J.Z. van Dijk, Garoet, dan Panas Bumi

Sungguh beruntung mendapati situs geomagz.com. Di sana, isu-isu geologi “diceritakan” secara populer. Dari sana pula saya memperoleh sumber tentang riwayat pemanfaatan panas bumi untuk tenaga listrik di Indonesia d.h Hindia Belanda. Dan Kamodjang menjadi area perintisan pengembangan panas bumi itu.

Keindahan alam Kamodjang ramai menarik kunjungan para pelancong. Sebuah hotel, Hacks Radium Hotel, pernah berdiri di sana. (Judul foto: Hacks Radium Hotel bij Kawah Kamodjan bij Garoet, Tahun: 1930, Sumber: KITLV).

Keindahan alam Kamodjang ramai menarik kunjungan para pelancong. Sebuah hotel, Hacks Radium Hotel, pernah berdiri di sana. (Judul foto: Hacks Radium Hotel bij Kawah Kamodjan bij Garoet, Tahun: 1930, Sumber: KITLV).

Adalah J.Z. van Dijk, orang yang mula-mula mengusulkan gagasan pengembangan panas bumi sebagai energi di Hindia Belanda. Dalam majalah bulanan Koloniale Studiën (1918) ia menulis artikel “Krachtbronnen in Italie”. Di situ van Dijk menitikberatkan perhatiannya pada potensi panas bumi dari gunung api dengan acuan pengalaman yang telah dilakukan di Italia. Perlu dicatat bahwa perihal panas bumi ini sesungguhnya sudah diamati sejak lama. Franz Wilhelm Junghuhn pernah menuliskan amatannya atas 23 sumber air panas dalam Java, deszelfs gedaante, bekleeding en inwendige struktuur (1854). Tapi, untuk soal pemanfaatannya, van Dijk lah yang layak disebut sebagai perintis.

Sebenarnya kebutuhan tenaga listrik di masa itu bisa dikatakan relatif sedikit. Tapi, keberhasilan Italia dalam pengembangan panas bumi hingga mampu membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi yang pertama, menjadi dorongan bagi para ahli geologi, gunung api, dan peminat kebumian di Hindia Belanda untuk mencoba menggali potensi panas bumi. Dan Van Dijk memulai wacana itu.

Rumah seorang mantri dari Dinas Vulkanologi di Kawah Kamojang. (Judul foto: "Kawah Kamodjan", Tahun: 1910, Sumber: KITLV).

Rumah seorang mantri dari Dinas Vulkanologi di Kawah Kamojang. (Judul foto: “Kawah Kamodjan”, Tahun: 1910, Sumber: KITLV).

Tak semuanya sepakat dengan van Dijk. Contohnya, Berend George Escher. Dalam tulisannya, “Over de Mogelijkheid van Dienstbaarmaking van Vulkaan Gassen” (dimuat dalam De Mijningenieur, 1920), Escher menyatakan bahwa sebagian besar lapangan solfatara di Hindia Belanda berada di ketinggian, wilayah yang datarnya sedikit, sementara proses pengeboran di wilayah gunung api sangat sulit dilakukan karena solfatara bersifat korosif. Namun, N.J.M. Taverne lebih optimis ketimbang Escher. Dalam tulisannya, “Omzetting van vulkanische in electrische energie” dalam De Mijningenieur, Jg. 6, 1925, Taverne memperlihatkan bagaimana orang Italia berhasil mengelola panas bumi di Larderello, daerah gunung berapi. Itu sebabnya, pada Februari 1926, Volcanologische Onderzoek mengadakan pengeboran eksplorasi di lapangan fumarola Kawah Kamojang. Inilah yang dianggap sebagai upaya awal pengeboran eksplorasi panas bumi pertama di Hindia Belanda.

Salah satu kawah Kamojang. Nampak pada masuk terdapat tulisan "Vulkanologisch Onderzoek". (Judul foto: Stoomspuiter van de Kawah Kamodjan bij Garoet, , Tahun: 1931, Sumber: KITLV).

Salah satu kawah Kamojang yang sekelilingnya diberi pagar untuk kepentingan penelitian. Nampak pada pintu pagar terdapat tulisan “Vulkanologisch Onderzoek”. (Judul foto: Stoomspuiter van de Kawah Kamodjan bij Garoet, , Tahun: 1931, Sumber: KITLV).

Perjalanan pengembangan potensi panas bumi masih panjang dan terus berlangsung, sampai sekarang. Sains, teknologi, dan hitung-hitungan bisnis (serta kepentingan politik) berkelindan mewarnai liku-likunya di tiap jaman. Tapi saya ingin segera beralih cerita. Tentang van Dijk dan Garoet.

Tak banyak sumber yang mengungkap riwayat hidup J.Z. van Dijk. Sedikit jejak van Dijk diperoleh dari tulisan “De Exploitatie van de Energiebronnen van den Kawah Kamodjan” karya S.A. Reitsma. Dalam tulisan yang dimuat dalam bulanan Tropisch Nederland edisi 17 Juni 1929 itu, Reitsma menyebut van Dijk sebagai “Bandoengsche HBS-leeraar” alias guru yang mengajar di HBS Bandung, setingkat guru SMA sekarang.

Pada satu kesempatan, Nederlandsch Indische Hotelvereeniging atau The East Indian Travelling and Tourist Offices (Eitto) yang berkantor di Jalan Braga No. 56, Bandung, menawari van Dijk untuk berkelana mengunjungi tempat-tempat menarik di Jawa. Van Dijk menyambut baik. Menurutnya, sangat jarang ada orang yang berkesempatan berkeliling Jawa mengunjungi obyek-obyek menarik.

Dan van Dijk terkesan dengan Garoet. Ia menuliskan catatan perjalanannya dalam sebuah buku berjudul Garoet en Omstreken: Zwerftochten door de Preanger.

"Garoet en Omstreken: Zwerftochten door de Preanger"

Sampul buku “Garoet en Omstreken: Zwerftochten door de Preanger”

Buku yang diterbitkan penerbit G. Kolff (Batavia) pada tahun 1922 itu mengungkap pengalaman van Dijk mengunjungi tempat-tempat wisata di Garoet dan sekitarnya. Van Dijk menulis tentang Cipanas, Situ Cangkuang, Situ Bagendit, Kawah Manuk, Kawah Kamojang, Kawah Papandayan, Hotel Villa Paulina di Cisurupan, Hotel Sanatorium di Ngamplang, kerajinan di Indihiang (Tasikmalaya), Gunung Galunggung, dan Situ Panjalu. Juga, tentang “berbelanja” di Garoet, dan “Najoeban”! Rupanya van Dijk juga tertarik pada soal-soal budaya, selain tentang sumber daya alam Garoet dan sekitarnya.

Daftar isi "Garoet en Omstreken"

Daftar isi buku “Garoet en Omstreken”

Satu lagi tentang van Dijk dan Garoet. Tulisan “Krachtbronnen in Italie” yang membuka wacana soal panas bumi di Hindia Belanda itu ternyata ditulis saat van Dijk berada di Garoet. Pada akhir tulisan “Krachtbronnen in Italie” itu tertera titimangsa “Garoet, Febr. 1918”, artinya “ditulis di Garut pada bulan Februari 1918”.

Begitulah. J.Z van Dijk, Garoet, dan panas bumi pada awalnya berada dalam satu tarikan napas. Dan ternyata juga, bumi Garut menyimpan potensi panas bumi yang berlimpah. Jika Garut sekarang tak tersejahterakan dari hasil panas buminya sendiri, maka… sungguh terlalu.

[M.S]

Advertisements

2 thoughts on “J.Z. van Dijk, Garoet, dan Panas Bumi

  1. Pingback: Najoeban | Naratas Garoet

  2. Pingback: Najoeban | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s