Empat Kisah dari Jaman Kejayaan Pabrik Tenun Garut

Penghormatan terhadap bangunan lama yang bersejarah terkadang dikalahkan oleh kepentingan bisnis. Mungkin memang perkembangan kota menuntut kebaruan, tapi tak harus pula berarti “membumihanguskan” warisan lama seluruhnya. Jika sadar sejarah, pemilik modal dan pemilik kuasa sesungguhnya dapat menyisakan sedikit ornamen unik dari bangunan lama –apa pun itu– dengan tanpa mengurangi sisi kepentingan bisnis dari bangunan baru. Malah, ornamen kuno bangunan lama itu justru bisa menjadi salah satu daya tarik…

Saya sedang bergumam tentang pertokoan Mall “Ramayana” Garut dan komplek BIC yang berdiri di atas lahan ex Pabrik Tenun Garut (PTG) serta komplek mess karyawannya, yang berada di seputaran jalan Guntur, jalan Perintis Kemerdekaan, dan jalan Pramuka. Juga, tentang ex rumah dinas direktur PTG, dikenal sebagai rumah “Padang Boelan”, yang tak tersisa ditelan bangunan Bank Jabar di jalan A. Yani. Bagi generasi yang tak melewati masa-masa sebelum tahun 1990-an, mungkin tak terbayangkan bangunan apa yang berdiri di sana sebelumnya. Beruntung, dokumentasi foto PTG dari masa awalnya masih tersedia, tapi saya kesulitan mendapati foto rumah “Padang Boelan”.

Berdiri di tahun 1933 dengan nama Preanger Bontweveij (PBW), pabrik yang memproduksi kain tenun ini, terutama kain sarung, dikelola oleh perusahaan multinasional NV. Preanger Bontweverij. Pada masa kekuasaan Jepang, PBW berganti nama Garoet Syokoho Kozyo (GSK). Setelah masa kemerdekaan, pabrik tenun itu kembali ke tangan pengusaha Belanda. Pada tahun 1958, PBW diambil alih pemerintah RI, dan berganti nama menjadi PTG “Ampera I” Garut, yang ditangani pemerintah provinsi Jawa Barat. Terakhir dikelola oleh Perusahaan Daerah (PD) Kerta Paditex, yang kemudian bersama PD. Kerta Pertambangan, PD. Kerta Sari Mamin, dan PD. Kerta Gemah Ripah, dilebur oleh pemerintah provinsi Jawa Barat menjadi PD. Agribisnis dan Pertambangan. Pada tahun 1980-an, PTG tak lagi mampu berproduksi, dan akhirnya mati. Lahannya dijual ke pihak swasta, dan bangunannya kemudian dihancurkan. Begitulah, uang dan kekuasaan menentukan akhir nasibnya.

Jadi, sebelum sumber-sumber tertulis ikutan musnah, saya punya empat kisah dari jaman kejayaan PTG dulu untuk direkam ulang dalam Naratas Garoet ini.

Berdiri di Masa Krisis Ekonomi Dunia Tahun 1930-an

Kondisi di awal tahun 1930-an itu katanya mirip-mirip krisis ekonomi dunia di tahun 1998. Perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika saat itu banyak yang kolaps, membuat para pengusaha dan penguasa di banyak negara harus berpikir keras bagaimana melewati masa-masa sulit itu. Tak pelak, depresi dunia itu menghantam pula perekonomian Hindia Belanda yang sangat tergantung pada ekonomi negeri Belanda sebagai penjajah. Diketahui, Belanda menyumbang sekitar 70% dari seluruh investasi asing yang dilakukan di Indonesia masa kolonial. Namun justru di saat krisis itu, satu grup usaha terkemuka di Belanda, Internatio, satu dari Big Five dalam perdagangan retail di Hindia Belanda, mendirikan sebuah pabrik tenun, Preanger Bontweverij di Garoet pada tahun 1933.

Situasi jalan Guntur dan bangunan PTG di tahun 1930-an. (Judul foto: Weefplaats van de Preanger Bontweverij te Garoet, Tahun: sekitar 1930-an, Sumber: KITLV)

Situasi jalan Guntur dan bangunan PTG di tahun 1930-an. (Judul foto: Weefplaats van de Preanger Bontweverij te Garoet, Tahun: sekitar 1930-an, Sumber: KITLV)

Dalam artikel berjudul “Business Responses to Crisis in Indonesia: The 1930s and The 1990s”, tulisan J. Thomas Lindblad, dalam Australian Economic History Review, Vol. 43, No. 2 July 2003, dikatakan bahwa pendirian Preanger Bontweverij di Garoet itu merupakan upaya grup Internatio dalam mengatasi krisis perusahaan. Salah satunya adalah dengan memperkuat sektor manufaktur di Hindia Belanda. Dengan begitu, jarak produksi dengan negara importir bahan baku menjadi tidak terlalu jauh, begitu pula dengan daerah pemasaran produk. Dan ternyata Preanger Bontweverij berkembang pesat sampai akhirnya sempat tersendat akibat terjadinya Perang Dunia Dunia Kedua. Satu pertanyaan yang belum terjawab: mengapa di Garoet yang merupakan daerah pegunungan dan jauh dari pelabuhan? Mengapa tidak di daerah yang dekat pelabuhan?

Pabrik Tenun Terbesar di Jamannya

Sampai dengan era 1930-an akhir, ada dua perusahaan Eropa di sektor tenun yang besar, yaitu Preanger Bontweverij di Garoet dan Java Textielmaatschappij di Tegal. Di antara keduanya, yang terbesar adalah Preanger Bontweverij.

Dijelaskan dalam Berichten van de Afdeeling Handelsmuseum van de Kon. Vereeniging Koloniaal Instituut No. 125, tahun 1938, pada bagian Industrieen in Ned.-Indie: Textielindustrie, yang ditulis Mr. Cecile Rothe, Preanger Bontweverij didirikan dengan modal 1.000.000 gulden. Luas pabrik awalnya sekitar 3500 m2, yang berada di lahan seluas 24.000 m2.

Pada tahun 1935 pabrik memiliki 259 mesin tenun dan 76 alat yang digerakkan tangan. Jumlah pekerja sekitar 600 orang, yang rata-rata upahnya 40-50 sen sehari, sehingga total 100.000 gulden per tahun upah yang dibayarkan. Pada akhir 1937, ada 484 mesin dan 76 alat non-mesin, serta jumlah pekerja menjadi 1200 orang, dengan upah yang dibayarkan 200.000 gulden per tahun.

Foto-foto koleksi Tropemuseum sekitar tahun 1930-an di bawah ini adalah sebagian dari dokumentasi yang sudah cukup untuk menggambarkan besarnya skala pabrik Preanger Bontweverij pada jamannya.

003_COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bontweverij_mechanische_weverij_Garoet_25_september_1934_TMnr_10014368004_COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bontweverij_afstellen_twijnmachines_Garoet_TMnr_10014363009_COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bontweverij_weefzaal_Garoet_Preanger_TMnr_10014348010_590px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bontweverij_Garoet_TMnr_10014360011_COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bontweverij_tentering_(spanraam)_Garoet_25_september_1934_TMnr_10014369Diperkirakan pada tahun 1940 akan ada 1200 alat tenun mekanik, maka diperkirakan akan diperlukan 2000 sampai 2.500 orang pekerja. Namun sepertinya rencana tersebut tidak terlaksana akibat pecahnya Perang Dunia Kedua. Pada April 1958, ketika pemerintah Indonesia mengambil alih Preanger Bontweverij, pabrik itu tercatat memiliki sekitar 1.200 mesin tenun, dengan lebih dari 1.500 orang pekerja.

Pekerja Preanger Bontweverij (Judul foto: Bontweverij, vermoedelijk tussen Bandoeng en Garoet, Tahun: 28-03-1939, Sumber:_KITLV)

Pekerja Preanger Bontweverij (Judul foto: Bontweverij, vermoedelijk tussen Bandoeng en Garoet, Tahun: 28-03-1939, Sumber:_KITLV)

Pada 1935, Preanger Bontweverij memproduksi hampir 2 juta meter kain sarung per tahun, sementara itu pada tahun 1937 tercatat hampir 3 juta meter kain per tahun. Penyelesaian perluasan pabrik dan penambahan mesin telah direncanakan agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sampai dengan dua kali lipatnya. Kain sarung produk Preanger Bontweverij ini memakai merek sarung “tjap Padi”.

Salah satu kain katun produk Preanger Bontweverij, dengan kemasan bertuliskan Toko Roterdam. (Judul foto: Staal van de Preanger bontweverij Garoet om karton gewikkeld, Tahun: sebelum 1963, Sumber: Tropenmuseum)

Salah satu kain katun produk Preanger Bontweverij, dengan kemasan bertuliskan Toko Roterdam. (Judul foto: Staal van de Preanger bontweverij Garoet om karton gewikkeld, Tahun: sebelum 1963, Sumber: Tropenmuseum)

Toko Mesir, agen penjualan sarung Tjap Padi produk Preanger Bontweverij, dalam satu pameran. (Sumber: Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch Indie tanggal 28-08-1939)

Toko Mesir, agen penjualan sarung Tjap Padi produk Preanger Bontweverij, dalam satu pameran. (Sumber: Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch Indie tanggal 28-08-1939)

Pemasok Bahan Seragam KNIL

Selain kain sarung, Preanger Bontweverij juga memproduksi kain handuk, dan katun bahan seragam militer yang berwarna abu-abu hijau (grijs-groen katoenen). Pada tahun 1936, pabrik tenun di Garoet ini mulai memproduksi grijs-groen katoenen dengan kualitas yang lebih baik dari bahan sebelumnya yang diproduksi di Cirebon. Tapi kemudian orang Belanda menamakan semua grijs-groen katoenen itu sebagai katun Garoet. Katun produksi Preanger Bontweverij ini disebut sebagai katun “Garoet-B”. Dan katun Garoet-B dipandang berkualitas paling baik. (Baca: Seragam KNIL Made in Garoet)

KNIL uniform ( garoet ) mogelijk van een Sergeant der 2e klasseSeluruh bahan seragam abu-abu hijau untuk KNIL yang dipasok dari dalam negeri dibuat oleh Preanger Bontweverij. Pada tahun 1937, Preanger Bontweverij mendapat kontrak untuk membuat 600.000 meter kain bahan seragam KNIL.

Sirene PTG

Ini kisah tentang lengkingan bunyi sirene yang berasal dari cerobong asap PTG yang legendaris di masa jayanya, yang saya baca dari media online Fokus Jabar. Konon, dari mulut cerobong tua itu terdengar nyaring suara sirene yang dapat menjangkau jarak 10 km jauhnya. Bunyinya mirip suara alarm di film perang ketika ada serangan musuh.

Cerobong asap PTG. (Dokumentasi: Yoyo Dasriyo, Sumber: Fokus Jabar)

Cerobong asap PTG. (Dokumentasi: Yoyo Dasriyo, Sumber: Fokus Jabar)

Sesungguhnya bunyi sirene itu ditujukan untuk karyawan PTG menjalani rutinitas di pabrik; ada sirene persiapan kerja, mulai jam kerja, jam istirahat, dan saat bubar kerja. Tapi karena berbunyi secara rutin itu, maka suara sirene PTG digunakan pula oleh masyarakat kota Garut menjadi penanda waktu sehari-hari. Ketika sirene pertama berbunyi di pagi hari, itu pertanda anak-anak sekolah harus bergegas berangkat, karena jam telah menunjukkan tepat pukul 06.30. Begitu seterusnya…

Khusus bulan Ramadhan, sirene PTG punya tugas tambahan. Tiap menjelang subuh dan saat berbuka puasa, maka sirene akan melengking nyaring.

R. Gahara Widjaja Soeria, bupati Garut (1960-1966)

R. Gahara Widjaja Soeria, bupati Garut (1960-1966)

Pada masa bupati Garut periode 1960-1966, R. Gahara Widjaja Soeria, sirene PTG digunakan sebagai tanda untuk masyarakat kota Garut memulai kegiatan membersihkan lingkungan kota. Seminggu sekali sirene dibunyikan pada pukul 09.30. Konon, saat itu semua komponen masyarakat ikut terlibat, hingga dalam waktu setengah jam di setiap minggunya itu, aktivitas yang ada di kota hanyalah beberesih. Tak heran, di tahun 1962 kota Garut meraih predikat sebagai kota terbersih di Indonesia, dan Presiden Soekarno secara khusus memberi julukan sebagai “Kota Intan”.

Wararaas…

[M.S]

Advertisements

10 thoughts on “Empat Kisah dari Jaman Kejayaan Pabrik Tenun Garut

  1. Nuhun pisan artikelna, abdi lahir dugi SMA di komplek PTG, pabrik teh pang ulinan..rorompok persis payuneun gerbang, asri ku tatangkalan bungbuah2an sagala rupi, hanjakal pisan meni teu aya tapakna pisan..

    Like

  2. Pingback: ‘Zaman Meleset’, Gaji Pegawai pun Dikurangi (1931) | Naratas Garoet

  3. Pingback: Jejak Sekilas Pabrik Shampoo Dr. Dralle di Garoet (1920-1927) | Naratas Garoet

  4. Pingback: Sarung tjap Padi (1954) | Naratas Garoet

  5. Pingback: Tjan Tian Soe | Naratas Garoet

  6. Artikel yg menarik, yang sangat berarti buat kami kami yang sempat menyaksikan kejayaan atau beroprasinya PTG…. Waas pisan… Hatur nuhun….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s