Hari-hari Tawanan Jepang di Garoet Tahun 1942: Gerrit Jan Van Dam

Selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda (1942-1945), nasib puluhan ribu warga sipil Eropa berakhir di kamp-kamp interniran dan prajurit dikirim ke kamp tawanan perang (prisoner of war, POW), dan selanjutnya dipekerjakan secara paksa oleh Jepang di dalam dan luar Hindia Belanda.

Tanggal 5 Maret 1942, Jepang menyerang Cilacap secara besar-besaran. Kekuatan Belanda hancur berantakan. Pasukan dari Markas Artileri Udara dan Pantai di  Cilacap menjadi kocar kacir.

Ilustrasi pesawat-pesawat Jepang menggempur kapal-kapal di sekitar pelabuhan Cilacap, Maret 1942

Ilustrasi pesawat-pesawat Jepang menggempur kapal-kapal di sekitar pelabuhan Cilacap, Maret 1942

Pada tanggal 7 Maret 1942 seluruh pasukan diperintahkan mempersiapkan diri untuk mundur menuju ke Bandung. Serangan Jepang memang terlalu kuat untuk ditahan. Malam itu, semua senjata yang tidak bisa dibawa, sengaja dihancurkan dan depot amunisi diledakkan.

Setelah semuanya hancur, pasukan menyeberang ke Nusakambangan. Subuh besok harinya, saat kondisi masih gelap, pasukan kembali ke Jawa, kemudian berjalan kaki untuk mencapai sebuah desa yang memiliki stasiun keretaapi. Mereka menyewa keretaapi untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung. Tetapi mesin lokomotif kehabisan batubara di Cibatu. Terpaksa mereka mendirikan kamp sementara di sana untuk istirahat malam. Malam itu tidak ada yang mengira bahwa besok hari status mereka sudah berubah.

Pagi itu tanggal 9 Maret 1942. Ada kabar penting datang: Hindia-Belanda telah menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Itu berarti pasukan Belanda sekarang menjadi tawanan perang atau prisoners of war (POW). Dan sejak itu pula, Gerrit Jan van Dam, seorang anggota pasukan dari Markas Artileri Udara dan Pantai di Cilacap itu, memulai hari-harinya sebagai tawanan perang di Garut, sebagaimana yang diceritakan dalam memoarnya, War memoirs (1941-1945) of Gerrit Jan van Dam.

Gerrit Jan van Dam, 1938

Gerrit Jan van Dam, 1938

Gerrit Jan Van Dam lahir pada tanggal 28 Februari 1914. Dia memiliki seorang istri yang pada saat serangan Jepang ke Cilacap itu sedang hamil tua. Kata Gerrit, ketegangan di Cilacap itu sesungguhnya sudah dimulai pada tanggal 7 Desember 1941 ketika Komandan Kompi mengumumkan bahwa Hindia Belanda menyatakan perang kepada Jepang. Dari bulan Desember 1941 sampai dengan tanggal 4 Maret 1942, memang tidak terjadi insiden penting yang membahayakan. Tetapi bencana datang pada keesokan harinya, tanggal 5 Maret 1942. Jepang menyerang secara besar-besaran. Gerrit menggambarkannya sebagai: “sekarang kita tahu apa artinya perang”. Gerrit terpisah dari istrinya yang lebih dulu dievakuasi pada saat terjadi serangan. Tak disangka, ternyata mereka bertemu kembali di Cibatu, lengkap dengan seorang bayi mungil, anak mereka, Marianne. Tapi kebersamaan mereka hanya sebentar. Istri Gerrit dipindahkan ke tempat lain.

Gerrit menggambarkan keadaan saat-saat menjadi tawanan Jepang di Cibatu itu. Katanya, pada minggu pertama setelah pengumuman pernyataan Belanda menyerah pada Jepang itu belumlah terasa bahwa Jepang lah yang sedang berkuasa. Para tawanan perang pun masih bisa pergi kemana sesuka hati.

Namun kebebasan yang masih bisa dinikmati para tawanan itu berakhir juga. Suatu hari komandan pasukan menerima perintah melalui telepon agar seluruh pasukan masuk ke dalam area pasar yang dipagar kawat dan dilarang berkeliaran keluar. Jelas tak banyak yang dapat dilakukan mereka di dalam sana.

Akhirnya, tentara Jepang datang juga. Tentu kehadiran mereka semakin membatasi gerak gerik para tawanan. Tentara Jepang, dalam kesan Gerrit, tampaknya menikmati sekali kekalahan Belanda ini. Itu mereka perlihatkan dengan keharusan para tawanan tunduk pada perintah mereka. Dan para tawanan harus cepat belajar tunduk pada mereka. Jika tidak, maka tak segan tentara Jepang akan memukuli tawanan yang dianggap membangkang.

Gerrit mengalami sendiri kejadian itu. Suatu hari, Gerrit ditampar tentara Jepang dan, kesalahan fatal dia, katanya, dia memukul balik tentara Jepang itu. Benar saja, Gerrit kemudian dipukuli habis-habisan oleh tentara Jepang itu yang dibantu 4 orang temannya. “Saya tidak pernah berani lagi untuk melawan setelah itu. Sangat memalukan rasanya harus berdiri sambil dipukuli oleh tentara Jepang,” kata Gerrit.

Rupanya penempatan tawanan perang di kamp Cibatu itu hanya sementara. Tiba pada harinya para tawanan diperintah untuk segera berkemas dan siap-siap berangkat menuju ke tempat lain. Mereka berbaris, dengan menggendong barang-barang di punggungnya, menuju ke stasiun Cibatu. Mereka didorong-dorong untuk masuk ke gerbong kereta yang lokomotifnya menghadap arah barat. Ternyata, Garut adalah tujuan selanjutnya. Sore hari, keretaapi itu pun tiba di tujuan, yang dalam gambaran Gerrit: “sebuah kota di kaki gunung Papandayan”.

Mereka ditempatkan di sebuah bekas barak polisi. Para tawanan harus tidur di lantai, walau demikian, kata Gerrit, barak polisi itu kondisinya cukup bagus. Sayang Gerrit tidak mendeskripsikan lebih lanjut lokasi barak polisi dimaksud. Setidaknya, di Garut terdapat dua asrama polisi yang ada sampai sekarang, yaitu di sudut Jalan Guntur dengan Jalan Mawar, serta di Jalan Bratayuda (Talun).

Hotel Papandajan, 1924

Hotel Papandajan, 1924

Pada awalnya Gerrit masih bernasib baik. Gerrit ditugaskan bersama dengan lima orang lainnya, untuk bekerja di dapur Hotel Papandajan. Tugas mereka mengangkut air, memotong sayuran, membersihkan, dan hal lain yang perlu dilakukan di dapur. Gerrit merasa beruntung ditugaskan di sini karena bisa makan dengan layak, dan juga, Jepang memperlakukan mereka dengan baik. Juga, katanya, bisa berkeliaran dengan bebas di taman hotel. Dan di sana pula Gerrit suatu ketika melihat istrinya di kejauhan! Rupanya, rombongan perempuan dan anak-anak sekarang ditempatkan di sekitar kamp tawanan militer.

Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya Gerrit dan teman-teman yang ditugaskan di dapur tadi harus kembali ke kamp tahanan. Masa-masa baik yang bisa dinikmati oleh seorang tawanan perang itu harus berakhir. Dalam amatan Gerrit, kamp yang ditempatinya itu cukup besar, sehingga sesungguhnya para tawanan dapat menghindari pengawasan tentara Jepang pada banyak kesempatan. Gerrit tidak menjelaskan terakhir di lokasi mana dia ditempatkan.

Berdasarkan data yang ada, beberapa tempat di Garut yang pada saat itu dijadikan kamp tawanan perang oleh Jepang (Garoet-kampen), yaitu Hotel Villa Dolce, berada di pusat kota, untuk perwira tinggi Belanda dan Sekutu, Normaalschool en aangrenzende HIS (Taloenkamp), di sebelah tenggara kota, untuk tahanan perang Australia,Landbouwschool (sekolah pertanian), terletak di barat-daya dari kota (di jalan keluar ke Bandung), juga untuk tahanan Australia, dan terakhir, Hotel Papandajan, di pusat kota, untuk tahanan perang Belanda.

Pada umumnya kamp-kamp POW diawasi oleh tentara Jepang dengan sangat keras. Tindakan ini jelas untuk memberikan efek intimidasi bagi para tawanan. Kadang-kadang para tawanan yang ketahuan mencoba untuk keluar pada malam hari kemudian dieksekusi oleh tentara Jepang. Eksekusi ini dilakukan secara terbuka dan semua tawanan perang dipaksa untuk menyaksikan proses eksekusi. Ini mungkin yang menjadi alasan bahwa sangat sedikit sekali adanya upaya melarikan diri yang dilakukan selama pendudukan Jepang. Tetapi dari cerita Gerrit, ternyata pengawasan tentara Jepang selama penahanan di kamp Garut tidak terlalu ketat.

Hampir setiap hari, dengan pengawalan tentara Jepang, Gerrit ditugaskan untuk membawa gerobak dan pergi keluar untuk mengambil kayu di pabrik tekstil di pinggiran Garut. Mungkin maksudnya, Preanger Bontweverij atau Pabrik Tenun Garut di Gunturweg, yang pada masa pendudukan Jepang berganti nama menjadi GSK (Garoet Syokoho Kozyo).

Preanger Bontweverij (Pabrik Tenun Garut), 1930-an

Preanger Bontweverij (Pabrik Tenun Garut), 1930-an

Pada saat itulah Gerrit berkesempatan untuk secara teratur melihat dan bertemu dengan istrinya, dan kadang-kadang bahkan berbicara dengannya. Memang kabarnya, kamp perempuan pada masa awal pendudukan Jepang ini tidak tertutup secara ketat. Sampai tahun 1943, tahanan perempuan diperbolehkan untuk meninggalkan kamp pada siang hari, pada satu atau lebih hari dalam seminggu, asalkan mereka kembali tepat waktu di malam hari.

Masa penahanan di Garut pun ternyata tidak lama, dan tentara Jepang akan memindahkan kembali para tawanan perang itu ke tempat lain. Gerrit harus berpisah dari istrinya. Sepertinya, perpisahan itu lebih menyakitkan daripada keadaannya sebagai tawanan perang. “As we left again by train, I looked out and saw my wife, standing at a railway crossing, weeping. It’s an image that, even now, still haunts me. The thought went through my head, “when will I see her again?” Still, I was convinced that we would somehow come out of this misery unscathed, and I always kept the faith.”

Setelah Garut, Gerrit dipindahkan ke Cimahi. Jika melihat data berikut, Gerrit kemungkinan termasuk rombongan yang diberangkatkan dari Garut bersama 400 tawanan perang lainnya pada tanggal 22 Juni 1942.

Tanggal Asal Tujuan Jumlah yang diangkut Jumlah di Kamp Tipe Tahanan
xx-03-1942 Lingkungan 3200 3200 kr (1)
xx-04-1942 Bat: Batalyon ke-10 1400 kr
xx-04-1942 Band: Batalyon ke-15 1363 kr (2)
22-06-1942 Tjim: Batalyon ke-4 dan 9 400 kr
22-06-1942 Band: Trainkampement 51 0 kr (3)

Singkatan: kr = krijgsgevangenen (tawanan perang), Band = Bandung, Bat = Batavia, Tjim = Tjimahi, (1) Austalia, Inggris dan Amerika, (2) Australia, (3) Perwira

Kartu Nama POW Gerrit

Kartu Nama POW Gerrit

Nomor POW Gerrit

Nomor POW Gerrit

Melengkapi cerita Gerrit ini, ada data yang diperoleh Leontina Heffernan berdasarkan penelusurannya mencari jejak kakeknya,  Johanness Coenraad Pieter van Bael (Hans van Bael), seorang POW juga. Kakeknya ternyata satu kesatuan dengan Gerrit Jan van Dam di Cilacap, dan sama-sama pernah ditahan di Garut. Namun mereka dipindahkan ke tempat berbeda setelah Garut. Berdasarkan arsip yang ditemukan Leontina, Gerrit punya nomor identitas POW: 5313.

[M.S]

Advertisements

One thought on “Hari-hari Tawanan Jepang di Garoet Tahun 1942: Gerrit Jan Van Dam

  1. Pingback: Kisah Sinyo Tjibatoe: Fried Muller (1936-1939) | Naratas Garoet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s