Pedagang Kaki Lima Sekitar Aloen-aloen Garoet Doeloe

Alun-alun, Mesjid Agung, dan Babancong di Garoet banyak menjadi obyek foto di jaman dulu. Lihat saja foto-foto Garoet tempo doeloe koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde). Foto berbagai sudut dari ketiga obyek tersebut kerap juga menjadi hiasan kartu pos jadul, yang pada jamannya menjadi andalan alat komunikasi.

Kalau diperhatikan, beberapa latar depan foto-foto itu menampilkan pemandangan yang tak asing dengan suasana sekarang: keberadaan pedagang jalanan alias pedagang kaki lima (PKL). Jadi, jika anda mengira munculnya PKL merupakan gejala baru di era modern, maka foto-foto tempo doeloe itu membuktikan sebaliknya.

Sejak lama, bahkan mungkin sejak awal berdirinya kota Garoet sebagai ibukota kaboepaten Limbangan (sebelum berubah menjadi kaboepaten Garoet di tahun 1913), keberadaan PKL sudah terlihat. Selain di pusat keramaian di kawasan Pengkolan, malah PKL hadir di sekitar alun-alun dan mesjid Agung, yang merupakan area pusat pemerintahan kaboepaten Garoet. Coba perhatikan foto-foto berikut:

Judul foto: Kruispunt van de Sociëteitsstraat en de Villa Dolce-weg bij de aloen-aloen te Garoet, Tahun: 1895, sumber: KITLV

Judul foto: Kruispunt van de Sociëteitsstraat en de Villa Dolce-weg bij de aloen-aloen te Garoet, Tahun: 1895, sumber: KITLV

Judul foto: Moskee aan de aloen-aloen te Garoet, Tahun: sekitar 1900, sumber: KITLV

Judul foto: Moskee aan de aloen-aloen te Garoet, Tahun: sekitar 1900, sumber: KITLV

Judul foto: Garoet (Java) 2400 F. ü. d. M. Die Misigit (Kirche) der Eingeborenen in Garoet. The Misigit (church) of the natives at Garoet, Tahun: sekitar 1910, sumber: KITLV

Judul foto: Garoet (Java) 2400 F. ü. d. M. Die Misigit (Kirche) der Eingeborenen in Garoet. The Misigit (church) of the natives at Garoet, Tahun: sekitar 1910, sumber: KITLV

Judul foto: Verkopers van etenswaren op de aloen-aloen te Garoet, Tahun: sekitar 1914, sumber: KITLV

Judul foto: Verkopers van etenswaren op de aloen-aloen te Garoet, Tahun: sekitar 1914, sumber: KITLV

Tapi di tahun 1935 muncul berita bahwa pedagang kaki lima mulai dilarang di kota Garoet. Mingguan De tribune: soc. dem. Weekblad edisi tanggal 23 Agustus 1935 memberitakan bahwa para pedagang dilarang menjajakan dagangannya di trotoar. Setiap pedagang harus berdagang di dalam ruangan (toko, warung). Ini pukulan bagi pedagang kaki lima. Mingguan De tribune sepertinya bersimpati pada para pedagang kecil yang menjadi korban kebijakan ini. Dalam opininya disebutkan bahwa PKL ini sudah menjadi tradisi, dan polisi akan mengakhiri tradisi ini. Ada razia tiap hari.

***

Sekarang, jaman sudah berganti, penguasa kolonial sudah pergi. Dan bupati juga terus berganti. Tapi di jalanan, PKL tetap merajai. Sekeliling alun-alun dan sekitar Mesjid Agung penuh pedagang, terutama pedagang makanan. Jangan-jangan memang benar: PKL ini sudah jadi tradisi…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s