Gonta Ganti Tanggal “Hari Jadi Garut”

Babancong, bangunan paling ikonik di Garoet, dengan latar belakang gunung Cikuray. (Judul: Woning_van_de_regent_van_Garut_met_op_de_achtergrond_de_vulkaan_Tjikoeraj, Sumber: Tropenmuseum)

Babancong, bangunan paling ikonik di Garoet, dengan latar belakang gunung Cikuray. (Judul: Woning van de regent van Garut met op de achtergrond de vulkaan Tjikoeraj, Sumber: Tropenmuseum)

Entitas dengan sebutan Garut (Garoet) yang pertama-tama muncul dalam sejarah itu bukanlah nama sebuah kabupaten, tapi sebuah wilayah perkotaan yang menjadi ibukota kabupaten Limbangan. Baru kemudian, muncul nama “kabupaten Garoet”. Nah, tanggal 16 Pebruari diperingati sebagai “Hari Jadi Garut”, bukan “Hari Jadi Kabupaten Garut”. Pertanyaannya, mengapa harus “Hari Jadi Garut”? Mengapa bukan “Hari Jadi Kabupaten Garut”?

Sebelum ditetapkan tanggal 16 Pebruari itu, “Hari Jadi (Kabupaten) Garut” ini ternyata pernah gonta ganti tanggal. Pernah suatu ketika, Hari Jadi (Kabupaten) Garut ini diperingati setiap tanggal 17 Mei. Kemudian, tanggal 15 September. Kemudian, setiap tanggal 17 Maret. Dan kemudian, tanggal 16 Pebruari. Hehe… masa iya hari jadi bisa gonta ganti, emangnya baju.

Kalau merujuk pada “kapan” secara resmi dibentuknya kaboepaten Garoet, maka jawabannya adalah tanggal 17 Mei, yang mengacu pada saat pergantian nama kabupaten Limbangan menjadi kabupaten Garut tanggal 17 Mei 1913. Entitas kabupaten Garoet sebagai sebuah “kabupaten baru” sangat berbeda dengan kabupaten Limbangan. Walaupun kabupaten Limbangan menjadi intinya, kabupaten Garoet sesungguhnya merupakan kabupaten yang wilayahnya berasal dari penggabungan distrik-distrik dari beberapa kabupaten. Distrik-distrik Tarogong atau “Trogon (Timbanganten)”, Lales atau “Leles (Tjikemboelan)”, dan Baloeboer Limbangan yang semula termasuk kabupaten Bandoeng, digabungkan ke dalam wilayah kabupaten Garoet. Juga, distrik-distrik Cikajang atau “Tjikatjang (Negara)”, Bungbulang (“Tjimanoek (Kendengwesi)”) dan Pameungpeuk, yang awalnya merupakan bagian kabupaten Soekapoera, kemudian menjadi wilayah kabupaten Garoet. Setelah ada perubahan nama-nama distrik, kabupaten Garut kemudian mencakup distrik-distrik: Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk. (Lihat Garoet dalam Peta Junghuhn (1855))

Logo Garoet jadoel

Logo Garoet pada jaman Hindia Belanda. (Judul: Stadwapen van Garoet, Voorzien van wapenspreuk: “Opus Recum Corda Sub Ditor”, sumber: KITLV).

Tapi orang-orang sepertinya kurang puas terhadap kenyataan ini. Mungkin tahun 1913 dianggap kurang tua? Atau, tanggal 17 Mei dianggap bukan angka yang bagus? Hehe…

Rupanya, yang dicari kemudian adalah “Hari Jadi Garut”, bukan “Hari Jadi Kabupaten Garut”. Pada tahun 1963, sebuah tim dibentuk untuk mencari asal usul Garut. Tim ini menetapkan Hari Jadi Garut adalah tanggal 15 September 1813, sebagai awal “berdirinya” Garut, dengan merujuk pada “peresmian” jembatan Leuwidaun sebagaimana tanggal yang tertulis pada prasasti di jembatan itu. Tim itu menduga, pembangunan jembatan itu merupakan tonggak pendirian “kota” Garut. Oleh karena itu, tim berkesimpulan bahwa 15 September 1813 adalah Hari Jadi “Garut”. (Tentang pembangunan jembatan Leuwidaun, lihat Riwajat Pembikinan Djembatan Leuwidaoen Tahoen 1939).

Beberapa tahun kemudian, pemerhati sejarah meragukan penetapan tanggal 15 September 1813 itu. Pasalnya, tanggal tersebut mungkin hanya mengacu pada peletakan batu pertama saja, bukan mengacu pada “berdirinya kota Garut”. Maka, pada tahun 1972, Pemerintah Kabupaten Garut kembali membentuk tim untuk mengkaji ulang “Hari Jadi Garut”. Tim ini berpatokan pada dua data, yaitu besluit Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 16 Februari 1813 tentang pembentukan kembali kabupaten Limbangan, dan mengangkat RAA Adiwijaya sebagai Bupati Limbangan. Selain itu, berpegang juga pada tanggal 15 September 1813 yang tertera pada jembatan Leuwidaun. Tim ini menduga, pendirian kota Garut terjadi antara 16 Februari 1813 dan 15 September 1813. Dengan mengacu pada tradisi masyarakat Jawa, tanggal 14 Mulud merupakan kesempatan yang baik memulai sesuatu sehingga tanggal itu disakralkan. Maka, tim ini berkesimpulan bahwa “Hari Jadi Garut” adalah tanggal 14 Mulud 1228, atau bertepatan dengan tanggal 17 Maret 1813. Kesimpulan tim ini ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Garut Nomor 11 tahun 1981 tentang Penetapan Hari Jadi Garut.

Tanggal 10 Maret 2009 diselenggarakan lagi seminar “mengkaji Ulang Hari Jadi Garut”. Sejak tahun 2004 sebetulnya sudah muncul keraguan atas penetapan tanggal 17 Maret sebagai “Hari Jadi Garut”. Pasalnya, penetapan Hari Jadi Garut yang jatuh pada 17 Maret 1813 itu dianggap kurang ilmiah dan tidak berpijak pada fakta sejarah, sebab diambil berdasarkan perkiraan saja. Hasil seminar itu ditindaklanjuti dengan penelitian untuk mencari tanggal yang tepat sebagai “Hari Jadi Garut”. Hasilnya, tanggal 16 Februari 1813 dianggap saat yang paling tepat secara ilmiah untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Garut, dan diresmikan dalam PERDA Kabupaten Garut No. 30 Tahun 2011 tentang Hari Jadi Garut.

Anda tahu? Di tanggal 16 Pebruari 1813 itu belum ada wilayah dengan nama “Garoet”. Tanggal 16 Pebruari 1813 itu adalah tanggal terbit besluit Gubernur Jendral Hindia Belanda tentang pembentukan kembali kabupaten Limbangan, dan mengangkat RAA Adiwijaya sebagai Bupati Limbangan. Ibukotanya di Suci.

Bupati RAA Adiwijaya menganggap daerah Suci kurang layak dijadikan sebagai ibukota kabupaten. Maka, dia memerintahkan pencarian calon ibukota yang baru: di sebelah timur sekitar Cimurah atau di sebelah barat, Garut sekarang. Dari hasil penelusuran, dianggap daerah sebelah barat Suci itulah yang layak untuk dikembangkan sebagai kota. Konon, nama “garut” muncul saat itu gara-gara ada seseorang Belanda tergores hingga terlontar kata kakarut yang dilafalkan jadi “gagarut”, hingga kemudian “Garut” dijadikan nama tempat itu. Kapan itu terjadi? Belum jelas. Terus, kapan tepatnya daerah yang kemudian dikenal sebagai kota Garut itu mulai dibangun? Belum jelas juga. Pokoknya, antara tanggal 16 Pebruari 1813 dan 15 September 1813. Kitu cenah…

Jadi, sudah tepatkah tanggal 16 Pebruari 1813 ini dianggap sebagai “Hari Jadi Garut”?

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s