Suatu Ketika, Gajah Pernah Berkeliaran di Garut?

Bayangkan, suatu ketika gajah pernah berkeliaran di Tanah Sunda, termasuk Garut. Bagi T. Bachtiar, seorang Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, sebagaimana yang tertulis dalam artikelnya “Gajah Pernah Hidup di Tatar Sunda” di Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 21 Juli 2005, kemungkinan gajah pernah berkeliaran di Tanah Sunda itu tidaklah mengejutkan karena memang memiliki bukti-bukti yang kuat. Selain bukti berupa ditemukannya fosil-fosil gajah, juga dari aspek budaya, bahasa, dan sastra Sunda pun turut memperkuat bukti keberadaan gajah di Tanah Sunda baheula.

Di Jawa Barat sebenarnya sudah banyak ditemukan fosil stegodon dan gajah, seperti di Baribis, Punggungan Tambakan (Subang), Cibinong (Bogor), Cikamurang (Sumedang), Cijurai (Cirebon), atau Mauk (Tangerang). Terlebih, pada 7 Juli 2004, temuan fosil gajah bertambah di Rancamalang, Kabupaten Bandung. Dr. Fachroel Aziz, ahli dari Museum Geologi Bandung, dengan hanya mengamati sepintas, sudah langsung dapat menduga, temuan baru itu adalah fosil geraham gajah Asia (Elephas maximus). Dari segi keutuhan fosil geraham, fosil dari Rancamalang ini bisa jadi merupakan fosil geraham paling utuh, bahkan di dunia. Akar giginya masih lengkap dan utuh.

Melihat banyaknya fosil gajah yang ditemukan di Jawa Barat, rasanya tak kebetulan bila karuhun kita menamai tempat memakai kata gajah. Di Kota Cimahi ada Leuwigajah, di Kabupaten Bandung ada Kampung Gajah, Gajahcipari, Gajaheretan, Gajahkantor, Gajahmekar, Pasir Gajah di Majalaya, dekat Cicalengka ada Sirahgajah, di Garut ada Gunung Gajah, Batu Gajah, dan Karang Gajah, di Cirebon ada Pagajahan dan Palimanan.

Melihat begitu banyaknya nama tempat yang menggunakan kata gajah, dan hampir di setiap daerah ada, sangat mungkin manusia prasejarah di Tatar Sunda sudah sangat terkesan dengan binatang berkaki empat yang ukurannya sangat besar ini. Bahkan, menurut T. Bachtiar, anak-anak di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, yang pada tahun 1960-an belum pernah melihat gajah, tetapi kalau tatarucingan (teka-teki) sehabis salat isa di masjid, ada saja anak yang memberikan soal, “Gajah depa ngegel rokrak/ruhak!” atawa “Gajah depa beureum hatena!” Jawabannya adalah hawu atau tungku. Orang Sunda pun punya istilah sendiri untuk anak gajah, yaitu menel.

Bukan hanya nama tempat yang memakai kata gajah, tapi juga nama tokoh dalam cerita pantun Sunda, seperti Gajah Lumantung (Carita Gajah Lumantung), Prabu Munding Liman (Lalakon Kuda Wangi) (Liman, bahasa Jawa kuno untuk gajah, artinya binatang buas dengan satu tangan), Bagawad Liman Sanjaya, Dipati Gajah Waringin, Dipati Gajah Cina (Carita Raden Rangga Sawung Galing), Dipati Gajah Waringin (Carita Raden Tanjung), Gajah Hambalang (Carita Nyi Sumur Bandung), Raden Pati Gajah Menggala (Carita Panggung Keraton), Gajah Taruna Jaya (Carita Lutung Leutik), atau Gajah Siluman, Liman Sanjaya (Carita Raden Mungdinglaya Di Kusumah). Dalam cerita Sunda kuna dari kaki Gunung Cikuray, Kabupaten Garut yang berjudul Ratu Pakuan terdapat kata gajah.

Kata gajah hampir dipakai dalam setiap kesempatan yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia Sunda. Ketika menanam padi di sawah, ada sejenis rumput yang tinggi, dengan buahnya seperti gandum yang biasa disebut petani sebagai gagajahan. Ketika berbahasa, ada peribahasa maung ngamuk gajah meta. Rumput yang biasa ditanam di halaman rumah pun namanya jukut gajah. Ada juga jenis rumput jukut cengceng yang disebut juga tapak liman, atau tanaman pot berdaun lebar di teras rumah, kuping gajah, yang pernah menjadi tanaman kesayangan para ibu. Ketika membangun rumah (ngadegkeun imah), tiang-tiang rangka dengan palang dan siku-sikunya dinamai gagajah.

Sampai kapan gajah-gajah itu berkeliaran di Tatar Sunda? Masih misteri. Orang-orang Eropa yang datang tidak melaporkan adanya gajah pada saat mereka menjejak tanah Sunda. Alfred Russel Wallace, pada bulan Oktober 1861 menjelajahi Jakarta, Bogor, Gunung Gede dan Gunung Pangrango, tidak melaporkan adanya gajah yang secara alami berada di alam asli kawasan ini. Perburuan yang dilakukan orang-orang Eropa pun tidak menceritakan adanya gajah yang hidup secara alami. Demikian keterangan T. Bachtiar.

Setelah mencoba menelusuri lagi data-data lama, saya menemukan peta yang berangka tahun 1718, berjudul Het Westerdeel van het Eyland Groot Java  berikut ini:

Metadata: Collection: Topstukken Nationaal Archief; Reportage: [onbekend]; Description: Het Westerdeel van het Eyland Groot Java; Date: 1718; Photograph: Reland, Adriaan.

Jika diamati peta itu, maka ada beberapa lokasi yang ditandai dengan gambar-gambar hewan. Dan nampak pada peta Jawa bagian barat itu terdapat dua lokasi yang ditandai dengan gambar sekelompok gajah! Apakah berarti bahwa di lokasi yang mereka tandai dengan gambar gajah-gajah itu merupakan tempat habitat hewan tersebut saat itu? Jika benar, maka pada awal abad ke-18, di tanah Jawa bagian barat masih ditemukan kawanan gajah pada setidaknya dua lokasi: sebelah timur dan utara Priangan. Artinya, Priangan saat itu masih merupakan daerah jelajah gajah. Benarkah?

[M.S]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s