Jangan-jangan, ini Kartosoewirjo Tukang Cukur…

Saya punya langganan tukang cukur di jalan Bratayuda (dulu, Belanda menamainya Talunweg). Namanya mang Maman, si bewok, pemilik “Pangkas Rambut Remaja”. Ia langganan saya sejak tahun 1980-an. Sebelum pindah ke Talun, kiosnya ada di jalan Ciledug, seberang depan Bank Panin sekarang, yang orang tua saya selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Gedong Jangkung. Saya belum tahu kenapa disebut “Gedong Jangkung” (gedung tinggi). Seingat saya, tidak pernah terlihat ada gedung yang tinggi di sekitar sana di tahun 1980-an. Konon katanya, gedung itu runtuh waktu lini (gempa) yang cukup besar melanda Garut di tahun 1970-an. Entah…

Kembali ke tukang cukur. Kalau tidak sempat bercukur di Garut, maka saya punya cadangan tukang cukur di sekitaran Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dan asal Garut juga. Ada sedikit beda, yang di Jakarta ini ongkosnya lebih mahal, dan tanpa pijitan! Padahal, pijitan gaya si mang Mamat lah salah satu alasan kenapa ia jadi langganan tempat bercukur di Garut. Mungkin, tukang cukur di Jakarta ini harus lebih berhemat waktu dan tenaga. Saya maklumi.

Tapi memang anda tidak akan kesulitan menemukan pangkas rambut asgar. Di tengah persaingan dengan barbershop dan salon yang moderen, pangkas rambut asgar tetap eksis di setiap sudut kota. Jangan salah, konsumennya tidak melulu kalangan bawah. Sekedar informasi saja, pangkas rambut asgar di Santa itu juga langganannya pak Yusril Ihza Mahendra. Bangga…

Lantas, sejak kapan para tukang cukur asgar sampai menyebar ke berbagai kota, termasuk Jakarta ini?

Pada rentang waktu 1949 sampai akhir 1950-an, Garut merupakan basis terkuat pengikut Kartosoewirjo, yang hendak mendirikan Negara Islam Indonesia. Karenanya, Garut menjadi medan pertempuran yang sengit antara pasukan TNI dengan mereka.

Banyak penduduk Garut yang mengungsi ke berbagai daerah. Dan untuk bertahan hidup, sebagian diantaranya mencoba menjual jasa pangkas rambut. Ada yang buka praktek di bawah pohon rindang (pangkas rambut “DPR”), ada pula yang berkeliling kampung. Dan ternyata bisnis ini menjanjikan kesuksesan. Konon, kabar ini lah yang selanjutnya menarik penduduk Banyuresmi, Wanaraja, dan sekitarnya, untuk terjun pula di bisnis cukur-mencukur. Salah satu desa yang terkenal mencetak banyak tukang cukur ini adalah Desa Bagendit di Banyuresmi.

Bulan Juli 1962, Kartosoewirjo tertangkap. Persidangan untuk mengadilinya segera disiapkan. Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Jawa dan Madura (Mahadper) kemudian mengadili Kartosoewirjo dalam proses sidang selama tiga hari berturut-turut, 14-16 Agustus 1962. Kartosoewirjo didakwa melanggar pasal-pasal berlapis, yaitu pasal 107 ayat 2, 108 ayat 2 dan 104 juncto pasal 55 KUHP, juncto pasal 2 PENPRES No 5 tahun 1959 yang dimuat dalam Lembaran Negara No 80 tahun 1959.

Foto Kartosoewirjo tak lama setelah ditangkap

Foto Kartosoewirjo tak lama setelah ditangkap

TNI Angkatan Darat memilih tiga perwira sebagai majelis hakim: Letnan Kolonel Ckh Sukana, BcHk, sebagai ketuanya, didampingi dua anggota, Mayor Inf Rauf Effendy dan Mayor Muhammad Isa. Tentara juga menentukan jaksa penuntut umum sendiri: Mayor Chk Sutarjono, BcHk. Bahkan anggota tim pembela Kartosoewirjo juga diangkat oleh tentara: empat orang pengacara dipimpin Wibowo, SH.

Pada sidang perdana, seperti biasa, Hakim Ketua bertanya kepada Kartosoewirjo soal kejelasan identitas dan perkara yang didakwakan. Supaya jangan salah mengadili orang, maksudnya. Hakim Ketua berseloroh, “Jangan sampai yang dihadirkan dalam sidang ini adalah Kartosoewirjo tukang cukur, bukan Kartosoewirjo pemimpin gerombolan.” Rupanya, fenomena orang Garut yang banyak menjadi tukang cukur ini dijadikan joke juga oleh hakim. Aya-aya wae…

Saking tertutupnya, berita mengenai persidangan Kartosoewirjo sama sekali tak ada di halaman-halaman koran. Baru pada Sabtu, 19 Agustus 1962, dua hari setelah vonis dibacakan, Harian Pikiran Rakjat menulis kabar soal vonis hukuman mati untuk Kartosoewirjo.

Suasana persidangan Kartosoewirjo di Mahadper

Suasana persidangan Kartosoewirjo di Mahadper

Dalam berita itu, Kartosoewirjo dilaporkan menghadapi sidang pembacaan vonis dengan tenang. Dengan kemeja putih lengan panjang, celana biru, dan sepatu hitam, dia tampak klimis. “Rambutnya, yang panjang saat ditangkap, sudah dipotong,” tulis koran itu. Entah siapa yang mencukurnya. Yang jelas, pasti bukan mang Maman dari Pangkas Rambut Remaja.

[M.S]

Advertisements

One thought on “Jangan-jangan, ini Kartosoewirjo Tukang Cukur…

  1. Coba mamang naratas cek foto kel aom emon. Mungkin disana ada gambar/informasi tentang gedong jangkong

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s