Batik Tulis Garoetan Motif “Sanatorium Garoet” (1918): Sebuah Mahakarya

Pembuatan dan penggunaan batik memiliki sejarah yang panjang di Priangan, termasuk Garut. Ada yang menyebut bahwa keterampilan batik membatik diperoleh dari orang-orang Jawa yang menyebar ke tanah Sunda, ada pula pandangan lain bahwa tradisi membatik memang sudah ada di tanah Pasundan, jauh sebelum berbaur dengan kebudayaan Jawa. Biar para sejarawan yang berdebat soal itu. Di sini saya batasi mulai dari abad ke-19 saja, ketika batik garutan mulai menjadi souvenir untuk dibawa pulang oleh para pelancong Eropa yang datang ke Garut.

Seorang gadis Garoet penjual sarung batik (1920). (Sumber: KITLV)

Seorang gadis Garoet penjual sarung batik, 1920. (Sumber: KITLV)

1862

Adalah Karel Frederick Holle (K.F Holle), perintis dan pemilik perkebunan teh Waspada yang mulai dibangun sejak tahun 1862. Orang-orang di lingkungan perkebunan sana menyebutnya sebagai Tuan Hola. Ia dikenal sebagai seorang yang menaruh minat terhadap kebudayaan Sunda, hingga gaya hidupnya pun sudah seperti urang Sunda. Mulai dari cara berpakaian hingga kesenangannya pada gamelan. Tuan Hola juga menyukai batik tulis garutan. Ia bahkan mulai memproduksi batik tulis garutan di dalam lingkungan perkebunannya. Konon, mulai dari sinilah batik tulis garutan kemudian dikenal luas. Garut sebagai daerah tujuan wisata banyak didatangi pelancong, dan batik tulis garutan kemudian menjadi salah satu oleh-oleh yang dipromosikan kepada mereka.

Pengrajin batik di Perkebunan Waspada (1), 1874. (Sumber: KITLV)

Pengrajin batik di Perkebunan Waspada (1), 1874. (Sumber: KITLV)

Pengrajin batik di Perkebunan Waspada (2), 1874. (Sumber: KITLV)

Pengrajin batik di Perkebunan Waspada (2), 1874. (Sumber: KITLV)

Tapi yang hendak saya tunjukkan kepada anda adalah sebuah masterpiece. Bukan batik tulis garutan buat oleh-oleh atau untuk dipakai berbusana sehari-hari, tapi ini sebuah mahakarya batik tulis garutan. Inilah: “Batik Painting of Sanatorium Garoet”, batik tulis garutan dengan motif Hotel “Sanatorium Garoet” Ngamplang.

Batik Painting of Sanatorium Garoet, 1918. (Sumber: VCM)

Batik Painting of Sanatorium Garoet, 1918. (Sumber: VCM)

Mengapa batik ini disebut masterpiece? Menurut The Virtual Collection of Asian Masterpieces (VCM), itu karena motif batiknya yang tidak biasa, dan juga punya catatan yang terkait dengan sejarah pelayanan kesehatan medis di masa Hindia Belanda. Berbeda dengan motif batik pada umumnya, Batik Painting of Sanatorium Garoet ini menggambarkan bangunan Sanatorium Garoet di puncak bukit Ngamplang. Alhasil, batik ini lebih berupa lukisan dengan medium dan bahan untuk membatik.

1912

Tersebutlah seorang dokter bernama Denis G. Mulder yang membuka praktek dokter di Garut pada tahun 1912. Ia spesialis dalam terapi dengan sinar ultra-violet. Dr. Mulder ini pula yang merintis pendirian rumah sakit, yang sekarang menjadi RSU dr. Slamet.

Dr. Mulder punya cita-cita membangun sebuah kompleks rekreasi dan pemulihan bagi yang sakit. Pada tahun 1913, ia mulai membangun “Sanatorium Garoet” di bukit Ngamplang, sekitar 4 km dari kota Garoet. Pada tahun 1915, Sanatorium Garoet mulai dibuka untuk umum. Di Sanatorium Garoet ini, Dr. Mulder sendiri selain bertindak sebagai direktur, juga merangkap langsung sebagai dokter yang menangani klien. Ia dibantu delapan orang Eropa sebagai perawat. Pada tahun 1920, Dr. Mulder diangkat sebagai dokter pemerintah di Bandung, hingga kemudian bangunan Sanatorium Garoet ini dijual kepada the Dutch East Indies Hotel Corp. Nama Sanatorium Garoet kemudian berganti menjadi Hotel Ngamplang.

Foto Udara Lapang Golf dan Hotel Sanatorium Ngamplang Garoet, 1930. (Sumber: KITLV)

Foto Udara Lapang Golf dan Hotel Sanatorium Ngamplang Garoet, 1930. (Sumber: KITLV)

1918

Kembali ke the Batik Painting of Sanatorium Garoet. Mahakarya ini dibuat berdasarkan pesanan Dr. Mulder di tahun 1918. Dalam keterangannya, disebutkan karya ini sebagai decorative art, yang berarti lebih sebagai barang seni dekoratif, bukan barang yang fungsional. Material yang digunakan berbahan katun, dengan ukuran 123×280 cm.

Kreatornya adalah Oeji dan Doerachman. Sayang, tak ada keterangan lain mengenai kedua seniman pribumi ini. Pun tempat pembuatannya, hanya disebutkan di Garoet saja.

Sungguh cantik. Benar-benar mirip dengan foto Sanatorium Garoet yang diambil dari sudut yang kurang lebih sama. Coba saja perhatikan foto berikut:

Hotel te Ngamplang, nabij Garoet, 1920. (Sumber: KITLV)

Hotel te Ngamplang, nabij Garoet, 1920. (Sumber: KITLV)

Sekarang, Batik Painting of Sanatorium Garoet ini didonasikan oleh putra Dr. Mulder menjadi koleksi Tropenmuseum di Amsterdam. Pertanyaannya: kapan karya-karya seperti ini bisa kembali ke Garut? Mimpi…

[M.S]

Advertisements

3 thoughts on “Batik Tulis Garoetan Motif “Sanatorium Garoet” (1918): Sebuah Mahakarya

  1. Pingback: Jaman Caddy Golf Pake Kopeah: Ngamplang (1937) | Naratas Garoet

  2. Pingback: Studio “Foto Lux” Garoet | Naratas Garoet

  3. Pingback: Catatan Para Pelancong Doeloe (6): Charlie Chaplin dan Kenangan Guguling “the Dutch Wife” (1932) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s