Rally “Mooi Garoet” (1936-1939)

Mooi71Koninklijk Nederlands-Indische Motorclub (KNIMC), atau klub motor Hindia Belanda, bekerjasama dengan Vereeniging Mooi Garoet akan mengadakan acara rally otomotif bertajuk “Mooi Garoet Sterrit” pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 1936. Anda berminat?

Tentu promo itu bukan ditujukan buat anda yang sekarang sedang membaca tulisan ini, tapi bagi orang-orang Eropa yang hidup di jaman Hindia Belanda, di tahun 1936.

Memang di tahun itu KNIMC berniat mulai mengadakan acara rally tahunan dengan titik akhir di kota Garoet. Saya tidak memperoleh informasi yang lengkap mengapa rally itu memilih Garoet sebagai garis finish. Tapi boleh lah menduga-duga, bahwasannya acara itu merupakan bagian dari promo untuk kembali menaikkan pamor Garoet sebagai daerah tujuan wisata utama di Hindia Belanda. Saat itu, dunia pariwisata memang perlu pemulihan setelah wabah pes melanda banyak daerah, termasuk Garoet. Pada tahun 1933, tingkat kunjungan turis ke Garoet bahkan pernah jatuh hingga 50 persen dari tahun-tahun sebelumnya karena wabah itu.

Dalam salah satu pemberitaan soal rally ini, disebutkan bahwa Garoet itu “terletak dalam lingkungan yang indah, bahkan salah satu daerah yang paling indah di Hindia Belanda”. Rupanya, ada artikel dalam majalah otomotif yang terbit saat itu, Het Motorverkeer, yang pernah menurunkan tulisan perjalanan ke Garut, dan kemudian dijadikan referensi dalam penentuan rute rally ini.

Untuk rally Mooi Garoet yang pertama (Eerste Mooi Garoet Sterrit) ini, para peserta diberikan empat pilihan rute. Sebagai titik awal dipilih tempat dengan memperhitungkan faktor-faktor sehingga jarak dan waktu tempuhnya kurang lebih sama untuk sampai di Garoet, yaitu:

  1. Buitenzorg: Tjibadak, Tjikembang, Waroengkoendang, melewati jembatan sungai Tjimandiri, Pasawahan, Bodjonglopang, Njalindoeng, Baros, Soekaboemi, Tjiandjoer, Bandoeng, Tjitjalengka, Nagrek, Baloeboerlimbangan, Leuwigoong, Garoet.
  2. Serang: Petir, Waroenggoeweng, Rangkasbetoeng, Djasinga, Buitenzorg, PoentjakPas, Tjiiandjoer, dan kemudian seperti rute pertama.
  3. Poerwakarta: Pasir Bogor, Kosambi, Krawang, Lemahabang, Tjibaroesa, Tjibinong, Buitenzorg, dan kemudian seperti rute kedua.
  4. Cheribon: Tjilimoes, Tjiledoeg, Radjagaloeh, Madjalengka, Kadipaten, Palimanan, Ardjawinangoen, Djatibarang, Patrol, Manjingsal, Tjipeo, Soebang, Lembang, Bandoeng, dan terus ke Garoet seperti rute di atas.

Saya membayangkan betapa organisasi penelenggaraan acara rally ini benar-benar merupakan kerja profesional yang berat. Betapa tidak, dengan infrastruktur jalan yang tak bisa dibandingkan dengan sekarang, mereka menyelenggarakan event yang begitu besar. Selain itu, perjalanan yang ditempuh akan melewati batas hari hingga mencapai Garoet pada sore atau malam hari, melewati hutan dan gunung dengan tanpa penerangan jalan. Tetapi katanya, perjalanan malam justru akan menarik, karena bulan saat itu sedang menuju purnama. Promosinya begitu.

Jejeran tropi “Mooi Garoet Sterrit” tahun 1936

Dalam lomba ini, sistem penilaian yang diberikan adalah ketepatan waktu. Waktu keberangkatan akan ditentukan sehingga diperkirakan akan mencapai waktu tempuh 10 dan 12 jam di titik finish, sudah termasuk waktu istirahat di beberapa pos di jalur rally. Dari rute Buitenzorg, misalnya, check point ada di jembatan Tjimandiri dan Padalarang.

Titik finish di Garoet ada di depan gedung “Societeit Intra Montes” (gedung Nasional – KNPI, sekarang) di jalan Societeit Straat (jalan A. Yani, sekarang).

Para peserta sendiri dibagi menjadi tiga kategori, yaitu satu kelas untuk pengendara sepeda motor, dan dua kelas untuk pengendara mobil: kelas mesin sampai dengan 1500 cc, serta kelas mesin lebih dari 1.500 cc.

Masing-masing juara kelas ada tropi dan hadiah tersendiri, sementara untuk juara umum diberikan tropi khusus dari Vereeniging Mooi Garoet atau “Mooi Garoet Wisselbeker“.

Ada acara apa saja sesampai di Garoet? Rupanya, panitia sudah menyiapkan rangkaian acara sedemikian rupa hingga sepertinya ingin benar-benar memuaskan para peserta lomba:

  1. Pada Sabtu malam, 29 Agustus, sesampai peserta mencapai garis finish di depan Societeit Intra Montes, peserta dijamu makan.
  2. Minggu pagi, 30 Agustus, pukul 08.30 pagi, peserta menuju ke kawah Kamodjan. Setelah dari kawah kemudian ke “Radium-Hotel” (hotel di Kamojang), dan kembali ke Garoet pukul 11.
  3. Pada pukul 1 siang pengumuman hasil rally, sambil dihibur musik di Societeit Intra Montes.
  4. Pukul 5 sore hiburan musik di Hotel Ngamplang yang dipersembahkan oleh Vereeniging Mooi Garoet.
  5. Pukul 8 malam acara makan malam bersama di Hotel Papandajan.
  6. Pukul 9.30 party di Societeit Intra Montes Ada acara pemberian penghargaan dan hiburan tooneel, dan lain-lain.
  7. Kemudian, pada hari Senin, 31 Agustus, pukul 09.00, wisata ke Zwitsersche Pas (saya tidak tahu ini dimana), dan kembali melalui Tjisoeroepan.

Rally “Mooi Garoet” yang kedua (Tweede Mooi Garoet Sterrit) diselenggarakan pada tanggal 3 Juli 1937. Dari sisi teknis lomba, perbedaan hanya pada titik awal rally. Jika pada penyelenggaraan pertama titik start dari Buitenzorg, Serang, Poerwakarta, dan Cheribon, maka pada tahun kedua ini titik start dan rute yang dapat dipilih peserta agak berbeda, yaitu: Buitenzorg, Poerwakarta, Cheribon, dan Tasikmalaja. Pemilihan Tasikmalaja ini untuk mengakomodir peserta dari daerah Priangan. Selain itu, rute Tasikmalaja ini untuk mengeksplorasi rute-rute wisata di Priangan Timur. Disebutkan dalam pemberitaan, bahwa penyelenggaraan “Mooi Garoet Sterrit” yang kedua ini sangat sukses dan para peserta antusias sekali dalam mengikuti perlombaan sampai akhir.

iklan

Iklan “Mooi Garoet Sterrit” tahun 1938

Mooi Garoet Sterrit” ketiga (Derde Mooi Garoet Sterrit) diselenggarakan pada 16 Juli 1938. Peserta yang mengikuti acara balapan sebanyak 45 orang. Jarak tempuh rata-rata sejauh 360 km. Rute yang digunakan berubah lagi. Kali ini titik start mulai dari:

  1. Garoet, di depan Hotel Papandajan
  2. Cornelis, (atau, Jatinegara sekarang) di jalan antara Van der Lijnstraat dan Manggaraikandestraat
  3. Bandoeng, di Nylanweg
Suasana di garis start "Mooi Garoet Sterrit" di Batavia tahun 1938

Suasana di garis start “Mooi Garoet Sterrit” di Batavia tahun 1938

Untuk keempat kalinya, “Mooi Garoet Sterrit” diselenggarakan pada 19 Juli 1939. Kali ini ada sponsor baru, yaitu majalah “Wereldnieuws” sehingga rally pada kesempatan tahun itu disebut “Mooi Garoet-Wereldnieuws Sterrit”.

Mooi19a1

Suasana garis start “Mooi Garoet Sterrit” tahun 1939 di Batavia (1)

Suasana garis start “Mooi Garoet Sterrit” tahun 1939 di Batavia (2)

Untuk tahun 1939 ini peserta bertambah menjadi 99 orang. Jarak tempuh lomba sejauh 350 dan 400 km, dengan rute pilihan mulai dari titik start: Batavia, Bandoeng, Soebang, Cheribon, dan Garoet sendiri. Rute yang ditempuh:

  1. Dari Batavia: Buitenzorg, Soekaboemi selatan, Tjiandjoer, Tjikalongwetan, Bandoeng, terus ke arah Garoet.
  2. Dari Bandoeng: Tangkoebanprahoe terus ke arah timur ke Soemedang, melalui sepanjang lereng Goenoeng Tampomas dekat Cheribon, kemudian melalui sepanjang lereng Tjeremai, terus kembali ke Selatan, melalui danau Pandjaloe, dan lanjut ke Tjiawi dan Nagrek, terus ke Garoet.
  3. Dari Soebang: melalui arah selatan ke Bandung dan kemudian arah timur laut Bandung (Darmaradja). Rute ini sepertinya kurang diminati peserta. Dalam satu ulasan, rute ini dianggap “kurang indah”.
  4. Dari Cheribon: sepanjang lereng barat Tjeremai, kemudian ke arah pantai utara, Djatibarang, melalui Soebang dan Tangkoebanprahoe ke arah Bandung, Bagendit, dan Garoet.
  5. Dari Garoet: melakukan perjalanan melalui daerah Priangan tengah (Malangbong, Darmaradja, Soemedang, terus sepanjang kaki Tangkoebanprahoe), dan kembali ke Garoet melalui Bandoeng.

Seorang wanita peserta “Mooi Garoet Sterrit” menikmati alam Garoet. Nampak gunung Haruman di latar belakang.

Salah satu mobil peserta “Mooi Garoet Sterrit” menyempatkan mampir di situ Bagendit.

Pemandangan di perjalanan menuju kawah Kamojang.

Saya rasa “Mooi Garoet Sterrit” ini merupakan kegiatan rally terbesar pada masanya. Reputasinya meng-Hindia-Belanda. Ini bisa dilihat dari asal peserta yang tidak hanya dari lingkungan priangan dan Batavia saja, tetapi juga dari kota-kota lain, baik Jawa maupun luar Jawa. Lagi pula, tak sedikit peserta perempuan yang ikut rally ini, yang dikomentari sebagai “wanita-wanita pemberani”.

Dan tak beda dengan jaman sekarang, bagi pabrikan kendaraan bermotor, ajang rally seperti “Mooi Garoet Sterrit” ini menjadi sarana promosi pula untuk produk-produknya, seperti iklan motor DKW ini.

19375

Iklan motor DKW setelah memenangi “Mooi Garoet Sterrit” kelas motor di tahun 1937

Dalam satu iklannya, pabrikan motor DKW mempromosikan bahwa motor produksi mereka berhasil merebut seluruh tropi lomba pada “Mooi Garoet Sterrit” kedua di tahun 1937, setelah menempuh jarak sejauh 332 km dengan waktu tempuh 6 jam 19 menit dengan rata-rata kecepatan 52 km per jam pada rute: Poerwakarta, Lemahabang, Tjibaroesa, Tjibinong, Buitenzorg, Poentjakpas, Tjiandjoer, Padalarang, Bandoeng, Rantjaekek, Nagrek via Bloeboer Limbangan, Trogong, dan berakhir di Garoet. Katanya, hal ini menjadi bukti lagi bahwa DKW sangat nyaman sekalipun dibandingkan dengan motor yang lebih besar. Tentu pada jamannya…

1940

Pengumuman pembatalan “Mooi Garoet Sterrit” tahun 1940

Pada tahun 1940, rally “Mooi Garoet Sterrit” tidak diselenggarakan. Ada pengumuman dari panitia bahwa untuk tahun 1940 “Mooi Garoet Sterrit” tidak dapat diselenggarakan karena “keadaan yang tidak memungkinkan”. Tidak ada alasan yang jelas. Tapi kita tahu, pada awal 1940 itu Nazi Jerman mulai menginvasi negara-negara Eropa daratan, termasuk Belanda. Di front Pasifik, Hindia Belanda juga harus segera bersiaga menghadapi kemungkinan serangan Jepang. Perang Dunia II tak lama lagi pecah.

Namun, jelas Garut masih sangat layak untuk menjadi titik tuju perjalanan wisata. Pun sampai hari ini. Jadi, sungguh menarik jika saja sekarang ini “Mooi Garoet Sterrit” dapat dibangkitkan kembali, dengan rute-rute pilihan sesuai kondisi sekarang tentunya. Bagaimana? (Tapi saya lebih suka kalau saja punya DKW antik itu).

[M.S]

Advertisements

One thought on “Rally “Mooi Garoet” (1936-1939)

  1. Pingback: Societeit Intra Montes: Tempat Gaul Bule di Garoet Doeloe | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s