Garoet dalam Peta Junghuhn (1855)

Franz Wilhelm Junghuhn, yang banyak melakukan ekspedisi di Pulau Jawa, termasuk Jawa bagian barat, pada tahun 1855 menerbitkan sebuah peta Jawa (Kaart van het Einland Java) yang sangat terperinci. Peta hasil karya Junghuhn ini berukuran panjang 79 meter dan lebar 19 meter. Peta itu dipublikasikan setahun setelah penerbitan buku magnum opus-nya Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart pada tahun 1854.

Franz Wilhelm Junghuhn

Franz Wilhelm Junghuhn

Peta ini secara detail menggambarkan kontur dan demografi pulau Jawa saat itu. Ada data gambar yang menampilkan gunung-gunung di Jawa dalam berbagai variasi tinggi. Karyanya ini konon dapat dibandingkan akurasinya dengan peta Jawa moderen yang dibuat lembaga antariksa NASA sekalipun. Peta itu dilengkapi pula dengan gambaran pembagian wilayah di Jawa, dengan batas-batas wilayah masing-masing kabupaten dan keresidenan.

Replika Peta Junghuhn

Replika Peta Junghuhn

Dari peta Junghuhn ini pula kita dapat melihat batas-batas wilayah kabupaten Limbangan sebagai cikal bakal kabupaten Garut. Dalam peta tersebut, nama kabupaten Garut belum tercantum. Kabupaten Garut memang baru diresmikan pada tahun 1913 berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913. Dengan keputusan tersebut, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut, dan beribukota di kota Garut. Jadi, saat peta Junghuhn itu dipublikasikan, wilayah tersebut masih bernama Kabupaten Limbangan yang dibentuk kembali pada 1813, dengan ibukota kabupaten bertempat di kota Garut.

Kabupaten Limbangan dalam Peta Junghuhn

Kabupaten Limbangan dalam Peta Junghuhn

Nampak dalam peta, kota Garoet sebagai ibukota kabupaten Limbangan diberi keterangan dalam tanda kurung menjadi “Garoet (Limbangan)”. Ini agaknya untuk membedakan nama “Limbangan” yang kemudian disebut “Baloeboer (Limbangan)”, yang pada peta digambarkan berada di luar batas kabupaten Limbangan (batas antarkabupaten digambarkan dengan “garis putus-putus”), dan nampak masuk dalam wilayah kabupaten Bandoeng. Saat itu, kabupaten Limbangan berbatasan di sebelah barat dengan kabupaten Bandoeng, utara dan timur dengan kabupaten Soemedang, dan di selatan dengan kabupaten Soekapoera.

Kabupaten Limbangan saat itu mencakup distrik-distrik: Garoet (Limbangan), Wanakerta, Wanaraja (dalam peta ditulis “Tjisangkang (Wanaradja)”, mungkin saat itu ibukotanya di Cisangkan?), Sutji, dan Panembong (dalam peta ditulis “Panembang”).

Batas kabupaten Limbangan dengan kabupaten Bandong dan kabupaten Soemedang

Batas kabupaten Limbangan dengan kabupaten Bandong dan kabupaten Soemedang, di sebelah utara

Pada potongan peta di atas, Kabupaten Limbangan berbatasan dengan Kabupaten Bandoeng di sepanjang sungai Cimanuk (pada peta ditulis “T. Manoek”) sampai ke utara. Sisi sebelah barat sungai Cimanuk masuk ke dalam wilayah kabupaten Bandoeng. Di ujung batas utara kabupaten Limbangan, sisi timur sungai Cimanuk termasuk dalam wilayah kabupaten Soemedang. Malangbong (“Malembong”) saat itu masuk wilayah kabupaten Soemedang.

Batas kabupaten Limbangan di ujung sebelah selatan dan barat

Batas kabupaten Limbangan di ujung sebelah selatan dan barat

Batas kabupaten Limbangan di ujung sebelah selatan dan timur

Batas kabupaten Limbangan di ujung sebelah selatan dan timur

Di sebelah selatan, kabupaten Limbangan berbatasan dengan kabupaten Soekapoera, yang saat itu masih mencakup wilayah selatan kabupaten Garut sekarang. Jadi, rencana wilayah kabupaten Garut Selatan sebagai daerah pemekaran kabupaten Garut sekarang ini sesungguhnya merupakan bekas wilayah dari kabupaten Soekapoera pada saat itu.

Pengintegrasian wilayah-wilayah ke dalam kabupaten Garut sebagaimana sekarang, baru terjadi pada saat pembentukan kabupaten Garoet di tahun 1913. Distrik-distrik Tarogong atau “Trogon (Timbanganten)”, Lales atau “Leles (Tjikemboelan)”, dan Baloeboer Limbangan yang semula termasuk kabupaten Bandoeng, digabungkan ke dalam wilayah kabupaten Garoet. Juga, distrik-distrik Cikajang atau “Tjikatjang (Negara)”, Bungbulang (dalam peta “Tjimanoek (Kendengwesi)”) dan Pameungpeuk, yang awalnya merupakan bagian kabupaten Soekapoera, kemudian menjadi wilayah kabupaten Garoet. Setelah ada perubahan nama-nama distrik, kabupaten Garut kemudian mencakup distrik-distrik: Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk. Di kemudian hari, sembilan distrik itu dinamai sebagai daerah “Kewedanaan”, dan selanjutnya disebut “Pembantu Bupati”. Struktur administrasi wilayah “Pembantu Bupati” sekarang sudah dihapus.

Dari peta Junghuhn tersebut kita juga memperoleh informasi mengenai perkiraan jumlah penduduk beberapa kota. Seperti kota “Garoet (Limbangan)” saat itu berpenduduk sekitar 4068 orang. Rupanya, kota Garoet saat itu belum begitu padat. Bandingkan dengan penduduk Sutji yang mencapai sekitar 9157 orang atau “Tjisangkang (Wanaradja)” sekitar 15105 orang. Sementara itu, penduduk “Panembang” sekitar 4559 orang, dan Wanakerta 10894 orang. Di luar kabupaten Limbangan, misalnya, penduduk “Leles (Tjikemboelan)” sudah mencapai 17150 orang dan “Trogon (Timbanganten)” sebanyak 3605 orang.

Terimakasih meneer Junghuhn.

[M.S]

Advertisements

One thought on “Garoet dalam Peta Junghuhn (1855)

  1. Pingback: Gonta Ganti Tanggal “Hari Jadi Garut” | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s