Catatan Para Pelancong Doeloe (1): Archduke Franz Ferdinand dari Austria

Pengantar

Banyak pelancong mancanegara, sebahagiannya adalah para pesohor, yang menyempatkan datang ke Garoet di masa lalu. Kabar tentang Mooi Garoet telah mengundang rasa penasaran mereka. Beberapa di antaranya kemudian menuliskan catatan perjalanan, yang akan saya tampilkan cuplikan singkatnya dalam rangkaian tulisan “Catatan Para Pelancong Doeloe” di Naratas Garoet ini. Catatan-catatan yang masih jarang diungkap itu, selagi tersedia informasinya, akan dilengkapi pula dengan biografi singkat mereka. Selamat melancong…

.

Siapa sangka, orang yang kematiannya dianggap sebagai pemicu terjadinya Perang Dunia Pertama itu pernah mengunjungi Garoet dalam rangkaian petualangannya keliling dunia. Dialah: Franz Ferdinand, Archduke dari Austria-Este, Austria-Hungaria, dan Pangeran Kerajaan Hungaria dan Bohemia. Lahir di Graz, Austria, pada 18 Desember 1863, Franz Ferdinand adalah putra tertua Archduke Karl Ludwig of Austria dari istri kedua. Karl Ludwig sendiri adalah adik dari Franz Joseph, Kaisar Austria-Hungaria.

Archduke Franz Ferdinand

Archduke Franz Ferdinand

Hidup FF, demikian Franz Ferdinand menyebut nama inisialnya dan saya ikuti pada tulisan ini, memang penuh dengan drama dan petualangan. Pada tahun 1875, ketika ia baru berusia sebelas tahun, sepupunya, Duke Francis V dari Modena meninggal. FF menjadi ahli waris Duke Francis V, dengan syarat menambahkan Este pada namanya. FF kemudian menjadi salah satu orang terkaya di Austria.

Pada tahun 1889, kehidupan FF berubah lagi secara dramatis. Putra mahkota Rudolf, anak Franz Joseph, bunuh diri. Hal ini menempatkan ayah Franz, Karl Ludwig, berada pada baris pertama sebagai calon pewaris tahta Kerajaan Austria-Hungaria. Karl Ludwig sendiri ternyata meninggal pada tahun 1896 karena sakit. Sejak saat itu, FF dipersiapkan sebagai putra mahkota yang akan mewarisi tahta Franz Joseph.

Tapi FF rela melepas hak anak-anaknya sebagai calon pewaris tahta Kerajaan Austria-Hungaria demi cintanya pada seorang Countess Sophie Chotek. Keluarga Chotek dianggap sebagai keluarga bangsawan rendahan dan tidak layak untuk mendampingi seorang calon raja. FF memang diijinkan menikah dengan Sophie, tapi anak-anaknya kelak tidak dapat menjadi putra mahkota kerajaan. Sophie sendiri akan diperlakukan berbeda. Ia tidak dapat berada di samping FF ketika mendampingi suaminya itu dalam acara-acara resmi. Sophie bahkan tidak dapat naik kereta kerajaan atau nonton di balkon khusus anggota kerajaan di gedung pertunjukan.

Archduke Franz Ferdinand, putri Sophie, dan ketiga anaknya

Archduke Franz Ferdinand, putri Sophie, dan ketiga anaknya

Tapi perlakukan terhadap Sophie seperti itu dapat dikesampingkan hanya pada saat mendampingi FF sebagai petinggi militer, seperti pada kunjungan FF ke provinsi Bosnia dan Herzegovina tahun 1914. Tragisnya, kunjungannya itu mengakhiri hidup FF dan istrinya. Pada hari Minggu tanggal 28 Juni 1914, sekitar pukul 10:45, FF dan istrinya itu tewas di Sarajevo, ibukota provinsi Bosnia dan Herzegovina. Sekelompok militan Serbia membunuhnya dengan senjata api tepat di depan gedung Gubernuran Bosnia dan Herzegovina.

Archduke Franz Ferdinand dan putri Sophie, sesaat sebelum penembakan di Sarajevo

Archduke Franz Ferdinand dan putri Sophie, sesaat sebelum penembakan di Sarajevo

Peristiwa pembunuhan di Sarajevo itu memicu pihak Austria-Hungaria untuk menyatakan perang terhadap Serbia, sesuatu yang justru ditentang oleh FF sendiri. Pernyataan perang terhadap Serbia ini kemudian menyebabkan Blok Sentral (the Central Powers), termasuk di dalamnya Jerman dan Austria-Hungaria, dan Blok Sekutu (the Allies), yaitu negara-negara yang bersekutu dengan Serbia, termasuk Russia, untuk menyatakan perang terhadap satu sama lain. Maka, meletuslah Perang Dunia Pertama.

Petualangan Franz Ferdinand

Petualangan FF berlanjut di alam liar. Melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia dan berburu adalah kesukaannya. FF disebut-sebut memiliki hobi berburu yang berlebihan, bahkan menurut standar bangsawan Eropa pada saat itu. Dalam catatannya sendiri, ia memperkirakan telah berhasil membunuh sekitar 300.000 ekor hewan, yang sekitar 5.000 ekor di antaranya adalah rusa.

Pada tahun 1892-1893, FF melakukan perjalanan keliling dunia. Ia memulai perjalanannya dari Winna, Austria pada tanggal 14 Desember 1892, menggunakan kereta api menuju kota pelabuhan Trieste, Italia. Tiba tanggal 15 Desember, perjalanan laut FF pun dimulai dari sini. Ia menggunakan kapal jenis torpedo-rammkreuzer bernama SMS “Kaiserin Elisabeth”.

Peta perjalanan Franz Ferdinand, 1892-1893.

Peta perjalanan Franz Ferdinand, 1892-1893.

Wilayah Hindia Belanda menjadi bagian dari petualangannya. Dua rute ia lalui. Pertama: Singapura-Batavia-Buitenzorg-Garoet-Tjiandjoer-Buitenzorg-Batavia-Port Kennedy-Sidney. Kedua: New Guinea-Kepulauan Aru-Pulau Ambon-Borneo-Kuching-Singapura.

Perjalanan FF berakhir di benua Amerika. Dari New York, ia pulang, menyeberangi samudera Atlantik, menuju daratan Eropa di Havre (Perancis). Setelah bertutut-turut singgah di Paris dan Stuttgart (Jerman), ia akhirnya tiba kembali di Winna, Austria pada tanggal 18 Oktober 1893.

Catatan perjalanan keliling dunia FF kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul: Tagebuch meiner Reise um die Erde 1892-1893. Banyak kritikus yang memberikan penilaian negatif terhadap isi buku diary FF tersebut, terutama karena kebanggaan FF atas hobinya “membunuh” banyak hewan. “He shot over 5,000 stags before a bullet ended his own life,” demikian Spiegel Online dalam ulasannya. Dan dengan ilustrasi FF sedang berdiri di atas bangkai gajah, buku ini melengkapi kontroversialnya perjalanan hidup FF.

franz-ferdinand

Menuju Garoet

Tanggal 11 April 1893, FF tiba di Batavia. Berita rencana kedatangan serta kegiatannya selama di Jawa telah muncul sebelumnya. Melihat terbitan koran-koran yang ada, rupanya ada beberapa perubahan rencana. Seperti misalnya koran Java-bode edisi hari Sabtu tanggal 8 April 1893, yang memberitakan tentang kedatangan FF yang rencananya akan tiba pada hari Senin tanggal 10 April 1893. Rencana penyambutan sudah disiapkan semenjak di pelabuhan Tandjong Priok. Gubernur Jenderal sendiri akan menyambutnya di stasiun kereta api Weltevreden (stasiun Gambir sekarang).

Tapi rencana berubah. FF tiba di Tandjong Priok pada hari Selasa tanggal 11 April 1893. Sebetulnya, FF akan berlabuh terlebih dahulu di Bantam (Banten). Diberitakan pada koran Java-bode edisi hari Selasa tanggal 4 April 1893, Archduke Franz Ferdinand tidak jadi mendarat di Banten, sehingga tidak dapat berburu harimau di sana, karena “koeli pelabuhan sedang menjalankan ibadah poeasa”. Saya lihat, memang saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan 1310 H. Tapi, dari paparan FF, tak sedikit pun yang menyinggung suasana bulan Ramadhan selama perjalanannya di Garoet nanti.

Akhirnya, setelah Batavia, kota Buitenzorg, Garoet, dan Tjiandjoer yang menjadi pilihan jalur petualangan FF selama di tanah Jawa. Tanggal 13 April, FF menuju Garoet. Dari Buitenzorg ia menggunakan kereta api yang sepertinya disiapkan khusus untuk perjalanan dia selama berada di tanah Jawa. Tak langsung ke Garoet, kereta sempat singgah sebentar di dua kota: Tjiandjoer dan Bandoeng. FF memang diundang oleh bupati dan pejabat Hindia Belanda setempat untuk sejenak menghadiri jamuan di kedua kota tersebut (bulan puasa ngajak jamuan makan!). Di Garoet, kereta tiba pada saat hari sudah menjelang malam.

Berdasarkan pemberitaan koran Java-bode hari Sabtu tanggal 8 April 1893, disebutkan rencana awal perjalanan FF adalah: Selasa (11 April) berangkat ke Buitenzorg, dan akan mengunjungi Kebun Raya. Kemudian, hari Rabu (12 April) berangkat ke Garut, besoknya, Kamis (13 April) mendaki gunung Papandajan dan di hari Jumat-nya mengunjungi Bagendit. Tetapi, rencana berubah sehingga FF baru berangkat ke Garoet pada tanggal 13 April, termasuk juga Bagendit yang kemudian tidak disinggung dalam catatan perjalanannya.

Saya memperoleh gambaran bahwa FF rupanya memiliki pengetahuan tentang alam dan budaya orang Jawa secara umum, padahal ia hanya mengunjungi bagian barat pulau Jawa saja. Ia misalnya menceritakan tentang kondisi geografis pulau Jawa yang dipenuhi gunung berapi, berbagai vegetasi yang tumbuh dan tanaman budidaya yang dibawa orang Eropa, bahkan mengenal model pemerintahan kerajaan di Solo dan Djokjakarta, dua kota yang justru tidak dikunjunginya. Mungkin ia baca juga semisal buku “History of Java” karya Raffless? Mungkin saja.

FF memperhatikan banyak hal secara detail, pun soal-soal kecil, dan menceritakannya secara deskriptif. Sepasang kelelawar yang sedang terbang atau pernik-pernik pada pakaian yang digunakan bupati Garoet, misalnya, tidak luput dari perhatiannya. Namun sayang, tak semua tempat yang dikunjungi ia sebutkan namanya secara jelas, termasuk nama hotel tempatnya menginap atau daerah tempatnya berburu. Berdasarkan catatannya, selama di Garoet, tempat-tempat yang disinggahi FF adalah “hotel yang sangat bersih dan nyaman, yang terdiri dari beberapa paviliun yang terletak di tengah taman, dengan semak-semak dan pohon-pohon yang terdapat banyak burung yang melantunkan nyanyian ibarat konser yang menyenangkan setiap pagi dan petang”, gedung pendopo kabupaten, rumah pejabat pemerintahan sebelum mendaki gunung Papandayan, kawah gunung Papandayan, serta tempat berburu yang letaknya “sekitar satu jam perjalanan jauhnya, yang terdapat banyak babi hutan”.

Tentang alam Garoet, perhatian FF banyak tertuju pada gunung-gunung vulkanis di sekeliling Garoet. FF sepertinya memang benar-benar takjub. Pujian-pujian pun tak segan kemudian ia lontarkan. Selama perjalanan di kereta api saat memasuki daerah “Lembah Garoet”, FF disuguhi pemandangan yang disebutnya sebagai “hal yang spesial”. Katanya, Lembah Garoet menawarkan pemandangan yang mempesona, terkurung oleh kerucut-kerucut gunung berapi, dan di mana-mana ada sungai dengan alirannya yang berkelok-kelok, seperti benang perak berwana kehijauan yang cantik diterpa sinar matahari di sore hari. Dan tentang orang Garoet, FF punya catatan sendiri: mereka ramah terhadap orang asing. Begitulah meneer Ferdinand, selamat datang di Garoet…

Hari Pertama: Nayuban Semalam Suntuk

Setiba di Garoet, FF dijemput kereta kuno dengan kusir yang pakaiannya mengingatkan FF pada pemain sirkus, begitu sebutnya. Sejenak istirahat di hotel, kemudian FF menyempatkan jalan-jalan sebentar di sekitar hotel, melihat-lihat suasana kota Garoet.

FF memperhatikan penampilan bupati yang mengenakan setelan Barat, terselip keris emas yang bertanda kerajaan Belanda, serta kemana-mana dinaungi payung yang dibawa oleh seorang abdi di belakangnya. Payung, katanya, melengkapi tanda seseorang sebagai pembesar yang terhormat. Tingkat pangkat seorang pembesar dibedakan oleh jumlah emas serta perbedaan warna pada layar payung. “…dan bahkan aku pun tidak luput dari kehormatan ini,” kata FF.

Malam harinya, setelah jamuan makan, bupati Garoet menampilkan pertunjukan yang disebut FF sebagai pertunjukan “wajang”, di kediaman bupati atau pendopo. Tapi jika mengikuti penuturannya, yang dimaksud wayang itu adalah pertunjukan tari-tarian, wayang orang, bukan semacam wayang golek atau wayang kulit. Lebih tepatnya, ini pertunjukan nayuban.

Pertunjukan “wayang” seperti ini rupanya telah FF saksikan di Buitenzorg. Perbedaannya, di sini gerak tubuh para penari “lebih aneh” dan waktunya yang lebih lama. Dan yang benar-benar baru, katanya, bupati menari secara pribadi di akhir pesta. Melihat bupati menari, komentar FF: berusaha menahan diri sekuat tenaga agar tidak tertawa terbahak-bahak. Lucu dan menghibur, atau terlihat konyol? Mungkin. Hehe…

Bupati pada saat itu, R. Adipati Aria Wiratanudatar (yang memerintah dari tahun 1871 sampai tahun 1915), disebut FF sebagai “seorang pria agak tua”, dengan selendang biru di tangannya menari ditemani seorang wanita muda, pastinya sebagai ronggeng. Diselingi minum sampanye yang dituangkan oleh seorang abdi, bupati menari sampai akhirnya kelelahan. Ya begitulah budaya menak Sunda saat itu: nayuban, plus mabuk. Di bulan Ramadhan pula.

Hari Kedua: Gunung Papandayan

Pada hari kedua, tanggal 14 April, FF menuju salah satu gunung berapi yang masih aktif, yaitu gunung Papandayan. Gunung ini dipilih karena dianggap mudah diakses dari kota Garoet. Berangkat menggunakan kereta yang dihela empat ekor kuda, pagi-pagi sekali FF menuju Cisurupan, kaki gunung Papandayan. Sekarang, kalau menggunakan kendaraan bermotor, Garut-Cisurupan bisa ditempuh kurang dari 1 jam. Tapi saat itu, FF menggunakan kereta kuda untuk menempuh jalanan yang menanjak dan berkelok. Jadi, wajar saja kalau ia tiba di Cisurupan setelah menempuh perjalanan selama 3 jam.

Di Cisurupan ternyata sudah disiapkan kuda-kuda sebagai tunggangan untuk mencapai puncak Papandayan. FF menyebut, ia disambut di sebuah rumah pejabat pemerintahan di Cisurupan. Tak disebutkan lebih detail untuk ini. Kuda-kuda ditambat di depan rumah itu, katanya. Setelah istirahat sebentar sambil dihibur musik gamelan, rombongan kemudian berangkat ke kawah Papandayan.

Sepanjang jalan menuju puncak, FF mencatat berturut-turut hamparan pemandangan kebun kopi dan kina, kemudian terlihat ada area terbuka yang penuh dengan alang-alang, dan akhirnya hutan yang lebat. Tjisoeroepan memang dahulu menjadi salah satu sentra pelaksanaan Preangerstelsel, sistem tanam paksa untuk komoditi kopi dan kina di Priangan. Pemandangan kemudian berganti. Pada jarak 1 km sebelum kawah, pohon-pohon tinggi, pakis dan palm berganti jadi semak-semak. Gundukan belerang dan lava kemudian nampak, dan semua vegetasi seperti berhenti tumbuh. FF sudah berada di kawasan kawah Papandayan. Ia menyebutnya, “…berada di tengah-tengah lautan batu”. Ia senang bisa berada di sebuah gunung berapi yang masih aktif. Sampai-sampai tidak sadar, karena pengaruh belerang, katanya, semua benda emas yang dibawa telah menjadi hitam. Segera setelah berkeliling dan mengumpulkan beberapa sampel batu, rombongan meninggalkan areal kawah Papandayan.

Pada malam harinya, FF disuguhi pertunjukan wayang kulit. Ia menggambarkan, wayang kulit berwarna-warni dimainkan di belakang layar putih sehingga nampak bayangannya. Pertunjukan kembali diakhiri dengan nayuban. Bupati lebih bersemangat menari dibanding malam kemarin, katanya.

Hari Ketiga: Berburu

Hari ketiga, FF diajak berburu oleh bupati. Tentu FF sangat bersemangat. Lokasi perburuan dikatakan merupakan sebuah gunung yang tertutup alang sekitar satu jam perjalanan dari Garoet, yang terdapat banyak babi hutan. Bupati sendiri langsung menemani FF berburu.

Di luar bayangan FF, ternyata di lokasi sudah dipenuhi orang-orang yang menonton. Mereka berada di ketinggian yang cukup jelas untuk melihat. Bahkan katanya, para pedagang ikut meramaikan suasana. Seperti pasar malam saja. Memang itu bukan perburuan sebenarnya yang langsung mencari hewan buruan ke dalam hutan seperti biasa dilakukan FF. Menurutnya, kali ini perburuan lebih berupa pesta rakyat saja. Jadi, bupati telah menyiapkan satu arena yang di sekelilingnya dipagar bambu. Di satu sisi disiapkan semacam panggung tempat menembak. Panggung ini dihiasi dengan bendera Austria dan bendera Belanda serta berbagai karangan bunga. Minuman-minuman keras dihidangkan dan sebuah band memainkan musik sepanjang acara. Katanya, seolah-olah seorang kaisar Romawi kuno yang sedang berburu saja diperlakukan seperti itu.

“Perburuan yang diatur ini” dimulai dengan melepaskan anjing-anjing yang akan mengarahkan babi-babi ke arah ruang tembak. Tak selalu mudah, sebab banyak semak tinggi yang menghalangi pandangan dan babi terus bergerak. Total FF menembak 21 ekor babi, tetapi katanya, hanya satu babi yang baik untuk dijadikan koleksi.

Selesai acara berburu, sore harinya FF meninggalkan Garoet menuju Tjiandjoer. “..we said good-bye to the friendly Garoet,” kata FF.

[M.S]

Advertisements

4 thoughts on “Catatan Para Pelancong Doeloe (1): Archduke Franz Ferdinand dari Austria

  1. hebat!! terima kasih atas blog ini………….museum tempat saya bekerja di Wina, adalah gedung yang dibangun oleh Franz Ferdinand. Thn 2014 ada pameran mengenainya dan di pameran permanent yang akan dibuka thn 2017 akan juga ada koleksinya yang dipamerkan. Salam dari Wina, Jani

    Like

    • Terima kasih telah berkunjung ke Naratas Garoet, tapi rasanya terlalu berlebihan jika disebut hebat…Hehe. Terima kasih juga telah berbagi informasi tentang Franz Ferdinand. Memang tak banyak orang di tempat saya, Garut, yang tahu bahwa tokoh sekaliber Franz Ferdinand pernah mengunjungi kota Garut. Salam.

      Like

  2. Pingback: Najoeban | Naratas Garoet

  3. Pingback: Najoeban | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s