Aseli Garoet Ahli Membikin Katjamata: A. Kasoem

“Apa gunanya sama kalian kemerdekaan tanah air itu. Kenyataannya kini perekonomian di seluruh Indonesia dikuasai oleh bangsa Asing, baik orang kulit putih, Cina, India, Arab dan lain-lain. Percuma sama kalian merdeka itu, kalau perekonomiannya tidak dikuasai oleh pribumi.”

Demikian jawaban yang diterima Kasoem saat berdiskusi dengan Kurt Schlosser, seorang Jerman yang ahli kacamata dan punya toko di Jalan Braga Bandung itu. Kasoem menanyakan kemungkinan Jerman memberikan kemerdekaan untuk Indonesia. Saat itu, tahun 1940, Jerman mulai menguasai Eropa, dan Belanda diramalkan akan jatuh. Jika Belanda dikuasai Jerman, maka tanah jajahan Belanda akan dikuasai Jerman pula.

Tuan Jerman itu justru menawarkan pada Kasoem untuk belajar ilmu kacamata sebagai “cara memerdekakan diri” dan dapat membantu masyarakat. Tak ada sekolah ilmu kacamata dan tak ada pribumi yang tertarik mempelajarinya saat itu. Kurt sempat mengatakan, “Kamulah kelak akan menjadi raja kacamata satu-satunya di Indonesia…”

Benar saja. Ketekunan berbuah keberhasilan. Setelah menjalani masa “magang” pada Kurt Schlosser, akhirnya Kasoem punya toko sendiri di Jalan Pungkur Bandung. Kasoem menjadi satu-satunya orang Indonesia yang punya toko optikal, yang umumya dikuasai orang-orang Eropa.

Pada saat Jepang masuk, perdagangan menjadi lesu. Tapi Kasoem justru melihat prospek usaha dan mengincar toko di Jalan Braga, daerah premium orang-orang Eropa berdagang. Pada Mei 1943, Kasoem akhirnya dapat membuka toko kacamata di Jalan Braga. Ia menjadi pribumi pertama yang memiliki toko di Braga.

kasoem2

Setelah usai masa perang, usaha Kasoem berkembang pesat. Ia membuka cabang toko kacamatanya di beberapa kota. Keahlian dan ketenaran dalam soal kacamata itu pula yang membuat Kasoem dipercaya untuk memelihara, memeriksa dan membikin kacamata Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, para menteri, dan pembesar Republik lainnya.

Kasoem belum puas. Bahan-bahan pembuatan kacamata, seperti gagang dan kacanya, saat itu selalu dipesan dari luar negeri. Kasoem punya tekad membuat semua bahan-bahan sendiri dengan mendirikan pabrik optik di Indonesia. Kasoem kemudian berguru ke Dr. Hermann Gebest, ahli dan pemilik sebuah pabrik optik di Jerman, tahun 1960.

Dedikasi Kasoem dalam bidang kacamata ini mendapat pula apresiasi dunia internasional. Pada tanggal 16 Februari 1975 Kasoem diterima menjadi anggota ilmu pengetahuan optik Jerman Barat dengan nomor anggota 176. Kasoem menjadi orang Asia pertama yang diterima menjadi anggota.

Aseli Garoet
Kasoem lahir di Kadungora, Garut, pada tanggal 9 Januari 1918. Bapaknya petani bernama Hasan Basri. Kasoem kecil dikenal dengan nama Atjoem. Jika di tebing pinggir Jalan Siliwangi Bandung nampak papan billboard dengan brand “A. Kasoem”, itu lengkapnya adalah Atjoem Kasoem.

Di kampung halamannya itu Kasoem membangun pabrik yang dicita-citakannya dulu. Pembangunan dimulai pada tahun 1969 dan diresmikan pada tanggal 23 September 1974 oleh Wakil Presiden saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kasoem berkeinginan pabriknya dia pimpin sendiri dengan modalnya sendiri pula. Bagi Kasoem, biarlah pabrik itu kecil saja, tetapi milik sendiri.

Kata-kata Kurt Schlosser bahwa Kasoem akan menjadi raja kacamata di Indonesia berbuah kenyataan. Mungkin sekarang bukan satu-satunya, tapi jelas Kasoem adalah pionir industri kacamata Indonesia. Entah sampai kapan warisan orang Garoet ini bertahan. Kisah A. Kasoem ini saya sarikan dari http://santijehannanda.wordpress.com/2014/07/23/kisah-a-kasoem/.

*benerin kacamata plus dulu, maklum udah tue…*

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s