Ngadu Kuda Dulu, Baru Urusan Politik: Kisah Bupati Soeria Karta Legawa (1919)

Tersebutlah kisah bupati yang memerintah kabupaten Garut antara tahun 1915 sampai tahun 1929. Namanya Raden Adipati Soeria Karta Legawa. Jangan tertukar dengan Raden Adipati Moh. Moesa Soeria Karta Legawa, anaknya, yang memerintah pada periode 1929-1944. Pada masa pemerintahan bupati Soeria Karta Legawa senior itu, kabupaten Garut dinyatakan sebagai daerah otonom berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925.

RAA_Soeria_KartalegawaBupati yang satu ini dikenal sangat suka balapan kuda. Ia juga lebih menyukai para pejabat bawahannya yang berpartisipasi dalam balapan kuda. Untuk penyelenggaraan acara pacuan kuda, hampir semua bawahannya mendapat perintah untuk memberikan kontribusinya. Bupati Soeria Karta Legawa bahkan mendorong para lurah agar memerintahkan penduduk desanya masing-masing, seperti di Wanaraja, Cibatu, Leles, Kadongora, dan Samarang, untuk memelihara “kuda balap”. Dan untuk menghasilkan kuda unggulan, maka tak segan untuk mendatangkan “kuda pamacek” dari luar negeri. Garut kemudian dikenal sebagai salah satu tempat penangkaran kuda yang menurunkan bibit-bibit kuda unggul untuk balapan.

Dulu, acara balapan kuda memang menjadi kesukaan para dalem dan menak di Priangan. Selain pesta pora pada setiap malam Minggu, keberadaan orang-orang Belanda dan Eropa lainnya di Priangan membawa budaya baru yang berasal dari negaranya. Kuda yang selama itu hanya dijadikan hewan penghela, kemudian juga menjadi hewan pacu. Nah, kepada kalangan Eropa, para bupati Priangan pada abad ke-19 ini berusaha menunjukkan penampilan sesuai dengan ‘tuntutan zaman’: mereka minum sampanye dan memelihara kuda balap.

Acara balapan kuda seringkali menjadi ajang taruhan lotre angka nomor kuda yang sedang berpacu, alias ngadu. Maka tak heran, di Priangan ini balapan kuda dikenal dengan sebutan ngadu kuda.

Biasanya, penyelenggaraan ngadu kuda berlangsung pada bulan Agustus. Tujuannya tidak lain untuk merayakan ulang tahun kelahiran Ratu Belanda Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus dan kelahiran Ibu Suri Ratu Emma tanggal 2 Agustus 1858. Kalau di Bandung, pacuan kuda yang diselenggarakan oleh “Preanger Wedloop Societet” di Tegallega Raceterrein itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut pada akhir bulan Juli sampai awal Agustus.

Salah satu iklan Ngadu Kuda

Salah satu iklan Ngadu Kuda “Races te Garoet” dalam koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie edisi tanggal 23 Juli 1915

Di Garut, acara ngadu kuda diselenggarakan di Raceterrein van Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng (Pacuan Kuda dari Klub Berkuda Haurpanggung). Lokasinya di lapangan Jayaraga dan sekitarnya sekarang. Menurut kabar, arena pacuan kuda Haurpanggung ini merupakan arena terluas dibanding pacuan kuda yang terdapat di kabupaten-kabupaten lain di seantero tanah Jawa. Bahkan, luasnya kira-kira dua kali dari Tegallega Raceterrein di Bandung. Wow!

Foto: van Paardenrennen Houden op de Race Terrein van Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng in 1917

Foto: van Paardenrennen Houden op de Race Terrein van Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng in 1917

Pada sebuah peta yang bertahun 1908, lokasi Haoer panggoeng Raceterrein dekat pertigaan Leuwidaoen itu nampak sudah dibangun:

04_Peta Garoet 1908aSebelum berlangsung balap kuda itu, diselenggarakan dulu acara Pasar Malem selama satu minggu. Puncaknya, acara ngadu kuda, dilaksanakan pada akhir pekannya, selama dua hari berturut-turut, yaitu hari Sabtu dan Minggu. Warga Garut berduyun-duyun tumplek bersengaja pelesiran untuk menyaksikan pesta ngadu kuda. Lengkap dengan mengenakan pakaian baru. Pada saat itu, katanya, tradisi memakai pakaian baru dilakukan pada dua saat saja: hari Lebaran Idul Fitri, dan… pelesir ke pesta ngadu kuda.

Jadi, jangan ditanya soal kemeriahan acaranya. Bunyi derap kaki kuda yang berpacu di arena itu akan ditimpali keriuhan sorakan penonton, dan tak lupa, bunyi-bunyian drum band yang bertalu-talu sepanjang acara berlangsung.

Suasana keramian saat hari 'ngadu kuda' di Garoet, sekitar tahun 1930an. (Judul foto: Racedag te Garoet, Tahun: ca. 1930, Sumber: KITLV)

Suasana keramian saat hari ‘ngadu kuda’ di Garoet, sekitar tahun 1930an. (Judul foto: Racedag te Garoet, Tahun: ca. 1930, Sumber: KITLV)

Dalam memoarnya, Letjen Mashudi, Gubernur Jawa Barat periode 1960-1970, menggambarkan bagaimana kemeriahan pesta balap kuda di Garut tahun 1920-an: “Jika tiba musim pacuan yang berlangsung selama satu minggu, masyarakat Garut mengadakan pesta besar. Penduduk dari daerah pinggiran berbondong-bondong datang ke kota untuk meleburkan diri dalam keramaian tersebut. Saya sendiri pernah diajak oleh Bapak untuk menyaksikannya. Pacuan kuda adalah kelangenan Kangjeng Dalem (Bupati) Garut, Raden Kartalegawa. Acara ini tambah meriah lagi, sebab penyelenggaraannya didukung oleh para pengusaha Belanda.” Para pengusaha Belanda ini kebanyakan adalah pemilik perkebunan, yang sering disebut sebagai de preanger planters.

article35008698-5-001Pada satu kesempatan, acara balap kuda di Garut itu dihadiri pula oleh klub berkuda dari luar negeri. Informasi ini saya peroleh dari koran The Advertiser yang terbit di Adelaide, South Australia, edisi Rabu tanggal 3 Oktober 1934, pada halaman 8: “Hunt Club Cup Reflections” dengan subjudul “Benefit of Riding Clubs” dan “Racing Customs In Other Lands”. Artikel itu ditulis oleh seorang yang menyebut dirinya sebagai Raconteur, yang sepertinya pegiat dari Hunt Club, salah satu klub berkuda di Adelaide. Saat menjelaskan racing customs in other lands, ia menyebut acara ngadu kuda di Garut sebagai contohnya. Rupanya si Raconteur ini pernah menyaksikan acara ngadu kuda di Garut.

Katanya, balapan kuda di Garut itu lebih banyak sisi hiburannya. Ia mendeskripsikan, pada pagi hari sebelum balapan, kerumunan orang-orang yang disebutnya sebagai orang Jawa (vast crowds of Javanese), dengan pakaian berwarna-warni, datang dari sudut-sudut kampung dan gunung, turun memadati jalan-jalan menuju Garut. Tampaknya seolah tak ada habisnya orang berduyun-duyun sepanjang jalan. Pada malam harinya diselenggarakan hiburan dengan nyanyian dan tari-tarian. Mungkin maksudnya pasar malem.

Nah, lanjut si Racounter, balapan sendiri dimulai pada pukul 8 pagi dan terus berlangsung sampai sekitar tengah hari. Nampak hadir wakil pemerintah kolonial Belanda (asisten residen) bersama Bupati, yang berada di tempat yang lebih tinggi dari yang lain, yang melambangkan status sosial tertinggi.

Seperti inilah keramaian suasana dalam arena 'Ngadu Kuda' di Raceterrein Haoer Panggoeng. Tampak tribun khusus para pembesar untuk menyaksikan dari dekat pacuan kuda yang sedang berlangsung. (Sumber: De revue der sporten, tahun 11, 1917, No 15, tanggal 19 Desember 1917).

Seperti inilah keramaian suasana dalam arena ‘Ngadu Kuda’ di Raceterrein Haoer Panggoeng. Tampak tribun khusus para pembesar untuk menyaksikan dari dekat pacuan kuda yang sedang berlangsung. (Sumber: De revue der sporten, tahun 11, 1917, No 15, tanggal 19 Desember 1917).

Saat itu, lomba dimenangkan oleh kuda yang dimiliki bupati. Terlihat asisten residen dan bupati mengangkat sampanye tanda merayakan kemenangan. Setelah perlombaan selesai, kuda dan penunggannya dipayungi dengan payung berwarna emas. Orang-orang berbondong-bondong berjalan keluar mengiringinya sambil menari-nari, di belakang drum band yang bertalu-talu.

Puncak perayaannya adalah acara pemberian hadiah di malam hari. Hadir asisten residen dan Bupati, dan dengan lebih banyak lagi sampanye! Pada meja panjang, disimpan hadiah taruhan. Orang-oang yang menang taruhan akan menerima hadiah dengan sikap yang disesuaikan dengan kedudukan status sosialnya masing-masing. Jadi, ketika menerima hadiah, ada beberapa yang melangkah dan memberi anggukan hormat, ada pula yang menerima hadiahnya itu sambil menunduk sampai dahi menyentuh lantai, tak berani melihat wajah bupati, dan kembali ke tempat dengan berjalan mundur. Kata si Racounter, “Truly a queer people, of manners’ strange: but withal, wonderfully kindly and courteous”.

***

Garoet, 7 Juli 1919

Pada hari itu terjadi apa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Cimareme, yang dulu masuk distrik Leles. Di kalangan akademisi dan sejarawan, peristiwa ini sangat dikenal baik. Banyak istilah untuk menyebut peristiwa Cimareme ini, Afdeling B Affair, Tjimareme Affair, Garoet Affair, atau apalah. Peristiwa ini memang menghebohkan dan berpengaruh terhadap sikap pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum pergerakan Islam sampai bertahun-tahun.

Bagi pemerintah kolonial saat itu, peristiwa Cimareme menjadi momen yang tepat untuk melemahkan pergerakan kaum Sarekat Islam dan orang-orang komunis. Oleh pemerintah kolonial, peristiwa Cimareme dihubungkan dengan kegiatan organisasi SI, dengan mengangkat isu adanya kelompok SI bawah tanah yang disebut sebagai SI Afdeling B (SI seksi B). Pemerintah kolonial punya alasan yang bagus untuk melakukan penangkapan besar-besaran terhadap pengurus SI, baik di pusat maupun di daerah-daerah.

Singkat kata, peristiwa Cimareme bermula dari keberatan Haji Hasan Arif, yang memiliki lahan sawah yang luas, terhadap peraturan tata niaga padi yang ditetapkan pemerintah. Keberatan ini berarti hanya satu arti: pembangkangan. Dan bagi pemerintah kolonial beserta bupati saat itu, pembangkangan harus dihukum. Maka, pada tanggal 7 Juli itu, rumah Haji Hasan dikepung dan ditembaki. Banjir darah terjadi di Cimareme. Haji Hasan, keluarga, dan beberapa pendukungnya meninggal. Tidak ada pertempuran. Itu adalah pembantaian.

Ya, peristiwa pembantaian ini merupakan noda hitam dibalik keindahan Mooi Garoet berjuluk Swiss dari Jawa yang sangat terkenal saat itu, yang menjadi satu destinasi turis unggulan di Hindia Belanda.

Sebelum tanggal 7 Juli 1919 itu, pada hari Jumat tanggal 4 Juli-nya, bupati, asisten residen, controleur dan 20 polisi bersenjata pergi ke Cimareme menuju rumah Haji Hasan. Terjadi perundingan. Tapi, permohonan keberatan Haji Hasan tetap tidak dikabulkan. Asisten residen keukeuh untuk menerapkan aturan soal padi itu. Hasil pertemuan itu: Haji Hasan diberi kesempatan 3 hari untuk berpikir.

Sepeninggal para pejabat dari Garut, ketegangan tidak juga mereda di Cimareme. Penduduk tidak tahu apa yang akan terjadi di 3 hari kemudian. Isu-isu berseliweran. Katanya, Haji Hasan akan ditangkap. Sementara itu, besoknya, tanggal 5 Juli, wedana Leles dipecat karena diketahui punya agenda untuk keuntungan sendiri dari kasus Cimareme ini. Dan di lain pihak, untuk memperkuat pasukan pemerintah, pada tanggal 6 Juli, 40 orang infantri di bawah pimpinan Mayor Van Der Bie dan Letnan Hillen didatangkan ke Garut. Selain itu, juga datang pasukan bersenjata dari Tasikmalaya yang berjumlah 30 orang di bawah pimpinan komandan Raes.

Bagaimana keadaan di kota Garut sendiri saat itu? Hingar bingar. Terjadi pergerakan massa. Penduduk sekeliling kota Garut berduyun-duyun datang memenuhi jalanan kota Garut. Bukan untuk melawan pemerintah, tapi untuk nonton acara Pasar Malem dan Ngadu Kuda! Tanggal 5 dan 6 Juli 1919 itu, bupati Soeria Karta Legawa justru menyelenggarakan acara pacuan kuda! Entah kenapa saat itu acara ngadu kuda dilaksanakan pada awal Juli. Yang jelas, saking tergila-gilanya dengan ngadu kuda, penangkapan Haji Hasan sanggup ditunda bupati Soeria Karta Legawa sampai dengan tanggal 7 Juli. Tapi, bukan penangkapan yang kemudian terjadi, melainkan pembantaian. Ya, begitulah… Bagi bupati Soeria Karta Legawa, yang penting ngadu kuda dulu, baru urusan politik. Seperti yang dikatakan Yong Mun Cheong, dalam “Conflict within the Prijaji World of the Parahyangan in West Java, 1914-1927” (1973), “(The Garut races were held on 5-6 July and the incident took place on 7 July). … At the time, it was thought that because of this passion for horse racing, he postponed attending to Hadji Hasan’s action till after the races”.

***

Sekarang, nama Haji Hasan Arif diabadikan menjadi nama jalan raya menuju Banyuresmi, Haoer Panggoeng Raceterrein tersisa menjadi lapangan sepakbola Jayaraga yang tak seberapa luas, dan kuda-kuda di Garut kembali hanya jadi penarik delman.

[M.S]

Advertisements

3 thoughts on “Ngadu Kuda Dulu, Baru Urusan Politik: Kisah Bupati Soeria Karta Legawa (1919)

  1. Pingback: Societeit Intra Montes: Tempat Gaul Bule di Garoet Doeloe | Naratas Garoet

  2. Pingback: Banjir Getih Di Cimarémé, Garut Génjlong (1919) | Naratas Garoet

  3. Pingback: Lambang Kaboepaten Garoet Masa Kolonial | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s