Garut Kota Illuminati : Kitab Omong Kosong

Pengantar

Tulisan ini saduran dari situs http://www.santijehannanda.com tertanggal 10 Februari 2014, berisi ulasan buku “Garut Kota Illuminati” karangan Ahmad Y. Samantho terbitan Ufuk (2013). Ilustrasi gambar juga berasal dari sumber yang sama.

Hampir saja Naratas Garoet tergoda untuk membeli buku “Garut Kota Illuminati” itu. Dengan kedalaman referensi mengenai tarekat Freemasonry sejak jaman Hindia Belanda, Santi JN menguliti habis buku “Garut Kota Illuminati” sehingga berujung pada kesimpulan: tak lebih dari kitab omong kosong saja. Maka, beruntunglah tidak membeli buku omong kosong.

[M.S]

garutilluminati01

Garut Kota Illuminati : Kitab Omong Kosong

Salah satu wacana dan indikasi bahwa kota Garut menyimpan jejak peradaban Illuminaty-Freemasonry ini diungkapkan oleh Bapak Ucep Jamhari, pensiunan TNI-AD kelahiran Garut, yang saat ini (April-September2013) sedang mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Garut. Ucep Jamhari bercerita bahwa ternyata bangunan Masjid Agung Garut dan area sekitarnya pun menyimpan jejak-jejak simbol Illuminati dan Freemasonry.

Para pegawai toko buku seperti Gramedia atau lainnya pasti akan kebingungan dimana harus menyimpan buku “Garut Kota Illuminati” (Ufuk, 2013) ini, di bagian non-fiksi atau fiksi. Itu karena isi buku ini benar-benar samar, bahasanya seakan-akan ilmiah tapi isinya jauh dari hal demikian. Sebagai seorang awam, aku memiliki cara jitu dalam menentukan kualitas sebuah buku ilmiah, caranya mudah saja – cek bagian daftar pustaka buku itu. Semakin kaya dan berkualitas referensi yang digunakan penulis, maka boleh dibilang kualitas ilmiahnya juga semakin baik, apalagi kalau berkaitan dengan sejarah. Nah, Buku ini sama sekali tidak mencantumkan daftar pustaka, melainkan hanya catatan kaki di setiap bab yang kebanyakan mengambil dari situs web di internet atau buku-buku yang tidak terlalu berhubungan dengan objek bahasan buku. Sehingga wajar saja kalau aku menilai buku ini tidak akan mendapatkan nilai baik apabila disajikan sebagai tugas mahasiswa sekalipun.

Adalah cukup mengagumkan bahwa penerbit sekelas Ufuk mau menerbitkan buku seperti ini. Tapi itu lagi-lagi dapat dimaklumi karena buku semacam ini lagi laris manis di pasaran. Buku-buku bertema konspirasi, freemasonry, illuminati, atlantis, atau apalah memang lagi banyak diburu mereka yang lagi mengalami euforia teori atlantis nusantara berkat beredarnya buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization” karya Prof. Dr. Aryso Santos dan “Eden in the East”  karya Stephen Oppenheimer. Dua buku ini menjadi kitab suci bagi mereka yang mempercayai keberadaan benua Atlantis di Nusantara, tak peduli ada puluhan teori lain yang menyebutkan atlantis di daerah lain. Teori ini semakin heboh saja karena Ahmad Y. Samantho, penulis buku “Garut Kota Illuminati” ini, membumbui teori tersebut dengan kisah-kisah Freemasonry, Hitler, Yahudi, CIA, dan lain-lain. Memang benar apa yang dikatakan orang bijak bahwa “satu kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan-kebohongan lainnya”.

Sebenarnya aku tidak rela menghabiskan uang sebesar Rp. 89.000,- untuk membeli buku ini mengingat beberapa review lain di internet sudah mengingatkan betapa kecewanya mereka yang terlanjur membeli buku ini. Untunglah ada sahabatku yang baik, yang bersedia membelikanku buku ini agar aku bisa menelaahnya berdasarkan pengetahuan awam yang kumiliki. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk sahabatku yang baik itu. Buku pemberiannya sama sekali tidak percuma.

Kekecewaan mereka yang membaca buku ini sangat beralasan. Bagaimana tidak, dari 490 halaman isi buku, hanya sekitar 6 halaman yang benar-benar membahas indikasi keberadaan illuminati di Garut. Itupun hanya mendasarkan dugaan kepada seorang Ucep Jamhari, seorang “pensiunan TNI-AD kelahiran Garut, yang saat itu (April-September2013) sedang mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Garut”. Apa latar belakang Ucep Jamhari, bagaimana kompetensinya di bidang sejarah, dan ke-freemasonry-an, tidak dijelaskan sama sekali. Dalam metode penelitian sejarah, jangankan ia bisa dianggap sebagai sumber primer, sebagai sumber sekunder pun tidak !

Sisa buku (90%) berisi kisah-kisah yang banyak beredar di internet atau buku-buku konspirasi lainnya, tidak ada yang benar-benar baru. Aku akan membahasnya satu per satu untuk memudahkan bayangan anda yang belum membacanya.

Bab pertama membahas teori Yahudi keturunan Jawa, atau sebaliknya. Penulis mengutip teori Pebri Mahmud al-Hamdi (entah siapa dia) yang pernah dimuat dalam buku terdahulunya yang berjudul “Peradaban Atlantis Nusantara” (Ufuk, 2011), bahwa di Lubuk Jambi  pernah berdiri sebuah kerajaan tua yang dibangun oleh pasukan Alexander the Great pada abad ke-3 SM.. Kerajaan itu dibangun sebagai replika kerajaan Atlantis, sebagaimana yang diceritakan oleh Plato (347 SM). Apa saja dasar hipotesis tersebut ? Tidak disebutkan sama sekali. Kisah-kisah ini berlanjut dengan gaya penceritaan khas Babad yang merujuk nenek moyang nusantara kepada Adam dan Hawa. Dengan asumsi-asumsi yang lemah disebutkan bahwa salah satu keturunan Adam yang bernama Sis diutus untuk menempati tanah Jawa.

“Sebagai seorang Nabi beliau selalu mengemban tugas untuk saling memperingatkan kaumnya satu dengan yang lainnya untuk saling berbagi rezeki dan mempersembahkan Kurbannya “hanya” untuk Allah SWT sebagai tanda ujud syukur atas ketaqwaannya sebagai pemimpin di ‘tanah Jawa’ ini”

Sebelumnya perlu kuingatkan bahwa keterangan kronologis waktu tidak penting dalam buku ini. Kisahnya bisa melompat-lompat antara satu zaman ke zaman lain, antara satu nabi ke nabi lainnya, untuk mendukung teori nusantara sebagai induk peradaban. Mulai dari mengangkat teori “Candi Borobudur sebagai karya Nabi Sulaiman” hingga nabi Daud yang “membuat gamelan dengan tangannya”.

Perlu diketahui bahwa satu-satunya nabi yang termaktub dalam Al Qur’an, yang menggunakan nama depan “SU” hanya Nabi Sulaiman dan negeri yang beliau wariskan ternyata diperintah oleh keturunannya yang juga bernama depan SU yaitu Soekarno, Suharto, dan Susilo serta meninggalkan negeri bernama SLEMAN di Jawa Tengah.

Kalau boleh berkomentar, aku ingin mengajukan teori lain yang sepertinya lebih sempurna, bahwa sebenarnya dulu Sulaiman berkuasa di Solomon Island. Mengapa ? Karena namanya kebetulan sama. Itulah yang dinamakan ilmu kirata alias “kira-kira tapi nyata”. Dengan cara inikah bangsa kita ingin disebut sebagai induk peradaban dunia ?

Di bagian yang sama, penulis membahas teori kesamaan beberapa kata dalam Bahasa Minang (Melayu) dengan Bahasa Eropa. Seperti awak (kita) dengan our, biduak (biduk) dengan boat,ituak (itik) dengan duck, hati dengan heart, dan lain-lain. Semua itu berujung kepada kesimpulan bahwa Alexander the Great pernah menetap di Sumatra pada akhir hidupnya. Menakjubkan bukan ?

Bab II membahas kemungkinan Indonesia sebagai “The Promised Land“-nya orang Yahudi. Apa yang mendasarkan pendapat tersebut ? Ternyata karena ada kesamaan antara kata “Jawa” dengan “Jewish”. Untuk menguatkan pendapat tersebut penulis mengutip beberapa tulisan yang berasal dari Internet sepenuhnya. Banyak hal-hal yang cukup menarik di sini, tapi tetap saja masih jauh dari pembahasan “Garut Kota Illuminati”.

Bab ketiga mulai membahas Illuminati dan Freemason di Nusantara. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa alasan kedatangan kaum Teosofi seperti Helena Blavatsky dan kaum Freemason ke Nusantara dan mendirikan banyak loji bersama para pengusaha kolonialis Barat di berbagai kota penting di Nusantara antara lain adalah kemungkinan bahwa mereka sudah mengetahui secara spiritual maupun ilmiah mengenai lokasi imperium atlantis yang sebenarnya. Untuk itu kembali diungkapkan materi-materi yang sudah dimuat dalam buku Ahmad Samantho sebelumnya mengenai kesamaan-kesamaan beberapa peninggalan sejarah di Indonesia dengan negara lainnya, yang lagi-lagi menyampingkan periodisasi sejarah sama sekali. Bayangkan saja caranya membandingkan Piramida Maya dengan Candi-candi di Bali yang usianya terpaut ribuan tahun. Mungkin menurut asumsinya kedua bangunan tersebut dibangun di zaman yang sama. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa kesamaan arsitektur kubah mushola yang ada dekat rumahku dengan arsitektur Hagia Sophia di Turki telah membuktikan adanya peradaban yang sama di kedua tempat.

Nah, bab keempat mulai membahas jejak Illuminati dan Freemasonry di kota Garut dan Indonesia umumnya. Apa yang menjadi bukti awal ? Tidak lain adalah “piramid-piramid” di nusantaram berupa punden-punden berundak dan candi-candi yang menurut sang penulis “merupakan ikon sumbolik daripada sekte atau okultisme illuminati dan Freemason sejak periode awalnya”. Dengan kata lain ia menyimpulkan bahwa pembangun punden-punden berundak dan candi-candi di Indonesia merupakan kaum illuminati. Khusus untuk Garut, penulis kembali mengangkat kasus “Gunung Sadahurip” yang bentuknya seperti piramida. Untuk itu ia memuat kembali secara mentah-mentah artikel online yang membahas gunung tersebut sekaligus komentar dan diskusi orang-orang tak dikenal yang membahas hal2 diluar konteks atau tidak nyambung. Tidak tanggung-tanggung, artikel yang jelas-jelas membantah teori piramida tersebut pun juga dimuatnya. Sehingga di akhir bisa disimpulkan bahwa gunung tersebut tidak punya kaitan apa-apa dengan piramida atau freemasonry. Tidak lupa, penulis turut memasukkan tulisannya yang berisi pengalamannya melakukan “gowes” atau bersepeda ke daerah Gunung tersebut. Untuk apa kisah tersebut dimuat dalam buku ini? Mungkin hanya untuk menambah ketebalan buku saja.

garutilluminati02

Halaman 196 – 200 merupakan inti utama buku ini : jejak Illuminati di Pusat Kota Garut. Setelah dibawa “berputar-putar” lamanya, akhirnya kita tiba pada inti buku yang hanya beberapa lembar ini. Menurut penulis, yang merujuk pada pendapat Bapak Ucep Jamhari, jejak ini antara lain ditunjukkan oleh Masjid Agung Garut yang desain arsitekturnya mirip gedung Loji Freemason. Tidak kurang tidak lebih. Lalu mengapa kaum Illuminati atau Freemason ini tertarik untuk “tinggal” di Garut ?

Keberadaan beberapa peninggalan bangunan dan ciri-ciri simbolis sekte Illuminati dan Freemasons di Kota Garut, mengindikasikan kehadiran mereka di kota ini sejak zaman penjajahan Belanda. Mungkin salah satunya adalah karena keindahan panorama alamnya yang dilingkungi pegunungan dan udaranya yang sejuk, membuat orang-orang Eropa Barat : Belanda, Inggris dan Jerman sering berkunjung dan berlibur di Kota Garut.

Bayangkanlah, organisasi sebesar Freemasonry atau Illuminati yang katanya menguasai dunia, tinggal di Garut karena kota tersebut pemandangannya indah dan udaranya sejuk. Itulah kesimpulan daripada buku ini.

Sebagai seorang penggelut teori konspirasi atau sejarah freemasonry di Indonesia, penulis buku ini tampaknya hanya bisa mengakses narasumber yang terlalu dangkal atau tidak berkualitas sama sekali. Padahal masih ada pemerhati masalah freemasonry di Indonesia seperti Sophie Trianaparamitha atau Iskandar P. Nugraha, penulis buku sejarah Gerakan Teosofi di Indonesia, yang lebih kompeten sebagai narasumber. Ahmad Samantho sebagai penulis buku ini bahkan sama sekali tidak mengindahkan buku paling komprehensif mengenai sejarah Freemason di Indonesia, yaitu karangan Th. Stevens yang berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Sinar Harapan, 2004). Buku yang mudah didapatkan karena ebooknya bisa diunduh dengan bebas ini bahkan tidak digunakannya sama sekali, padahal banyak informasi penting mengenai Freemason Indonesia yang bisa digali di sana. Mungkin karena semua sumber tersebut tidak membahas hal-hal berbau “atlantis” sehingga sang penulis enggan menggunakannya, dan lebih memilih seorang narasumber bernama Ucep Jamhari yang entah pernah membuat karya apa tentang Freemasonry.

Andai mau capek sedikit, aku yakin Ahmad Samantho sang penulis buku “Garut Kota Illuminati” ini bisa mendapatkan lebih banyak info mengenai kegiatan Freemason di Indonesia yang tidak seheboh yang dibayangkannya. Aku bisa memperlihatkan buku kenang-kenangan 150 tahun sejarah Freemason di Hindia Belanda / Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederland Oost Indie 1767 – 1917  (Van Dorp, 1917),  buku terlengkap yang menyajikan sejarah 150 tahun Freemason di Hindia Belanda secara cukup lengkap, dan merupakan sumber sekunder yang sangat berharga. Anehnya buku ini sama sekali tidak pernah menyebutkan Garut sebagai salah satu lokasi kegiatan Freemasonry. Mereka mendirikan Loge secara terbuka di Batavia, Semarang, Surabaya, Bogor, Magelang, Bandung, Salatiga, Tegal, Malang, Jember, Sukabumi, Purwokerto bahkan sampai Padang, Makassar, Medan dan Palembang tapi tidak pernah di  Garut. Apakah itu berarti mereka kurang menyukai pemandangan indah dan hawa sejuk Garut?

garutilluminati03

Suasana Pertemuan Freemason di Gedung Het Star in de Oosten Batavia.

garutilluminati04

Para pengurus loji Freemason di Buitnzorg (Bogor) (Sumber: Gedenkboek Vrijmetselarij 1676 – 1917).

Selanjutnya sisa buku ini tidak terlalu penting untuk kuulas kembali, karena hanya mengulang kembali kisah mengenai kunjungan Hitler ke Indonesia, teori-teori konspirasi mengenai Freemasonry, sejarah perbankan, dinasti Rothschild, dan lain-lainnya yang tidak berhubungan sama sekali dengan Garut sebagai “Kota Illuminati”. Kisah-kisah itu banyak terdapat di thread-thread atau grup-grup yang membahas teori konspirasi di Internet.

Apabila aku mencoba menarik benang merah dari buku ini, maka yang kudapat  adalah : Dahulunya negeri ini merupakan pusat peradaban dunia yang didiami oleh nabi-nabi, tetap kemudian tersapu banjir besar sehingga tenggelam. Kalangan Freemason bermaksud menguasai kembali pusat peradaban tersebut dan berusaha menancapkan kekuasaannya kembali, salah satunya di Garut. Sehingga kota tersebut menjelma menjadi “Kota Illuminati”. Mohon dikoreksi apabila kesimpulanku tersebut kurang tepat.

Akhir kata bukan maksudku merendahkan buku ini maupun penulisnya. Aku sangat menghargai upaya penulisan dalam bentuk apapun, karena berdasarkan pengalamanku menulis dan menerbitkan buku bukanlah hal yang mudah. Tapi yang perlu dipikirkan adalah, apakah kiranya tulisan kita akan mencerahkan banyak orang atau malah menyesatkan. Juga perlu dipikirkan strategi pemilihan judul buku yang baik sehingga isi buku bisa sesuai dengan ekspektasi pembeli. Buku “Garut Kota Iluminati” ini menurutku bisa mewarnai khazanah literasi di Indonesia, tapi alangkah lebih baiknya apabila sang penulis tidak tergesa-gesa mencantumkan judul buku demikian apabila isi buku tidak sama sekali atau kurang mewakili judul  tersebut. Ini hanya pendapat seorang awam yang tidak perlu dipikirkan sama sekali.

garutilluminati05

Advertisements

2 thoughts on “Garut Kota Illuminati : Kitab Omong Kosong

    • Persoalannya, bukti yang meyakinkan belum terungkap. Kalau dari sisi politik kolonial, memang penggembosan Islam “politik” sudah terang melalui peran Holle dan Hurgronje, sbg penasihat urusan agama dan pribumi untuk pemerintah kolonial.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s