Riwajat Pembikinan Djembatan Leuwidaoen Tahoen 1939

Salah satu jembatan tua yang ada di sekitar kota Garut adalah jembatan Leuwidaun, yang melintang di atas sungai Cimanuk. Mungkin juga jembatan tertua, karena dibangun bersamaan dengan dimulainya pembangunan kota Garut pada tanggal 15 September 1813. Jika mengacu pada momen tersebut, maka mungkin juga saat itu bersamaan pula dengan pembangunan djembatan Tjikendi di Societeitstraat (jalan A. Yani), yang sekarang sudah tak nampak lagi, tertutup oleh toko yang secara ilegal dibangun di atas sungai Cikendi!

Bagaimanakah bentuk awal jembatan Leuwidaun itu? Dari sedikit sumber yang bisa diperoleh, saya mendapat informasi berharga tentang sejarah pembangunan jembatan Leuwidaun dari buku berjudul Roosseno: Jembatan dan Menjembatani, terbitan Yayasan Obor Indonesia (2008). Ringkasnya, jembatan Leuwidaun ini sempat direnovasi pada tahun 1939 dengan struktur beton. Pada awalnya, jembatan Leuwidaun merupakan jembatan kayu.

Jembatan leeuwidaun8

Pada buku itu tidak diperlihatkan gambar jembatan Leuwidaun yang dibangun tahun 1813. Nah, berdasarkan sumber-sumber lain, banyak foto yang memperlihatkan sebuah jembatan yang disebut sebagai Brug over de Tjimanoek bij Garoet (jembatan di atas sungai Cimanuk dekat Garut) dengan konstruksi kayu, seperti foto-foto berikut:

Metadata: Title: Overdekte brug over de Tjimanoek, vermoedelijk bij Garoet. Image code: 103362,    Keywords: bridges, Garut, Indonesia, Jawa Barat, rivers, Albumnumber: 780, Date Circa: 1895, Object type: Foto, Technique: Lichtdruk, Additional: In het album bevinden zich zeven prenten en een los biografisch uittreksel van de heer H.A.L. Wichers van zijn loopbaan bij het Koninklijk Nederlands Indisch Leger, Provenance: Vogel, [...], Provenance type: Schenking, Acquisition date: 1961-05-04, Size: 11,5x16,5cm, Sumber: KITLV Universiteit Leiden The Netherlands.

Overdekte brug over de Tjimanoek, vermoedelijk bij Garoet (1895). Sumber: KITLV

Brug over de Tjimanoek bij Garoet (1914). Sumber: KITLV

Brug over de Tjimanoek bij Garoet (1914). Sumber: KITLV

Brug over de Tjimanoek op West-Java (1914) Sumber: KITLV

Brug over de Tjimanoek op West-Java (1914). Sumber: KITLV

Overdekte brug over de Tjimanoek, vermoedelijk bij Garoet (1930) Sumber: KITLV

Overdekte brug over de Tjimanoek, vermoedelijk bij Garoet (1930). Sumber: KITLV

Apakah foto-foto jembatan di atas itu bentuk awal jembatan Leuwidaun produk pembangunan di tahun 1813? Walaupun pada saat itu jembatan di atas sungai Cimanuk dekat kota Garut hanya jembatan Leuwidaun, saya belum dapat memastikan foto-foto di atas adalah jembatan Leuwidaun. Jembatan Cimanuk dekat Maktal di jalan RSU sendiri baru selesai dibangun pada tahun 1921, dan itu pun strukturnya sudah menggunakan struktur jembatan beton, bukan kayu.

Jembatan Cimanuk dekat Maktal (1921)

Jembatan Cimanuk dekat Maktal (1921)

Kembali ke tahun 1939. Jadi, pada 1939 tersebut dilakukan peningkatan kapasitas jembatan Leuwidaun. Jembatan yang semula kayu itu akan diganti menjadi jembatan beton tulang. Sesungguhnya, pada rancangan awal jembatan Leuwidaun itu tidak menggunakan lengkungan beton yang menopang beban jalan. Menurut rencana awal, jembatan di atas sungai Cimanuk ini merupakan jembatan gelagar beton bertulang biasa di atas dua tumpuan, terdiri dari 2 buah gelagar induk, dengan bentang 28,80 m dan tinggi 2,50 m, yang memikul lantai kendaraan.

Ketika gelagar-gelagar induk ini baru dicor 2 hari dan belum ada lantai kendaraannya, acuannya hanyut disapu banjir bandang. Di luar dugaan, keadaan gelagar induk tetap berada di atas tumpuan-tumpuannya. Ir. Roosseno segera ditugaskan oleh Departement van Verkeer een Waterstaat (Departemen Jalan dan Pengairan) untuk memikirkan penanganan pembangunan jembatan Leuwidaun tersebut. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya pada jurnal De Ingeniuer in Ned.-Indie No.11 (Bandung, 1939), yang berjudul Versterking van een Gewapend Beton Liggerbrug over de Tjimanoek bij Leuwidaoen (Garoet), Ir. Roosseno menguraikan perhitungan-perhitungan untuk memperkuat daya dukung struktur beton bertulang yang sudah ada pada jembatan Leuwidaun.

Untuk memperbaiki akibat kecelakaan tersebut, maka Ir. Roosseno mengkonstruksi pelengkung di bawah balok jembatan. Kemudian, setelah proses konstruksi jembatan sepenuhnya selesai, pelengkung batang baja tersebut dicor dengan beton yang menghasilkan suatu busur parabola mulus yang sangat indah.

Jembatan Leuwidaun, foto sekitar tahun 1946-1950. Tampak pagar jembatan dan tempat lampu di sudut jembatan tidak berubah sampai sekarang. Dalam keterangannya, tentara NICA ini sedang beristirahat setelah konvoi dari Bandung. Koleksi: Dienst voor Legercontacten Indonesië.

Jembatan Leuwidaun, foto sekitar tahun 1946-1950. Tampak pagar jembatan dan tempat lampu di sudut jembatan tidak berubah sampai sekarang. Dalam keterangannya, tentara NICA ini sedang beristirahat setelah konvoi dari Bandung. Koleksi: Dienst voor Legercontacten Indonesië.

Katanya, Ir. Roosseno merupakan insnyur pertama di Indonesia yang melakukan perhitungan beton bertulang sebagaimana yang diterapkan dalam proyek jembatan Leuwidaun. Saya kurang paham istilah teknis pekerjaan sipil ini, jadi diringkas saja. Hehe. Jadi, jembatan Leuwidaun ini merupakan uji coba pertama penerapan dari hasil perhitungan Ir. Roosseno!

Prof. Dr. (HC). Ir. Rooseno Soerjohadikusumo

Prof. Dr. (HC). Ir. Rooseno Soerjohadikusumo

Siapa Ir. Roosseno? Lengkapnya, Prof. Dr.(HC) Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, yang dikenal di kalangan insinyur teknik sipil sebagai Bapak Beton Indonesia dan Bapak Struktur Indonesia. Lahir pada tanggal 3 Agustus 1908, di Madiun. Lulusan Technische Hogeschool te Bandoeng (ITB sekarang) pada Mei 1932 ini pernah menjadi Menteri Pekerjaan Umum (1953) dan Menteri Perhubungan (1954) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo. Ia meninggal di Jakarta pada tanggal 15 Juni 1996.

Lalu lintas di atas Jembatan Leuwidaun. Sumber: inilahkoran.com

Lalu lintas di atas jembatan Leuwidaun. Sumber foto: inilahkoran.com

Jika anda kebetulan melintasi jembatan Leuwidaun, mulai sekarang, jangan lupa nama Ir. Roosseno. Orang Garut layak berterima kasih, karyanya masih bermanfaat sampai sekarang.

Pada masa Bupati Toharudi Gani (1993-1998), jembatan ini direnovasi kembali. Berdasarkan keterangan dari PU Binamarga Provinsi Jawa Barat, jembatan Cimanuk di kawasan Leuwidaun itu masih dalam keadaan laik pakai dan tidak membahayakan pengguna jalan.

[M.S]

Advertisements

5 thoughts on “Riwajat Pembikinan Djembatan Leuwidaoen Tahoen 1939

    • Banyak prestasi kaum pribumi yang patut dibanggakan dan dikabarkan.
      Terima kasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini.

      Like

  1. Pingback: Gonta Ganti Tanggal “Hari Jadi Garut” | Naratas Garoet

  2. Pingback: Bandjir Tjimanoek | Naratas Garoet

  3. Pingback: Bandjir Tjimanoek | Kang Eep

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s