Maung Masuk Kampung: Boengboelang (1922)

Orang Sunda menyebutnya maung. Harimau jawa atau panthera tigris sondaica ini dilaporkan telah punah oleh World Wildlife Fund (WWF) pada 1994. Pasalnya, sepuluh kamera jebakan sistem injak yang dipasang WWF di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, lokasi terakhir harimau jawa ditemukan, tidak berhasil mendapati foto harimau jawa. Kajian tentang kepunahan harimau jawa lantas dipertegas oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Kementerian Kehutanan.

Harimau jawa dulu ditemukan hampir di banyak tempat di seluruh pulau Jawa. Meskipun harimau jawa bernama latin sondaica (harimau sunda) namun kemudian lebih sering disebut harimau jawa atau javan tiger. Nama latin sondaica dipakai karena dulu penelitiannya banyak dilakukan di daerah pulau Jawa bagian barat.

***

Juni 1922

Benar saja, sebagaimana diberitakan koran De Sumatra Post edisi No.142, Donderdag (Kamis), tanggal 22 Juni 1922, harimau banyak berkeliaran di daerah Jawa Barat, terutama di Priangan bagian selatan. Namun, kondisinya sudah mulai terdesak dengan keberadaan perkebunan-perkebunan.

Berdasarkan laporan koresponden di Bandung, pada edisi itu koran De Sumatra Post menurunkan berita di halaman 5, dengan judul: “Tijgers in de Preanger”.

De sumatra post2

De sumatra post3Dilaporkan bahwa tampaknya jumlah harimau di Priangan jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Hal ini diperlihatkan ketika pada awal tahun itu, terutama di distrik Boengboelang, Garoet, yang wilayahnya membentang sampai ke samudera Hindia, banyak laporan mengenai kehadiran harimau di kampung-kampung. Angka-angka statistik menunjukkan bahwa hewan ini telah memasuki daerah-daerah yang dihuni manusia lebih sering dari sebelumnya.

De Sumatra Post menyebut, di seluruh Priangan pada tahun 1920 dilaporkan 56 ekor ternak besar mati oleh hewan liar, dan pada tahun berikutnya tidak kurang dari 137 ekor ternak. Untuk ternak yang lebih kecil, selama tahun-tahun tersebut dilaporkan angka-angka kematian ternak sebanyak 299 dan 642 ekor. Walaupun disebut bahwa anjing liar (adjag) juga banyak sebagai pemangsa, tetapi harimau lebih dicurigai sebagai penyebab banyak kematian ternak itu. Selain ternak, pada tahun 1920, di daerah Bandung, seorang pria dilaporkan meninggal diterkam harimau, kemudian pada tahun 1921 di Cianjur dan Tasikmalaya, juga ada laporan manusia yang terluka diserang. Angka-angka itu menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.

Di Boengboelang sendiri, hanya pada bulan Februari tahun itu saja, terdapat 10 ekor kerbau, 12 kuda, 72 domba dan 18 kambing dimangsa harimau, dengan taksiran kerugian total sekitar 21.000 gulden.

Untuk melawan ancaman harimau itu, penduduk berani membayar pemburu profesional untuk memburu harimau, juga macan kumbang. Pada tahun 1920 dikabarkan masyarakat dan pemburu profesional berhasil membunuh 38 ekor harimau dan pada 1921 meningkat lebih dua kali lipatnya, sekitar 70 ekor. Tapi rupanya serangan harimau masih saja dilaporkan penduduk. Termasuk dari Tjisewoe.

Berikut saya sertakan foto koleksi Spaarnestad, diambil dari gahetna.nl, yang mendokumentasikan seorang Eropa pemburu profesional dengan bangkai harimau buruannya. 

Pemburu profesional dan beberapa penduduk mengelilingi harimau hasil buruan mereka.  Metadata: Collectie / Archief: Spaarnestad, Beschrijving: Java (Nederlands Oost-Indië) [Indonesië]. In de Preanger hoogvlakte ten zuiden van Bandoeng en in de buurt van Garoet zijn tijgers niet zeldzaam. Zelden echter vertonen ze zich nabij de bewoonde plaatsen. Mocht dit wel het geval zijn dan zijn er wel Europesche tijgerjagers te vinden, die kans zien om de tijger onder schot te krijgen. De foto toont de geschoten tijger die omringd wordt met de jachtliefhebbers. 1920, Datum: 1920, Locatie: Parahyangan, Priangan, Preanger, Java, Sumber: gahetNA

Pemburu profesional dan beberapa penduduk mengelilingi harimau hasil buruan mereka. Foto tahun: 1920, Lokasi: Preanger, dekat Garoet, Sumber: gahetNA

Dalam keterangan fotonya, lokasi foto adalah di Priangan dekat Garut, tahun 1920. Disebutkan bahwa di dataran tinggi Preanger dekat Garut itu harimau masih banyak berkeliaran. Jika muncul di daerah-daerah yang berpenduduk, maka ada orang Eropa pemburu harimau yang akan memburunya. Begitu katanya.

***

Juni 2014

Pada tanggal 4 Juni 2014, media online Tempo.co melansir berita dengan judul: “Tertangkap Kamera, Harimau Jawa Belum Punah?”. Mengutip pernyataan Mongabay Indonesia Senin, 2 Juni 2014, Tempo.co menulis bahwa seorang peneliti harimau jawa yang meyakini spesies belum punah, dikejutkan oleh kiriman foto seekor harimau jawa. Hanya saja, penelitian yang dilakukan kemudian belum dapat memverifikasi keberadaan hewan itu di alam.

Ya, pesona dan wibawa harimau yang dikenang orang Sunda dalam ungkapan sima aing sima maung itu mudah-mudahan bukan hanya tinggal cerita…

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s