberi nama untuk tiap rute perjalanan, dan catatan perjalanannya disusun menjadi buku. Ini daftar perjalanannya:

1910: Twenty-four Thousand Miles in South America

1911: The Imperial Durbar at Delhi

1912: Russia

1913: Twenty-seven Thousand Miles in Africa

1917-1918: War Work Lecturing from the Atlantic to the Pacific

1919: Twenty Thousand Miles in Alaska and Yukon

1921-1922: One Hundred Thousand Miles in the Southern Seas.

1922-1923: Wanderings in South-Eastern Seas.

Pada saat mengunjungi Australia, banyak media yang meliput kedatangan Mrs. Cameron ini. Pun buku-bukunya, banyak diulas saat itu. Dalam satu ulasan atas bukunya, A woman’s winter in Africa (1913), yang merupakan catatan perjalanan “Twenty-seven Thousand Miles in Africa” itu, dikatakan bahwa Mrs. Cameron adalah traveler wanita paling pemberani sejak zaman Mary Kingsley. Perjalanan musim dingin keliling Afrika di tahun 1913 itu dilakukan Mrs. Cameron mulai dari Mombasa di pantai timur yang ekstrim menuju Sierra Leone di barat. Dalam enam bulan dia mencatatkan perjalanannya sepanjang 26.000 mil menyusuri pantai, juga seribu mil melintas Rhodesia ke Victoria Falls.

Mrs. Charlotte Cameron saat di Mesir, dengan latar belakang piramid. (Judul: Mrs. Charlotte Cameron, Author of "A Durbar Bride", Sumber: alamy.com)

Mrs. Charlotte Cameron saat di Mesir, dengan latar belakang piramid. (Judul: Mrs. Charlotte Cameron, Author of “A Durbar Bride”, Sumber: alamy.com)

Mrs. Charlotte Cameron in Arctic Dress (Sumber: Freeman's Journal, Sydney - NSW, edisi Thursday 1 November 1923)

Mrs. Charlotte Cameron in Arctic Dress (Sumber: Freeman’s Journal, Sydney – NSW, edisi Thursday 1 November 1923)

Baginya, “When there runs through your veins the blood of sailors, soldiers, adventures, and hardy pioneers, yours is not a temperament that rejoices much in rest. Having seen most of this wonderful world, you have an unquenchable desire to explore yet farther”. Mewakili keberanian dan jiwa petualangannya, Mrs. Cameron menuliskan kata-kata mutiara dalam buku Wanderings in South-Eastern Seas seperti ini:

Travel has been my comrade

Adventure my inspiration

Accomplishment my recompense

***

Perjalanan Mrs. Cameron ke “South-Eastern Seas” dimulai dari Singapore, berlanjut ke Johore, Malacca, Muar, Miri, Brunei, Labuan, Kudat, Jesselton, Sandakan, Kuching, Java, Pango Pango, Tonga, dan Tasmania. Perjalanan di Java sendiri dimulai dari Batavia, Buitenzorg, Bandoeng, Garoet, kembali lagi ke Buitenzorg, terus ke Batavia. Saat di Bandoeng, Mrs. Cameron membaca iklan promosi dalam Garoet Express. Dalam buku Wanderings in South-Eastern Seas, dia tulis ulang isi iklan yang katanya “astonishing eulogy” itu:

Binder1Binder2Gara-gara tergiur iklan itu Mrs. Cameron rela meninggalkan kenyamanan Bandoeng. Siapa yang bisa menolak untuk datang ke Garoet dengan tawaran yang menarik seperti itu? Begitu pikir Mrs. Cameron.

Mrs. Cameron berangkat dari Bandoeng menuju Garoet menggunakan kereta api. Hanya dua jam setengah perjalanan, kereta sudah sampai di Garoet. Sepanjang perjalanan disebutnya sebagai “very hot and dusty”. Dan Garoet itu, katanya, walaupun berada di daerah pegunungan tapi cuacanya panas (!?). Padahal, pada kesempatan lain dia bilang hujan turun tiap hari setelah jam 2 sore.

Mrs. Cameron menginap di hotel Papandajan. Dari paparannya, kita bisa membayangkan situasi di sana doeloe. Katanya, hotel Papandajan cukup asri, ada taman yang luas, dengan rupa-rupa pepohonan yang rimbun dan tanaman bunga.

Satu sudut pemandangan di hotel Papandajan (Judul: Erf van Hotel Papandajan te Garoet, Tahun: 1920an, Sumber: KITLV)

Satu sudut pemandangan di hotel Papandajan (Judul: Erf van Hotel Papandajan te Garoet, Tahun: 1920an, Sumber: KITLV)

Satu sudut lain hotel Papandajan (Judul: Erf van Hotel Papandajan te Garoet, Tahun: 1920an, Sumber: KITLV)

Satu sudut lain hotel Papandajan (Judul: Erf van Hotel Papandajan te Garoet, Tahun: 1920an, Sumber: KITLV)

Kamar-kamar berupa paviliun dengan “open-air sitting-room”. Tidak ada kamar mandi di dalam, no private baths. Jadi, kamar mandinya ada di luar, yang dipakai bersama tamu hotel lainnya. Tapi kondisinya bagus.

Katanya, pemilik hotel sepertinya berusaha untuk membuat nyaman para tamunya. Tapi, “…there seems to be no privacy.” Mrs. Cameron merasa terganggu. Bagaimana tidak, dari pagi sampai malam, pedagang asongan bisa dengan bebas menawarkan dagangannya langsung di depan paviliun dia.

Rupanya, pedagang asongan sudah ada sejak jaman baheula… Hehe.

Kata dia, mulai dari pedagang makanan, tukang ramal, sampai yang menawarkan golok dan sarung, semua ada. Beruntung pedagang bisa ditolak secara baik-baik, tapi kadang ada pula yang ngomel-ngomel setelah setengah diusir. Satu hari, saat dia lagi baca buku, datang pemusik jalanan pula. Anak-anak. Rombongan pemain angklung. Tapi, untuk ini, Mrs. Cameron cukup apresiatif. Makanya, dia abadikan anak-anak pemain angklung itu dalam bukunya.

Enam bocah pemain angklung ngamen di hotel Papandajan. (Judul: Javanese Musical Instruments, Sumber: Wanderings in South-Eastern Seas)

Enam bocah pemain angklung ngamen di hotel Papandajan. (Judul: Javanese Musical Instruments, Sumber: Wanderings in South-Eastern Seas)

Tentang kota Garoet sendiri, dia bilang di seputaran kota memang tidak banyak obyek yang cukup menarik. Tapi bukan karena itu hingga Garoet tak berkesan. Juga bukan karena privasinya terganggu selama tinggal di hotel Papandajan. Baginya, selama di Garoet ini tidak ada hal yang menantang. Kalau Garoet menawarkan keindahan gunung, maka bagi dia yang sudah menjelajahi bermacam bentuk dan kondisi gunung di seluruh penjuru dunia, tak ada yang istimewa. Bagi dia, Afrika dan Alaska mungkin lebih dahsyat.

Lagi pula, agenda touring yang ditawarkan pihak hotel setiap harinya itu, katanya, terlalu biasa. Menggunakan kendaraan, menuju ke danau di Leles (Situ Cangkuang, maksudnya), cukup indah — melihat bayangan di danau, perahu, penduduk asli, tapi tidak ada yang bisa disebutmendebarkan”. Kemudian, lagi, pergi untuk melihat bazar (pasar?), sumber air panas (Cipanas); menggunakan kendaraan bermotor, naik kuda, atau berjalan kaki, bermil-mil, tapi tidak ada yang yang luar biasa. Begitu katanya. Sekali waktu, hotel Papandajan mengadakan touring ke Pameungpeuk. Lagi-lagi, bu Cameron ini tak terkesan pula.

Jadi, menurutnya, Garoet itu indah tapi tidak menantang. Makanya, dia menyebut perjalanannya di Garoet itu sebagai: “…a monotonous week in Garoet”. Kalau turis lain pada betah melancong di Garoet, eh Mrs. Cameron ini justru merasa bete. Beuuh…

[M.S]

Advertisements

One thought on “Catatan Para Pelancong Doeloe (3): Charlotte Cameron, Traveler Wanita dari Inggris

  1. Pingback: Angkloeng dalam Wisata Garoet Doeloe | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s