Catatan Para Pelancong Doeloe (2): Henry G. Bryant, Ahli Geografi dari The Geographical Society of Philadelphia

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanan, yang akan saya tampilkan cuplikan singkatnya dalam rangkaian tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” di Naratas Garoet ini. Catatan-catatan yang masih jarang diungkap itu, selagi tersedia informasinya, akan dilengkapi pula dengan biografi singkat mereka. Selamat melancong…

Kehadiran para pelancong di Garoet pada masa lalu itu tidak hanya melulu datang untuk sekadar menikmati keindahan alamnya saja, tok sebagai turis. Ada banyak pula yang datang untuk melakukan penelitian dan penjelajahan. Kabar tentang keunikan geografis Garoet sebagai suatu lembah yang di kelilingi rangkaian gunung-gunung berapi yang masih aktif, mendorong banyak ahli datang untuk melihatnya secara langsung. Salah satunya adalah Henry G. Bryant, ahli geografi dari The Geographical Society of Philadelphia, Amerika Serikat.

Henry G. Bryant

Henry G. Bryant

Bryant dianggap sebagai salah seorang ahli geografi yang paling diakui di Philadelphia pada pergantian abad kedua puluh. Kemampuan finansialnya memungkinkan Bryant mengabdikan hidupnya untuk memperluas pengetahuan tentang geografi. Sebagai pengurus di organisasi The Geographical Society of Philadelphia dan pendiri Alpine Club of America, dan juga sebagai seorang penjelajah dan pelancong, ia pernah menjelajahi Labrador, Greenland, Canadian Rockies, Amerika Selatan, Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Pada kesempatan kunjungannya ke Asia Tenggara, Bryant menjelajahi pulau Jawa. Tak jelas benar kapan ia berada di pulau Jawa. Tulisan tentang kunjungannya ke Jawa dengan judul: “A Traveler’s Notes on Java”, dimuat dalam The National Geographic Magazine Vol. XXI No.2, bulan Februari 1910. Namun ternyata, tulisan itu sebelumnya pernah dimuat pula dalam buletin yang diterbitkan The Geographical Society of Philadelphia, yaitu The Bulletin of The Geographical Society of Philadelphia, Vol. VI No.1, bulan Januari 1908. Tapi, tulisan yang dilengkapi beberapa foto menarik itu, sayangnya, miskin sekali mengungkap soal tanggal dan waktu. Alhasil, saya simpulkan saja dari titimangsa pemuatan tulisannya itu, setidaknya Bryant mengunjungi Jawa sebelum tahun 1908.

nationalgeograph21natiuoft1

Cover majalah The National Geographic Magazine Vol. XXI tahun 1910

nationalgeograph21natiuoft91-95_Page_1

Artikel “A Traveler’s Notes on Java” By Henry G. Bryant

Cover The Bulletin of The Geographical Society of The Philadelphia Vo. VI No. 1, Januari 1908

Cover The Bulletin of The Geographical Society of The Philadelphia Vo. VI No. 1, Januari 1908

Kapal yang ditumpangi Bryant berangkat dari Singapura, bersama penumpang-penumpang yang disebut Bryant sebagai “kebanyakan orang-orang yang untuk pertama kalinya melintasi garis khatulistiwa”. Jadi, katanya, kapten kapal berjanji akan membunyikan peluit ketika kapal melintasi garis 0 derajat khatulistiwa itu. Tapi tidak diceritakan reaksi mereka ketika melintas garis maya itu. Saya tadinya sudah membayangkan mereka tepuk tangan riuh. Hehe.

***

Di awal tulisannya, Bryant menyebut pulau Jawa di Hindia Timur karena keindahan pemandangan tropisnya, penduduknya yang menarik, sejarah yang beragamnya, dan peninggalan arkeologisnya yang terkenal, layak mendapat perhatian dari para sarjana sebagai tempat penelitian yang bernilai tinggi. Bryant yang sebelumnya tidak memiliki banyak pengetahuan tentang pulau Jawa itu mendapatkan kesempatan yang terbatas untuk mengunjunginya, dan mengumpulkan catatan perjalanan tentang wilayah-wilayah yang menarik di sana.

Di antara wilayah-wilayah yang menarik bagi Bryant itu salah satunya adalah Garoet. Sebagai seorang ahli geografi, tentu kondisi geografis Garoet yang menjadi perhatiannya. Bryant mengunjungi Garoet setelah perjalanannya mengelilingi Jawa Tengah. Kata Bryant, setelah kunjungan di dataran rendah di Jawa Tengah, ia menikmati hari-hari tinggal di daerah kecil berudara dingin yang dikenal sebagai Garoet, yang terletak di sebuah lembah yang luas di barat daya distrik Priangan, dengan ketinggian 2400 kaki di atas permukaan laut, dan sepenuhnya di kelilingi oleh puncak-puncak gunung berapi. Dan dua hal setidaknya yang menarik perhatian Bryant: sawah dan gunung Papandayan.

bulletingeograp01philgoog2a - Copy

Pemandangan sebuah sungai di Garoet (Judul foto: River Scene Near Garoet, Sumber: The Bulletin of The Geographical Society of Philadelphia)

Kata Bryant, banyak perjalanan menyenangkan yang didapat dari Garoet. Salah satunya adalah ketika mengunjungi gunung Papandayan yang jaraknya sekitar 17 mil. Ia bercerita, karena harus berangkat sepagi mungkin maka sekitar jam 3.30 ia dibangunkan untuk segera bersiap. Satu jam kemudian perjalanan dimulai menggunakan kereta yang ditarik 3 ekor kuda, menuju ke arah selatan melintasi jalanan dengan medan yang naik turun. Nah, saat fajar menyingsing, Bryant banyak bertemu dengan petani yang sedang berangkat ke sawah. Kata Bryant, di Jawa ini beras merupakan kebutuhan pokok dan tenaga orang-orang sepertinya banyak dicurahkan pada budidaya tanaman ini dibandingkan dengan industri lain.

nationalgeograph21natiuoft91-95_Page_4

Para petani sedang panen di Garoet (Judul foto: Cutting Rice, Sumber: The National Geographic Magazine)

Dalam perjalanan ke gunung Papandayan ini ia mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana sistem pengairan dan pola terasering untuk menjamin ketersediaan air di sawah-sawah di Jawa. Juga, melihat bagaimana penduduk, yang hampir seharian penuh tanpa merasa terganggu oleh teriknya sinar matahari, memanen padi. Padi telah matang, katanya, dipotong petani dengan alat yang kuno. Setelah diikat, maka diangkut ke tempat penampungan. Bryant sempat pula melihat serombongan wanita yang melakukan tugas mengangkut padi itu dengan “tanpa mengeluh”.

nationalgeograph21natiuoft107111_Page_4

Bryant menyaksikan rombongan wanita yang sedang membawa padi hasil panen di Garoet (Judul foto: Women Carrying Rice: Garoet, Sumber: The National Geographic Magazine)

Saat matahari “sudah terasa kehadirannya”, Bryant telah menempuh jarak 11 mil perjalanan dan sampai di Cisurupan. Katanya, dari sini tidak mungkin pergi melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta. Orang harus memilih antara menggunakan kuda (“pony mountain”) atau ditandu (“palanquin”). Dan sepertinya Bryant memilih “palanquin”.

nationalgeograph21natiuoft91-95_Page_41

Rombongan Bryant menggunakan “palanquin” menuju kawah Papandayan. Perhatikan kaki pembawa tandu yang tanpa alas berjalan di bebatuan. (Judul foto: On The Way To The Papandajan Volcano, Sumber: The National Geographic Magazine)

Enam mil perjalanan menuju kawah, Bryant mencatat pertama-tama disuguhi pemandangan perkebunan kopi dan kina. Tapi tak lama kemudian segera memasuki “hutan tropis yang sesungguhnya”. Begitu mendekati kawah, tumbuhan semakin sedikit dan yang nampak selanjutnya adalah bebatuan. “Kami melintasi air yang panas dan berbau menyengat,” kata Bryant.

Untuk menuju kawah, Bryant turun dari tandu dan berjalan kaki mendaki untuk beberapa langkah terakhir menuju bibir kawah. Dengan mengikuti pemandu setempat, Bryant turun ke kawah dan berjalan melintasi tanah yang disebutnya “berbahaya dan sangat panas”. Dan ia terheran-heran dengan kekuatan pemandu yang berjalan di sekitar kawah dengan tidak menggunakan sepatu. Urang Garoet tea atuh…

Kondisi di Papandayan yang terdapat banyak permukaan yang terbelah dengan uap panas di tengahnya, serta letupan lumpur dari lubang bersamaan dengan keluarnya gas itu mengingatkan Bryant pada tempat yang disebut Devil Kitchen di Yellow Stone National Park, di Amerika sana. Katanya, penamaan Papandayan yang artinya “smithy”, mendeskripsikan keadaan alam di sana.

***

Sebenarnya Bryant dalam tulisannya ini banyak menyinggung tentang kondisi penjajahan di Hindia Timur dan bagaimana masa depan rakyat Jawa. Sebagai orang Amerika yang menikmati kebebasan individual di negaranya, ia merasakan sendiri secara langsung kebebasannya sangat terganggu dengan perlakuan polisi kolonial yang mengawasi gerak geriknya selama perjalanan di Jawa. Ia merasa punya pandangan yang berlawanan dengan sikap politik kolonial Belanda di Hindia Timur.

Tapi secara keseluruhan, Bryant menikmati perjalanan di Garoet. Katanya, “Salah satu gambaran perjalanan yang menyenangkan melintasi Jawa adalah sikap ramah ramah penduduknya kepada kami, dimana-mana kami diterima dengan senyuman di wajah, dan diperlakukan dengan baik. Setiap hari, selama kami tinggal di Garoet, kami mendapat hiburan sebuah band anak muda yang alat musiknya terbuat dari bambu.” Angklung, maksudnya.

bulletingeograp01philgoog2a

Sekelompok anak-anak muda, menghibur Bryant dengan permainan musik angklung (Judul foto: Boy Musicians with Bamboo Instruments, Sumber: The Bulletin of The Geographical Society of Philadelphia)

Setelah Garoet, Bryant melanjutkan perjalanan ke Buitenzorg. “Dengan sangat menyesal kami meninggalkan Garoet, dengan udara sejuknya, dan hotel yang seperti di rumah sendiri…,” ungkap Bryant. Satu kesan mendalam tentang Garoet.

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s