Opium in Garoet: Laporan the Spectator (1913)

Sejarah perdagangan dan pemakaian candu atau opium di tanah Jawa pada jaman kolonial doeloe secara gamblang telah ditulis dalam buku James R. Rush, Opium to Java: Jawa dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910. Singkat kata, candu merupakan komoditi yang legal diperdagangkan, yang dimonopoli dan dikontrol oleh penguasa Kolonial. Dan candu adalah komoditi yang menguntungkan. Penjualan candu yang marak pada abad ke-19 tergambarkan dari ucapan salah seorang bekas Mantri Candu di jaman itu, bahwa satu dari 20 orang Jawa adalah pecandu. Beu…

Sejarah perdagangan candu anehnya tak begitu mengemuka dalam buku-buku sejarah resmi di sekolahan. Jadi, kalau selama ini anda hanya dikenalkan dengan sejarah tentang perdagangan komoditi rempah-rempah, teh, kopi, dan kina di jaman kolonial, maka di balik itu, perdagangan candu sesungguhnya berperan penting sebagai penopang kelangsungan penjajahan.

Dikabarkan, pendapatan dari penjualan opium ini telah menyumbang 15% dari total pendapatan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1920-an, melebihi jumlah pendapatan dari ekspor perkebunan kina. Pendapatan dari opium ini banyak membantu keuangan pemerintah kolonial Belanda pada masa resesi ekonomi. Ketika hasil ekspor perkebunan turun 50-60%, penjualan opium hanya turun 14% sehingga pemerintah kolonial Belanda banyak tertolong dari politik perdagangan candu.

Pesta candu jaman doeloe di Jawa (Koleksi: Tropenmuseum)

Pesta candu jaman doeloe di Jawa (Koleksi: Tropenmuseum)

Sebelumnya, perdagangan candu diserahkan pada bandar-bandar Cina. Karena banyak penyelewengan dan perdagangan ilegal, serta dampak buruk yang “menurunkan wibawa pemerintah”, pada akhir abad ke-19 penjualan candu menggunakan sistem opium regie. Pemerintah mengontrol sepenuhnya tataniaga candu, mulai dari impor, pengolahan dan sampai penjualan produk akhir ke tangan pencandu. Untuk mencegah produk ilegal, pabrik opium didirikan di Batavia, yang letaknya sekarang menjadi bagian komplek kampus UI Salemba. Konon, ini mungkin yang disebut “kabar burung”, dulu burung-burung yang bertengger di tiang listrik dekat pabrik, pada teler, menunduk dan lesu, saat pabrik tidak berproduksi di hari Minggu dan hari libur. Burung-burung baru bergairah kembali keesokan harinya saat pabrik berproduksi kembali. Fly…

Pabrik Opium di Batavia (Koleksi: Tropenmuseum)

Pabrik Opium di Batavia (Koleksi: Tropenmuseum)

Salah satu sudut kesibukan Pabrik Opium di Batavia (Koleksi: Tropenmuseum)

Salah satu sudut kesibukan Pabrik Opium di Batavia (Koleksi: Tropenmuseum)

Opium didistribusikan melalui opsir resmi yang disebut mantri candu, satu posisi ambtenaar yang menjadi rebutan priyayi-priyayi Jawa. Tempat para mantri candu berkantor disebut opiumverkoopplaats atau Tempat Pendjoewalan Tjandoe. Ada papan nama dengan tulisan dengan bahasa Belanda, Melayu dan bahasa daerah setempat. Loket penjualan candu ini biasanya terdapat di dekat pasar, perkebunan, atau pelabuhan. Loket dibuka mulai jam 12 siang hingga jam 10 malam. Pada hari minggu dan hari-hari besar loket ditutup. Para pembeli candu diijinkan untuk memakai candu di rumah candu yang telah ditetapkan secara resmi. Selain di Batavia, Meester Cornelis, Semarang dan Surabaya, pembeli harus mendapatkan ijin untuk membeli candu dan menggunakannya. Orang yang akan mengkonsumsi candu harus mengajukan surat permohonan kepada kontrolir untuk diberikan ijin, dengan mencantumkan penghasilan mereka sebagai dasar berapa candu yang boleh dikonsumsi dalam sehari.

Salah satu opiumverkoopplaats di Jawa (Koleksi: Tropenmuseum)

Salah satu opiumverkoopplaats di Jawa (Koleksi: Tropenmuseum)

Sampai akhir abad ke-19, daerah Priangan dan Banten tak tersentuh perdagangan candu yang resmi. Bisa jadi perdagangan candu ilegal mah sudah masuk juga. Penolakan para ulama ditengarai melunturkan keberanian pihak penguasa kolonial dan para bandar Cina penjual candu untuk masuk ke sana. Namun, seiring pemberlakuan sistem opium regie itu, pertahanan terakhir pun bobol. Akhirnya, perdagangan resmi candu masuk juga ke pelosok Priangan dan Banten.

Adalah majalah the Spectator, klaimnya adalah majalah berbahasa Inggris tertua dan yang masih terbit sampai sekarang, terbit di Inggris, pada edisi 1 November 1913, di halaman 33, memuat sebuah laporan tentang peredaran opium di Garoet dengan judul: “Opium in Java”.

Laporan ini dimuat dalam rubrik Letter to the Editor dan ditulis oleh seorang bernama Bertrand Shadwell. Laporan ini menggambarkan penjualan opium telah salah sasaran. Tidak hanya orang Cina, tapi pribumi pun dilayani di opiumverkoopplaats di Garoet.

Kata Bertrand Shadwell, pemerintah Belanda di Jawa, setelah mengolah opium di pabrik opium milik pemerintah di Batavia, kemudian melanjutkan dengan mendistribusikannya ke seluruh negeri. Opium dikemas dalam kemasan yang disegel dalam tabung timah kecil dengan berbagai ukuran. Kemasan itu dicap dengan cap pemerintah, dan dikirim ke instansi pemerintah di kota-kota dan desa-desa untuk penjualan eceran.

Bertrand menceritakan, pada tanggal 25 September 1913 ia mengunjungi opiumverkoopplaats di Garoet dan melihat opium dijual melalui lubang loket penjualan di sebuah jalan, untuk pembeli yang berbeda-beda. Ia mengikuti salah satu pembeli ke rumah opium, dan menemukan sejumlah orang Cina berbaring di ranjang kayu merokok opium. Saya belum mendapat dokumentasi dimana letak rumah candu di Garoet saat itu.

Selanjutnya, pada tanggal 27 September 1913, Bertrand kembali melewati opiumverkoopplaats di kota Garoet itu dua kali. Pada kesempatan pertama, ia melihat seorang wanita pribumi, dan pada kesempatan kedua pria pribumi (ditegaskan, “bukan seorang Cina”) yang membeli opium. “Saya sendiri melihat uang yang dibayar, dan opium yang disampaikan,” kata Bertrand, seolah ingin menegaskan bahwa tidak hanya orang Cina saja yang menjadi konsumen candu.

Dalam opini Bertrand, pemerintah kolonial telah mengeruk keuntungan dari perdagangan opium dengan membiarkan orang-orang Cina menjual kembali opium kepada orang-orang pribumi, selain menjual juga ke orang pribumi secara langsung. Dikatakan, ketika penduduk Jawa hanya sekitar enam belas juta, keuntungan tahunan Pemerintah dari penjualan opium adalah £ 1.000.000. Populasi pada tahun 1913 lebih dari tiga puluh juta, sehingga peningkatan pendapatan dari sumber ini dapat diperkirakan. Bagi Bertrand, tak mungkin keuntungan besar itu diperoleh dari penjualan opium yang dikonsumsi oleh orang Cina sendiri. Bertrand menunjuk bahwa pemerintah Belanda menjadi kaya dari perilaku korup orang Cina. Pemerintah menghasilkan keuntungan dengan menciptakan cara yang merusak di wilayahnya sendiri.

Dalam terbitan koran jadoel, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, saya mendapati laporan penjualan candu di Priangan. Kita dapat membandingkan volume penjualan di beberapa kabupaten di residensi Priangan saat itu. Juga dapat dilihat peningkatan penjualan tiap tahun. Namun sayang informasinya hanya dapat saya peroleh untuk tahun 1903, 1905, dan 1906 saja.

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 17-01-1903)

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 17-01-1903)

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 30-12-1905)

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 30-12-1905)

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 09-02-1906)

Data penjualan opium di Priangan (koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 09-02-1906)

Begitulah masa-masa kelam di jaman bebasnya opium pada masa kolonial. Saya jadi berpikir, seberapa tahan para aktivis pergerakan anti-penjajah jaman itu terhadap godaan candu? Jangan-jangan, kakek buyut kita juga pecandu. Mudah-mudahan bukan ah…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s