15 Route Djeladjah Garoet di Tahoen 1924

Dulu, institusi Java Vereeniging Toeristenverkeer, semacam dewan perjalanan wisata di Jawa, mengerti betul bahwa Garut memang layak jual. Ada perbedaan yang menyolok antara konsep wisata di Garut yang dikembangkan pada masa kolonial itu dengan masa sekarang ini. Sepertinya ini menyangkut masalah cara pandang. Kemudian, masalah pengembangan dan pemasarannya. Dan Java Vereeniging Toeristenverkeer memandang bahwa “tempat wisata” itu tidak terbatas pada lokasi-lokasi, seperti pemandian Tjipanas, sitoe Bagendit, atau kawah Papandajan saja. Mereka melihat kota Garoet dan sekitarnya itu seluruhnya layak dikembangkan menjadi tempat berwisata. Maka, mereka berani mempromosikan paket wisata jalan kaki di sekitaran kota Garut dalam sebuah buku panduan paket wisata jalan-jalan (benar-benar dengan jalan kaki) di Garut dan sekitarnya.

Buku ini berjudul: Eenige Wandelingen in de Omstreken van Garoet Behoorende bij de Wandelkaart (Some Walks in the Vicinity of Garoet as Shown on the Map of the Garoet and Vicinity). yang dibuat dalam dwibahasa, bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Saya menerka saja, buku dwibahasa ini ditujukan untuk pasar wisata yang tidak hanya sebatas wong londo berbahasa Belanda saja, tapi juga londo yang berbahasa Inggris (bagi orang Jawa, bule manapun dulu disebut wong londo.. hehe).

Buku ini terbitan Java Vereeniging Toeristenverkeer (Official Tourist Bureau), yang beralamat di Rijswijk, 18, Weltevreden (Sekedar informasi, Wetervreden adalah daerah di selatan Batavia lama, yang sekarang wilayahnya merupakan jantung Jakarta Pusat, membentang dari Pasar Abang, Kebon Sirih, Tugu Tani, sampai ke Pasar Senen). Tak ada tahun terbit. Tapi dari bekas stempel yang ada pada buku itu, yaitu Public Library of Victoria – 5 Des. 1924, yang menandakan tanggal buku masuk dalam koleksi perpustakaan itu, maka buku ini terbit setidaknya pada tahun 1924, atau sebelumnya.

Pada buku ini terdapat peta kota Garoet lama, lengkap dengan petunjuk arah dan tempat. Pada tulisan lain, nanti kita coba bandingkan dengan peta yang dibuat pada masa sebelum dan sesudahnya, untuk melihat bagaimana perkembangan kota Garoet.

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_15_Image_0002

Beruntung, peta ini berhasil di-scan dengan hasil yang bagus. Jadi bisa di-zoom untuk melihat secara lebih detail. Di sini saya crop sebagian, seperti ini:

Peta kota Garoet dan sekitarnya (1924)

Peta kota Garoet dan sekitarnya (1924)

Nampak pada peta, jalan yang sudah dibangun di kota Garoet saat itu adalah (saya sebut dengan nama-nama jalan sekarang) jalan Cimanuk (yang merupakan bagian dari jalan raya Bandung ke Pameungpeuk), jalan Jend. A. Yani (terus ke Wanaraja dan Cibatu), dan jalan Ciledug (terus ke Cilawu dan Tasikmalaya), yang ketiganya merupakan ruas jalan utama di kota Garut. Kemudian, ada jalan Pasundan, jalan Cikuray, dan jalan Siliwangi. Ada jalan Kabupaten, jalan Mesjid Agung (sekarang tersisa sebagian), dan jalan Dewi Sartika, yang berada di sekitar alun-alun.

Selanjutnya, sudah ada jalan Pramuka, jalan Guntur, jalan Ranggalawe, jalan Papandayan, jalan Veteran, jalan Bank, jalan Kenari, jalan Mandalagiri, jalan Mawar, jalan Pasar Baru, jalan Bratayuda (Talun), jalan Ciwalen, dan jalan Dayeuhhandap. Jalan Merdeka (Haurpanggung) saat itu dianggap sudah di luar wilayah kota.

Ada pula jalan yang lebih kecil, seperti jalan Muhammadiyah, jalan Gunung Putri, dan terusan jalan Dayeuhandap. Kemudian, jalan Gagaklumayung, jalan Bentar ke arah Copong dan Jangkurang, serta jalan menuju Galumpit.

Jalan dan jembatan ke arah RSU (jalan RSU sekarang) saat itu belum dibangun. Juga, jalan dan jembatan dari arah Guntur menuju Haurpanggung (jalan Perintis Kemardekaan). Rel keretaapi pun baru sampai Stasiun Garut.

Dari peta lama itu, yang semula membuat saya agak bingung adalah tanda bulatan di atas pertigaan Leuwidaun, yang ditulis Race terrein. Ternyata itu merupakan tempat pacuan kuda yang luas: De Race Terrein Van Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng! Sekarang lahan tersebut menjadi Lapang Jayaraga, dengan luas yang tak seberapa dibanding dulu saat masih sebagai race terrain. Jadi, di Garoet doeloe itu sebenarnya: Er waren sportvelden, tennisbanen, een golfbaan, terreinen voor paardenrennen en voetbalvelden (sudah ada arena olahraga, lapangan tennis, lapangan golf, arena pacuan kuda, dan lapangan sepakbola). Kitu cenah

Buku ini menawarkan paket jalan-jalan dengan pilihan yang lengkap bagi Toean dan Njonjah semoea. Ada pilihan menyusuri jalan besar, kemudian masuk ke jalan desa, masuk perkampungan, menyeberangi sungai, atau melalui pesawahan. Silaken mana Toean dan Njonjah soeka. Semuanya dirangkum dalam 15 rute pilihan.

Saya ingin mengulas rute-rute itu semua, tapi mungkin pada kesempatan lain saja. Sekadar contoh, sementara ini saya ambil rute no.3.

Route No.3

Route No.3

Pada rute ini kita akan disuguhi kesejukan semilir angin pesawahan, dengan hamparan hijau sejauh mata memandang, di sepanjang jalan menuju Kampung Rancabango. Sementara itu, di latar depan, gunung Guntur yang eksotis tak bosan untuk dinikmati. Selepas kampung Rancabango, pemandangan berganti dengan kolam-kolam luas, berair jernih, sebelum akhirnya sampai di Cipanas. Di Cipanas, pilihannya tentu berendam air panas alami. Segerrr. Setelah puas, perjalanan harus dilanjutkan, melalui jalur jalan Cipanas. Dan kembali pemandangan kolam-kolam yang luas terhampar, pada kiri kanan jalan, dengan hiasan pohon kelapa di pinggir-pinggirnya. Sementara gunung Guntur di belakang lambat laun menjauh, dalam perjalanan pulang ini justru gunung Cikuray di kejauhan yang nampak mendekat. Pasti saat itu belum banyak halangan yang membatasi pandangan mata kita ke arah Gunung Cikuray yang nampak biru itu. Pemberhentian selanjutnya adalah pertigaan Panday. Dan hanya sedikit lagi, kita akan sampai di depan kantor DistrictsHoofd D (Kantor BPMPD sekarang), tempat awal berangkat. Tertarik?

Atau, mau mencoba rute dengan tantangan lain? Coba rute No.7 ini.

Route No.7

Route No.7

Berawal dari jalan Bantar (Bentar). Dari sebelah timur halte keretaapi, kemudian ke arah utara. Di sini, pemandangan sawah akan memanjakan mata. Gemercik air dan semilir angin akan jadi teman perjalanan yang manis. Setelah melewati kampung Jangkurang dan Copong, maka di hadapan kita akan nampak mengalir sungai Cimanuk. Kita harus menyeberanginya pas di dekat kampung Bojongrarang, yang tidak terlalu dalam untuk dilintasi. Tentunya jalur ini tidak direkomendasikan jika sedang musim hujan. Dan jangan kaget kalau tiba-tiba ketemu biawak atau ular. Hehe… Di seberang sungai, kampung Bojong sudah menanti. Setelah melewati sawah-sawah, maka kita akan tiba di jalan raya di kampung Bojongsalam, untuk selanjutnya kembali ke Garut. Tapi sayang, tak beberapa lama lagi, proyek Bendung Copong akan segera usai. Sebagian wilayah Copong dan Bojong terkena proyek. Rute 7 ini akan benar-benar tinggal kenangan.

Untuk route selanjutnya, saya sampaikan secara ringkas saja jalur-jalur yang digunakan pada paket wisata Wandelingen in de Omstreken van Garoet ini, disesuaikan dengan nama-nama jalan sekarang:

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_04_Image_0001Rute No.1.

Dari depan Bakorwil jalan A. Yani – jalan Cimanuk – pertigaan Lewudaun – jalan Merdeka – pertigaan STM – jalan Suherman – Tarogong – jalan Otista – jalan Cimanuk – kembali ke jalan A. Yani.

Rute No.2.

Jalan Pataruman – jalan Terusan Pembangunan arah kampung Rancabogo – jalan Otista arah Tarogong – jalan Suherman – di Ciateul kembali ke arah ke jalan Pataruman.

Rute No.3.

Dari depan kantor BPMPD – kampung Rancabango – Cipanas – kampung Panday – kembali ke depan kantor BPMPD.

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_05_Image_0001Rute No.4.

Jalan Otista di Tanjung – air terjun Citiis – kampung Pasawahan, jalan Otista.

Rute No.5.

Jalan raya Tarogong-Leles dekat kampung Selagedang – pemandian Cibuyutan – kembali ke semula.

Rute No.6.

Jalan Otista di Tanjung – kampung Kuyambut – menyusuri jalan ke arah kampung Pungkur – kampung Bojongsalam.

Rute No.7.

Jalan Bentar – halte keretaapi – kampung Jangkurang – kampung Copong – menyeberang Sungai Cimanuk di kampung Bojongrarang – kampung Bojong – kampung Bojongsalam – kembali ke Garut.

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_06_Image_0001

Rute No.8.

Dari jalan Cimanuk di muka jalan Hampor – Astana Girang – menyeberang Sungai Cikamiri – kampung Patrol – menyeberangi Sungai Cimanuk – kampung Sanding – tiba di jalan raya, kembali ke Garut.

Rute No.9.

Dari Pedes – kampung Pamoyanan – kampung Biru – kampung Ciocong – jalan menuju Samarang.

Rute No.10.

Kampung Pasanggrahan, Cilawu – kampung Ciharashas – kampung Cileungsing – menyeberang sungai Cisaat dan Cipeujeuh – kampung Munjul – jalan raya.

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_07_Image_0001Rute No.11.

Kampung Cimaragas – menyeberang Slokan Cimanuk (istilah slokan mungkin maksudnya, jalur irigasi yang berasal dari bendung Sungai Cimanuk di Bayongbong) – menyeberang Sungai Cipeujeuh – kampung Sodong – kampung Muara – jalan raya. Dapat pula dari kampung Sodong jalurnya ke kampung Ganasari – jalan raya.

Rute No.12.

Kampung Cimaragas – menyusur Slokkan Cimanuk – menyeberang Sungai Cimaragas – mengikuti Slokan Cimanuk lagi – terus sampai kampung Cimasuk – mengikuti lagi Slokan Cimanuk – sampai jalan raya Karangpawitan. Dapat pula dari kampung Cimasuk langsung ke jalan raya di kampung Kaum. Atau, dari Slokan Cimanuk bisa menuju Sukaregang melalui jalan Gagaklumayung.

Rute No.13.

Dari kampung Sindangpalai di jalan raya ke Wanaraja – halte Cimurah – melintasi jalur keretaapi – kampung Cibuluh – menyeberang sungai Cimanuk – menuju jalan raya di Bagendit.

Wandelkaart van Garoet en omstreken_Page_08_Image_0001Rute No.14.

Jalan Tarogong-Bagendit – situ Bagendit – kampung Bagendit – kampung Pungkur – jalan Tarogong-Bagendit.

Rute No.15.

Kampung Ciroyom, Samarang – kampung Cisanca – kampung Sangkan – melintasi jembatan di atas sungai Cireungit Kidul – kampung Cibunar – menyeberang sungai Cimanuk – menuju jalan raya, di Gandasari.

Dari 15 rute jalan-jalan itu ada yang masih layak dijajaki pada masa sekarang, ada pula yang tidak. Bagaimana pun, kesejukan dan keindahan alam yang dulu ditawarkan sudah tidak lagi sama. Jaman sudah berubah. Sekarang terserah Toean dan Njonjah, soedah poenja route jang dipilih?

[M.S]

Advertisements

3 thoughts on “15 Route Djeladjah Garoet di Tahoen 1924

  1. Pingback: Peta Wisata Keliling Garoet (Nederlandsch-Indische Hotelvereeniging, 1922) | Naratas Garoet

  2. Pingback: Societeit Intra Montes: Tempat Gaul Bule di Garoet Doeloe | Naratas Garoet

  3. Pingback: Kerkop | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s