Ketika Wabah Pes Melanda Garoet

Wajah Garoet doeloe sebagai Switzerland van Java dengan julukan Mooi Garoet itu ternyata tak seindah kehidupan rakyatnya. Tahun-tahun 1920 sampai 1930-an wabah pes merajalela di Garoet. Kematian merengut ribuan nyawa penduduk. Tapi pesta-pesta turis bule, dan tentu juga para menak pribumi dan pejabat kolonial, sepertinya tidak boleh berhenti. Hmm…

Pes atau sampar adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis (dinamai sesuai nama penemunya, bakteriolog Perancis A.J.E. Yersin). Penyakit pes sesungguhnya adalah penyakit pada hewan pengerat, terutama tikus, tetapi kemudian menular pada manusia. Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah dan menimbulkan korban jiwa yang besar. Kasus yang paling dramatis adalah apa yang disebut sebagai “Black Death” yang terjadi di Eropa pada Abad Pertengahan, dan membunuh sepertiga populasi orang Eropa. Itu info dari wikipedia.

***

Mei 1905

Dari berbagai sumber lain yang bisa saya dapati, wabah pes ini diperkirakan sudah mulai muncul di Hindia Belanda sejak awal abad ke-20. Pada Mei 1905 seorang kuli kontrak Jawa datang ke rumah sakit di Tanjung Morawa (Deli) dengan keluhan panas yang tinggi, dan kelenjar di pangkal paha membengkak. Hasil penyelidikan diketahui bahwa wabah ini berasal dari Ranggon yang secara tak sengaja terbawa kapal yang singgah di Belawan. Sayangnya para pejabat berwenang belum menyadari bahwa kuli kontrak itu merupakan korban pertama dari wabah pes. Para pemilik onderneming lebih memperhatikan keberlangsungan bisnisnya daripada mempedulikan nasib kuli kontrak itu.

Pada awal 1910 penduduk Surabaya dikejutkan dengan jatuhnya beberapa korban “penyakit misterius” dengan keluhan yang sama di daerah pelabuhan. Tak seorang pun mengira bahwa jalan kereta api Surabaya ke Malang bakal menjadi jalur penyakit itu jauh ke pedalaman. Dalam beberapa minggu wabah ini meluas dan akhirnya sampai ke Malang, yang tercatat salah satu daerah yang paling parah dilanda wabah pes.

Penyakit pes juga mewabah di Praja Mangkunegaran Surakarta, yang diduga awalnya berasal dari wilayah di Jawa Timur. Saat itu, seorang Belanda ditemukan telah meninggal di dalam kereta yang membawanya dari wilayah perkebunan tebu di Pasuruan Jawa Timur.

Di Semarang wabah pes terjadi pada tahun 1917. Pemerintah Hindia Belanda menganggap rakyat kelas bawah sebagai penyebar penyakit dan rumah-rumah penderita harus dibakar. Rakyat diberi waktu 8 hari untuk pindah, dan apabila melebihi batas waktu yang telah ditentukan belum pindah juga maka tidak ada kompensasi apapun. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda dalam penanganan wabah tersebut menjadi salah satu agenda aksi protes Sarekat Islam (SI) Merah. Wabah pes jadi urusan politik.

Di Jawa Barat sendiri wabah pes ditengarai mulai menyebar sejak tahun 1922. Pada tahun 1923, dilaporkan wabah pes ini sudah menjangkiti kabupaten-kabupaten, antara lain Cheribon, Koeningan, Madjalengka, Tjiamis, Tasikmalaja, Bandoeng, dan Garoet.

***

13 Mei 1930

Koran-koran yang terbit pada tanggal 13 Mei 1930 ramai memberitakan seorang dokter yang meninggal karena penyakit pes. Ironisnya, dokter tersebut adalah seorang yang ditugasi untuk memberantas wabah pes di Garoet sejak tahun 1927. Ia adalah dokter Mas Slamet Atmosoediro, yang namanya di kemudian hari diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Garut, RSUD dr. Slamet. Mas Slamet Atmosoediro adalah seorang dokter pribumi pertama yang ditugaskan di Garoet. Meninggal pada tanggal 12 Mei 1930, ia tertular penyakit pes dari pasien yang dirawatnya.

Berita koran Algemeen Handelsblad edisi 13 Mei 1930

Berita tentang meninggalnya dr. Slamet pada koran Algemeen Handelsblad edisi 13 Mei 1930

Dulu, saking banyaknya penderita penyakit pes di Garoet, kabarnya dr. Slamet dan sejawatnya pernah menggunakan lapangan “Paris” dekat RSU sebagai tempat penampungan penduduk yang terserang wabah. Tercatat, total kematian pada tahun 1932 akibat wabah pes di Hindia Belanda mencapai 6.442 orang. Dari angka tersebut, korban terbanyak ada di Jawa Barat, sebanyak 4.366 orang, dan dari jumlah itu, sebanyak 906 orang meninggal itu terjadi di Garoet. Sungguh sangat-sangat mengerikan…

Lapang Paris, dekat rumah sakit di tahun 1925-1933. (Sumber: TROPENMUSEUM)

Lapang Paris, dekat rumah sakit. (Sumber: TROPENMUSEUM)

Publikasi mengenai wabah pes ini tak pelak lagi memukul industri wisata di Garoet. Kesan menakutkan wabah pes telah menahan hasrat turis untuk berkunjung ke daerah yang dikenal sejuk dan indah ini. Sampai dengan bulan April 1933 terlihat adanya penurunan kunjungan wisatawan sampai angka 50 persen! Bayangkan…

Tentu para pemilik hotel menjerit. Mereka meminta pada pejabat yang berwenang untuk menghentikan publikasi yang berlebihan tentang wabah pes di Garoet, padahal sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan data resmi bahwa pada Maret 1933 terdapat sekitar 400 kasus pes di Garoet.

***

16 Desember 1933

Nampaknya, pemberitaan tentang wabah pes ini benar-benar memukul sektor pariwisata Garoet. Sementara itu, angka-angka korban masih terus dirilis dalam media massa. Pada bulan Desember 1933, misalnya, untuk periode sampai November 1933 dilaporkan sudah ada 822 kasus. Belakangan diketahui, angka korban wabah pes di Garoet selama tahun 1933 adalah 921 kasus.

Maka, muncullah tulisan di koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 16 Desember 1933, dengan judul provokatif: “De Pest en Garoet. Geen Reden tot eenige Ongerustheid”. Tak alasan untuk mencemaskan keadaan di kota Garoet. Kasus pes memang ada di beberapa onderdistrict, tapi tidak di kota Garoet. Begitu kira-kira pokok isi tulisannya. Disebutkan bahwa kasus-kasus wabah biasanya dilaporkan dalam pemberitaan dengan judul: “De Pest te Garoet“, yang bagi orang yang membacanya seakan-akan kota Garoet lah yang dilanda wabah. Misalnya, kasus wabah di Pameungpeuk, disebutkan terletak di “Garoet”, padahal tempat itu berjarak 90 km dari kota Garoet. Dikatakan, kasus kematian akibat wabah terdapat di onderdistrict Samarang, Karangpawitan, Tjilawoe, dan lainnya, yang cukup jauh dari kota Garoet. Lagipula, kasus pes dengan kematian yang terjadi di kota Garoet sudah amat langka. Publikasi wabah pes di koran-koran dianggap tidak dengan uraian yang lengkap sehingga memunculkan persepsi yang salah dari publik. Perang opini.

Sementara itu, promosi kunjungan wisata ke Garoet juga gencar dilakukan. Seakan melawan pemberitaan tentang pes, iklan-iklan hotel di garoet selalu muncul di koran-koran. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan.

Lihat saja, pada tanggal 2 Maret 1934 diberitakan dalam Bataviaasch nieuwsblad rencana kedatangan tiga kapal wisata besar dalam tiga minggu ke depan. Kapal pesiar “De Lurline” akan berlabuh membawa turis Amerika. Kapal sendiri itu mampu memuat 417 orang penumpang. Para wisatawan dari Amerika itu dijadwalkan akan berkunjung ke Batavia dan Garoet, setelah berkeliling di Jawa Tengah. Selanjutnya berturut-turut akan berlabuh pula kapal pesiar “Empress of Britain” dan “Franconia”.

Pest01Hotel-hotel bergairah kembali. Pesta-pesta ala turis kembali hidup. Tahun 1935, Charlie Chaplin pun untuk kedua kalinya plesiran ke Garoet. Bahkan tahun 1936 mulai digelar acara rally otomotif tahunan bertajuk “Mooi Garoet Sterrit”. Pejabat bule dan pangreh pribumi ikut senang. Tapi, di luar sana orang-orang mengerang kesakitan menunggu ajal. Angka kematian karena wabah pes masih tinggi.

***

17 Nopember 1937

Agar tidak terlalu panjang, saya meloncat saja ke tahun 1937. Dari data yang bisa saya peroleh sementara ini, angka kasus dan kematian akibat wabah pes di Garoet itu urutan kedua tertinggi setelah Bandoeng. Koran Soerabaijasch handelsblad pada edisi tanggal 17 Nopember 1937 menampilkan data mingguan dari 4 minggu terakhir saat itu, seperti berikut:

Pest02 Soerabaijasch handelsblad 17 11 1937***

Jejak sejarah wabah pes di Garoet doeloe ini jarang diungkap, dan saya hanya sanggup mencari serpihan kecilnya saja. Tapi itu berarti ada banyak ruang untuk penyempurnaan. Oleh anda. Mudah-mudahan.

[M.S]

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Wabah Pes Melanda Garoet

  1. Pingback: Hadiah Lebaran 1353 H: Disuntik Massal… | Naratas Garoet

  2. Pingback: Mapag Saabad Ngadegna Rumah Sakit Umum dr. Slamet Garut (Het Algemeen Zieken Huis te Garoet, circa 1922) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s